Menuju Green School

Tira Soekardi

 

Dengan adanya program green school, tim Krisan 2 (kelompok kreatif SMA Santa Maria 2) berinisiatif membuat kompos dari sampah organic. Masalahnya di sekolah tidak ada sampah organic, maka dibuatlah bank sampah dimana setiap hari siswa mengumpulkan sampah organic, dikumpulkan kemudian dicacah kecil-kecil dan sebagian mengambil dari sampah organic yang ada di pasar sekitar sekolah yang sudah tidak terpakai atau terjual.

Sampah-sampah organic tersebut dicacah sampai kecil dan dimasukan kedalam komposter. Komposter dibuat dari gentong plastic yang di bagian bawahnya diberi lubang untuk sirkulasi udara. Sebelum dimasukan ke dalam komposter diberi activator untuk mempercepat penguraian sampah organic tersebut.

Kendala yang terjadi adalah ternyata sampah daun lebih sulit terurai dibandingkan sampah sayuran sehingga untuk masa selanjutnya akan dipergunakan sampah organic dari sayuran. Jadinya kompos tidak bisa dipanen sekaligus karena membuatnya tidak sekaligus tapi tiap hari sehingga waktunya juga akan berbeda.

Yang sudah jadi akan dipanen dan dikeringkan dan siap dibungkus dalam kemasan untuk dijual. Dan bila untuk pemakaian sendiri tak perlu dikeringkan tapi langsung di taburkan di dekat tanaman.. Dan kompos diberi merk Kompos Krisan 2.

Pembuatan kompos ini penuh dengan lika-liku, tapi semangat anak-anak krisan tiap hari mencacah sisa sayuran dan mereka mau berkotor-kotoran patut diacungi jempol dan mereka mau bersusah payah untuk proyek kompos ini. Cayoo semangat terus…I proud of you…..

 

19 Comments to "Menuju Green School"

  1. Dewi Aichi  4 March, 2011 at 01:56

    kalau aku jadi gurunya….Muridku yang namanya JC tak suruh nyari sayur2an yang sudah terbuang di pasar, Lani sama Elnino tak suruh nyacah2 sayuran, Ayla tak suruh njual kompos, pak DJ tak suruh ngepacking kompos…pak Iwan tak suruh nyatet siapa saja yang kerjanya ngga bener, jadi yang belajar dengan tekun langsung lulus sekolahnya…!

    Nesu satus ewu..!

  2. Dewi Aichi  4 March, 2011 at 01:51

    salut bu Tira…anak-anak nanti akan merasakan manfaatnya…ketekunannya dalam berusaha…!

  3. Mawar09  4 March, 2011 at 01:13

    Tira: terima kasih ya sudah berbagi ceritanya disini. Semoga semakin banyak sekolah yang mengikuti kegiatan seperti ini. Salam!

  4. Lani  4 March, 2011 at 00:45

    MAS DJ : klu aku mmg pd dasarnya gak suka bekerja ngubekkkkkkk tanah……..cm sgt amat menikmati hasil dr kebun…….ya bunga ya buah…….wah seneng pokok-e makane klu pas dolan keperkebunan dan boleh memetik sendiri aku daftar paling depaannnnnnnnn…….seneng banget mas……ethok2-e melu dadi petani tp emoj glupuuuuuuuuutttttttttttt……….dgn tanah, cacing, kompos……wegah wes………pdhal disebelah rumahku di CA nek dijadikan kebun bs sgt indah……..cm yatu aku dan almarhum gak suka berkebun………hehehe…….saiki cm ditanduri pohon bambu………biar rimbun……..asal jgn malah dinggo omah lelembut wae mas

  5. Djoko Paisan  4 March, 2011 at 00:24

    Benar yu…
    Kan pernah punya kebun di Mainz, walau hanya 7 tahun saja dan dijual lagi…
    Asyik juga berkebun, semua dibikin sendiri…
    Dan hanya 600 M2 saja…
    Mungki satu saat akan beli lagi….

  6. Lani  4 March, 2011 at 00:09

    MAS DJ : foto dikomen 12…..PETANI SDG BERAKSI!

  7. Djoko Paisan  4 March, 2011 at 00:06

    Mbak Tira….
    maaf kok komentar Dj. ngilang….
    Mungkin Dj. lupa klick post coment…. dasar O´on….hahahahaha…!!!
    Okay Dj. ulangi…
    Bagus kalau anak.anak sudah sejak kecil diajar menganal natur…
    Bikin compos tidak sulit, hanya harus sabar….
    Kalau mungkin jangan juga dimasukan rumput,disamping makan waktu lama.
    Composnya akan kurang bagus…
    Hati-hati jangan sampai ada minyak, seperti kalai bikin salat ada pakai minyak, jangan dicampur dengan
    yang untuk bikin compos…..
    Ini Dj. sedang in Action bikin compos…
    Ditampung bukan dengan tong plasti, tapi dari kayu….
    Salam Manis dari Mainz…

  8. phie  4 March, 2011 at 00:04

    kok foto terakhir mirip sama sekolahku dulu di santa maria 1-crb, apa ini santa maria 2 crb ya??? bagus deh ada kegiatan spt ini lbh bermanfaat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.