Senja di Chao Phraya (10)

Endah Raharjo

 

Bab 3: Menghalau Mendung Langit Jogja (1)

Laras menikmati hangatnya air shower yang mengguyur kepalanya.  Bagai rinai hujan yang jatuh di atas rerumputan, rasa hangat itu terasa segar di kulit kepala, menyelusup hingga ke akar-akar rambut panjangnya. Seolah semedi, ia mengatupkan mata, meluruskan pundak, menegakkan punggung, lehernya menyangga kepala dengan sempurna.

Pori-pori kulitnya pelan-pelan terbuka. Di antara gemericik air shower, Laras mendengar suara piring ditata di meja makan. Mega dan Angka sedang menyiapkan makan malam bagi sang ibu yang baru pulang dari Thailand.

“Ang, Mama suka gelas yang kecil, bukan yang itu,” Mega mengingatkan adiknya yang menaruh gelas besar di atas meja makan.

“Aku suka yang ini.”

“Mama suka yang ini,” Mega meraih gelas besar itu dan menggantinya dengan yang kecil.

“Ribet, ah!” Protes Angka.

“Ngeyel!” Sahut Mega

“Yang mana aja sama,” Laras tiba-tiba sudah berada di antara mereka. Rambut basahnya tertutup handuk biru muda. Aroma segar sabun dan sampo menguar dari tubuhnya. Matanya bersinar menikmati polah tingkah dua anaknya. Suasana semacam itu selalu menghangatkan hatinya. Yang paling dirindu Laras bila sedang jauh dari rumah adalah celoteh dua anaknya, keributan-keributan kecil sehari-hari yang dibuat dua buah rahimnya. Kini mereka ada di depannya, sedang menata meja.

“Iya tuh, Ma. Mbak Mega maunya apa-apa sempurna.”

“Kamu aja yang apa-apa mau cepetnya.” Mega menjulurkan lidah pada adiknya.

Mereka sudah dewasa dan mandiri, pikir Laras. Namun mereka tetap bertingkah seperti dulu, saling ledek. Betapa cepatnya waktu berlalu. Mereka tampak telah lupa pada musibah lima tahun lalu yang merenggut ayah mereka. Kematian itu datang tiba-tiba, tanpa tanda-tanda.  Saat itu, Mega belum genap 15 tahun.

Kini ia sudah menjadi perempuan muda. Alisnya tebal dan rambutnya lurus, mirip ayahnya. Memandangi Mega, sekilas terbayang peristiwa hampir 5 tahun lalu itu. Mas Danang sedang mengikuti sebuah seminar ketika rasa perih menjepit rongga dadanya. Beberapa menit kemudian, kapalanya terkulai di atas meja. Lalu, nyawanya tergesa meninggalkan raga, sebelum ambulans yang mengangkutnya mencapai rumah sakit, sebelum dirinya sempat membisikkan kata cinta untuk terakhir kalinya.

“Ma, ayo makan.” Suara Angka membuyarkan lamunan Laras.

“Sebentar. Mama taruh handuk di jemuran,” ujar Laras melangkah ke belakang, melepas handuk yang membalut rambutnya.

“Kayaknya Mama harus nyemir rambut nih,” Mega memandang kilauan perak yang mengintip di sela-sela akar rambut ibunya. “First thing in the morning. Ya?” tambah si perempuan muda, mengedipkan mata pada ibunya.

“Kalau ubannya Mama biarkan aja, nurut kalian gimana?”

Tangan Angka yang akan meraih tahu dengan garpu terhenti di udara. Matanya terbelalak menatap mata ibunya. “Jangan!” Serunya.

“Memang kenapa?” sahut Laras cepat.

“Aku nggak suka Mama beruban. Jadi tampak tua,” sungut Angka.

“Mama kan memang udah tua. Udah 46 lho!”

“Masih muda.” Suara Angka terdengar ketus.

“Hei…. Mama kan cuma minta pendapat kita,” Mega menggerakkan dagu ke atas, memandang adik dan ibunya bergantian, “Ya, kan, Ma?”

“Kalau kalian nggak setuju ya nggak apa-apa. Besok pagi Mama cat ubannya.”

Laras tersenyum melihat perubahan wajah anak lelakinya. Sejak kecil Angka sangat memperhatikan penampilan ibunya. Ia bangga kalau teman-temannya mengatakan ibunya cantik dan awet muda. Ia sering memajang foto-foto ibunya di wall Facebook-nya dan menikmati komentar yang ditulis teman-temannya. Ia tak pernah lupa memuji bila Laras tampil cantik. Sikap Angka ini menurut teman Laras, sesama janda, berbeda dengan anak lelakinya.

“Anakku yang laki-laki justru nggak suka kalau aku dandan,” begitu kata teman Laras. “Dia pencemburu. Persis seperti almarhum bapaknya,” tambahnya. Laras hanya tertawa mendengar keluhan temannya, karena suaminya bukan jenis lelaki pencemburu. Mungkin karakter Danang menitis pada anak lelakinya. Ia bersyukur atas hal itu.

Teman kerjanya sebagian besar laki-laki. Kalau sampai Angka cemburu pada mereka, batinnya bisa tertekan. Namun di satu sisi Laras juga khawatir kalau anak lelakinya itu jadi memujanya. Jangan-jangan nanti dia akan membandingkan pacarnya dengan ibunya. Pikiran yang melintas itu langsung ia halau pergi.

Laras percaya bahwa pikiran seorang ibu tentang anak-anaknya itu bagai doa, sehingga ia berusaha berpikir yang serba baik untuk Mega dan Angka. Terutama bila sedang jauh dan rasa rindu memenuhi rahimnya, Laras hanya akan memikirkan hal-hal yang indah tentang mereka.

Sambil makan Laras menceritakan peristiwa-peristiwa menarik yang dialami dalam perjalanan terakhirnya. Mega banyak bertanya seputar stateless people. Anak gadisnya itu lebih suka kegiatan lapangan, mirip dirinya, sedangkan anak perjakanya tak mau jauh-jauh dari komputer dan berbagai perlengkapan gambarnya.

“Jadi mereka itu nggak punya negara, Ma?”

“Mereka itu orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan. Keberadaan mereka tidak diakui baik di negeri asalnya maupun di negeri tempatnya mengungsi. Mereka seolah tidak ada, tidak hidup, tidak kasat mata.”

“Kasihan sekali,” bisik Mega. Tiba-tiba ia jadi merasa kenyang.

“Kalian tahu apa akibatnya? Terutama untuk anak-anak? Tanpa identitas, semacam KTP atau paspor, mereka tidak bisa melakukan kegiatan apapun secara legal. Tidak bisa sekolah. Tidak mendapat layanan kesehatan. Tidak bisa cari kerja. Bayangkan saja betapa menderitanya.” Laras berhenti, memandang dua pasang mata yang menatapnya tak berkedip.

“Hidup mereka sepenuhnya tergantung pada bantuan orang lain. Banyak LSM dan organisasi kemanusiaan yang membantu. Jumlah mereka di seluruh dunia banyak sekali, belasan juta orang.”

“Kalau udah lulus aku ingin jadi relawan. Boleh, Ma?” tanya Mega.

“Boleh saja kalau kamu memang mau.” Tangan Laras terulur menyibak rambut panjang Mega yang jatuh di dadanya.

“Ma. Aku lihat foto-foto Mama di FB Tante Mila,” ujar Angka.

“Oh?” Laras mengangkat alisnya. Ia tidak punya akun Facebook. Sesekali saja dia melihat Mila dan teman-temannya mengunggah foto-foto atau apa saja di wall Facebook.

“Ada foto Mama sama bule. Tapi bukan KJ atau Trent,” lanjut anak lelakinya.

KJ adalah team leader proyeknya dan Trent Hoffman adalah sesama anggota tim, ahli pendidikan anak-anak.

“Oh, yang itu? Yang fotonya mesra banget itu, ya?” tambah Mega.

“Mesra?” Jatung Laras berdegup kencang. Ia tidak menyangka kalau Mila akan memasang foto-fotonya dengan Osken di wall Facebook. Sulit bagi Laras mengingat pose apa saja yang dibidik Mila. Seingatnya, Mila hanya memperlihatkan tiga atau empat fotonya bersama Osken yang tersimpan di dalam iPhoto.

Yang diambil di teras kamarnya dan ketika mereka sedang di pinggir danau. Wajah Laras mengencang. Lehernya terasa tegang. Ia ingat. Ya. Saat itu. Sore pertama setelah Osken sampai di guesthouse, mereka menikmati langit senja sambil berpelukan mesra di pinggir danau. Ia ingat. Mila mendekati mereka dengan kamera di tangan. Ya, Tuhan. Tiba-tiba muncul rasa malu, bingung, marah dan takut menjadi satu. Mengapa Mila tidak minta ijin dulu? Tidakkah Mila tahu kalau banyak teman dan keluarganya punya akun Facebook juga?

“Iya. Mama mesra banget sama Om-om itu.” Suara Angka mengejutkan Laras.

“Om-om?” Laras menyahut saja sekenanya. Mukanya terasa panas. Otaknya seakan meleleh pelan-pelan, mengalir melalui kerongkongan, seperti ingus bila ia sedang selesma. Ia tidak bisa berpikir.

“Iya. Om-om bule. Ganteng, sih. Siapa, Ma? Belum pernah lihat ada di foto-foto Mama,” Mega menatap ibunya, piringnya ia geser, dua sikunya ia letakkan di atas meja.

Sehabis pulang dari tugas di luar negeri, biasanya Laras menunjukkan foto-foto pada dua anaknya, agar mereka tahu lokasi yang ia kunjungi, kantornya, hotelnya dan teman-teman kerjanya. Mega dan Angka baru bertemu dengan Mila, KJ dan Trent. Namun mereka sudah mengenal wajah-wajah lain dari koleksi foto ibunya yang tersimpan rapi di dalam iPhoto. Seperti Hasan si fotografer dari Turki, June yang cantik dan tiga staf ahli senior dari Myanmar, China dan Amerika.

“Teman Mama. Namanya Osken,” Laras berusaha keras mengatur nada suaranya agar tidak bergetar.

“Teman dari mana, Ma? Kapan ketemunya? Lokakarya di Melbourne? Proyek pasca tsunami Aceh?” Pertanyaan Angka beruntun. Ia selalu ingin tahu semua teman ibunya. Namanya, keahliannya dan asalnya. Sering Laras dipaksa bercerita tentang kebiasaan-kebiasaan mereka yang lucu dan aneh serta hal-hal konyol yang mereka lakukan bersama.

“Ketemu di Bangkok. Tahun lalu. Tinggalnya di Washington DC,” dengan menahan nafas Laras menceritakan beberapa hal tentang Osken. Untuk mengalihkan perhatian, ia meminta Mega mengambilkan air putih hangat. “Leher Mama gatel, nih,” Laras beralasan. Ia takut anak-anaknya menangkap rasa gelisah yang membuat suaranya bergetar.

Ia sangat menyesal mengapa tidak siap-siap sejak awal. Ia tidakmemperkirakan hal semacam ini akan dihadapi begitu tiba di rumah. Ia juga tidak berpikir Mila akan memajang foto-fotonya bersama Osken di wall Facebook. Laras mengatupkan giginya. Ia harus bicara dengan Mila setelah obrolannya dengan anak-anak di meja makan selesai. Dengan menekan kuat-kuat rasa kuatirnya, Laras bertahan di meja makan, menjawab pertanyaan-pertanyaan Mega dan Angka.

“Kalian mau lihat foto-foto sekarang atau…?” Begitu ada kesempatan Laras mengalihkan pembicaraan.

“Kapan-kapan aja, Ma. Kelihatannya Mama capek banget. Istirahat dulu aja. Biar kami yang urus dapur,” Mega bangkit dari kursinya, mengangkat piring-piring kotor dari meja makan.

“Iya, Ma. Istirahat aja,” Angka mengikuti kakaknya, memunguti gelas.

Laras menggeser kursinya menjauh dari tepi meja, memandang Mega yang memindah-mindahkan sisa nasi dan lauk ke mangkuk dan piring kecil. Ditengoknya jam dinding, pukul 19.30 malam. Di Yangon saat ini pukul 18.55. Osken pasti masih di kantornya atau di lapangan. Mereka berjanji untuk Skype sekitar pukul 21 waktu Yangon.

Rasanya ingin segera mengirim email, mengabarkan kalau malam ini ia tidak bisa Skype karena lelah sekali. Tapi ia rindu pada lelaki itu. Suara gelas, sendok dan piring bercampur dengan gemericik air kran menyamarkan debur jantungnya. Ia termangu. Ragu-ragu.

*****

16 Comments to "Senja di Chao Phraya (10)"

  1. Endah Raharjo  4 March, 2011 at 09:34

    Hi All! makasih banyak udah ninggalin komentar. @Linda: Laras suka parno kalo urusan cinta hahahahaaa…@Pak Djoko: masih tipis, Pak. Totalnya belum ada 20 ribu kata moga2 nggak bosen bacanya ya… @Lani @Mawar + Phie: beres, biar ngos-ngosan saya tulis terus…

  2. phie  4 March, 2011 at 01:36

    lanjut trs ya mba critanyaaaa….thx

  3. Mawar09  3 March, 2011 at 23:53

    Endah: makin seru nih ceritanya, berharap cemas …. apakah anak2 Laras bisa menerima hubungan ibu mereka dengan Osken. Ditunggu ya lanjutannya.

  4. Lani  3 March, 2011 at 07:13

    KORNEL : OSKEN BUKAN OKSEN koreksi dikit ya……….

    ER : wakakak……aku mah sll naksir BUL-BUL………pokok-e dinggo aku HIDUP BULELENG………! ooooops!

  5. Djoko Paisan  2 March, 2011 at 23:07

    Mbak Endah….
    Terimakasih ya….
    Waaaah…kalau dibikin buku, sudah tebal nih….!!!
    Hebat…!!!

  6. Linda Cheang  2 March, 2011 at 21:58

    Larasnya, kan enggak perlu sampai kelewat kuatir gitu, donk… hehehe, koq, aku malah ngatur, hahahaha….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.