Sarifah

Uleng Tepu

 

Pedupaan telah disediakan sedari jam lima sore tadi. Orang-orang telah mengelilingi Puang Lolo, sanro yang dipanggil oleh Daeng Jarre. Asap dupa telah memenuhi bilik tempat Sarifah berbaring. Hingga jelang maghrib, ia belum juga sadar. Pipinya merona serupa tomat matang, bibirnya tak jua terkatup, terus meracau dengan kata-kata yang asing bagi Daeng Jarre dan orang-orang yang mengelilingi Puang Lolo.

“Kapan kita mulai, Puang ?”, Daeng Puji, istri Daeng Jarre, sudah tak tahan melihat putrinya seorang terus gelisah.

“Sebentar lagi, sehabis shalat Maghrib. Kalau kita mulai sekarang, jin yang ada di tubuh anakmu susah dikeluarkan. Pada saat seperti ini para makhluk halus sedang berkeliaran, kekuatan mereka susah dilawan.”

“Tapi Puang…”

“Sudahmi amma’na. Dengar saja yang nabilang Puang Lolo”.

***

Sarifah tiba di rumah hari ini dengan raut cemas. Ia begitu gelisah. Daeng Puji, ibunya yang duduk di teras diacuhkannya saja. Ia berganti pakaian lalu hendak pergi lagi.

“Ipah, mau kemanako nak ?..”

“Ke sungai”

“Jangan lama-lama, sudah sore”. Tanpa mengiyakan ucapan ibunya, ia segera membawa telapaknya menjauh dari tempat ibunya berdiri. Daeng Puji hanya bisa mengelus dada melihat tingkah putrinya. Beberapa hari ini Sarifah bersikap aneh. Tiap sore ia selalu ke sungai dan pulang setelah azan maghrib menggema. Sudah berulang kali ia diingatkan oleh ayahnya agar tak pulang selarut itu, namun semua itu ia acuhkan saja. Seperti ada yang menarik dirinya untuk selalu ke sungai itu.

Daeng Jarre sekeluarga, tinggal di sekitar tepian sungai Je’neberang. Sama dengan keluarga-keluarga lain yang juga bermukim di sana, mereka percaya akan kekeramatan sungai itu.

Apalagi dengan cerita-cerita tentang torisalo yang menghuni sungai itu, maka makin kentallah kekeramatan meliputi sungai itu, dan semua cerita itu membuat mereka enggan berlama-lama di sungai itu jika matahari mulai susut, sebab pada saat itu torisalo akan muncul mencari mangsa. Menurut cerita, kadang torisalo itu menjelma menjadi manusia kemudian membawa mangsanya ke kerajaannya di dasar sungai, dan orang yang mengikuti ajakannya itu takkan pernah kembali lagi.

Belum sejam Sarifah pergi, Daeng Puji dikejutkan dengan beberapa pemuda yang membawa Sarifah dalam keadaan tidak sadar. Ia ditemukan pingsan di tepi sungai. Seluruh tubuhnya basah. Setelah Sarifah dibaringkan, Daeng Puji segera menyuruh salah seorang dari pemuda itu mencari suaminya.

“Kenapa Ipah amma’na ?”

“Tidak kutauki. Tadi dia pergi lagi di sungai.”

“Sudah kubilang jangan biarkan dia tiap sore ke sungai itu !”

Iye’. Sudah kularang tadi, tapi tidak mendengarki

“Jagami saja dulu. Saya mau ke rumahnya Puang Lolo, siapa tahu dia bisa mengobati Sarifah”

“Bagaimana Puang ?”, Daeng Jarre menanyakan keadaan Sarifah setelah Puang Lolo menyelesaikan ritualnya.

“Tidak apa-apa. Jin yang mengganggunya sudah pergi. Tapi, kalau dia tiba-tiba mengamuk, semburkan air ini ke mukanya kemudian pegang dahinya dan bacakan ayat kursi,” Puang Lolo mengangsurkan sebotol kecil air berwarna keruh yang langsung diterima Daeng Jarre.

Daeng Jarre mengantarkan Puang Lolo hingga ke pintu, sementara Daeng Puji mengusap kening anaknya yang hangat serupa tungku.

Selepas salam terucap dari mulut Puang Lolo, Sarifah meracau lagi. Daeng Puji segera memanggil suaminya, menyuruh memanggil kembali Puang Lolo yang belum jauh beranjak. Tapi, Daeng Jarre memilih melakukannya sendiri. Seperti petuah Puang Lolo, disemburnya air dalam botol kecil lalu dipeganginya kening anaknya sambil komat-kamit membaca ayat kursi. Sarifah pun tunduk.

***

Dalam mimpi, Sarifah melihat dirinya telah melahirkan. Seorang bayi tiba-tiba lahir dari rahimnya. Tapi, bayi itu tak berwajah. Datar. Ia ingin tahu bagaimana wajah anaknya, ia ingin mencari kemiripan dengan lelaki-lelaki yang telah menidurinya. Ia ingin tahu siapa ayah bayinya. Lalu, muncul banyak lelaki. Ia meminta satu-satu dari mereka mengaku, tapi semua menggeleng.

Satu-satu lelaki itu pergi meninggalkannya, sementara bayi dalam gendongannya terus menangis. Tiba-tiba, sungai Je’neberang telah berada dalam lingkaran pandangnya. Dengan bayinya ia melangkah ke tengah sungai, berharap dimangsa oleh torisalo penunggu sungai itu.

Lama ia menunggu. Tak terjadi apa-apa. Sungai itu seolah menolak kehadirannya. Dibenamkannya diri dan bayinya, tetap saja sungai itu menolaknya. Ia putus asa, dilemparkannya bayinya, dicakarnya perutnya berharap rahimnya tercabik. Berulang-ulang.

Daeng Puji kaget melihat Sarifah mengamuk lagi. Sarung yang menutup perutnya ke bawah diremas seolah ingin dilepas dari tubuhnya. Daeng Puji tertegun saat melihat sarung anaknya tersingkap. Ada yang aneh di matanya. Ia melihat anaknya serupa dirinya dahulu, saat Sarifah telah tiga bulan berlindung di rahimnya. Dalam hati Daeng Puji menangis, memanggil suaminya Daeng…anakta daeng…


=====================

Sedikit penjelasan :

Sanro : dukun

Amma’na : panggilan untuk seorang ibu..misalnya amma’na Ipah artinya Ibunya Ipah.

Ko, ki, mi, ta : akhiran yang sering muncul dalam dialek bugis-makassar

Torisalo : secara harfiah artinya orang di sungai; penunggu sungai

Puang : panggilan untuk orang yang lebih dihormati

 

19 Comments to "Sarifah"

  1. Uleng Tepu  20 March, 2011 at 15:06

    Maafkan semuaaaaaaa…………. terima kasih….. atas apresiasinya….

    ini ga ada lanjutannya lagi…

    *belum keidean….*

  2. Odi Shalahuddin  11 March, 2011 at 10:48

    Siang Uleng…

  3. Imeii  10 March, 2011 at 03:27

    akibat pergaulan bebas???? miris..

  4. Djoko Paisan  10 March, 2011 at 03:08

    Hallo karaeng Tepu….
    An te kama mi…??? baji mi ???
    Tarimakasih di….!!

  5. anoew  10 March, 2011 at 02:26

    lha trus itu pas di sungai, ngapain aja ya?

    @Sirpa: woooi Kang! piye kabar’e?? Sehat sehat aja kan? Piye cuaca di kalipornia tetangganya kalipepe? Salam manget mendoan kiy…!

  6. Sirpa  9 March, 2011 at 23:13

    Wah … sama2 seperti Daveena ……..( baca kisah diatas serasa pulang kampung ya … )
    Mana si Daeng ISK … kok belom hadeeer nih .

    makasih Sarifah dan salam

  7. Kornelya  9 March, 2011 at 22:01

    Uleng, jangan ji kau bikin kita penasaran. Sarifah hamil benaran atau hanya imaginasi?. Ngutang ya, harus dituntas . Salam.

  8. aimee  9 March, 2011 at 17:05

    Hamil diluar nikah, jd pengen bunuh diri ya?

  9. nia  9 March, 2011 at 14:04

    waaahhh… pinter bgt bikin pembaca penasaran… Uleng ini cerita msh berlanjut gak?
    lanjutin yah soalnya sy gak paham bgt hehehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.