Ketika Ibu Memilih Bekerja Sambil Sekolah

Kornelya

 

Bagi keluarga yang tidak mempunyai anak kecil, jika ibu bekerja/ sekolah di luar rumah, waktu atau jam kerja tidak menjadi masalah. Namun bagi yang mempunyai anak kecil, waktu dan jam kerja menjadi pertimbangan utama, mengingat  biaya daycare / babysitter yang tidak murah. Salah perhitungan bisa-bisa, kita bekerja untuk mensubsidi day care.   Di tempat tinggal kami, biaya daycare swasta berkisar antara $7 – $10/jam dengan minimum 3 jam sehari, sementara milik pemerintah $7/jam minimum 3 jam/hari dengan komitmen minimal 9 jam/ minggu, dan masih ditambah ketentuan batas waktu penjemputan 6.30 pm, selebihnya dihitung $1/menit.

Tahun lalu saat masih kuliah, walaupun fulltime, saya bisa mengatur waktu dengan memilih jam kelas yang pragmatis secara ekonomi untuk mengurangi biaya yang harus kami keluarkan untuk day care. Anakku suka atau tidak, saya mendaftarkan dia pada kegiatan intramural gratis yang diadakan di sekolahnya 2x seminggu pada hari Senin dan Kamis pagi. Beruntung dia senang, emaknyapun berhemat.

Sekalipun kuliah atas bea siswa, biaya transportasi, daycare dan keperluan kuliah tidak murah. Untuk meringankan beban suami sambil sekolah  saya menjalani profesi inang-inang dengan menjual perhiasan, souvenir dari Jogya & Bali serta tekstile berupa batik, dan tenunan asal Flores & Sumba. Setiap ada waktu senggang, saat pergantian jam mata pelajaran, berbekal contoh produk dengan menumpang bus atau subway aku datangi boutique-butique atau gift shop kecil, menjelajahi setiap blok di Manhattan, kadang sampai lupa jalan pulang ke kampus.

Karena pernah bertahun-tahun menjadi bawahan boss yang temperamental selama di Indonesia, reaksi calon pelangganku yang nano-nano kunikmati sebagai pelepas lelah. Tidak setiap kali penjelajahanku menghasilkan pelanggan. Namun bila beruntung dalam sehari bisa mendapat dua sampai lima pelanggan, jumlah yang significant. Kegiatan follow up kepengrajin dan pelanggan pada akhirnya  menyita waktuku. Berkat informasi dari mulut ke mulut antar pemilik boutique/gift shop, produkku tidak hanya beredar di Manhattan tetapi juga sampai ke Connecticut, Maine dan beberapa resort di N.York.

Jam meninggalkan dan kembali ke rumah yang tadinya hanya perlu disesuaikan dengan jadwal kuliah, kini ditambah dengan jadwal urusan perinang-inangan.

Untuk mengatasi kesulitan management waktu dan rumah tangga yang tidak pernah berhenti , saya dan suami membuat catatan menurut prioritas apa saja yang harus kami lakukan, bila saya harus berada di luar rumah sebelum dan setelah jam sekolah Jalom anak kami.

Pengasuh. Hari-hari dimana saya sibuk dengan urusan perinang-inangan, pagi hari kami titipkan Jalom ke day care, dan sore harinya kami menggunakan jasa pengasuh untuk menjemputnya dari perhentian bus, mendampinginya mengerjakan PR dan makan malam.

Menggunakan jasa pengasuh untuk menjemputnya di bus stop memerlukan waktu. Kami harus mengirim pemberitahuan ke pihak sekolah dan dept. transportasion disertai data dan nama calon pengasuh. Sebelum disetujui pihak transportation melakukan due diligent atas calon pengasuh, terutama driver licensenya.

Setelah mendapat pengasuh, kami mengajarkan anak kami untuk bersikap disiplin, selama berada dalam bimbingan pengasuh. Terutama dalam hal kepatuhan dan sopan santun. Tidak mudah, namun setelah berjalan seminggu dia menjadi terbiasa.

Masalah berikutnya makanan. Pertama yang saya lakukan menyusun menu untuk 5 hari ( Senin s/d Jum’at). Setelah menu diputuskan, setiap hari Sabtu suami saya belanja grocery, lalu saya memasak (precook) daging/ikan, memasukan dalam container tupper ware dan diberi label nama masakan , hari/jadwal konsumsi. Sayuran dan buah-buahan unlimited karena dimakan tanpa proses memasak. Sekalipun telah dengan berhati-hati  mengalokasikan menu, tidak jarang masakan untuk dua hari dihabiskan dalam sehari oleh suami dan anakku. Hal ini sering terjadi pada Rendang, ayam bumbu kuning, bacem tahu/tempe dan gulai.

Masalah keluarga terpecahkan, giliran saya berjibaku dengan persoalan diri sendiri. Selain mengurus order,tugas paper dan praktikum bertumpuk, memaksa saya harus ngendon di laboratorium tekstil atau kimia setidaknya12 jam seminggu di luar jam kuliah. Mengerjakan tugas sampai tengah malam atau bangun sebelum subuh untuk menyelesaikannya sering saya lakukan. Bahkan mengerjakan collage di pintu kereta pernah saya lakukan. Dosen absent selalu menjadi berkah bagiku.

Beruntung saya dikaruniai suami yang pengertian, banyak menuntun tidak menuntut. Rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan senang hati, bersih-bersih rumah, dan laundry menjadi tugas rutin. Kekasihku ini juga, mengingatkan kemungkinan akan timbulnya persoalan emosi, akibat pilihanku untuk menjadi ibu, anak sekolah dan bekerja, sekaligus mencari jalan keluarnya.

Setelah saya jalani, kesimpulannya; untuk menjadi wanita karir dan ibu,  dibutuhkan :

1.      Disiplin dan komitmen diri

2.      Pengasuh anak yang berkwalitas dan dapat diandalkan

3.      Kepercayaan dan dukungan suami

4.      Komunikasi dengan anak sesering mungkin, agar ikatan emosi tetap terjalin dan anak mengerti bahwa dia tetap menjadi prioritas.

5.      Bersahabat dengan kelelahan, jangan jadikan kelelahan sebagai alasan untuk membebankan ketidak beresan dalam r/t pada pasangan kita. Jadikan kelelahan sebagai sarana untuk kemesraan. Hahaha, ngga salahkan suami mijit-mijit betis istri yang kelelahan jalan cepat mengejar jadwal kereta. Selelah apapun setibanya di rumah, usahakan meninabobokan anak sebelum ia tidur. Beri dia kehangatan cinta, jangan hanya babenya .hahaha.

6.      Jangan terlalu banyak menuntut dari anak dan suami. Bila perlu turunkan standar bar pada batas toleransi. Misalnya, rumah tidak perlu rapih yang penting bersih. Jangan bertindak sebagai jaksa seolah-olah suami & anak terdakwa dalam ketidak beresan Rt. Hahaha.

7.      Usahakan sedapat mungkin hari Sabtu dan Minggu dipakai untuk kegiatan bersama keluarga; bila perlu matikan hp, telp rumah di’switch ke voice message only.

Hidup adalah pilihan, setiap pilihan mempunyai konsekwensi. Bersahabat dan mengolah dan memperdaya konsekwensi adalah seni hidup.

 

 

 

94 Comments to "Ketika Ibu Memilih Bekerja Sambil Sekolah"

  1. Kornelya  11 March, 2011 at 19:37

    Mba Elnino, terima kasih sudah mampir. Salamnya akan disampaikan pada Mr. Yes mom. Terima kasih juga aku dibilang cantik, soalnya anakku suka bilang, mama elek , pelit ,kalau permintaannya tak aku kabulkan. Salam.

  2. Kornelya  11 March, 2011 at 19:32

    Mba Saras, terima kasih sudah mampir. Betul, kalau tidak dikomunikasikan bagaimana bisa saling mengerti?. Apalagi kami berasal dari dua latar belakang budaya & ekonomi yg berbeda. Komunikasi menjadi satu-satunya jembatan penyelaras. Salam.

  3. elnino  11 March, 2011 at 15:51

    Wow…salut untuk Super Emak yang satu ini!! Gak heran kalo Jalom cantik, lha emaknya juga ayu gitu dg lesung pipitnya…Salam buat Mr. Yes Mom yang baik hati ya…

  4. saras jelita  11 March, 2011 at 15:02

    Denger2 sih katanya kalau rumah tangga itu yang terpenting komunikasi ya? segala sesuatu yang menyangkut keberadaan rumah tangga tersebut dibicarakan bersama2 (suami/istri/anak), bener gak nich cuma kadang ada loh sang istri takut berbicara sama suaminya atau sebaliknya si suami nggak menginformasikan ke istri.

    Selamat ya buat Kornelya…..suksess teruuuussss

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.