Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!

Diday Tea

 

Suatu ketika di suatu sekolah, ketika ujian nasional sedang berlangsung, seorang siswa tiba- tiba mengacungkan tangannya kepada sang pengawas.

“Pak, saya mau komplen nih!” Kata siswa tersebut.

“Komplen kenapa?” Jawab sang pengawas.

“Saya tidak ikhlas dengan soal ini! Bukan soal ini soal yang saya inginkan! Soal ini susah banget, seharusnya soal- soal yang keluar bukan soal soal ini! Pokoknya saya ingin soalnya dirubah!” Pungkasnya lagi.

Kira- kira nih, seperti apa tanggapan si pengawas ya?

Saya rasa, daripada menuruti keinginan siswa itu, pasti si pengawas malah marah- marah kan? Dia akan bilang kalau permintaan tersebut mustahil, dan pastinya malah meminta siswa itu untuk mengerjakan soal yang ada, karena itu adalah syarat untuk kelulusannya.

Sebuah ujian adalah syarat untuk seorang siswa untuk naik kelas atau lulus dari sekolah.

Yang membuat kita tidak lulus bukan soal ujiannya, akan tetapi JAWABAN dari soal tersebut.

Si siswa itu mengeluhkan soalnya karena dia tidak tahu jawabannya, karena dia kurang persiapan dalam menghadapi ujian tersebut.

Ternyata, begitulah juga sikap kita di dalam menjalani kehidupan.

Setiap kali ada ujian dari Allah, berarti Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk “naik kelas”.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk mengeluhkan sulitnya “soal”, rumitnya “soal”, bukannya sibuk “membuat jawaban yang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Kita sering mengeluhkan, diri kita, kenapa didera masalah yang bertubi- tubi, kenapa rezeki tidak kunjung datang, kenapa, kenapa dan kenapa.

Kita bukannya memikirkan bagaimana agar diri kita bisa bersyukur dengan apa yang ada, dan bukannya memperkuat ikhtiar kita, menambah ilmu kita, agar kita bisa menghadapi persoalan dengan tegar, tanpa harus mengeluh.

Analogi sederhana seperti siswa yang sedang ujian tadi. Sesulit apapun soal yang diberikan oleh gurunya, tetapi jika dia sudah tahu jawabannya, pasti dia tidak akan mengeluh sedikit pun kan? Yang ada dia akan tersenyum lebar karena kelulusan atau kenaikan kelas sudah diambang mata.

Sekolah, tapi tidak diuji, mau? Sejak masuk sekolah kelas satu SD sampai sekarang anda tidak pernah diuji. Tentunya selama apapun bersekolah, anda bakal terus berada di kelas satu kan?

Tapi kita sering risau dengan “soal-soal” dalam hidup kita, bukannya risau dengan “jawaban” yang harus kita berikan dengan benar agar kita lulus ujian.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk dengan “soal”, bukannya sibuk “membuat jawabanyang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Setiap ujian pasti akan berakhir, bedanya, ada yang lulus dan naik kelas, ada juga yang tidak lulus dan tinggal kelas.

Terus, bagaimana agar kita selalu dapat “menjawab” “soal” di dalam kehidupan kita agar kita selalu lulus dan naik kelas?

Sederhana saja, jawabannya ada tiga: SYUKUR, SABAR, ILMU DAN IKHTIAR.

Sebelum mengeluhkan masalah anda, syukurilah dulu apa yang sudah Allah berikan kepada anda. Lalu bersabarlah. Tambahlah ilmu anda, sehingga anda punya kumpulan “jawaban” untuk menjawab “soal” ujian dari Allah.

Dan yang terakhir, syukur dan sabar serta ilmu harus dilengkapi dengan ikhtiar yang maksimal.

Luruskan niat dan tujuan anda hanya untuk Allah, dan maksimalkan semua potensi diri anda untuk melakukan ikhtiar anda.

Hujan pasti reda, gempa pasti berhenti, badai pasti berlalu, malam pasti berganti siang.

Mulailah hari ini dengan tersenyum untuk mensyukuri hari baru yang telah Allah berikan kepada kita untuk kita isi dengan sebanyak mungkin amal dan ibadah.

Selamat menempuh ujian hidup ini dengan riang gembira dan penuh keceriaan, karena kita sudah tahu contekan jawabannya kan?

Didaytea!

Yang sedang tersenyum bahagia di pagi Jum’at yang mulia ini.

160720100600

www.didaytea.com

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung di keluarga besar Baltyra, Diday Tea! Make yourself at home!

9 Comments to "Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!"

  1. J C  7 March, 2011 at 09:26

    Betuuuulll…it’s not about the end results, but it’s about the journey…

  2. Sumonggo  6 March, 2011 at 05:55

    Boleh mencontek tidak, Bu Guru?

  3. Djoko Paisan  6 March, 2011 at 05:22

    Hallo bung Diday…..
    Terimakasih untuk artikelnya….
    Memang benar, kita harus mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan yang akan datang.
    Semua persoalan yang bisa kita selesaikan, itu bagai anak tangga….
    Semakin banyak yang bisa kita selesaikan dengan benar, maka kita akan lebih tinggi naik keatas.
    Bila sedikit persoalan yang bisa kita selesaikan, maka kita bisa naik, tapi tidak sampai diatas.
    Bila tidak ada persoalan yang bisa kita selesaikan, maka kita akan tetap dibawah.
    Hidup adalah indah, kalau kita benar menjalankannya, menuruti peraturan yang ada.
    Tapi akan menjadi kehidupan yang penuh derita, bila kita banyak menyimpang…
    Jadi jangan salahkan orang lain, tapi bagaimana kita sendiri menjalankannya…!!!
    Salam Damai dari Mainz….

  4. nia  5 March, 2011 at 14:35

    hi Diday Tea salam kenal
    jaman sekolah dl sy plg seneng klo musim ujian… soalnya abis tes trus pulang awal haha… trus klo ujian slesai kan liburrrr
    klo ujian dlm hidup… eehhhmmm… sy gak pernah ngerasain suatu hal yg berat gt sih jd blm bs komen hehe… yg penting bersyukur aja atas karunia Tuhan

  5. Linda Cheang  5 March, 2011 at 14:06

    gak rame kalo gak ada ujian.

  6. diday tea  5 March, 2011 at 13:33

    Salam kenal juga, ini tulisan saya yang pertama di Baltyra. Semoga kita bisa mempererat tali silaturahmi dan saling berbagi ilmu…

  7. anoew  5 March, 2011 at 12:28

    Diday tea!

    Sodaranya Didi coffee ya?

    Salam kenal ya.

  8. Lani  5 March, 2011 at 12:13

    SALAM KENAL…….SELAMAT DATANG DI BALTYRA

  9. Anwari Doel Arnowo  5 March, 2011 at 11:04

    Iya benar kita memang harus mampu menerima apa adanya.
    Kita sering tidak tau apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi macam-macam hal yang belum kita pahami caranya. Secara akal sehat dan hati nurani dan budi pekert atau secara agama masing-masing yang kita anut, sering tidak kita temukan jawabannya. Apalagi dalam waktu singkat. Diperlukan kesabaran dan kebijakan.
    Dalam hal murid komplen (complain) terhadap materi ujian, saya berpendapat perlu kita rubah juga mindset para pengajarnya sesuai dengan perubahan jaman. Apa yang mereka anggap benar tata cara mengajarnya itu mungkin sudah obsolete (kuno, ketinggalan jaman). Saya menyaksikan almarhum ipar saya sendiri yang telah menjadi pengajar di SMA dan meningkat sampai menjadi dosen, bahkan menjabat Dekan beberapa kali. Teapi saya “lihat” bahwa ilmu ekonomi yang diajarkannya masih berpedoman dengan kaidah dan dalil-dalil seperti yang diajarkan kepada dia sewaktu dia masih mahasiswa. Ilmu Ekonomi kan maju pesat sekali setiap tahun? Kasihan saya lihat dia tidak mampu mengendalikan komputer dan makin lama makin terpencil dari dunia yang dulu amat dihargai dari keahliannya.
    Jadi saya berpikir mengapa panjang umur manusia itu ditetapkan dengan terbatas, tentu ada maksudnya. Biarpun ada saya baca orang yang berumur lebih dari 200 tahun, saya kurang mempercayainya, karena selama ini dari kenyataan saya tidak pernah melihat sendiri secara langsung orang yang umurnya melebihi angka 100 tahun.
    Nanti dua abad lagi, kalau kita telah memasuki jaman seperti tergambar di film seri Star Trek, maka umur 250 tahun bukan mengherankan lagi. Itu karena kemajuan ilmu pengetauan dan cara penanganan penyakityang mangkus (efficient, berhasil guna).

    Salam saya,
    Anwari Doel Arnowo
    2011/03/05

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.