Jembatan Putus

Sumonggo – Sleman

 

Berangkat sekolah naik begho? Ini pasti belum pernah terpikir di benak para pelajar, yang mesti menyeberangi Kali Putih untuk menuju sekolah. Sementara, jembatan dan banyak infrastruktur lainnya rusak terlanda lahar dingin. (Begho: kendaraan pengeruk pasir/tanah).

Erupsi gunung Merapi menimbulkan dampak yang masih bakal terasa bertahun-tahun setelahnya. Seorang ahli memperkirakan sampai 10 tahun. Tentu dengan asumsi selama itu Merapi tak meletus lagi. Material yang terbawa saat ini baru sekitar sepuluh persen saja, sementara selebihnya masih “menunggu giliran” untuk unjuk gigi.

Saat hujan deras dengan frekuensi cukup sering, maka hampir setiap hari muncul berita mengenai jembatan yang ambrol, putus, atau yang masih bertahan tetapi dengan kondisi yang membahayakan. Belum terhitung pula jembatan putus lain yang berdimensi lebih kecil sekedar untuk perlintasan orang atau sepeda. Nampak dalam berita, berbagai batu besar dengan ukuran yang “nggegirisi” bagaikan dilempar oleh para raksasa yang sedang bermain ketapel. Tidak heran jembatan yang terhantam bisa jebol. Jalur lalu lintas pun sering menjadi “putus-nyambung putus-nyambung”. Mungkin bisa kejadian bagi para penglaju, bisa berangkat, tak bisa pulang.

Pernah dalam sebuah tayangan, bagaimana karena jembatan putus, untuk berangkat sekolah pun, anak-anak sekolah bagaikan menggadaikan nyawa. Ada yang memaksa menyeberangi sungai berarus deras, yang setiap saat bisa tiba-tiba membanjir airnya sehingga berbahaya. Anak yang lebih kecil tampak digendong oleh orang tuanya atau mereka yang lebih besar. Tentu kadang ada jalur alternatif lain yang lebih “aman”, tetapi mungkin lebih jauh, atau perlu tambahan ongkos yang tak terjangkau oleh mereka. Ada yang hanya berbekal seutas tambang, sebagai pengganti pegangan untuk bertahan dari arus.

Sekitar awal tahun 90-an, jembatan Krasak pernah terputus, tapi bukan disebabkan oleh gelontoran lahar dingin Merapi. Sebuah truk tangki bermuatan bahan bakar yang sedang melakukan aksi kebut-kebutan. Kendaraannya terguling di tengah jembatan, minyak tumpah, terpicu oleh bunga api gesekan truk, terbakar dan meledak. Akibatnya jembatan runtuh. Itulah berita besar kala itu. Mungkin sopir truk tangki tersebut tak pernah terbayang bila ulahnya bakal merepotkan banyak orang. Konon perbaikan jembatan yang menghubungkan desa Salam dan Tempel itu memakan tiga milyar rupiah.

Mengenai jembatan, tak begitu jauh dari ibukota sendiri, dalam suatu berita ditayangkan ada sebuah kampung yang seolah terisolasi dari perkembangan sekitarnya. Dikarenakan hanya jembatan seadanya yang menghubungkan kampung tersebut dengan “dunia luar”. Itupun kondisinya nampak ngeri juga, resiko kejeblos, lebih-lebih bila dipaksa membawa motor yang mesti dituntun, jembatan bergoyang-goyang.

Tapi jembatan swadaya warga sekitar berbiaya sepuluh juta rupiah itulah satu-satunya penghubung, termasuk bagi anak sekolah. Entah bagaimana saat malam hari melintas jembatan, tentu kesulitan dan bahayanya lebih tinggi ketimbang kontes uji nyali atau fear factor di televisi. Tapi mungkin “isolasi” itulah sehingga rumah warga tidak tergusur para cukong yang melirik untuk digantikan dengan mall atau apartemen elit.

Memang masih ada juga pemandangan seperti di atas, meski  kita telah berhasil menghubungkan pulau Jawa dan Madura dengan jembatan Suramadu. Mungkin nanti bila rencana jembatan Selat Sunda yang memiliki jarak lebih panjang lagi suatu saat sudah terealisir, tidak akan terlihat lagi antrean memanjang sampai ke jalan tol dari truk pembawa muatan di jalur Merak menuju ke Bakauheni, seperti berita belakangan ini, yang diakibatkan baik oleh perbaikan kapal, kapal yang berusia lanjut, dan kondisi cuaca yang kerap kurang bersahabat. Semoga saja jembatan Suramadu mampu bertahan lama sampai 50-100 tahun, meski kabarnya sekrup jembatan kerap menghilang satu persatu.

Jembatan bisa menyandang berbagai simbol dan makna. Ikon sebuah kota. Tempat tujuan wisata. Diabadikan dalam sebuah lagu, seperti lagu Jembatan Merah, mungkin nanti ada yang akan menciptakan lagu romantis mengenai jembatan Suramadu. Ada juga menjadikan jembatan sebagai tempat memancing.

Bagi sebagian anak muda mungkin tiupan angin kencang di jembatan malah dianggap cocok untuk tempat pacaran serasa di adegan film Titanic saat Leonardo Di Caprio memeluk Kate Winslett dari belakang. Sebagian orang memperlakukan jembatan bukan sekedar alat transportasi darat, tetapi juga sarana “transportasi” menyeberang ke akhirat. Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya rasa kehilangan yang terjadi pada jembatan putus. Termasuk yang selama ini sehari-hari menjadikannya (maaf) sebagai jamban. Saat sebuah jembatan putus, mungkin baru terasa bahwa nilai sebuah jembatan tak hanya bisa dilihat dari aspek fisiknya semata.

Dalam buku Three Cups of Tea, bagaimana sosok Greg Mortenson yang sudah sangat antusias membawa bahan bangunan untuk membangun sekolah di desa Korphe, Pegunungan Karakoram, Pakistan, setelah bersusah-payah menggalang dana di negerinya, mendapati kenyataan, hal pertama yang harus dia bangun sebelum bisa membangun sekolah adalah membangun jembatan. Karena tidak mungkin bahan bangunan diangkut melewati “jalur satu orang” yang selama ini digunakan penduduk. Setelah berhasil membangun jembatan, Greg baru menyadari banyak aspek unik dari jembatan tersebut, di antaranya adalah perekat aktivitas “ibu-ibu PKK” antar kampung, termasuk yang makin sering menghadiri “kondangan”.

Jembatan putus tergerus banjir lahar dingin. Dibangun lagi. Tergerus lagi. Dibangun lagi. Suatu saat memang akan tergerus lagi, tetapi suatu saat juga akan dibangun lebih baik dan lebih kuat lagi. Sehingga tak terlalu mudah putus dan tak lama dibiarkan putus.

Nuwun.

33 Comments to "Jembatan Putus"

  1. Linda Cheang  10 March, 2011 at 17:31

    masih beruntung bukan usus yang putus…

  2. Dewi Aichi  10 March, 2011 at 17:14

    mas Sumonggo: batu-batu ukuran raksasa itu kan untuk main plintheng para buto he he..coba tanya JC sama JL…mereka kan jago main plintheng..!

  3. Sumonggo  10 March, 2011 at 11:12

    He he Diajeng Lani, jadi kesimpulannya menungsane yang bikin kemplingnya sirna …..

  4. Lani  10 March, 2011 at 11:06

    KANG MONGGO : mbok dikasih contoh to kang……..kali endi nang indo sing bening? kempling???? ojo2 sing nang indo bagian timur thok…….soale langka menungsane?????? kkkkkkkkk………..

  5. Sumonggo  10 March, 2011 at 10:39

    Diajeng Lani, ada kok yang masih jernih, tapi ojo diubek-ubek yo ben ora buthek … he he ….

    Pak Iwan: betulan kok, selain Merapi yang lain konon juga antri, semoga sedikit-sedikit saja tidak dirapel, seperti judul film nasional Merapi tak pernah ingkar janji, he he …

    Mbak Dewi Aichi jago pingpong ternyata, tapi kalau batu-batu besar yang nyangkut di jembatan itu, siapa yang sedang main pingpong ya?

  6. Dewi Aichi  10 March, 2011 at 08:13

    mas Sumonggo, kok malah nyanyi BBB putus nyambung putus nyambung…ngamen yaaaa hi hi..!

    Oya, pas truk meledak itu aku melihat, tapi sudah banyak sekali yang nonton, aku kan cilik menthik, jadi ngga lihat jembatanya, tapi lihat orang2 se pasar Tempel bubar kabeh hanya untuk melihat jembatan Krasak. Waktu itu aku sedang bertanding pingpong sekabupaten Sleman, antar SMU yang tempatnya waktu itu di SMEA N IV, kurang lebih 3 km sebelum jembatan Krasak.

    Sepuluh persennya saja sudah porak poranda ya…bagaimana jika lebih dari itu, dan perkiraan 10 tahun lagi belum bisa pulih, sedangkan tahun 2006 yang lalu beriringan dengan gempa di Jogja..

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  10 March, 2011 at 07:58

    Wuaaah…jembatan putus adalah hal biasa. Kalau persaudaraan putus itu yang lebih berbahaya. Namun saya tidak berharap dalam tulisan ini dengan kata-kata Merapi akan menyimpan bahan letusan “yang menunggu giliran”. Kayak antri di depan ATM BCA aja.

    Matur nuwun Massumonggo.

  8. Lani  10 March, 2011 at 07:29

    KANG MONGGO : aku ora mudenk….banjur aku dikongkon NGUBEK2…ngobok2 kali jiaaaaaaah……..nggilani, lah yo ngerti dewe to kali di indo itu koyok opo rupane……ireng ndedet…….karo dinggo plung laaaap……kkkkkkkkk

  9. Sumonggo  10 March, 2011 at 06:02

    He he he .. Nevergiveupyo, rombongannya kecil-kecil tapi nglumpuk di tengah ya ambrol ….

    Probo, biar tidak ngeri kalau goyang jangan dibayangin dilakoni saja he he ….

    Wah Pak Djoko memancing-mancing di jembatan he he … tidak bisa disambung dengan selotip harus dengan lakban

    Mas Josh Chen, lha perkara sekrup ilang itu juga menyangkut hajat hidup orang banyak he he….

    Mbak Hennie, kalau goyang terus tidak jadi difoto, he he …

    Mbak Kornelya, merayap di jembatan itu sebenarnya sekalian berlatih outbond he he …

    Imeii kalau mau ngubek kali ajak sekalian Diajeng Lani, he he …

  10. Imeii  10 March, 2011 at 03:30

    aduh ngeri… aku mendingan ngubek kalinya deh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.