Bubur Aceh

HennieTriana Oberst – Jerman

 

Di dekat rumah orang tuaku di Medan ada satu kompleks bangunan yang disebut Meunasah. Di sana terdapat Panti Asuhan untuk anak yatim piatu dan anak tidak mampu (sebahagian besar dari mereka berasal dari Aceh), juga gedung untuk musyawarah masyarakat Aceh, dan tempat yang dipakai sebagai Mushola. Setiap bulan Ramadhan di sana selalu tersedia Bubur Aceh atau biasa disebut juga sebagai Bubur Kanji.

Setiap hari menjelang buka Puasa kami mendapat jatah bubur tersebut dari salah seorang tukang masak di sana yang juga adalah teman baik Ibundaku. Menyantap bubur tersebut setiap hari selama bulan Ramadhan tidak membuatku bosan menikmatinya. Aku dan teman-teman juga lebih memilih mengikuti shalat Tarawih di Meunasah ketimbang pergi ke Mesjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Alasannya selain jumlah raka’atnya lebih sedikit juga karena setelah shalat Tarawih bakalan ada santapan bubur Kanji tadi.

Bubur ini memang sangat istimewa bagiku. Bukan saja karena harum dan rasanya yang memang nikmat, tetapi juga mengingatkanku akan kenangan indah masa kecil dulu. Aku sedang rindu sekali dengan Ibundaku, dan berharap dengan mencoba resep ini akan mengobati sedikit kerinduan dan menghadirkan kenangan indah bersama almarhumah Ibu.

Berikut ini resepnya;

Bahan:

1 mug Beras
500 gr Udang
250 ml Santan kental
Air secukupnya
Garam secukupnya
2 lembar daun salam
2 butir kapulaga
1 batang daun bawang (iris)
daun Seledri (iris)
Bawang goreng
Minyak goreng untuk menumis

Bumbu yang dihaluskan:
1 st Jintan
1 st Ketumbar
2 st Merica
2 cm Jahe
3 buah Bawang merah yang besar
2 siung Bawang putih

 

Cara membuat:

Rebus Udang hingga matang. Pisahkan udang dari kaldu, sisihkan.
Masak beras hingga menjadi bubur dengan santan, air, kaldu udang. dan garam.
Tumis bumbu yang telah dihaluskan hingga harum.
Tambahkan udang, kapulaga dan daun salam. Aduk rata.
Kemudian masukkan ke dalam bubur, aduk rata. Masak hingga mendidih.
Sajikan Bubur dengan irisan daun bawang, daun seledri dan bawang goreng.

Selamat mencoba…!

Terima kasih buat redaksi dan semua sahabat Baltyra.

 

Catatan:

Udang bisa diganti dengan Ayam atau daging Sapi.

 

 


Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

79 Comments to "Bubur Aceh"

  1. Handoko Widagdo  14 March, 2011 at 07:28

    Ceplukan dan tomat itu kerabat dekat. Sepupuan

  2. SU  13 March, 2011 at 19:19

    Doyan nih.
    Tx ya sdh dikasih kiriman bubur Acehnya.

  3. Lani  13 March, 2011 at 10:54

    HENNIE, LEMONCELLO, MAS DJ : ini aku copykan komentar Hennie “Aku juga nggak suka lembek pada waktu-waktu tertentu”

    agak aneh jg, gak suka lembek pd wkt2 tertentu maksudnya apa Hen????? itu saran mas DJ klu mau yg keras2 semuanya ada ditempat kang Anuuuuuuuu……….

    klu aku lembek emoh selain bubur wakakakakak

  4. HennieTriana Oberst  12 March, 2011 at 23:10

    Iya bener banget mbak PROBO.

  5. HennieTriana Oberst  12 March, 2011 at 23:09

    Oh gitu ya NEV, dulu waktu kecil di rumah sering ada sajian beras merah. Tapi nggak pernah tau gimana masaknya. Jadi kapan-kapan kalo masak beras merah bisa tau nih, thanks
    Selamat mencoba, gagal juga bolehlah dilaporin, kan percobaan pertama nggak harus sukses.
    Makasih lagi penjelasan batang kapulaganya…

  6. probo  12 March, 2011 at 23:07

    nyicip ya……
    itu buah ceplukan bukan ya?

  7. nevergiveupyo  12 March, 2011 at 22:57

    kalo beras merah harus di-dobel ukurannya kak hen..klo nggak ya siap2 aja makan beras yg masih kerasss.. hehehe
    oya, bedanyabatang pisang dan kapulaga itu adalah, meskipun lapisan2, tapi batang kapulaga itu keras..tidak lembek seperti batang pisang…

    saya cb bikin bubur yah..klo sukses saya laporkan… kalo enggak ya….namanya juga belajar kan… ga masalah gagal masak

  8. HennieTriana Oberst  12 March, 2011 at 22:53

    Silakan mbak PROBO…!

  9. probo  12 March, 2011 at 22:49

    nyicip ya……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *