Si Murad teman Si Bakir, Si Agarbi, Si Mamad, Si Gayus dan musuh si Sidik

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

TAK ada yang tahu kapan mahluk bernama koruptor punah. Dia akan lenyap bagai dinosaurus bersamaan lenyapnya manusia di jagat raya. Selama manusia ada, koruptor akan terus ada. Koruptor memang manusia dan manusiawi.

Tahar Ben Jelloun, seorang sastrawan Maroko bermukim di Paris, menulis kisah seorang Murad dalam novelnya ”Korupsi” (1995) yang telah diterjemahkan oleh penerbit Serambi dan didiskusikan di Freedom Insitute pada 17 Februari 2011 lalu. Ada Henri Chambert-Loir, seorang peneliti di Ecole Francaise d’Extreme-Orient sebagai pembicara dan Danang Widoyoko dari ICW (Indonesia Corruption Watch). Sedangkan sastrawan Kurnia Effendi menjadi moderator dalam diskusi buku ini.

Murad dalam novel ini adalah pegawai sebuah instansi yang terbungkus jaring sistematik korupsi di dalam kantornya. Dia semula bersih dari prilaku jahat itu. Toh akhirnya hanyut terbawa gelombang korupsi yang dilakukan secara bersama-sama. Ia tak kuasa menolak. Diam ditendang oleh ”sistem” yang ada. Bergerak menendang hati nuraninya.  Kita tahu mana yang selalu kalah.

Perempuan inspirator korupsi

Dibanding novel karya Pramoedya Ananta Toer tahun 1954 dengan  judul yang sama, mungkin karya Ben Jelloun tergolong biasa-biasa saja. Dalam cerita Pramoedya, tokoh Bakir justru diingatkan terus oleh istrinya agar tak menyimpang mencari nafkah. Sedangkan Ben Jelloun dalam novelnya ini banyak menghentak kaum hawa. Terutama tokoh Hilma, istri Murad yang menjadi roket pendorong beroktan tinggi bagi suaminya untuk melesat jauh menjadi koruptor ulung.

Mengguritanya prilaku korupsi bagai daya perusak sendi-sendi masyarakat, menghanyutkan Murad dalam ombang ambing samudera korupsi. Apapun gerak gerik seseorang bisa dihentikan atau dipacunya, asal memberinya suap. Nyaris tak ada daratan untuk sejenak berlabuh tak melakukan perbuatan korupsi.

Apakah karena miskin orang melakukan korupsi? Mungkin iya. Seperti tokoh dalam film garapan Sjuman Djaja dari saduran Anton Chekov, ”Si Mamad” (1973). Pegawai rendahan yang jujur dan terpaksa menyiksa batinnya dengan korupsi kecil-kecilan mencuri kertas di kantor, karena terhempas kebutuhan jelang kelahiran anaknya ketujuh. Dia akhirnya membawa penyesalan rasa bersalah itu bersama kematiannya dalam kesedihan.

Si Murad tentu tak sama dengan Si Bakir atau Si Mamad atau pun dengan si Agarbi, yang menjadi benteng pertahanan memberantas korupsi di negeri koruptor, di sebuah negeri Afrika dalam karangan cerita pendek karya penulis Inggris Jeffrey Archer.

Agarbi, sang menteri keuangan, menyapu tanpa pandang pangkat sampah masyarakat yang bernama koruptor. Tak hanya itu, dia mengejar dan pergi ke bank-bank asing di luar negeri untuk melacak simpanan koruptor negerinya. Tentu saja aksi ini ditolak oleh otoritas perbankan yang bersembunyi dibalik asas profesionalime dan anonimitas.

“Oh, tak salah kalau saya menyimpan uang saya disini”, kata Agarbi, yang ternyata tak beda jauh dengan orang yang diberantasnya.

Si Sidik lawan Si Murad

Pada Juli 1974, pernah seorang menterinya Presiden Soeharto menyamar sebagai pegawai rendahan yang lusuh berpici kumel di rumah sakit terbesar di Indonesia.

Bak spionase a la film-film Missiom Impossible, ‘Si Sidik’, demikian nama menteri yang menyamar terrsebut, berhasil membongkar praktek kotor permainan arus keuangan yang tidak wajar di rumah sakit tersebut. ‘Si Sidik’ tak lain adalah Menteri Penertiban Aparatur Negara Johannes B Sumarlin. Cara kreatif ini Pak Sumarlin yang berasal dari Wlingi, Blitar ini mungkin bisa ditiru kembali sekarang.

Kini Murad-Murad masih banyak bersembuyi di balik meja-meja birokrasi dengan subur di Indonesia, yang tak beda jauh dengan di Maroko, negeri asal Murad.  Keadaan ini sangat menyulitkan bagi siapapun yang jujur untuk berkata, “saya bersih”. Masyarakat Indonesia bukan sekelompok mahluk yang mudah percaya orang bermaksud jujur.

Di Indonesia anehnya seseorang pejabat akan cenderung dianggap nista melakukan korupsi dahulu, sebelum dia dibuktikan bersih suci dari perkara menilep uang pajak rakyat. Ini karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kebersihan seorang pejabat masih sangatlah rendah, terutama soal berkaitan dengan uang negara dari pembayar pajak. Nah, kalau soal ini bisa tanyakan sama seorang karyawan kantor pajak. Namanya Si Gayus. (*)

 

121 Comments to "Si Murad teman Si Bakir, Si Agarbi, Si Mamad, Si Gayus dan musuh si Sidik"

  1. Itsmi  9 March, 2011 at 21:25

    Sirpa, waktu liburan dan saya juga ada ke Manado, saya bawa oleh oleh antara lain bagea….
    kue kue nostalgia, saya bawa satu dos tapi waktu dimakan, sudah tidak merasa enak lagi… tenggorokan dan lidah sudah lain….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.