Pergeseran nilai-nilai sakral dalam adat istiadat upacara pernikahan (Jawa)

Nunuk Pulandari

 

**Dalam tulisan ini saya tidak menggunakan istilah perkawinan karena menurut saya dalam kata perkawinan  tersirat suatu pengertian yang lebih menjurus kearah hubungan seksual sedang dalam kata pernikahan lebih menjurus pada proses berlangsungnya peristiwa upacara itu.

Dari bulan Mei tahun yang telah lalu sampai Januari tahun ini, beberapa kali saya sempat berlibur di Indonesia. Nou, sebetulnya bukan 100% liburan karena kesempatan ini juga digunakan untuk mengunjungi tante, kakak dan adik yang kena kemalangan. Dalam kesempatan yang sama saya juga ikut menghadiri paling tidak 4 (empat) upacara pernikahan.

Pertama: Pernikahan keponakan puteri “mas” (putera pakde) saya yang bertugas sebagai Pilot di Koreaanse Luchtvaart Maatschappij. Dalam kesempatan ini urutan tahapan upacara pernikahan, secara lengkap mengikuti seperti yang tertata dalam pernikahan adat istiadat Jawa, Yogyakartan.

Kedua: Pernikahan putera adik mbakyu ipar saya. Suatu pernikahan yang mengikuti upacara pernikahan campuran antara adat istiadat Sunda (Muslim) dengan pengaruh adat istiadat Jawa (Betawi).

Ketiga : Pernikahan puteri mas kandung saya nomor tiga. Suatu pernikahan campuran yang mengikuti adat Jawa (Muslim), dengan sebagian dari tahapan upacara pernikahan hasil modifikasi adat Yogyakartan.

Keempat. Pernikahan, mungkin lebih tepatnya receptie pernikahan puteri teman saya. Dalam pernikahan ini, hanya sebagain kecil dari urutan pernikahan adat istiadat Yogyakartan yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara pernikahannya.

Undangan pernikahan puteri mas kandung saya

Dalam siklus kehidupan manusia, pernikahan merupakan salah satu peristiwa yang cukup penting.  Peristiwa ini pada umumnya dilaksanakan melalui serangkaian upacara yang berlaku dalam tradisi budaya daerah para calon mempelai yang bersangkutan. Suatu upacara pernikahan dalam setiap adat istiadat budaya  memiliki keindahan, keistimewaan dan nilai-nilai kesakralan tersendiri. Juga dalam upacara  pernikahan  adat Jawa, khususnya Yogyakartan. Kita bisa melihat bahwa setiap tahapan dari serangkaian upacara pernikahan adat memiliki makna dan tujuan tersendiri.

Calon mempelai pria memasuki ruang upacara untuk melaksanakan proses akad nikah.

Untuk mengingatkan kembali serentetan rangkaian urutan dalam tahapan upacara pernikahan adat Yogyakartan, saya tuliskan semuanya dengan secara singkat, di bawah ini. Tahapan dalam upacara pernikahan adat Yogyakartan terdiri dari urutan sebagai berikut:

I . Pertama

1.       Nontoni (melihat). Biasanya pihak pria yang melakukan hal ini. Maksudnya untuk melihat bebet, bibit dan bobot calon wanitanya. Dalam peristiwa pernikahan pada saat kini situasi dan kondisinya sudah berbeda.  Sebelum upacara pernikahan baik pihak keluarga pria  atau pihak wanita maupun masing-masing calon mempelai sudah saling tahu / kenal. Jaman dulu masing-masing keluarga sangat  asing antar satu dengan yang lainnya. Karena itu kegiatan nontoni saat kini sudah sangat jarang dilakukan.

Calon mempelai puteri diantar yunda tercinta (kanan dlm gambar) memasuki ruang upacara untuk me- laksanakan proses akad nikah .

2.       Lamaran. Pada hari yang telah disepakati bersama, keluarga pria datang melamar dengan membawa  “bruidsschat”/  semacam oleh-oleh. Bruidsschat ini bisa berisi berbagai jenis makanan dan oleh-oleh lainnya. Tujuan dari kunjungan ini adalah meminang gadis yang dimaksudkan.

3.       Jawaban. Dalam waktu yang sudah diputuskan bersama, pihak keluarga sang gadis akan berkunjung balik untuk menjawab permintaan sang pria.

4.       Peningsetan. Bila kedua belah pihat telah setuju untuk saling berbesanan, maka pihak pria akan memberikan peningset (pengikat) pada pihak putri. Dalam kesempatan ini bentuk peningset dapat diberikan dalam berbagai ragam perwujudan seperti yang telah disepakati bersama. Dalam kesempatan ini juga sangat lazim untuk sekaligus membicarakan tentang hari dan tanggal proses pelaksanaan pernikahan.

Peningset yang diserah terimakan dalam salah satu  tahapan upacara adat, akad nikah.

II. Kedua

Setelah tiba hari dan tanggal  serta bulan yang telah disepakati bersama,  maka dilaksanakanlah serangkaian tahapan upacara adat pernikahan. Peristiwa sacral ini dilaksanakan dalam serangkaian tahapan sebagai berikut:

1.       Upacara  pemasangan Tarub. Serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam membangun dan menghias pintu masuk/ pintu gerbang rumah atau tempat dimana upacara pernikahan adat akan dilaksanakan. Dalam membangun dan menghias pintu masuk ini diperlukan cukup banyak ragam perlengkapan dan sajen. Setiap perlengkapan dan sajen mempunyai makna dan fungsi tersendiri dalam upacara Tarub. Kegunaan sajen dalam kegiatan ini adalah sebagai persembahan bagi para arwah nenek moyang dan kekuatan gaib yang ada dalam upacara ini.Kegiatan ini biasanya dilaksanakan bersamaan waktunya dengan acara siraman. Kehadiran para tetangga sangat diharapkan untuk melengkapi jalannya upacara pasang tarub.

Upacara tukar cincin termasuk dalam serangkaian tahapan  upacara akad nikah

2.       Nyantri. Suatu bagian dari upacara pernikahan adat  yang sudah lama dihilangkan. Hal ini  hanya dilakukan untuk melancarkan upacara yang ada. Biasanya dalam acara nyantri, pihak pria sudah diserahkan pada pihak wanita beberapa hari sebelum hari H. Menunggu hari H si pria ditempatkan di rumah keluarga yang  tinggalnya tidak jauh dari rumah tinggal si wanita.

Selama berlangsungnya tahapan upacara nyantri, kedua calon mempelai tidak dibolehkan untuk saling bertemu.

3.       Upacara Siraman. Upacara memandikan calon pengantin dengan tujuan membersihkan dan mensucikan baik secara lahiriah maupun batiniah. Suatu upacara memandikan biasanya diikuti oleh tujuh poro sepuh yang “sempurna” dan tidak cacat dalam kehidupan pernikahannya. Sebetulnya dalam memandikan ini ada kepercayaan yang mengatakan bahwa semakin banyak yang memandikan akan semakin banyak rejeki yang diperolehnya, asal saja diusahakan jumlahnya tetap ganjil. Tetapi untuk menjaga kesehatan sang calon, biasanya dibatasi hanya sampai tujuh orang saja. Tujuh yang artinya pitu dalam bahasa Jawa. Pitu juga  merupakan akar kata dari kata pitulungan. Filosofisnya adalah bahwa dalam kehidupan pernikahannya di kemudian hari akan selalu ada pitulungan dari tujuh orang . Untuk upacara ini juga diperlukan sederetan perlengkapan. Juga dalam serentetan upacara siraman secara adat ini diperlukan berbagai jenis sajen.

4.       Upacara ngerik. Upacara mengerik wulu kalong (bulu-bulu halus) disekitar dahi agar waktu dihias akan nampak bersih dan bersinar. Disamakan/ dinamakan dengan wulu kalong, karena kalong (kelelawar) meempunyai bulu-bulu yang sangat halus sama seperti rambut-rambut halus yang tumbuh di dahi para gadis. Tujuan utama menurut adat adalah agar si calon benar-benar bersih baik secara lahiriah maupun batiniah.

5.       Upacara midodareni. Upacara adat dilaksanakan pada sore hari menjelang hari ijab. Si calon penganten putri setelah disirami dan dikerik lalu dirias. Setelah dirias calon mempelai wanita   tidak diperkenankan tidur dan keluar kamar sampai lewat tengah malam. Tirakatan dan lek-lekan dilakukan dalam kamar penganten puteri diiringi dengan perbincangan yang ringan. Upacara ini secara tidak langsung merupakan latihan untuk mengendalikan diri dan laku prihatin. Bila dilaksanakan dengan baik orang percaya bahwa sang penganten puteri akan menerima kedatangan bidadari karena kesabaran dan keprihatinanya. Dan kedatangan bidadari ini terwujudkan dalam penampilan wajah calon mempelai wanita yang menjadi “manglingi”.

6.       Upacara Ijab. Upacara Ijab, yang juga dikenal dengan nama upacara akad nikah merupakan inti pokok dalam suatu upacara pernikahan. Upacara yang pada akhirnya menandakan telah syahnya pernikahan kedua mempelai untuk menjadi suami istri, baik secara administratief maupun secara agama dan juga secara adat yang berlaku.

Upacara akad nikah

7.       Upacara Panggih. Dalam tahapan upacara pernikahan adat, upacara panggih merupakan tahapan paling akhir yang merupakan tahapan puncak dari semua tahapan upacara pernikahan yang ada. Untuk kelangsungan pelaksanaan upacara panggih ini diperlukan pula berbagai ragam perlengkapan yang masing-masing  mempunyai nilai simbolik dan sakral tersendiri.

Kita semua tidak dapat memungkiri bahwa pengaruh Globalisering telah menghilangkan batas dan hambatan dalam silang informatie, baik antar negara maupun antar daerah. Hal  Globalisering ini tentu nya juga mempermudah masuknya pengaruh budaya asing dalam budaya Indonesia dan timbal balik. Juga saling pengaruh budaya antar daerah menjadi semakin lancar.  Salah satu “hasil” globalisering yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah adanya pernikahan yang terjadi antar suku, antar daerah atau antar negara.

Suatu rangkaian proses pernikahan campuran  akan terlaksana dengan baik bila sebelumnya telah terjadi saling timbang dan saling rembugan sehingga dapat ditemukan satu kesepakatan bersama dari kedua belah pihak untuk menentukan bentuk tahapan upacara adat yang akan dipakai.  Sebagai salah satu konsekwensi dari proses pernikahan campuran adalah kemungkinan timbulnya proses penyesuaian / perpaduan dalam tahapan upacara pernikahan adat yang telah dipilih. Proses penyesuaian / perpaduan ini bisa berupa proses penyederhanaan, pengurangan atau proses penambahan dalam urutan tahapan upacara pernikahan adat yang berlaku.

Upacara sungkeman  pada kedua ayah/ ibu dan poro sepuh tetap dipertahankan.

Demikian pula kehadiran berbagai media memudahkan bagi kita untuk secara langsung bisa menyaksikan sejumlah upacara pernikahan dengan pasangan yang berasal dari dua negara atau  dari dua daerah yang berbeda.  Dalam pernikahan campuran ini biasanya terjadi suatu  upacara pernikahan yang terpadu. Suatu perpaduan upacara pernikahan adat  “versi baru” yang berisi serangkaian tahapan upacara yang merupakan hasil kesepakan bersama yang berasal dari dua adat istiadat yang berbeda

Dalam tahapan upacara pernikahan adat  yang salah satu pihaknya berasal dari negala lain, biasanya  terjadi proses “penyederhanaan”. Dalam hal ini sering ada rangkaian tahapan upacara pernikahan adat yang di”hilangkan” dan tidak dilaksanakan seperti yang telah disepakati bersama.

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin sedikit  berbagi cerita melihat adanya “ketidak konsekwenan” dalam melaksanakan tahapan upacara pernikahan adat Jawa yang telah sederhanakan / dipadukan. Ketidak konsekwenan ini terjadi dalam pemilihan tahapan upacara adat yang akan disederhanakan/ dipadukan.  Dalam upacara adat pernikahan Yogyakartan yang sempat saya hadiri, proses  penyederhanaan / memadukan terlihat dengan tidak diikutsertakannya beberapa tahapan upacara adat, seperti misalnya tahapan:

1.       Upacara pemasangan tarub

2.       Upacara nyantri

3.       Upacara siraman

4.       Upacara ngerik

5.       Upacara midodareni

6.       Upacara panggih.

7.       Tata cara pemilihan dan pemakaian busana.

Dalam perpaduan upacara pernikahan adat ini proses “ penyederhanaan “  yang sangat menyolok terjadi misalnya dalam tahapan sebagai berikut:

1.       Cara berbusana. Akhir-akhir ini selama proses upacara pernikahan sering terlihat bahwa kedua calon mempelai tidak lagi menggunakan cara busana dan paes yang resmi menurut adat istiadat yang dipilihnya. Kedua calon mempelai tidak lagi mengenakan corak pakaian kebesaran pernikahan, seperti misalnya berpakaian dengan Paes Ageng, Paes Corak kesatrian dll, dll. Pengantin Putri tidak lagi memakai paes yang disebut “Cengkorongan” . Paes wajah yang terdiri dari Penunggul, Penitis, Pengapit dan Godheg yang berwarna hitam yang menghiasi dahinya. Sanggulnya sudah bukan sanggul tekuk lagi… Hiasan dirambut tidak lagi hanya dari bunga melati tapi sudah digantikan dengan bunga anggrek Catleya….dlll, dlll

Perlengkapan busana, kebayanya sudah digantikan baik model maupun bahannya.

2.       Tahapan upacara. Semua tahapan upacara baik secara detail atau secara garis besar yang dianggap merupakan perwujudan dari upacara adat istiadat sering dihilangkan. Juga semua perlengkapan yang berhubungan dengan sesajen dan srono dihilangkan.

Acara siraman tidak dilakukan lagi. Upacara taruban sudah tidak dijumpai. Upacara panggih

yang penuh dengan nilai sacral dan mempunyai makna filosofis tidak dilakukan lagi. Banyak tahapan upacara adat seperti balangan suruh (lempar sirih), basuh samparan pengantin pria, pecah telur, kacar kucur,  daharan dll, dll yang dihilangkan.

Memang upacara sungkeman pada poro eyang sepuh masih selalu dipertahankan karena dalam tahapan ini  terkandung suatu makna yang dalam untuk memohon doa restunya.

Kedua mempelai bersama poro eyang yang telah berumur antara 82 s/d 96 th, kecuali mas saya  baru 66 th

Untuk sebagian masyarakat  proses terjadinya penyederhanaan dalam tahapan upacara pernikahan adat sangat disayangkan. Proses penyederhanaan ini menyebabkan banyak, dan banyak sekali nilai-nilai sacral dan makna filosofis yang terkandung dalam butir-butir rangkaian tahapan upacara pernikahan adat,  menjadi hilang dan terlupakan dalam perkembangan waktu mendatang. Gejala penyederhanaan ini dengan sendirinya juga menimbulkan kekhawatiran terutama pada para tokoh yang bergerak dibidang traditie pernikahan adat. Tetapi melihat semakin seringnya serangkaian tahapan upacara pernikahan adat terpadu yang diekspos baik melalui media tulis maupun media elektronis, dengan sendirinya kita tidak bisa lagi menolak adanya proses penyederhanaan ini.

Proses penyederhanaan/ penghilangan tahapan upacara pernikahan adat ini dilakukan dengan berbagai alasan, seperti misalnya:

1.       Mencari praktisnya saja.

2.       Dengan mempertimbangkan  bahwa upacara adat istiadat yang terlalu rinci  untuk saat ini melihat sikon yang ada tidak lagi relevan untuk dilaksanakan.

3.       Melihat dan mempertimbangkan tujuan akhir dari suatu upacara pernikahan.

“Sesungguhnya proses perpaduan/ penyederhanaan dalam tahapan upacara pernikahan adat dapat saja dilaksanakan sejauh hal itu tidak mengubah prinsip-prinsip yang ada dalam upacara pernikahan adat itu sendiri” Pikir saya.  Suatu pemikiran yang juga sukar dipertanggung jawabkan dan segera terbantah dengan sendirinya setelah terutama melihat banyaknya proses pengurangan/ penghilangan dalam  tahapan upacara pernikahan adat.

Hal ini juga telah menimbulkan  pertanyaan: ”Apakah prinsip-prinsip dasar dalam upacara pernikahan adat itu sendiri tidak terlanggar karenanya.” Lalu ada bisikan lain yang mempertanyakan: ”Siapa yang akan melestarikan traditie pernikahan adat yang indah dan istimewa ini bila para ahli rias/ paes nganten juga menyetujui dan melaksanakan proses penyederhanaan ini?”…

Pertanyaan yang sukar dicarikan jawabannya selama dalam pelaksanaan proses pernikahan, orang yang bersangkutan (terutama dukun paes) seolah hanya lebih memikirkan jumlah angka-angka nominal yang akan diterimanya…..Dan nampak seakan-akan lupa  untuk turut menyumbangkan pemikiran dalam rangka  melestarikan proses pernikahan secara adat istiadat yang dianut dan dikuasainya.


Kedua mempelai berpose bersama seluruh keluarga kakak beradik pihak ayah mempelai wanita, mas saya.

Saya pribadi, kalau masih diberi kesempatan turut menunggui proses perenikahan  putera dan puteri saya, sesungguhnya mengharapkan bahwa keduanya di kemudian hari akan melaksanakan semua tahapan upacara pernikahan adat seperti yang berlaku dalam adat Jawa yang indah dan istimewa serta penuh dengan nilai-nilai sacral dan mempunyai makna filosofis yang tinggi…

Tetapi sayapun sadar bahwa dalam hal ini kata akhir akan sangat bergantung pada kesepakatan bersama, tentunya dengan mengutamakan keinginan yang akan menjalani proses pernikahan ini…..Semoga dihari mendatang kita semua dapat berperan serta dalam melestarikan proses pernikahan adat, terutama  yang masih berlaku di Indonesia…. Semoga!

** Pada proses pernikahan adat ini juga dihadiri oleh beberapa anggota keluarga mempelai pria yang berasal dari Jerman.

 

 

206 Comments to "Pergeseran nilai-nilai sakral dalam adat istiadat upacara pernikahan (Jawa)"

  1. nu2k  7 March, 2011 at 12:07

    Ayoook jeng, mau datang sama-sama…. Ning nggoné mimpi ndisik… Lagi pula jik uaaadem banget ning njobo. Mosok wis musim semi ning kok jik uaaasrep srep ngéné iki terus piyé…..

    Wis, wis, mengko disambung manéh..Nék ngobrol karo panjenengan iku kok gak iso dipotong-potong iku terus piyé toch Mengko aku ndhak te laat. Aq mau tutup warung….Tenan.
    Kus, kus, kusssss, Nu2k

  2. Lani  7 March, 2011 at 10:49

    MBAK NUK : lelembut soko P’cis jik sibuk banting tulang persiapan merayakan ULTAH PERKAWINANNYA ……….jd biar aja turu sing rodo dowoooooooooooo

  3. nu2k  7 March, 2011 at 10:46

    Jeng Lani, nyuwun tulung… Itu kang mbakyunya diwungok aken… Mbakyuku yang satu ini agak mbelet nék ijik bobokkk… Wis, wiiiisss, uuuaaaangel tenan nék diaturi wungu….

    Tulung yo jeng Lani… Doei, Nu2k

  4. nu2k  7 March, 2011 at 10:11

    Dimas Handoko, goedemorgen… Ha, ha, haaaa. Waaaaah, jadi toch acara perbesanannya…..Ceritanya kembali ke Jaman Siti Nurbaya… Hanya pakai sedikit polesan kata demokrasi ….

    Suhuuuu JC, siap-siap lhoooo, acara Nontoni sedang dalam persiapan…..

    Ning mbakyu Clara, soko Perancis gék nang pedalaman Irian Barat opo nék nggone suku Dayak kono???
    Cocok yooo? Kali ini Afrikanya indonesia…..Neng nong neng gong,,,,,,

    Groetjes, Nu2k

  5. Handoko Widagdo  7 March, 2011 at 08:27

    Mbak Clara lha monggo kersa. Asal anak-anaknya pada mau. Tapi anakku sing mbarep inginnya belajar Theology dan pingin tinggal bersama penduduk asli di pedalaman Papua atau Kalimantan

  6. Lani  6 March, 2011 at 23:04

    MBAK NUK : aku wes balik soko lariiiiiii pagi……..wes adus……..iki wes wangi wakkakaka……..sambil buka BALTRYA……aku jg nyambi laundry…….kkkkkkk mmmm pd dasarnya mbak Nuk dan aku setuju to, bhw bagaimanapun KODRAT nya wanita dan pria itu berbeda…….mmg udah diciptakan KERSANING ALLAH……..jd ya tetep aja berpijak pd kodrat itu……rak sah neko2 WOMEN LIB kebablasen…….yg penting RESPECT…….rak yo to mbak?????

    wah, jelas bener to mbak URIP MING SEPISAN, SINGKAT MENEH……jd dinikmati wae lah…….perkara kembang ya nek sisihan sampai kudu dislentik sampai ngekek-i kembang yo bener2 pria KUPER……binti TELMI kuwi mbak wakakakaka……..

    amit2 jabang bahyi jok kuagetttttttttt………….kkkkkkk

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)