Kisah Seorang Preman (2)

Cechgentong

 

Memang hidup ini penuh dengan kejutan dan keberuntungan. Itulah yang saya alami ketika harus berhadapan dengan oknum angkatan yang sering berbuat onar di lokalisasi Dolly.


Pada saat oknum tersebut melakukan aksinya, tidak ada yang berani menegurnya termasuk para preman sekalipun. Dengan kenekatan yang ada dalam diri walaupun tubuh kecil (saat itu berumur 14 tahun), saya memberanikan diri menegur oknum yang sedang mabuk berat. Betapa kagetnya oknum tersebut ketika mengetahui kalau yang menegurnya adalah seorang anak kecil. Bila dibandingkan dengan postur tubuhnya, saya tidak ada apa-apanya. Oknum tersebut dengan mata merah tampak marah sekali kepada saya dan segeralah dia menghampiri. Saat tangan kanan kekarnya ingin memukul saya. Tiba-tiba saya memanggil namanya ” Om Anton (bukan nama sebenarnya) !!!!!! “.

Betapa kagetnya oknum tersebut ketika namanya dipanggil oleh saya. Secara reflek tangannya tidak jadi memukul saya.

” Siapa kamu ? Kok tahu nama saya?”

” Om, masak lupa sama saya?“

” Ohhhh kamu… kamu… anaknya….. “

” Iya Om saya anaknya Pak Suparlan (bukan nama sebenarnya) “

” Oalahhhhhh, hampir saja …ngapain kamu di sini “

Perlu diketahui Om Anton adalah anak buah Ayah sewaktu dinas di Surabaya. Dulu Om Anton sering datang ke rumah dan selalu minta nasehat kepada ayah bila mendapatkan masalah. Ayah jugalah yang mewakili Om Anton untuk melamar calon isterinya di hadapan keluarga besar calon isterinya dulu karena sudah lama Om Anton yatim piatu dan hidup sebatang kara.

Langsung Om Anton mengajak saya ke sebuah warung. Om Anton dengan kondisi masih mabuk tapi masih sadar menanyakan banyak hal terutama mengapa saya bisa berada di lingkungan lokalisasi. Maka saya menceritakan semuanya dengan detil mulai dari keluar rumah sampai saya menjadi tukang parkir dan ingin menjadi preman. Om Anton sempat memilintir leher saya dengan candanya.

Kok bisa-bisanya saya yang masih sekecil itu sudah berani untuk mandiri. Om Anton sempat prihatin ketika mengetahui kalau ayah meninggalkan kami sekeluarga demi seorang wanita Madura di Kalimantan. Tetapi saya sempat juga menyinggung ulah Om Anton di lokalisasi yang sangat menggangu dan apa yang menyebabkan Om Anton sering ke lokalisasi.

Rupanya Om Anton sudah bercerai dengan isterinya. Dikatakan isterinya telah kabur dari rumah dan membawa serta 2 anaknya kembali ke rumah orang tuanya di Malang. Setelah berpisah hampir setahun tiba-tiba Om Anton mendapatkan surat cerai dari Pengadilan Agama Malang (pernikahan mereka memang di Malang). Walaupun dalam hatinya menolak perceraian tersebut tetapi Om Anton menerima juga keputusan tersebut. Tapi yang menjadi masalah adalah Om Anton tidak bisa dan selalu dihalang-halangi bila ingin bertemu dengan kedua anaknya. Itulah yang membuat Om Anton menjadi stress berat dan sebagai pelariannya adalah main perempuan dan mabuk-mabukan walaupun tahu konsekuensinya bila ketangkap basah oleh Polisi Militer.

Banyak orang di lokalisasi merasa kaget, aneh, kagum dan takjub melihat saya dapat menaklukkan oknum angkatan malah saat itu saya ditraktir oleh oknum tersebut. Memang hidup ini penuh kejutan dan benar adanya kalau ada yang mengatakan kalau dunia ini tidak sebesar daun kelor.

Sejak kejadian malam itu, saya langsung terkenal dan diakui keberadaan saya di lingkungan preman. Dengan pengakuan tersebut berarti wilayah parkiran saya makin luas dan makin bertambahlah penghasilan saya. Dalam waktu singkat saya mempunyai uang banyak dan dengan uang tersebut saya bisa membantu biaya sekolah adik serta bisa membelikan pakaian dan perhiasan untuk ibu. Memang ibu mengetahui apa pekerjaan saya berdasarkan informasi yang diberikan oleh Om Anton. Tetapi ibu tahu sifat saya yang keras dan tidak bisa dibantah. Satu hal lagi Om Anton tidak lagi berbuat onar karena mungkin malu dilihat oleh saya malah Om Anton menjadi beking saya di tempat lokalisasi tersebut.

Tanpa terasa waktu terus berjalan, hidup saya bergumul dengan dunia preman. Silih berganti peristiwa yang saya alami mulai dari perkelahian memperebutkan lahan parkiran sampai urusan keamanan bagi para PSK. Sampai suatu hari saya berhadapan dengan sekelompok preman yang dibeking oleh oknum marinir mengenai perebutan lahan parkiran.

Setelah tidak ada kata sepakat dengan gelap mata saya mendatangi markas kelompok preman tersebut dan tanpa banyak tanya saya tusuk oknum marinir tersebut dengan belati yang selalu saya selipkan di balik celana. Betapa kaget kelompok preman tersebut (semuanya terdiam) dengan apa yang saya lakukan apalagi mengetahui oknum marinir tersebut mati di tangan saya.

Setelah itu saya menyerahkan diri ke kantor polisi. Akhirnya saya diputuskan bersalah oleh pengadilan negeri dan dihukum penjara selama 10 tahun. Yang meringankan hukuman adalah saya menyerahkan diri. Di penjara itulah saya mengenal tato dan beberapa bagian tubuh saya ditato sebagai bukti mantan bromocorah.

Karena sikap saya selama penjara dianggap baik maka beberapa kali saya mendapatkan remisi dan hanya 6 tahun saya di penjara. Keluar dari penjara saya tidak langsung pulang menemui ibu tapi saya datangi tempat lokalisasi Dolly. Semua teman-teman preman menyambut saya dengan meriah dan tanpa perasaan takut akan adanya dendam dari keluarga/teman oknum marinir yang saya bunuh maka saya menikmati penyambutan tersebut dengan mabuk-mabukan. Ternyata setelah 6 tahun saya tinggalkan tempat tersebut, banyak yang telah berubah dan penguasaan wilayah bukan lagi dikuasai oleh kepala preman yang lama. Walaupun demikian saya masih disegani oleh preman-preman tersebut.

Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat dari dunia preman. Tetapi tetap saja dendam pribadi terhadap kelakuan ayah tidak bisa hilang. Setiap wanita Madura yang ditemui selalu saya akali baik merampas keperawanannya, memoroti hartanya sampai beberapa kali saya nikahkan. Kawin cerai dengan wanita Madura selalu menyertai hidup saya.

Sampai suatu hari saya berkenalan dengan seorang wanita Madura dan saya jatuh cinta kepadanya. Kemudian tanpa halangan saya dapat menikahinya. Saya berpikir mungkin inilah perjalanan akhir kehidupan kawin cerai saya. Dengan wanita ini saya dikarunia seorang puteri. Tapi kelahiran puteri saya inilah yang meyebabkan isteri kabur dan menceraikan saya.

Begini ceritanya, sebagai manusia saya percaya sekali dengan hukum karma. Ada perasaan takut kalau anak saya nanti mendapatkan karma atas apa yang saya perbuat. Untuk itulah saya sempat berbicara dengan ibu dan berharap saya mendapatkan seorang putra. Saya menganggap anak lelaki lebih tahan dan kuat menerima apabila hukum karma benar-benar terjadi. Dan tidak rela bila anak perempuan saya dirusak dan dipermainkan oleh laki-laki karena saya merasa perempuan takkan sanggup menderita menanggung karma yang saya takutkan tersebut.

Tahukah apa yang terjadi kemudian ?

 

(bersambung)

34 Comments to "Kisah Seorang Preman (2)"

  1. Adrian  12 March, 2017 at 23:14

    Maaf, tapi belakangan ini sampai tahun 2017 saya tidak pernah mendengar kabar tentang para preman di Kota Surabaya. Kota Surabaya mungkin termasuk Kota yang paling aman di Indonesia.

  2. Wahnam  2 March, 2011 at 18:34

    Aku dulu di kantor sering datang telat dan ngak rajin kerjanya makanya aku jadi preman( PREStasi MANdek)

  3. cechgentong  2 March, 2011 at 10:28

    rya, oke ditunggu ya

  4. rya  1 March, 2011 at 13:46

    seri ke 3 ditunggu bang

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.