Negeri Gaduh

Handoko Widagdo – Solo

 

Hari-hari kita diwarnai dengan kegaduhan-kegaduhan. Namun, meski gaduh, tak pernah ada hal yang dihasilkan. Sejak diawali dengan pertarungan cicak buaya, hak angket Century, kegaduhan selalu mewarnai hari-hari kita.

Berikut adalah daftar kegaduhan yang bisa dicatat: kegaduhan tentang rekening gendut perwira kepolisian, kegaduhan keistimewaan Yogyakarta, kegaduhan tentang kebohongan publik, kegaduhan PSSI, kegaduhan Ahmadiah yang merambah pada wacana pembubaran ormas, kegaduhan susu berbakteri, kegaduhan koalisi dan seterusnya dan seterusnya. Apalagi sejak ada dua TV berita yang bersaing. Kegaduhan menjadi semakin tidak karuhan.

Setiap hari ruang public kita dibombardir dengan kegaduhan. Semua kegaduhan tersebut hanya menghasilkan selebriti dadakan, sementara inti soal yang harus diselesaikan malah terabaikan. Jujur saja, dari semua kegaduhan yang saya daftarkan di atas, tidak ada satupun yang mempunyai penyelesaian. Bahkan kegaduhan-kegaduhan tersebut telah mengalihkan isu-isu penting penderitaan rakyat sehingga tak terlihat.

Apakah pemimpin-pemimpin kita telah kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan persoalan? Apakah mereka sudah lupa bahwa tugas utama mereka adalah untuk memimpin negeri, dan bukan membuat sinetron tandingan dari yang sudah banyak di TV-TV kita?

Lihatlah contoh kegaduhan PSSI. Yang bergaduh adalah orang yang sama-sama berjabatan tinggi. Yang satu ketua PSSI, yang satu Menteri. Dari segi keorganisasian jelas kemampuan keduanya tak perlu diragukan. Pak Menteri adalah PhD ilmu politik dari universitas di USA, sementara Ketua PSSI pernah menjabat sebagai anggota DPR.

Artinya secara intelektual keduanya tak perlu diragukan. Keduanya berasal dari provinsi yang sama. Artinya keduanya tak mengalami persoalan budaya dalam berkomunikasi. Namun apa yang terjadi? Hanya kegaduhan yang disuguhkan. Bukannya duduk bersama untuk saling bicara, tapi malah saling lempar opini di media masa. Bahkan DPR kita yang seharusnya memperhatikan para TKI yang merana, malah membuat panggung sandiwara bagi keduanya.

Sungguh menyedihkan kalau uang rakyat dihabiskan untuk membayar para pemimpin yang hanya bisa menciptakan kegaduhan tanpa bisa memberi penyelesaian. Sangat disayangkan jika uang rakyat hanya dipakai untuk membiayai sinetron yang tiada ujung pangkalnya.

Sudah waktunya semua kegaduhan ini dihentikan. Sudah waktunya para pemimpin mengutamakan penyelesaian daripada membuat sandiwara. Kalau tak mampu menyelesaikan perkara? Ya mundur saja? Kalau tak mau mundur? Yang diganti paksa.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

94 Comments to "Negeri Gaduh"

  1. Handoko Widagdo  14 March, 2011 at 07:14

    Marilah kita berhenti bergaduh sejenak dan berdoa bagi saudara-saudara kita di Jepang.

  2. RYc no mama  9 March, 2011 at 08:33

    lagi-lagi gaduh….koq tidak bosen-bosennya bikin gaduh….

  3. Handoko Widagdo  9 March, 2011 at 08:25

    Betu sekali Linda dan Hennie…gaduh bikin rame tapi korbannya banyak.

    Ngaduh sapii? Kosik to…Sapii wis pindah dari Solo. Sak iki malah isune dadi calon menteri

  4. lani  9 March, 2011 at 06:49

    MBAK PROBO: wea tangi?????? gasik yo?????? mo ngapain? kerja?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.