Satu Abad Presiden RI Kedua Sjafruddin Prawiranegara

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

DULU nama Bina Graha sangat populer di telinga kita. Di tempat itu bekerja seseorang yang membina negeri ini selama lebih 30 tahun. Hampir semua orang ternama di dunia dan di negeri ini, pernah datang ke gedung tersebut. Dari pemain sepakbola ternama Pele sampai industrialis terkenal Jerman Pieter von Siemens, dari kepala suku lembah Baliem di Papua, Obahorok sampai Gubernur California Ronald Reagan.

Mereka datang untuk bertemu orang yang berkantor di bangunan yang letaknya di sudut Jalan Veteran 3 dan Jalan Veteran, menghadap Kali Ciliwung. Dalam Bina Graha ada ruang kerja untuk Soeharto, orang yang membina negera ini. Bentuknya kotak terbungkus dinding kayu coklat.

Sjafruddin digunting

Di dalam ruang kerja tersebut, tergantung foto besar. Itu satu-satunya hiasan dinding paling besar dan paling mencolok dipandang mata. Foto itu memperihatkan si empunya ruang kerja ketika muda belia. Berdampingan berdua dengan idolanya, Jenderal Sudirman. Foto itu dijepret Alex Mendur waktu masa revolusi dulu di ibukota Jogjakarta.

Namun ada yang aneh dalam foto tersebut. Aslinya ada tiga orang ( tambah satu orang tak dikenal) berjejer dalam foto terkenal itu. Sjafruddin Prawiranegara, Jenderal Sudirman, orang tak dikenal dan Soeharto paling kanan. Gambar Sjafruddin di cropping atau dipenggal.

Bagi seorang Soeharto, menghilangkan gambar Sjafruddin adalah haknya. Namun ada motif dan ada rasa yang juga melatari dia memotong gambar tokoh yang banyak menerima perlakuan negatif dari penguasa itu.

Sjafruddin adalah satu dari banyak tokoh yang berdiri berseberangan dengan Soeharto. Jarak antara keduanya di perlebar dengan pengasingan Sjafruddin Prawiranegara dalam banyak hal. Dari buku sejarah, dari kehidupan negara juga dari kewajiban negara yang seharusnya melindungi rakyatnya. Keadaan itu berlangsung cukup lama, sistematis dan brutal secara kesopanan bernegara.

Di tambah lagi, keadaan itu merupakan kelanjutan serial pengasingan seorang manusia bernama Sjafruddin Prawiranegara oleh negeri yang dicintainya. Pendahulu Soeharto, Presiden Soekarno, juga kurang menyukai sosok ini, meski diam-diam tetap menyayanginya sebagai seorang sahabat perjuangan.

Lengkaplah sudah penderitaan dan ketidakadilan yang diterima Sjafruddin Prawiranegara. Sedikit sekali generasi sekarang yang tahu namanya, apalagi mengerti peranannya dan jangan tanya betapa sulit orang sekarang mengagumi perjuangannya…. hingga pada malam hari 28 Februari 2011, semua pengasingan, penderitaan juga kejahatan negara terhadapnya mulai sirna.

Sjafruddin dihargai

Malam itu, 28 Februari 2011, adalah hari tepat Sjafruddin Prawiranegara lahir 100 tahun silam di Banten. Sebuah acara digelar di Gedung Chandra, Bank Indonesia, tempat dia pertama kali merintis, membangun dan memimpin sebuah institusi keuangan terpenting dan paling prestisius di negeri ini, Bank Indonesia (BI).

Berbagai macam jenis manusia hadir memberi kehormatan untuk seorang Sjafruddin Prawiranegara. Mulai sosok yang dulu mencintai, menghormati, bersimpati sampai yang menyakiti, hadir bersama untuk duduk mengenang semua yang terbaik dilakukannya untuk negeri ini.

Kami dari Baltyra mendapat kehormatan bisa hadir dalam acara tersebut. Seorang panitia, Bapak Lukman Hakiem, meminta Baltyra mengijinkan sebuah tulisan tentang Sjafruddin Prawiranegara dalam ruangan ini (http://baltyra.com/2010/08/05/serial-baltyra-orang-orang-terlupakan-dalam-proklamasi-sjafruddin-prawiranegara-dan-dato-muda-assaat/) untuk dijadikan tulisan dalam buku saku peringatan “1 Abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara 1911-2011”.

Malam itu tak ada lagi penistaan buat Sjafruddin Prawiranegara. Dia sangat berhak mendapatkan segalanya yang sudah menjadi haknya. “Bapak tidak minta dihargai”, kata putranya Farid Prawiranegara, yang berpidato penuh haru menceritakan getirnya perjalanan keluarga pada masa-masa sulit, Bukan pada masa Belanda, justru pada saat negera yang diperjuangkan ini sudah merdeka.

Jauh sebelum acara itu, nama Sjafruddin Prawiranegara mulai dibersihkan dan dihormati. Namanya yang harum diabadikan menjadi nama sebuah gedung tinggi di komplek kantor pusat Bank Indonesia, di banking line ibukota, Jalan MH Thamrin. Nama gedung itu ‘Menara Sjafruddin Prawiranegara’. Dia adalah gubernur pertama BI dan juga putra pribumi pertama yang memimpin ‘De Javache Bank’ (cikal bakal BI) terakhir kali.

Banyak orang mulai mengobati luka hati seorang Sjafruddin Prawiranegara yang dicampakkan pemerintah selama lebih 40 tahun lebih. Perannya memimpin RI secara darurat dari 19 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949, mulai dibicarakan lagi. Saat itu semua kekuatan dan kekuasaan negara RI dikuasai Belanda, kecuali yang ada di tangan Sjafruddin Prawiranegara.

Dia memimpin Republik Indonesia secara de facto di ibukota negara Bukittinggi dan sekitarnya selama 8 bulan. Dengan darah, keringat, tenaga tanpa imbalan, tentunya. Untuk pertama kalinya sejak 17 Agustus 1945, Indonesia mengalami pemindahan kekuasaan. Dari tangan Soekarno ke genggaman Sjafruddin Prawiranegara pada 19 Desember 1948. Soekarno dan pemerintahannya tak kuasa lagi memimpin negeri ini, karena ditahan Belanda.

Masa-masa Sjafruddin Prawiranegara memimpin negeri ini selama 8 bulan itu, banyak dilupakan. “Dia cuma Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia”, kata banyak orang. Apapun nama jabatannya, selama itu dia berkuasa mutlak secara hukum mengendalikan Indonesia. “Secara moral memang Soekarno Hatta saat itu memimpin Indonesia”, kata sejarawan Taufik Abdullah memberi sambutan dalam film dokumentasi perjalanan hidup Sjafruddin Prawiranegara.

Perlukah bagi seorang Sjafruddin Prawiranegara menerima semua penghargaan dan pengakuan ketika dia dilupakan pernah memimpin negeri ini secara darurat? “I’m doing my job”, kata Sjafruddin yang ditirukan putranya Farid saat mewakili keluarga memberi sambutan pada peringatan seabad ayahnya itu.

“Saya serahkan pemerintah untuk memberikan penghargaan yang sepantasnya untuk beliau”, kata Wakil Presiden Boediono memberi sambutan.

Apa job Sjafruddin Prawiranegara? PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KEDUA. (*)

 

Foto-foto lama yang berbicara:

 

Iringan Indonesia Raya by Idris Sardi:

 

Taufik Ismail Berpuisi Diiringi Biola Idris Sardi:

 

 

83 Comments to "Satu Abad Presiden RI Kedua Sjafruddin Prawiranegara"

  1. Mawar09  10 November, 2011 at 22:42

    Akhirnya kebenaran terungkap juga !! Bangga mempunyai teman yang tulisannya diakui serta menjadi bagian alat bukti sejarah. Bangga juga menjadi bagian dari rumah kita Baltyra.

    ISK : jangan malu dong, ini kan kenyataan jadi kayaknya ngga berlebihanlah. Salam!

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  10 November, 2011 at 12:43

    Waaaduuuh..Om JC dan teman-teman selalu berlebihan nih. Jadi malu saya…

  3. J C  10 November, 2011 at 12:29

    Malam ini adalah bukti pengakuan negara terhadap Sjafruddin Prawiranegara sekaligus pengakuan negara akan tulisan mas Iwan di Baltyra ini memang berbobot!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.