Dewi Aichi – Brazil
Bagaimana sih sistem dalam menghadapi tahun ajaran baru di Brasil? Baiklah, di baltyra.com, saya akan berbagi cerita mengenai tahun ajaran baru di Brasil. Bagi saya, ini berbeda dengan di Indonesia,sangat tampak kesibukan di berbagai kantor yang mengerjakan proyek kerjasama dengan sekolahan-sekolahan, kesamaannya hanya soal biaya pengeluaran yang besar.
Kantor ini semacam toko buku Gramedia kalau di Indonesia, isinya juga sama, buku-buku dan alat tulis, berbagai macam kebutuhan anak-anak sekolah ada dalam kantor ini. Sebut saja ”papelaria”.
Menjelang akhir tahun, yaitu awal bulan Desember (minggu pertama) sekolah-sekolah swasta sudah mulai libur, anak-anak sudah kenaikan kelas. Bagi anak-anak yang belum berhasil mendapatkan nilai untuk bisa naik kelas, akan diberikan waktu 2 minggu untuk mengikuti test ulang, agar bisa naik kelas. Ini artinya, anak-anak yang mengulang tersebut akan kehilangan masa liburnya.
Peraturan ini tidak berlaku untuk nasional, artinya setiap sekolahan menetapkan sendiri masa liburan. Setiap sekolah membuat sendiri soal-soal test untuk siswanya. Dan juga setiap sekolah membuat peraturan sendiri mengenai waktu tambahan bagi anak yang test ulang. Dalam hal ini saya kurang puas, karena tidak ada standar mutu pendidikan secara nasional. Saya kurang puas karena anak saya sekolah di Brasil he he he.
Selain tak ada standar pendidikan nasional, liburan sekolah sangat panjang dan sangat sering. Dari minggu pertama bulan Desember, hingga akhir Januari adalah libur sekolah. Anak-anak mulai masuk sekolah rata-rata awal Februari. Kemudian, baru sebulan masuk sekolah, sudah dihadang libur lagi selama seminggu, yaitu dalam rangka carnaval. Maka seluruh Brasil libur total, termasuk perkantoran.
Memasuki bulan Juli, anak-anak sekolah kembali libur nasional selama satu bulan, tanggal liburan ditentukan oleh sekolah masing-masing. Coba bayangkan, betapa banyaknya liburan sekolah, belum terhitung tanggal merah dan hari besar nasional di Brasil.
Saya membandingkan materi pelajaran di sekolah Brasil dan Indonesia, sangat jauh. Indonesia lebih berat mengenai materi pelajarannya. Pantas saja, anak-anak Indonesia cerdas-cerdas, ini menurut saya, yang membandingkan anak ketika bersekolah di Jepang, Indonesia atau Brasil. Pendapat pribadi saya, saya sangat puas dengan materi pelajaran yang diberikan di Indonesia.
Kembali ke soal sistem tahun ajaran baru. Dalam masa liburan sekolah, papelaria akan mengadakan kerjasama dengan berbagai sekolah, yaitu menyediakan material yang dibutuhkan siswa sekolah selama satu tahun ajaran. Setiap sekolah yang akan mengadakan kerjasama dengan papelaria, akan mengajukan list material dari kelas TK sampai SMU ke papelaria. Papelaria harus sudah siap menyediakan semua material yang akan dibutuhkan siswa sesuai dengan permintaan yang ada pada list. Setiap siswa wajib menyerahkan material sesuai dengan list material dan juga sesuai dengan tingkat pendidikan masing-masing. Diserahkan ke sekolah masing-masing sesuai batas waktu yang sudah ditentukan sekolahan.
Contoh list material akan saya cantumkan di sini, untuk pendidikan SMP kelas 3 dari sekolah Albuquerque.
Dan di bawah ini list untuk anak-anak TK:
Untuk tingkat SMP, wajib menyerahkan 500 lembar kertas HVS A4 dan apron untuk kegiatan seni melukis, lainnya adalah buku kurikulum khusus untuk sekolah tersebut. Bandingkan dengan yang TK, 90% list adalah segala macam kertas dan pernak pernik permainan. Ini adalah contoh sekolah swasta yang mahal. Untuk buku kurikulumnya saja sudah hampir seribu USD.
Yang mengherankan saya adalah, ada sekolah swasta lainnya, yang sudah tingkat SMP, tetapi list materialnya seperti anak-anak TK. Yang saya amati di sini , contoh list di atas adalah sekolah satu-satunya yang banyak mengajukan permintaan buku.
Setiap orang tua siswa, mendatangi papelaria untuk mengambil material yang akan diserahkan ke sekolah masing-masing. Datang ke papelaria, nanti staf papelaria akan menanyakan ke orang tua, dari sekolah mana dan kelas berapa. Staf langsung print out list dan diserahkan ke pegawai yang mengurusi material. Orang tua menunggu di ruang tunggu sampai material selesai disiapkan. Setelah selesai, material akan diserahkan ke orang tua bersama dengan harga total yang harus dibayarkan.
Bayangkan betapa banyaknya orang tua siswa yang masuk ke papelaria, antri dan betapa sibuknya semua staf/pegawai di papelaria setiap tahun ajaran baru. Dari satu sekolah saja siswanya sudah berjumlah ratusan, sedang papelaria bekerjasama dengan banyak sekolah, maka permintaan list otomatis sangat banyak dan menumpuk, kadang staf kantor menyediakan diri sampai malam, menunggu orang tua yang terlambat datang karena pekerjaan.
Kadang-kadang buku-buku kurikulum terlambat pengirimannya, jadi pihak sekolah juga menilpon pihak papelaria yang terlambat menyerahkan buku ke siswa. Akhirnya pihak papelaria mengirim pegawainya untuk mendatangi setiap penerbit yang menyediakan buku-buku tersebut Dan mengambilnya. Kemudian menyetorkan ke sekolah.
Saya yang mengurusi semua list dan mendata setiap permintaan buku dari berbagai sekolah swasta dengan ratusan jenis buku mata pelajaran, dari TK sampai SMU, yang masing-masing sekolah berbeda buku pelajaran, sangat dibutuhkan ketelitian, agar tidak salah mendata. Dan juga tanggung jawab pemesanan buku ke setiap editorial (penerbit).
Ini adalah tahun ajaran baru kedua yang saya alami, Dan pengalaman kedua bekerja seperti ini. Tahun lalu, karena baru berada di Brasil 3 bulan, maka saya masih terlalu bermasalah dengan bahasa Português. Dan sekarang saya bersyukur, tidak terbata-bata lagi mengurusi semua itu. Saya sangat menikmati kesibukan saya seperti ini, karena berkaitan dengan dunia pendidikan. Dan juga menambah pengalaman saya tentang cara menghadapi tahun ajaran baru di Brasil.
Mengenal pernak pernik yang tidak pernah dibutuhkan di sekolahan di Indonesia, kecuali pelajaran ketrampilan, seni, maupun permainan. Itupun biasanya membeli dengan cara mendadak. Sedangkan kalau di Brasil, semua kebutuhan dalam satu tahun sudah siap sedia. Kadang aku berpikir, jika setiap siswa wajib menyerahkan kertas HVS satu pack isi 500 lembar, berapa banyak yang ditumpuk di sekolahan ya? Jika jumlah siswa saja bisa ratusan.
Kalau sekolah publik, biasanya tidak ada list material, karena semua gratis atau membayar sangat murah. Tetapi ya itu, sekolah publik di Brasil menurutku sangat tidak bisa diharapkan, terbukti bahwa karena murah atau grátis, maka pelajaran suka-suka, gurunya juga suka-suka mau hadir atau tidak. Siswanya suka-suka mau berpakaian bagaimana, atau siswinya berpakaian minim bahanpun, tidak dipedulikan.
Sekolah swasta, di samping pelajaran, juga keamanan sekolah sangat ketat, gedung dan fasilitas yang lengkap. Maka, bagi orang tua yang ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, ya biasanya menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah swasta. Di Brasil ini sangat banyak, usia remaja tetapi masih berada di sekolah dasar (SD).
Sudah terlalu panjang cerita saya, untuk ke depannya, saya akan cerita bagaimana di Brasil sangat mudah mendapatkan pekerjaan. Lapangan pekerjaan yang semakin banyak.
March 7th, 2011 at 14:02
enak no mulang neng brazil mbak……
March 7th, 2011 at 10:55
KANG MONGGO : wakakakak……….geli sampai nibo tangi……..njur tekan balsem….lengo cem2-an, minyak kayu putih……lengo tawon……..minyak cap elang………wes ora2 wae iki
March 7th, 2011 at 10:36
Kalau di Indonesia, berarti papelaria nya mesti juga mencakup kebutuhan untuk ospek, masa perkenalan, dst perpeloncoan lainnya, supaya para orang tua tidak direpotkan kebutuhan mendadak yang aeng-aeng. Masak malam-malam mesti berburu korek api cap duren, minyak rambut cap putri duyung, balsem cap kaki lima, opo maneh liyane sing ora-ora wae
March 7th, 2011 at 10:18
DA : Di Brasil ini sangat banyak, usia remaja tetapi masih berada di sekolah dasar (SD).
Sudah terlalu panjang cerita saya, untuk ke depannya, saya akan cerita bagaimana di Brasil sangat mudah mendapatkan pekerjaan. Lapangan pekerjaan yang semakin banyak.
———————————
aku rak mudenk, usia remaja msh ndekem di SD????? apa mrk perlu belajar di PAKEM? ben cepet pinter? opo meneh nek salah satu gurune dirimu wakakakaka………
km katakan cari kerja di Brazil sangat mudah……laaaaah mudah pie to? la nek rak mudenk boso PORTO????? opo yo payu????? emank ada perkecualian nganggo boso JOWO………sumprit ngakak aku moco sing kuwi……..
HAND : bawa kondom???? nah ini hrs dijawab sama DA sendiri……mengingat soal SEX disana kan bebas merdekaaaaaa……heheheh
kang ANUU : ambyaaaaaaaar artikel sak-kalan……….njur ngomongin Nick Carter………pdhal aku jg rak ngerti sopo kuwi Nick????? apakah segantenk BRAD?????? wakakakak……..
March 7th, 2011 at 09:42
Waduh, Wi belum apa-apa artikel pendidikanmu sudah disisipi kondom & Nick Carter sama murid veteran dari Baltyra.
Pemberian list keperluan setahun sangat baik untuk anak dan memudahkan orang tua. Dalam proses belajar mengajar, tidak ada alasan lupa, belum beli dst. Disini list keperluan setahun kita terima melalui email 1 bulan sebelum sekolah. Tidak ada nominasi perusahaan penyedia, tetapi kadang disarankan merk tertentu. Salam.
March 7th, 2011 at 09:41
Kang Anoew, iki membicarakan diri sendiri yo?

March 7th, 2011 at 09:41
Komersialisasi pendidikan yang terstruktur! Wah, nyesel ini dimuat di Baltyra. Nanti ada anggota DPR komisi bidang pendidikan yang baca, akan serta merta mendadak sontak dan sigap akan STUDY BANDING ke sana, mempelajari dengan TEKUN bagaimana structurized commercialization (baca: corruption —> untuk Indonesia) di bidang pendidikan dapat berjalan dengan “baik dan benar”.
Pak Hand, kalau yang itu tergantung “kelas berapa”…
March 7th, 2011 at 09:28
perlu dicek juga di tas murid, ada yg suka nyelipin nick carter..
March 7th, 2011 at 09:19
Kondom gak termasuk dalam list ya Mbak?
March 7th, 2011 at 09:16
1