Restorasi Batik Lawasan

Daveena

 

Sekitar tiga tahun lalu terjadi booming batik di Indonesia, baik perempuan bahkan lelakipun mengenakan batik termasuk yang aku lakukan. Sebenarnya aku sedikit lebih dulu dari saat booming itu…sedikit lebih dulu karena aku mencontoh dari tangan pertama yang sukses membatikkan kembali wanita-wanita Indonesia.

Suatu hari aku sedang jalan-jalan di Pasar Raya, melintas di sampingku seorang wanita keturunan Cina bertubuh tinggi, besar dan cantik mengenakan blus tunik batik Pekalongan, dipadukan dengan celana palazzo (melebar di bagian bawah)…kelihatan anggun dan unik…waktu itu belum lagi ada booming batik.

Aku yang pada dasarnya memang penggemar batik dan sering membeli serta mengkoleksi kain-kain batik dari Mirota Batik, Jogja menjadi antusias untuk menjahitkan kain-kain koleksiku. Dan tidak lama kemudian, tiba-tiba di pusat-pusat perdagangan diperdagangkan blus-blus batik nan cantik. Wanita-wanita Jakarta kembali memakai batik sebagai pakaian sehari-hari. Tak lama kemudian di kolom Sosialita – Kompas Minggu muncul sosok wanita ini bersama partnernya yang mempelopori gerakan “back to batik” ini.

Begitulah akhirnya aku makin menggemari Batik dan tidak perlu menjahitkan lagi sebab di pasaran tersedia baju batik siap beli dengan model manis-manis dan harga sangat terjangkau. Tidak hanya gaun saja, untuk tempat laptop, ranselpun kupakai batik. Salah satu koleksi blus batik-ku berasal dari perca-perca batik lusuh yang konon berasal selendang-selendang gendongan mbok-mbok di pasar Klewer dan Beringhardjo. Biar lusuh gitu kesannya unik banget apalagi saat itu belum banyak yang pakai. Blus itu bertahan dua tahun sampai akhirnya robek sendiri karena usianya.

Dan hingga tiga tahun kemudian sebagian besar bajuku berasal dari batik….walaupun di pasaran sudah sulit mencari blus batik. Akhir-akhir ini perputaran mode kembali menyajikan batik sebagai busana wanita (utamanya), kali ini modelnya makin variatif. Dan yang paling menyenangkan adalah baju-baju berasal dari perca-perca batik lusuh muncul kembali dan kali ini dalam guntingan-guntingan yang lebih fashionable.

Batik-batik lusuh itu sudah memperoleh nama baru sebagai Batik Lawasan yang bisa diartikan sebagai batik lama. Konon pemasok-pemasok menyediakan batik lawasan itu secara kiloan. Enggak heran sekarang banyak banget baju batik lawasan tersaji di pusat-pusat perdagangan. Kali ini modelnya lebih variatif; ada jaket tanpa lengan bertudung kepala (capuchone), baju baby doll, rok gypsi style bahkan gamis…

Beberapa jenis blus batik lawasan dipasangi kain pelapis di dalam dan ini menyebabkan harganya cukup mahal (untuk ukuran seorang daveena)…menjadi sekitar Rp.300 ribuan. Contohnya seperti ini:

Bahkan Anne Avantie juga membuat koleksi mode dari batik lawasan, tentunya harga bisa jadi berbeda banget.

Baju batik lawasan yang pertama kubeli adalah baby doll…tapi tak seperti gambar di sini, baby doll milikku ini memiliki bentuk ujung yang A simetris dan tali bahu yang berbeda dari gambar di sini. Pada baby dollku itu tali bahunya yang tempelan sering mlorot-mlorot, jika aku ABG pastinya lucu juga jika pose dengan baju yang tali bahunya melorot satu…nah buat seorang wanita matang yang memakai baby doll itu buat ke kantor di hari Jum’at tentunya gak lucu sama sekali…aku sudah berpikir untuk melakukan restorasi baju itu.

Suatu hari aku lihat baju gamis dari batik lawasan di Blok M Square…harganya dibuka pada Rp.185 ribu dan dipastikan menjadi Rp. 125 ribu…hmm aku masih berpikir keras sebelum membeli. Sampai suatu hari kulihat gamis lawasan itu di Stekpi di hari Minggu, harganya Rp.60 ribu…langsung glek, masih berusaha nawar.

Akhirnya baju gamis itu kubeli dengan harga Rp. 60 ribu. Karena aku bukan  pemakai jilbab, sembari jalan pulang sudah kurencanakan untuk memotong baju panjang itu hingga jadi sebetis…

Sampai di rumah, saat kucoba ternyata baju itu sedikit kebesaran dalam arti bagian bahu tampak turun.

Sembari memandangi bayangan di cermin sudah kubayangkan bahwa baju gamis ini akan mengalami restorasi besar-besaran, bahu dipotong agar dudukannya pas. Bagian bawah dipotong dan timbul ide bahwa potongannya bisa kupakai mengganti tali bahu si baby doll. Masih perlu juga beli ikat pinggang besar dan celana legging berwarna coklat sebagai padanannya.

Memandangi potongan-potongan batik itu mengingatkan pada koleksi batik warisan ibuku dan kubuka peti tempat aku menyimpannya. Wuuuah banyak banget koleksinya…ada beberapa jenis batik di situ. Batik tulis yang dikoleksi Ibuku dengan harga yang tinggi, batik-batik cap yang kebanyakan berasal seragam koor maupun saat jadi among tamu mantenan.

Pikiranku makin berkreasi akan batik-batik itu, tentunya untuk batik tulis..aku harus kompromi dulu dengan saudara-saudaraku yang lain. Masalahnya…kami tidak bisa membedakan antara batik tulis dan batik cap-capan jadi kupikir batik-batik itu harus kubawa ke Jogja untuk tanya pada ahlinya.

Hem…sudah membayangkan perjalanan ke Jogja kali ini dengan kereta api membawa sepeti batik bakalan seperti Indiana Jones membawa harta karun….

 

71 Comments to "Restorasi Batik Lawasan"

  1. Lani  3 March, 2011 at 09:20

    DAVEE : aku se77777…….sm DA……gawe bayi rak sampai tahunan…….dlm itungan menit iso dadi…..la kecuali BAYi TABUNG mmg perlu persiapan njelimet………hahahah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.