Bulan Sabit di Langit Taman Kota

Ihya

 

Udara malam bulan Januari begitu bersahabat. Semilir angin malam berhembus dengan sepoi. Sejauh mata memandang ke atas yang terlihat hanya bulan sabit dan beberapa bintang yang bercahaya namun tidak cukup untuk menerangi hitamnya malam. Lampu – lampu berwarna warni menerangi tiap sudut taman.

Disandarkan tubuhnya di bangku panjang yang menghadap danau buatan dengan air mancur di tengah-tengahnya. Air mancur masih memainkan tarian yang seirama nan indah.

“Hmmmm, sama seperti malam tepat satu tahun yang lalu” pandangannya menyapu sekeliling taman, Terlihat beberapa orang sedang berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir danau. Serta anak-anak yang sedang bermain ayunan dengan orang tua mereka.

Datang ke tempat yang sama untuk sekedar merayakan hari jadinya dengan sederhana tanpa embel-embel. Sekedar untuk melepaskan kerinduan yang mereka miliki.

“Sabar yah….”

“Atas apa?”

“Atas jawaban yang kau minta”

“But, It has been a year”. Nafasnya mulai berat, hatinya tahu dia tidak akan mendapatkan jawaban itu tahun ini lagi.

“Aku ngerti, Aku masih perlu banyak waktu”

“Hmmmm. Ok, Aku akan tunggu sampai kamu benar-benar yakin”.

“Bukan tentang keyakinanku”

“Lalu”

“Tentang keputusanmu atas diriku”.

Direngkuhnya kedua pundak Dian dengan kedua tangannya lalu ditatapnya dalam-dalam wajah perempuan itu. Dian tertunduk, dia tidak mampu dan punya kuasa untuk menatap sorot mata lelaki itu.

“Heeyyyy, lihatlah mataku” pinta Tyo sambil meraih dagu Dian dengan salah satu tangannya

“Hatiku berkenan atasmu tapi belum punya kuasa untukmu saat ini”. Lirih Dian yang masih tetap tertunduk

“Apa aku terlalu menekanmu”. Ujar Tyo sambil melepaskan tangannya dari pundak Dian dan mangalihkan pandangannya ke salah satu lampu yang berdiri tegak di atas tiang dekat ayunan.

“Aku percaya kamu mampu untuk melalui kesulitan ini Tyo”

“Kamu belum bisa melupakan Erwin”

“Dia tidak akan tergantikan Tyo, sampai kapan pun.” Ujar Dian dengan nada sedikit agak tinggi.

“Maaf, bukan maksudku” Digenggamnya jari-jari Dian dengan kedua tanganya dengan erat untuk meyakinkan kata maafnya.

Suasana menjadi hening. Yang ada hanya suara gemericik air mancur yang jatuh kembali ke kolam. Serta suara klakson mobil yang bersahutan dari balik dinding luar taman kota yang terdengar samar-samar. Bintang-bintang di langit mulai bertambah tapi cahayanya tetap tak mampu menerangi hitam langit malam.

Bagi Tyo, Dian, sosok perempuan di masa lalu, dan kini hadir mengisi kerinduan hari-harinya lagi. Setelah lama Ia kubur dalam-dalam. Ada asa yang bangkit lagi untuk mendapatkan cerita yang telah lama hilang. Asa untuk bersama mengisi hari-hari dengan kehangatan sapa dan senyum mentari pagi.

“Gimana khabar Sophie” ujar Tyo memecah keheningan.

“Baik, lagi ada nenek di rumah. Kapan kamu berangkat”

“ Minggu depan”

“Sophie akan kangen”

“Only Sophie?” Tanya Tyo dengan mata melirik ke Dian yang duduk di sebelahnya.

“Me too” Suara Dian terdengar lirih.

“Kita jalan yuuuk” Ajak Tyo sambil menarik tangan Dian untuk berdiri.

“Yuukkk”.

Tyo melepaskan pegangannya ke tangan Dian. Sambil berdiri Dian menarik resleting jacketnya hingga menyentuh leher. Tangan Tyo kembali merengkuh pundak Dian dan berjalan menyusuri jalan setapak di tepi danau. Kaki-kaki mereka melangkah seirama dengan ayuan tangan. Menyelami makna kehadiran nya dalam hati masing-masing

“Boleh aku manggil kamu, Sayang lagi?” rajuk Tyo sambil merapikan kacamatanya

“Hmmmm,“

“Aku bisa menjadi ayah buat Sophie”

“Terima kasih” sambil meng-eratkan pegangan jari-jari tangan nya ke lengan Tyo

“Aku tak bisa menemukan perempuan lain”

“Seandainya Tuhan tidak mengambil Mas Erwin lewat kecelakaan itu??”

“Aku tak tahu” jawab Tyo datar

“Sudahlah Tyo, kau pasti akan menikah dengan perempuan lain khan?” desak Dian memancing

“Hmmmmmmm” gumam Tyo lagi sambil mencubit mesra pinggang Dian.

Malam semakin naik. Dingin angin malam mulai menusuk ke tulang. Orang-orang mulai berkemas merapikan barang bawaan mereka. Tikar-tikar yang sedari tadi terhampar di rerumputan mulai dilipat lagi. Suara sirine mulai meraung-raung melalui speaker-speaker yang terpasang di tiap sudut taman sebagai isyarat taman harus ditutup.

Malam yang dingin dan indah  meski Tyo tak juga mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari Dian tahun ini. Dia harus bersabar hingga Dian yang ingin menguji bahwa ketetapan hatinya tak berubah.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Ihya! Make yourself at home…ditunggu artikel yang lainnya…

8 Comments to "Bulan Sabit di Langit Taman Kota"

  1. Dewi Aichi  23 April, 2011 at 07:15

    Ihya…aku baru baca tulisan perdanamu ini, bagus alur cerita yang biasa, tapi kau sampaikan dengan nada romantis…aku tunggu ceritanya lagi ya…Tyo..kaukah itu?

  2. J C  14 March, 2011 at 10:37

    Jaman sekarang jarang sekali ada yang seperti Tyo…. salam kenal Ihya…

  3. Djoko Paisan  14 March, 2011 at 02:14

    Tyo hebat dan sangat bersabar….!!!

  4. Ihya  13 March, 2011 at 22:41

    @ Lani… Thanks…salam kenal..semoga betah di baltyra…heheheh
    @ Mawar…Salam kenal juga…thank telah mampir
    @ Nevergiveup : Klasik semoga tetap asyik…. Salam kenal

  5. nevergiveupyo  13 March, 2011 at 09:44

    wa…roman klasik….
    terimakasih ihya…

  6. Lani  13 March, 2011 at 08:56

    Ihya : salam kenal………selamat gabung di BALTYRA

  7. Mawar09  13 March, 2011 at 08:55

    Ihya: Cerpennya enak dibaca ! Selamat bergabung di Baltyra ya dan salam kenal.

  8. Lani  13 March, 2011 at 08:34

    1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.