Saripohatji – Jejak Masa Silam Yang Mencoba Bertahan

Linda Cheang

 

Teman-teman Baltyra semua,

Khususnya para ibu dari generasi ABG (Angkatan Babeh Gue), masih ada yang kenal dengan Saripohatji? Bukan Si Sari Oh, hastyiiii, ya.

Tak sengaja saya temukan bedak dari jadoel produk Ciamis ini ketika lagi mencari beberapa sayuran di sebuah pasar tradisional kecil di dekat rumah saya. Pertama kali saya tahu bedak ini dari suatu program acara fitur di salah satu stasiun TV swasta. Detil bedak ini bisa dilihat di gambar-gambar yang saya lampirkan berikut ini.

Dari berbagai catatan hasil selancar di internet, bedak ini bahan utamanya dari tepung beras yang ditumbuk dan dicampur beberapa bahan alami yang kabarnya sampai 40 macam. Di antaranya Daun Mangkokan, Daun Suji, Daun Pandan, Daun Jambu, Daun Beungbeureuman, Daun Teklan,  akar-akaran seperti Temulawak, Kunyit, plus bahan lainnya seperti Tomat, dan Jeruk Nipis. Bedak ini amat terkenal di Jawa Barat di rentang waktu 1960 – 1980.

Pantas saja kalo Mojang Priangan khususnya Mojang Bandung sejak zaman baheula, kasohor mani gareulis (terkenal pada cantik semua), karena kulit mereka yang halus, putih bersih, bebas jerawat dan flek hitam, karena bedak ini mereka gunakan sebagai kosmetika mereka sehari-hari. Tidak heran kalo sejak zaman baheula oge, banyak pelancong dari pelbagai tempat datang ke Bandung  khususnya ke Bragaweg, melihat cantiknya putri-putri Bandung berjalan melintasi jalan itu. Ternyata Saripohatji made by Siti Marijah inilah yang “melukis” wajah para Mojang Bandung sehingga menjadi geulis.

Sedikit kesaksian dari saya sebagai pengguna bedak ini, ketika saya mendapatkan masalah dengan banyaknya jerawat yang membandel, menghiasi dada atas dan punggung saya. Meski sudah diobati dengan berbagai kosmetik khusus pembasmi jerawat produk dari Swedia sampai Amerika, plus sampai mengurangi drastis menyantap makanan yang digoreng termasuk gorengan kesukaan saya,  gehu , eh, para jerawat bandel tsb tetap tidak segera hilang. Selama menggunakan ramuan kosmetik pembasmi jerawat, memang jerawatnya jadi hilang, tapi begitu tidak diolesi pembasmi jerawat, maka jerawatnya muncul lagi. Bahkan sudah digosok pakai lulur buatan dalam negeri yang mengandung Triclosan pun, hanya mengurangi tetapi belum sepenuhnya hilang.

Saya baca khasiat bedak ini dari kertasnya dan saya coba cairkan beberapa butir dicampur Air Mawar, atau kalau lagi malas cari Air Mawar, saya pakai air dingin saja dari keran. Butiran yang dicairkan dibuat seperti masker lumpur, tidak terlalu encer tapi tidak juga kelewat pekat. Ramuan bedak dingin ini dibalurkan ke dada dan punggung saya sesaat menjelang tidur malam. Pagi harinya warna putih karena baluran bedak dingin sudah hilang, rupanya diserap oleh kulit. Tiga malam saya pakai baluran bedak dingin di dada, punggung dan sebagian wajah saya yang kebetulan sedang berjerawat, dan setelah tiga malam itu, jerawat benar-benar hilang. Rupanya kosmetik buatan dalam negeri yang harga sebungkusnya tidak mencapai tigaribu rupiah jauh lebih manjur daripada kosmetik mahal.

Kabarnya, dari orang-orang yang sudah pernah mencobanya, ternyata bahan-bahan alami dalam butiran bedak ini mampu menghilangkan berbagai macam penyakit kulit sampai membuat kulit tetap kencang. Makanya si pembuat bedak ini berani mengklaim bahwa khasiat bedak ini sebagai mustajab!

Sejak itu saya sedia bedak ini di kotak kosmetik saya sebagai obat pembasmi jerawat terpercaya. Pula beberapa butir Saripohatji saya haluskan untuk dijadikan bedak tabur buat wajah sebagai dasar tata rias. Alhasil, cukup sedikit saja pelembab dan tak perlu pakai alas bedak yang tebal, wajah saya sudah terlihat cling, kulit wajah saya juga kencang, hanya perlu sedikit perona supaya terlihat segar. Low maintenance sekali, jauh lebih irit ketika masih coba pake kosmetik dari luar negeri.  Eh, iya, tidak lupa, saya, kan, masih termasuk Mojang Bandung, lho ;-) . Para perempuan yang membaca artikel ini ingin bisa sageulis Mojang Priangan? Tak ada salahnya coba pakai bedak ini. Eit, saya tidak sedang promosi, lho.

Ternyata, yang dari jadoel tak selamanya ketinggalan zaman dan yang buatan dalam negeri sendiri masih mantap khasiatnya dan kualitasnya juga boleh diadu. Namun sampai kapan kekuatan Saripohatji ini akan mampu bertahan menghadapi gempuran zaman sebagai sisa jejak dari masa silam, melawan gencarnya kosmetika modern dibalut iklan hasil manipulasi kamera dan efek cahaya? Entahlah, atau bahkan kelak hanya tinggal nama?

 

Salam,

Linda Cheang

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

46 Comments to "Saripohatji – Jejak Masa Silam Yang Mencoba Bertahan"

  1. bambangpriantono  7 January, 2013 at 19:49

    Eike mawar booo…

    *mabur*

  2. Linda Cheang  13 July, 2012 at 08:05

    Terima Kasih Jeng Ratna. Tuhan mmeberkati usaha Anda.

    Saya pemakai setia Saripohatji sekaligus penjual produknya juga

    Sebagai sesama penjual produk yang sama, ada baiknya kita tidak saling mendahului apalagi sengaja menyalip

  3. Jeng Ratna  13 July, 2012 at 06:29

    mba Linda thx for tulisan nya, bedak itu khas kota saya lho mba , ciamis

    dan mohon maaf sekalian numpang bagi info, saya jualan jg bedaknya. barangkali ada berminat , silahkan cek langsung ke lapak saya ya..

    http://www.kaskus.co.id/showthread.php?p=713622357#post713622357

    Terima Kasih bnyk , GBU

  4. Linda Cheang  18 May, 2011 at 23:19

    Bu Guru, kalo Anda cantik, berarti akan makin banyak orang cantik, maka duniapun akan tersenyum makin lebar, makin tambah sukacita, dong, hihihi…

  5. probo  18 May, 2011 at 23:16

    hehe…nanti saya coba cari…….ntar kalau aku cantik gimana?

  6. Linda Cheang  18 May, 2011 at 23:00

    Bu Guru mau ikutan punya wajah selalu kinclong menawan kayak para Mojang Priangan? Pake bedak ini, dong,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.