Pilih Tanpa Kepala atau Tanpa Mobil?

Daveena

 

Pagi itu berdiri di muka  cermin besar yang terpaku di dinding, cahaya lampu bergabung dengan sinar matari yang menyeruak dari jendela. Menampilkan sosokku berbalut blus batik sogan, berkerah tinggi..Celana bootleg coklat gelap membalut sepasang kakiku, rambut kuangkat ke atas, tersemat rapih bersama jepit bunga soka, kubiarkan anak-anak rambut liar menjuntai di sekitar telinga, berlomba dengan anting mutiara membingkai wajahku, beberapa anak rambut juga menjuntai di leher belakang.

Kuberi celak hitam di sekeliling mata ala Avril Lavigne memberi kesan gothic pada penampilan klasik, pilihan lipstick kali ini cukup yang berwarna pucat. Kuelus pipiku…thank God akhirnya hilang juga noda salah obatnya  Rina.

Kudekatkan wajah ke cermin…ada secarik kertas kecil melekat di sana, pesan dari seorang pria masa lalu membuatku tersenyum…

“sampaikan maafku pada dia…tolong hapus air matanya,

dan berikan senyummu yang termanis, dia berhak mendapatkan senyum-mu

karena dia adalah sosok dalam cermin di mukamu.”

Tulisan itu membuat pertanyaan pada sang cermin…tercantikkah menjadi tak penting sebab jadi wanita paling bahagia sudah cukup bagiku. Kakiku menapaki sepasang sandal wedged. Dan kusambar tas anyaman tikar eksotik yang sudah kumodifikasi. Kusandang tas laptopku – semua dalam warna kuning nan cerah. Secerah hatiku…. walaupun tubuh sebenarnya sedikit lelah….

Roda-roda kendaraan bergerak mulus di atas aspal. Sama sekali tak seirama dengan rasa hatiku, aku membutuhkan hentakan-hentakan. Dan seharusnya aku berlari-lari di jalanan … dari Pancoran ke Semanggi? Tidaaak… akhirnya aku harus menyerah pada teknologi.

Pintu lift terbuka menuju kantorku dan di sana Satrya berdiri…kami bertukar senyum. Aku selalu suka menangkap gemintang di matanya, gemintang yang sama – baik saat pipiku mulus merona merah jambu  ataupun saat pipiku penuh noda jerawat. Makasih ya untuk ketulusanmu, sayang aku belum bisa membalasnya…mungkin suatu saat kau akan menemukannya pada sosok lain.

Kusapa si lelaki 20,000km di ruang chat..hmmm kelihatannya dia lagi sibuk dan membingungkan. Kutinggalkan saja dia dengan kesibukannya…sebab dia sudah terbaca lewat kartu tarotku dan diakuinya…RUWET.

Datuk K memanggilku, kami mendiskusikan business plan… Aku tahu dia sudah menyimpan rahasia kecil El dan sudah memecat Leo untuk masalah yang sama. Tapi selama dia belum buka front, aku akan diam 1000 bahasa. Setelah itu Michael menyeretku keluar, curhat…argggh lagi-lagi financial problem aka besar pasak daripada tiang.

Kembali ke bangku duduk berhadapan dengan Lusi – si Ambon manise cerita mengenai Maluku tanah kelahirannya. Yang hingga kini masih menyimpan bara dan mencekam…Selisih antar agama tak tertangani dengan baik…hanya sekedar debu disapu ke bawah karpet.

Thank God dia menemukan cinta dan keselamatan pada seorang pria Australia, suaminya sangat khawatir dengan kondisi Ambon setelah menggoogle  kata “Potong Kepala” dan menemukan seorang perempuan hamil dipotong kepalanya hidup-hidup, akibat konflik antar agama…

Dia ingin Lusi segera menyusul ke Australia tapi ketetapan bahwa 5 tahun tak boleh meninggalkan Australia membuat Lusi berat melangkah meninggalkan mama yang sedang sakit. Suaminya sudah minta maaf  sebab tak bisa membawa serta seluruh keluarga Lusi keluar dari Ambon. Kami jadi miris berdiskusi soal tragedi Ahmadiyah dan Temanggung

Mobil…

Lusi mengeluh atasannya minta dia beli mobil sebagai lambang sukses. Secara financial dia mampu tapi dia tak membutuhkannya. Karena cepat atau lambat dia harus ke Australia. Kukatakan ….. be comfortable with your money, Santai aja Sis…duduk, dengar dan diam pada ucapan atasanmu…Selesai urusan…..Kutunjuk Lina si gadis cantik oriental dengan penjualan tinggi  yang masih nyaman naik busway atau taksi – padahal rekeningnya tabungannya sudah bicara Milyar…Just Be Yourself….

Lina datang dan mendiskusikan provider internet denganku. Her look is so amazing…beauty, smart and rich -blending in a humble package. Dita dan temannya datang…presentasi mereka sukses dan saat ini mereka merayakannya pada semangkuk indomie hangat buatan Emak.  Satu per satu menghilang…palingan ke XXI atau berpijat refleksi.

Aishiteru meninggalkan sapaan – aku mesem-mesem bacanya. Again…welkom back mas…kengocolanmu pun sudah kembali, aku senang atas kebahagiaanmu. El…my soulmate friend telpon…dia melakukan investigasi menyeluruh pada perusahaan competitor yang mengajak kami hijrah, aku sendiri sudah melakukan tugasku.

Kami saling bertukar informasi dan merasa kesal karena berani-beraninya mereka menawarkan kondisi tak bagus pada kami. Hei kami nih dah karatan di dunia keuangan…memangnya kami tak berharga diri mempertaruhkan kepercayaan para klien kami pada perusahaan konglomerat hitam seperti itu…

Aku berkutat lagi pada naskah di layar Netbook….Dammmn so much ideas…n I’m afraid it’s gonna overdosis

7.00 PM  time to go home, Mak (si Office Girl) memanggilku, “Mbak Veen….beli jus emak nih tinggal satu,” Ok I don’t mind…Dendy nyelutuk, “Waduh modus operandi ngompasin terbaru neeh.” Mak cengengesan aja yang penting fulus mulus, dia tak pernah mau menerima pemberian uang cuma-cuma. Usai memberi kembalian, sempetnya dia nyelutuk lagi…,“Mbak pulang ama Emak aja, hari ini Emak bawa mobil.

Make  all the audiences laughing out loud

Sekedar catatan mengenai Jum’at -ku (11/02/2011)

33 Comments to "Pilih Tanpa Kepala atau Tanpa Mobil?"

  1. daveena  21 March, 2011 at 22:05

    Uleng….ada apa sih say? kok aku jadi khawatir….

  2. Uleng Tepu  20 March, 2011 at 15:10

    mbak daveena…………………………………………………………

  3. Lani  13 March, 2011 at 05:00

    DAVEE : nek udan….pas kudu golek sing iso dikekep…….nek cm ngekep guling, selimut rangkep 27 ora cukup………butuh kuwi……….mas DJ mbok ditulungi si mbak DAVEE……….tukokno………opo digorengke LUMPIA dgn syarat sik iso ngadeg jejeg…………ora nglempuruk……..kkkkkkkkk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.