Arti Anak Perempuan di Jepang

Junanto Herdiawan

 

Tanggal 3 Maret adalah Hari Anak Perempuan di Jepang. Pada hari ini, masyarakat Jepang mencurahkan perhatian dan kasih sayang, khusus kepada anak-anak perempuannya. Orang Jepang menyebut hari ini dengan sebutan hina-matsuri. Meski bukan menjadi hari libur nasional, hina-matsuri marak dirayakan di berbagai tempat.

Boneka Ohinasama / JH

Saat saya menelusuri jalan-jalan kota Tokyo, berbagai ornamen yang menyambut perayaan hinamatsuri banyak terlihat. Simbol perayaan hinamatsuri yang paling mencolok adalah boneka ohina-sama, atau hina (putri), yang merupakan boneka sepasang pengantin Jepang. Karena simbol boneka itulah, hinamatsuri juga kerap disebut dengan Hari Festival Boneka (doll’s festival). Dalam merayakan hinamatsuri, umumnya orang tua memberikan boneka ohina-sama kepada anak perempuannya. Tradisi ini muncul sejak jaman Heian (794-1185). Boneka pengantin tersebut diyakini oleh masyarakat Jepang sebagai simbol kebahagiaan putri mereka nanti saat dapat melangsungkan pernikahan yang baik.

Namun, boneka ohina-sama asli harganya relatif mahal karena terbuat dari bahan kain dan jahitan yang sempurna. Oleh karena itu, banyak orang tua di Jepang yang membeli model plastik, karena harganya lebih murah. Kalau mau paket hemat, ada juga yang sekedar print out gambar boneka ini dari komputer dan menempelkannya di dinding kamar sang anak.

Camilan Hina Arare

Selain boneka, beberapa makanan tradisional juga dikeluarkan saat perayaan hinamatsuri. Salah satu yang terkenal adalah hina arare. Ini adalah sejenis camilan dari beras yang diberi warna warni. Ada putih, pink, hijau, dan kuning. Hina arare warnanya bisa berbeda-beda tergantung wilayah. Di daerah Tokyo-Kanto, umumnya tak banyak warna dan terbuat dari beras gula. Sementara di daerah Kyoto Kansai, hina arare rasanya lebih manis dan berwarna warni.

Anak perempuan saya, Kayla-chan, bercerita bahwa di sekolahnya diberikan hina arare oleh gurunya. Mereka memakan hina arare untuk memeringati Hari Anak Perempuan. Pada hari itu, anak perempuan diberikan perhatian lebih dari teman-temannya. Malam harinya, saya membelikan Kayla-chan es krim. Saya cukup terkejut karena di toko es krim ada juga edisi hinamatsuri. Edisi itu berbentuk satu cup es krim dengan topping biskuit berbentuk ohina sama. Saya juga membelikan chirashi zushi untuknya. Chirashi zushi adalah juga makanan yang menjadi simbol saat perayaan hinamatsuri karena toppingnya yang berwarna warni.

Es krim hinamatsuri / JH

Mencurahkan kasih sayang pada anak perempuan bukan saja tradisi di Jepang. Ajaran agama-agama juga memberi perhatian yang besar pada kaum perempuan. Dalam Islam, kita mengenal hadits Nabi yang mengajarkan kita untuk memuliakan anak perempuan. Bahkan Nabi pernah berkata bahwa anak perempuan dapat menjadi perisai dari Api Neraka. Nabi juga dicontohkan sangat menyayangi Fatimah, anak perempuannya. Saat Fatimah sakit, Nabi dituliskan di hadits, berulangkali menciumi pipi Fatimah.

Hari Anak Perempuan di Jepang adalah sebuah simbol untuk mengajak kita merayakan kasih sayang pada perempuan dalam hidup kita. Bila kita tak punya anak perempuan, kasih sayang bisa diberikan pada istri, kekasih, ataupun ibu kita.

Oh ya, saat malam tiba, ada lagu yang biasanya dinyanyikan pada hinamatsuri, judulnya ureshii hinamatsuri. Kayla-chan suka menyanyikannya. Begini liriknya : Akari o tsukemashou bonbori ni/Ohana o agemashou momo no hana/Go-nin bayashi no fue taiko/Kyo wa tanoshii Hinamatsuri.

Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, kira-kira begini: Mari nyalakan lentera/mari siapkan bunga persik/lima pemain musik memainkan suling dan drum/hari ini Hari Anak Perempuan yang menyenangkan

Selamat Merayakan Hari Anak Perempuan. Salam dari Tokyo.

Chirashi zushi edisi hinamatsuri / JH

10 Comments to "Arti Anak Perempuan di Jepang"

  1. Djoko Paisan  12 March, 2011 at 00:44

    Mas Junanto….
    Semoga sehat-sehat saja dan dijauhkan dari bencana yang telah terjadi…!!!

  2. Kornelya  12 March, 2011 at 00:41

    Pa Jun, aku anak perempuan. Mudah-mudahan pa Jun dan keluarga selamat dari bencana gempa. Jika tak keberatan, tolong muncul sejenak di Baltyra. Do’a kami menyertai pa Jun sekeluarga. Salam.

  3. J C  7 March, 2011 at 09:27

    Mas Jun, di Jepang banyak sekali perayaan budaya seperti ini ya. Dan orang Jepang betul-betul menghargai budayanya sendiri, serta memahami dengan baik…

  4. Sumonggo  6 March, 2011 at 05:54

    Pak Jun, bicara sosok anak perempuan di Jepang, jadi teringat film seri Oshin di TVRI tahun 80-an

  5. Djoko Paisan  6 March, 2011 at 02:51

    Terimakasih mas Jnanto….
    Kasihan juga ya, anak perempuan di Jepang…
    Disatu sisi dirayakan, tapi disisi lain disebut “hina”…
    Salam Damai dari Mainz.

  6. bernadette  5 March, 2011 at 22:15

    boneka2 itu harus dirapihkan di hari itu jg klo ngga salah … Krn bila tidak..Nanti bisa terlambat merit katanya.

  7. Lani  5 March, 2011 at 12:11

    MAS JUN : di HAWAII banyak aneka macam ARARE……..ada yg manis, asin……..pernah coba tp krn gak suka camilan………ya gak pernah beli…………….

  8. Lani  5 March, 2011 at 12:08

    aaaah ice grim……….mboten waelah…….tp green tea ice cream boleh jg nduliiiiiiiiiit

  9. Linda Cheang  5 March, 2011 at 11:57

    gi mana, ya kalo saya makan es krim edisi hina matsuri itu? = boneka Jepang makan es krim boneka Jepang! hehehe…

  10. dedushka  5 March, 2011 at 10:07

    slurrp duh itu ice cream…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.