Pepesan Kosong Berbakteri

Sumonggo – Sleman

 

Sebuah penelitian mendapati adanya susu formula mengandung berbakteri berbahaya. Para pihak yang terkait menolak mengumumkan mana saja susu yang dimaksud meski sudah ada keputusan pengadilan, malah saling lempar tangan.

Yang jadi korban tentu para ibu yang resah bagaimana mengamankan buah hatinya. Itulah berita yang ujungnya masih tarik menarik sampai hari ini menghiasi media cetak dan televisi. Semua tak sabar menunggu kapan pengumuman itu akan disampaikan. Menunggu pengumuman berbakteri atau ketidakberdayaan pemerintah pada hegemoni perusahaan susu multinasional?

Catatan: selanjutnya istilah “bakteri” dalam tulisan ini mengacu “bakteri berbahaya”. Ketimbang patuh pada keputusan pengadilan untuk mengumumkan, pemerintah malah sibuk berkilah ini-itu.

Pepesan kosong. Minggu lalu kepala negara menyebut istilah pepesan kosong, entah dengan maksud apa sebenarnya atau sekedar curhat jilid keberapa, hal ini cukup menyentak di hadapan rapat dengan para kepala daerah. Konon itu ditujukan untuk mereka yang tak kunjung merealisasikan rencana di daerahnya, yang sudah begitu “ndakik-ndakik”-nya disusun.

Ataukah hanya sekedar pemanis wacana untuk mendongkrak prestise, atau bila sang kepala daerah incumbent ingin bertahta lagi? Seorang gubernur kebakaran jenggot (maaf, lebih tepatnya kebakaran kumis) mengelak dituduh sebagai biang pepesan kosong tersebut. Mungkin bila boleh protes, para kepala daerah akan menjawab, “Baiklah, kalau kami dituduh berkomitmen pepesan kosong, tapi resep asli pepesan tersebut kami ambil dari dapur istana sekalian dengan bumbunya.”

Mungkin belum lama lupa, bagaimana petugas negeri ini yang sedang menangkap maling ikan digelandang seenaknya oleh negeri jiran, kedaulatan negeri hanya sebatas basa-basi kosong pernyataan prihatin, mengecam, dan menyesalkan. Saat TKI teraniaya dan terlunta-lunta di negeri orang, tidak ada tindakan tegas yang dilakukan untuk menjamin perlindungan terhadapnya. Jargon akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi ujungnya berlagak tak mau intervensi.

Warga yang terkatung-katung karena luberan lumpur, bertahun-tahun hanya beroleh pepesan kosong semata tanpa penuntasan yang jelas. Jadi siapa sebenarnya juragan pepesan kosong tersebut? Kok belum insyaf juga selama ini laparnya perut rakyat dipaksa kenyang dengan mengkonsumsi pepesan kosong?

Pencitraan berbakteri. Sebenarnya tak terlalu salah bila para pemimpin daerah itu selama ini hanya mencontoh pepesan kosong dari praktek pemimpin di atasnya. Dari kasus lampau semacam pertanyaan mengenai lagu album presiden pada soal seleksi CPNS.

Kemudian mencuat seri buku mengenai presiden yang menjadi buku pengayaan di sekolah-sekolah (hmm … pengayaan? siapa sebenarnya yang dibikin kaya?). Sampai, hari ini, seorang petinggi kabinet dengan gagahnya menginstruksikan agar instansi pemerintah untuk memboikot dua media televisi dan satu media cetak (berarti bukan Baltyra yang diboikot, :) ), karena dianggap getol menjelek-jelekkan pemerintah dan menanamkan kebencian pada pemerintah. Benar-benar boikot berbakteri.

Begitulah bila dikelilingi oleh orang-orang kepercayaan yang sibuk mencari muka demi mengamankan citra sang pemimpin, ketimbang sungguh-sungguh mengabdi melayani rakyat.

Sekretariat pepesan kosong dan Koalisi berbakteri. Kisruh di sekretariat para bedebah. Begitu kisah harian yang menyebalkan dimuat di media. Setiap episodenya mungkin jauh lebih menjengkelkan dan berputar-putar ketimbang sinetron sampah di televisi.

Angket ini, panja itu, interpelasi ini, dibarter dengan reshuffle anu. Berbicara berapi-api saling mengadu interupsi. Untuk kepentingan rakyat? Tentu saja untuk kepentingan para bedebah. Rakyat cukuplah kebagian pepesan kosong. Yang satu diancam dikeluarkan, yang lain dirayu dengan posisi hiburan. Kursi dimaui, tapi ogah ceburkan diri. Giliran sukses diraih saling busungkan dada, giliran mentog berlomba sembunyi tangan. Bakteri macam apa pula yang mampu menyebabkan otak mereka kehilangan akal sehat?

Prestasi pepesan kosong dan organisasi olahraga berbakteri. Kali ini kisah pengurus olahraga yang sudah menjabat sekian generasi. Minim prestasi, tak tahu diri. Statuta dipelintir ke sana sini untuk menggolkan ambisi pribadi. Suap dan pengaturan skor kompetisi sudah jadi makanan sehari-hari. Semboyan fair play cuma kibulan.

Mantan napi korupsi, harusnya sudah lama undur diri, eh masih berani mencalonkan diri, tak jera juga meski lama mendekam di bui. Para pesaing dijegal sejak dini. Mungkin sejalan dengan saran ahli kesehatan, agar bakterinya segera mati maka organisasi ini perlu direbus dengan suhu tinggi, karena berjuta kecaman dan hujatan dari para pecinta olahraga tak sanggup menyehatkan para pengurusnya.

Nuwun

23 Comments to "Pepesan Kosong Berbakteri"

  1. Lani  3 March, 2011 at 05:03

    KANG SIRPA : ES GRIM MADE IN SUSU VAN SIMBOK????? waaaaah apa gak super duper sehat neh??????? hahahah……..mungkin pasarannya khusus buat para pria doank………..nek wedog yo oralah………mosok nyusu susune dewe wakakakaka

  2. Sumonggo  3 March, 2011 at 03:30

    Kang Sirpa, kalau sekiranya masih diproduksi apakah berminat nyusu lagi … he he ……..

  3. Sirpa  3 March, 2011 at 02:43

    Mas Monggo : cuman mau nyambung aja ..ya ..( mumpung lagi ngemeng2 soal susu )

    Beberapa hari yang lalu di Inggris ada berita tentang ice cream ( logat Jowonya : Es Grim )
    Nah , es grim nya ini yah aneh , mosok bahan bakunya dipakai dari bahan ASI ( air susu simbok )
    sempat rusuh juga … trus sekarang produk itu sudah distop …. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.