Gembira Bersama Anak-anak

Dwi Klik Santosa

 

Di sebuah tahun yang kelabu. Saya pernah ngambek. Lalu berjalan nglambrang tak tentu tujuan. Tapi, entahlah, kata yang tepat. Kok, lantas naik bus jurusan Jogja. Dan lalu naik bis lagi, hingga sampai ke Parangtritis. Sesampai di pantai itu, nyari penginapan paling murah. Untuk sekedar istirahat sejenak, mandi dan pesan indomie rebus plus teh hangat.

BERLATIH DAN BERMAIN DI KEBUN : anak-anak di kampungku Pondok Aren (2007)

Dan, seterusnya. Bak turis saja, melenggang enjoy, bercelana pendek berkaos oblong, telanjang kaki saja berjalan menuju pantai. Pagi itu, Parangtritis masih sepi orang. Ombak yang pasang itu, hingga radius puluhan meter menghamparkan pasir-pasir putih yang nyes di kaki. Kuhirup saja dalam-dalam angin pantai yang galak. Kususuri saja bibir pantainya, mencoba menjangkau titik ujungnya.

Belum seberapa saja, lelah. Keringat telah mengingatkan betapa tubuh ini fana. Dan rebah sebatang rapuh ini telentang di atas pasir. Sesekali air laut menendangi dari laut menerpa tubuhku. Kubiarkan saja tubuh ini basah dan asin. Mata saya telanjang memandang biru langit. Dan kenangan-kenangan itu menjilmalah kembali menjadi awan-awan kelabu yang menggenangi seluas birunya. Hmm … di sini pula, kenangan itu pernah ditancapkan!

ANAK-ANAK BELA : dulu sekali, anak-anak ini pernah menjadi keseharianku. kini mereka sudah besar.

Saat bosan itu datang. Terdengarlah suara-suara yang khas. Dan sangat khas kiranya. Sebab, dulu saya pernah mengalami dan bersuara seperti itu. Yap! Anak-anak itu bertelanjang saja, hanya bersehelai celana dipakainya, ramai bermain bola.

“Hooi .. aku boleh main bersama kalian, kan!”

Saya hiraukan saja jawaban anak-anak itu. Saat bola itu melayang dan menggulir ke arah saya, spontan saja saya kuasai itu si kulit bundar. Dulu sekali, saat remaja saya, jelek-jelek begini pernah ikut TC sepakbola di kota saya tinggal dan pernah ikut klub dan jadi pemain inti.

Saya jelang anak-anak itu dengan aksi-aksi memukau saya memainkan bola. Anak-anak itu penasaran dan tidak terima rupanya. Dikejarnya , kemana pun saya memainkan bola. Disleding, dijegal, dihadang .. wuii tak juga enyah bola itu dari penguasaan saya. Dan lalu, saat mendekati anak yang jadi kiper itu, saya tendang bola itu. Duuung … ditangkapnya bola itu dengan atraksi yang hebat sama si anak itu.

Plok … plok .. plok …

Tepuk tangan saya keras menyambut aksi brilian si kiper. Reaksi saya yang antusias rupanya menimbulkan simpati anak-anak yang lain. Ramailah keplok di pagi itu dari tangan-tangan polos dan lugu kami. Meskipun, suaranya yang riuh terasa ampang terlindas riuh ombak yang gahar. Dan meringislah si kiper malu-malu.

“Nama saya Dwi.”

Tangan saya ulurkan ke arah si kiper. Si anak ini lalu tersenyum lebar. Busyet, indah sekali. “Nama saya Parno.” Dan lalu, anak-anak yang lain juga saya raih satu per satu dengan sapa sehaja saya. “Hadi.” “Deri”. “Sony”. “Akbar”. “Tejo”. “Hero”. Dan si kiper yang di jauh sana pun berlari juga ke arah kami, dan saya ketahui pula namanya, “Arga.”

Begitulah, main bola pun jadi tambah asyik. Aksi brilian si kiper ini, seperti mengingatkan aksi saya, ceiiileee … saat dulu pernah jadi kiper, dan memenangkan pertandingan. Lalu saat permainan akan usai, diadakan adu pinalti. Semua anak itu saya suruh nendang dan saya kipernya.

“Siapa yang bisa masukin, akan saya traktir.”

Wuuuii …. Anak-anak itu antusias. Tapi, begitulah. Tak ada satu pun tendangan-tendangan yang polos itu mampu melesakkan si kulit bundar, menembus pertahanan saya. Yaaaah … terlihat jelas, lesu di wajah anak-anak itu. Entahlah, takut kehilangan momen ditraktir atau apa. Tapi yang jelas, mereka kembali sumringah saat saya teriakkan kepada mereka.

“Gimana kalau kalian semua bergantian yang jadi kiper, dan saya yang nendang. Setiap bola yang saya tendang tidak masuk. Saya traktir seperti perjanjian yang tadi.”

Wuii .. anak-anak itu antusias lagi. Tapi penjagaan kedelapan kiper, bahkan si anak yang brilian tadi itu pun jebol juga, tidak mampu menahan bola saya. Hahaha …

Saat saya ketawa lepas-lepas, anak-anak itu seperti tidak senang. Dan, saat saung kelapa muda itu telah ada penghuninya, lalu saya pun ajak anak-anak ini menyerbu ke sana.

Anak-anak yang polos. Sopan dan baik. Begitulah anak-anak pantai ini. Sekalipun nampak liar dan kampungan sepertinya. Saat saya bercerita dan mendongeng tentang apa itu bola, apa itu sepakbola, apa itu mata kaki, apa itu insting, apa itu kepekaan, apa itu teknis, apa itu konsentrasi, mereka diam saja menyimak. Lalu bola itu saya ambil …

“Lihat baik-baik. Bola ini bundar, bukan. Dan kaki kita pintar, bukan,” kata saya.

Lalu saya mainkan bola itu meliuk-liuk dan berulir-ulir. Lalu saya tendang keras-keras hingga melambung dan menjulang ke angkasa. Anak-anak itu saya lihat melongo saja. Lalu dalam setengah jam, saya coba mengenalkan kepada mereka satu per satu.

Yang mana sebenarnya itu mata kaki. Untuk mendrible, mengontrol, mengumpan dan shoting. Dan lalu kepada kedua kiper juga saya peragakan jurus-jurus sok tahu saya, memperkenalkan aksi apa itu Flying, Refleks, gerakan tanpa bola, antisipasi, mengukur jarak bola dan merontokkan mental striker. Begitulah ….

Dan lalu, kami pun bermain lagi. Seru! Sebagai kiper saya kebobolan berkali-kali. Dan setiap ada gol, peraturan memberikan hukuman kepada kami push up sepuluh kali. Hahaha … sampai siang. Matahari memanas. Dan bubarlah kami main bola. Dan terus saja berhura-hura ria dengan ombak laut dan pasir. Ada-ada saja aksi anak-anak ini. Dan lalu saya pun ikut saja beratraksi sebagaimana mereka. Ketawa-tawa, bercengkrama, bersenda gurau, nyek-nyekan. Tak sudah-sudah. Lempar-lemparan pasir. Usil-usilan. Melorot-melorotin celana. Aha …. Menyenangkan.

LATIHAN DI ALAM BEBAS : berlatih teater bersama anak-anak Bela Studio, Jakarta, ke Pulau Onrust (1997 sehari menjelang pemilu).

Anak-anak adalah potensi bagi lajunya masa depan. Anak-anak adalah pemberi daya bagi mimpi-mimpi kita yang macet.. Aku, kau dan juga kita semua juga anak-anak. Marilah sempatkan menularkan yang baik-baik dari apa yang kita punya untuk dibelajarkan dan dilatihkan kepada anak-anak. Dimana pun. Dan siapa pun itu.

 

Salam. Bravo anak-anak Indonesia!

Pondokaren

Juli 2009

10 Comments to "Gembira Bersama Anak-anak"

  1. Mawar09  8 March, 2011 at 03:02

    Dunia anak-anak memang indah, sayang masih ada anak-anak jalanan yang melakukan pekerjaan orang dewasa.

    Anoew nyerempet terus komentarnya.

  2. J C  7 March, 2011 at 09:31

    Mas Dwi…a simple yet meaningful sharing…tengkyuuuu…

  3. Handoko Widagdo  7 March, 2011 at 07:45

    Anak-anak itu polos dan penuh persahabatan

  4. Kornelya  7 March, 2011 at 06:15

    Kebahagiaan adalah hak anak. Berbahagialah Dwi mempunya kesempatan untuk memberi dan membagi kebahagiaan dengan mereka. Salam.

  5. anoew  6 March, 2011 at 19:38

    Sama mas! Saya juga suka gembira bersama anak-anak.. apalagi kalau anak gadis.

  6. Djoko Paisan  6 March, 2011 at 18:02

    Mas Dwi…. yang berbahagia….!!!
    Matur Nuwun mas..
    Satu kesempatan yang sangat indah, anda bisa bermain bersama anak-anak di pantai,
    atau dimana saja.
    Kegembiraan anak-anak adalah tulus dan tidak dibuat-buat…
    Salam Sejahtera dari Mainz…

  7. Mu ammar  6 March, 2011 at 15:02

    Juara dua dptnya indomie pedes mampus aja dech, nt saya paketin ke kona. Kiro2 mambu ga yu?

  8. nia  6 March, 2011 at 13:38

    salut mas Dwi!
    terus berlatih bareng mereka ya hehe… sy menyemangati aja krn gak betah ma anak2

  9. Lani  6 March, 2011 at 12:35

    MU AMMAR : ada juara ke dua nya satu hehehe…….

  10. Mu ammar  6 March, 2011 at 10:08

    Wow 1 bo. Iseh do kosong..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *