Bune Menjemput Maut (2)

Tantripranash

 

Sepeda yang dikayuh Lik Wan dalam perjalanan pulang bergerak seperti keledai. Aku yang duduk di boncengan mengutuk keras-keras, tapi tak tega juga melihat nafasnya hampir putus.

Rumah sudah dipadati manusia, mereka serentak memberi jalan. Sesosok tubuh membujur di ruang depan. Ketika kusingkap kain penutupnya sungguh aku terperanjat hingga mundur satu langkah ke belakang. Wajah Bune begitu mengerikan, matanya melotot dan lidahnya terjulur keluar. Aku sadar Bune telah mati gantung diri.

Sepekan setelah kejadian kuberanikan diri masuk lumbung belakang. Tapi aku tak mampu. Bayangan tubuh Bune tergantung-gantung di kayu besar dengan lidah terjulur, seperti mengejekku. Sejuta pertanyaan muncul tanpa pernah  ada jawaban yang pasti. Kenangan indah bersama Bune bercampur kenangan pahit. Rindu berbalut benci, jiwaku yang tenang di luar seperti  kawah bergejolak di dalam.

Di usia remaja ini kutak lagi sama dengan anak lelaki lainnya. Tak ada lagi pandangan penuh birahi pada gadis-gadis desa berbalut kain yang baru pulang dari kali. Aku tak lagi tertarik pada bualan teman-teman tentang lekuk tubuh perawan.

Kini aku tak peduli, sama tak pedulinya dengan sebab kematian Bune. Sampai kudengar celotehan Saminem yang tak waras. “Mbokmu dipateni karo wedus (Ibumu dibikin mati oleh si Kambing)… “ celotehnya riang terkekeh-kekeh sambil menunjuk-nunjuk mukaku dengan jarinya yang dekil.

Wedus… wedusssss (kambing… kambing) ... hihihihi.” Tawanya mengingatkanku pada lakon perempuan nakal di ketoprak alun-alun.

Tadinya kupikir celotehan Saminem tak bermakna seperti celotehan perempuan gila lainnya. Namun semakin kucoba lupakan semakin suara itu sering terdengar di alam bawah sadarku. Suara yang sama juga muncul di mimpi-mimpi kelamku. Dengan geram kudatangi Saminem yang sedang jongkok bermain undur-undur di tanah. Perempuan gila yang seusia Bune ini baunya minta ampun.

Aku berjongkok di sampingnya, “Sopo sing mateni mbokku, Nem (Siapa yang membunuh ibuku) ?”

Saminem tetap asyik dengan undur-undur seperti tenggelam dalam dunianya sendiri dan tidak menyadari kehadiranku.

“Nem … Nem …” kusentuh pundaknya.

Dia diam saja masih menunduk. “Sopo sing mateni mbokku?” (siapa yang membunuh ibuku) seruku mulai tak sabar.

Masih saja ia tak bergeming, darahku mulai mendidih, “Nem, sopo sing mateni mbokku?”

Aku mulai mengguncang-guncang pundaknya. Saminem mengangkat wajah, matanya terbelalak dan dalam hitungan detik ia meludahiku dengan air liurnya yang bau sambil berlari menjauh. Dasar perempuan tak waras. Mengapa keluarganya tak memasungnya saja, umpatku dalam hati sambil mengusap wajah.

Aku tak putus asa. Lain hari di tempat sama kudekati Saminem yang sedang asyik bermain undur-undur. Aku berjongkok di sampingnya tanpa suara dan ikut bermain undur-undur. Namun ia tetap membisu. Begitulah kebiasaan baru yang kulakukan di siang hari, bermain undur-undur bersama orang gila. Aku tak peduli apa kata orang. Apa bedanya sekarang, aib dari perbuatan Bune sudah seperti kutukan di punggungku.

Berminggu-minggu setelahnya orang gila ini tetap diam. Aku mulai menikmati waktu bersamanya. Aneh memang, baunya tak lagi menggangguku. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri, bermain undur-undur bersama dengan angan yang melayang bebas terpisah di dunia yang berbeda. Bukannya kutak tahu celotehan tetangga, tapi setidaknya Saminem tak seperti mereka. Ia tak pernah memandangiku dengan sorot mata iba. Bersamanya kutemukan kadamaian tersendiri.

Di malam bulan purnama kudengar Saminem nembang. Nyanyian pilu tentang gadis yang ditinggal kekasihnya.  Suaranya lirih mengiris-ngiris kalbu. Bulanpun jadi retak. Aku larut dalam buaian nada yang terbawa bersama angin, seperti tak percaya kalau ia perempuan gila.

Tak ada yang pernah tahu persis kisah hidupnya. Ada yang bilang ia tak waras lagi karena ditinggal kawin pacarnya, yang lain bilang ia jadi miring karena gagal berangkat kerja ke Arab. Saminem nembang adalah hal yang biasa. Namun malam itu baru kusadari ia bernyanyi dengan hati. Suaranya menembus awan-awan gelisahku, meninggalkan rasa muram di hati.

Jendela kubuka sedikit dan terlihat sosok gelap duduk di pos ronda depan rumah yang lampunya remang-remang. Ia masih benyanyi dengan khusyuk ketika tiba-tiba nyanyiannya terhenti.  Sunyi. Angin semilir dingin. Tak lama terdengar  Saminem terisak-isak. Mula-mula perlahan lama kelamaan agak keras, “Wedus … wedus …” panggilnya di sela-sela tangisnya.

Aku terkesiap. Saminem tidak sedang menangisi kambingnya. Tentu itu panggilan yang ditujukannya buat seseorang. Teringat seketika ia pun pernah menyebut nama itu padaku. “Mbokmu dipateni karo wedus … “ begitu ia pernah menunjuk wajahku. Siapa wedus itu? Mengapa seorang tak waras memanggilnya penuh cinta?

Aku tertidur dengan tanda tanya, mencoba menduga-duga siapa laki-laki itu. Isak tangis dan nyanyian sendunya seperti meninabobokanku hingga terlena ke alam mimpi. Di dalam tidur serombongan kambing berjanggut yang mengembik keras mengejar dan mendorongku ke jurang dengan tanduknya.

****

(Bersambung)

 

Catatan :

Nembang : menyanyi dalam bahasa jawa

Mateni: membunuh

Wedus: kambing

 

Mohon maaf jika ada kesamaan nama, hanya kebetulan belaka.

 

18 Comments to "Bune Menjemput Maut (2)"

  1. Lani  15 March, 2011 at 14:03

    yah mmg bener sih Tantri………aku ora ming mulesssssss………..pake cincing, mbirat sak cepete…….wedi keduluan……amit2 wis

  2. tantripranash  15 March, 2011 at 13:48

    kalo itu ga berani saingan, Mbaaaakk … mbayangin aja mulesss akuuu

  3. Lani  15 March, 2011 at 13:36

    TANTRI : waaaaaaah……mau lbh mengerikan dr terjangan TSUNAMI……..waduuuuuuuuh

  4. tantripranash  15 March, 2011 at 13:36

    @Djoko Paisan : aaah … Pak DJ penggemar undur2 juga rupanya … ma kasih sdh mampir
    @Saw : tanya sama Pak DJ, Mbaaakkk … itu lho di tanah yg berpasir, kalau ada jejak berupa lingkaran2 kecil tandanya ada hewan kecil si undur-undur. Terus lubangnya itu kita telusuri pakai jari dan keluarlah undur2nya. Kalau lebih dari satu trus disuruh jalan bareng balapan … tapi jalannya bukan maju malah mundur …

  5. tantripranash  15 March, 2011 at 13:32

    @Lani: lho kok mengerikan sih? tungguin lanjutannya ya Mbak … mau balapan sama catatan dari Kona
    @Sumonggo : Wedus ireng? binatang yg paling banyak dicari
    @JC : coba2 bikin penasaran saja kok, Mas
    @Hennie Triana & Saras : tungguin yah, bag 3 tamat kok …
    @Kornelya : aw … aw … siapa dia?
    @Linda Cheang : paling males bawa kambing … baunya ga tahan

  6. saw  15 March, 2011 at 07:25

    main undur2 tuh gimana sih mbak TAntri? Aku kok ga mudheng …

  7. Lani  15 March, 2011 at 03:01

    MAS DJ : ngaku nek gemblunk wakakakak………la kuwi komennya no 11 kkkkkkkkk

  8. Djoko Paisan  15 March, 2011 at 02:43

    Terimaksih mbak Rantri…
    Jadi ingat, dulu saat masih kecil, suka mainan undur-undur sambil nyanyi…
    Udu…undur…ndur..undur… mbokmu gejegur sumur… 2X
    Hahahahahaha…sudah ketularan Saminem….!!!
    Salam manis dari Mainz..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.