Tsunami Kona 2011

Lani – Kona, Hawaii

 

10 March 2011

Kamis my day off from work juga lari pagi, bisa agak santai, walau begitu masih ada saja yang harus dikerjakan, seperti bikin bersih apartment, belanja, masak ala kadarnya, namanya sendirian dan tidak punya tanggungan ya suka-suka kalau lagi kumat ingin masak ya masuk dapur, kalau tidak ya keluar beli.

Sudah beberapa bulan ini tiap malam digeber “si ehem” yang nun jauh di sana, nah tadi malam gak mencungul ya udah, sempat ngirim short message pamit tidur.

Baru saja merebahkan badan kira-kira jam 21:30, tsunami sirens went off woalaaaaah langsung lampu aku nyalakan mencolot soko amben (meloncat dari tempat tidur), tidak ingat pakai sandal cuma berdaster ria, untung ora wudo (untung tidak telanjang), aku lari keluar dan di hallway melihat sepasang penduduk apartment yang sedang berdiri di lantai sambil melihat ke Pier. Aku tanya : hi, what is going on? Why at the sudden the sirens went off?

Mereka suami istri asal Washington State yang sedang berlibur di Hawaii, menjawab: well, we just watched the TV about Japan was hit by the Tsunami…

Masih kebingungan, aku tanya balik, just now? Jawabnya Yes…..and they said, we will get hit also but not until 2-3 am Hawaiian time…….OMG!

So, don’t  worry we still have time to leave. Hadoooh, balungku serasa dilolosi lemessssssss (seperti lumpia basah, kata mas DJ).

Aku sambung : please, let me know if you’re leaving I need help I don’t have a car. Mereka jawab: don’t worry, we will let you know……

Aku langsung berkenalan, dan aku kasih tau no apartment’ku, kami sama-sama tinggal di lantai 2.

Kemudian aku balik ke kamarku, turn on my cell phone, laaaah sudah ada message, aku buka: oh, ternyata dari “si..ehem”, yang  kuatir dengan diriku, halaaaaaah….heheh tapi jelas senang namanya mendapatkan perhatian.

Setelah itu aku telpon balik singkat saja 2 menit, dan dipesan kalau memang harus ngungsi lakukan, cari tempat yang tinggi dan jauh dari pantai. Kujawab : ok, cell langsung aku matikan.

Tak lama kemudian ada telpon masuk, dari salah satu temanku gereja, dia menawarkan untuk menjemputku dan nginep di rumahnya. Aku katakan, terima kasih, tapi tunggu kira-kira ½ jam karena traffic yang chaos. Yang namanya jalan raya penuh dengan mobil mereka berjejer antri beli bensin sebelum ngungsi,  yang namanya gas station malam itu larisssss manissssss tanjung kimpullllll…….antrian panjang bak ular…….

Aku mencoba telpon temanku yang lain, semua circuit busy…….tobatttttt! Cilaka 13 belas, here we go again persis dengan yang kualami tahun yang lalu, aku tunggu ¼ jam, mencoba telpon lagi kali ini berhasil, temanku mengatakan sedang ada di toko, mengepak semua dagangannya untuk dibawa pulang berjaga-jaga jika Tsunami menghampiri KONA. Setelah selesai dia akan menjemputku, dan aku akan menginap di apartment mereka.

Kemudian aku telpon balik temanku gereja, aku katakan tidak usah menjemputku karena sudah ada teman yang kebetulan di downtown, lebih dekat dibanding dengan rumahmu harus driving agak jauh, jawabannya : are you sure, she is coming to get you? Aku jawab : yes, I’m sure but thanks anyway for calling and concern about me.

Setelah telpon aku tutup, aku masukkan semua paper works ke koper, dan bawa bag pack yang kuisi seperlunya saja.

Jam 23:00 temanku datang menjemput bersama pacar dan adiknya, mobilnya penuh dengan barang dagangan, mereka membantuku mengangkat barang bawaanku ke dalam mobilnya, kemudian kami meluncur ketempat tinggalnya, sempat berhenti isi bensin.

Sedikit cerita, apartment temanku berjarak kira-kira 11 miles dari downtown/ laut/danger zone.

Singkat cerita sesampainya di apartment, kami langsung nonton TV bergantian antara berita dari channel CNN dan TV local. Aku sempat melihat ketika Tsunami memporak porandakan kota SENDAI di Jepang, mengerikan. Karena pemerintah setempat tidak diberi kesempatan untuk membunyikan sirene peringatan pada penduduk, karena kejadiannya secara tiba-tiba.

Laut yang mengamuk, menyeret, meluluh lantakkan perahu/boat dan ladang, tempat pengolahan minyak hingga terjadi kebakaran. Semua itu mengingatkan Tsunami yang terjadi di Aceh dan beberapa negara Asia lainnya, pada tahun 2004.

Kami melihat TV, sambil ngobrol hingga hampir jam 2:00 pagi, akhirnya kami tertidur, akan tetapi aku tidak bisa tidur nyenyak, masih kepikiran apakah Tsunami bakal mampir di KONA atau tidak.

Entah jam berapa akhirnya terlelap jua, jam 7:30 pagi aku terbangun, temanku masih tidur.

Jam 8:15 pagi semua bangun, langsung sarapan dan minum kopi. Aku telpon dokter gigi, sempat lupa kalau hari ini aku ada janji. Aku minta diundurkan jam nya karena dengan kejadian semalam kurang tidur, mereka tidak keberatan dari jam 9:00 pagi diundurkan menjadi jam 11:00 pagi.

Jam 10:00 pagi kami sudah siap untuk keluar,  aku diantar pulang ke apartment, akan tetapi hanya meletakkan barang saja, kemudian langsung mereka antar aku ke dokter gigi.

Aku katakan tidak perlu ditunggu karena tidak tahu kapan selesainya, temanku tidak buka toko, akan tetapi akan melihat-lihat kerusakan yang ada.

Jam 10:30 perawat ambil X-ray pada gigiku yang akan dipasang implant, kami sempat ketawa cekikik-an (dasar perawat dan pasien sama usilnya) ngomongin si dokter gigi yang gantenk (sebut saja M) hehehe……dokter gigi ini mixed race, Hawaiian dan buleleng. Selesai diambil X-rays, tak lama sidokter masuk ke ruangan dimana aku berada,  tanpa dikomando setelah ber hi…hi…aku langsung nyerocos kami duduk berhadap-hadapan, aku tanyakan proses pemasangan implant, butuh waktu berapa lama, apakah sakit kalau ya apakah bisa diterangkan sejauh/seperti apa sakitnya, apakah harus dibius local, setelah dipasang implantnya harus menunggu berapa lama untuk dipasang crown nya, butuh berapa lama penyembuhannya bla…bla…bla….

Dokternya sambil ketawa-ketawa (mungkin juga mbatin, pasien siji iki gemblunk hahahah…..membombardir pertanyaan…..niru istilah aki buto bak mitraliur wakakak) tapi dengan sabar dokter M menjawab semua pertanyaanku, padahal memang itu taktik ku agar bisa berlama-lama ngobrol sama dia dan memandangi wajahnya yang cakep wakakakakaka……

Kemudian dokter M, menunjukkan hasil X-rays di tempat yang bakal dipasang implant, dikatakan semua sembuh dengan sempurna seperti yang diharapkan,  your tooth healed perfectly, you’re very healthy…ditambah dengan tersenyum ehm..ehm….batinku : aaaaah…..semaput di sini juga mau…..sudrun….sudrun….

Sebelum berpisah, dokter M mengatakan, you can schedule your appointment when do you want to do the implant.

Aku jawab: well, I think within 6 months.

Kemudian aku disalami, terus dokter M meninggalkan ruangan, si perawat orang local “K” masuk ke ruanganku, sambil ketawa ngece..batinku sompretttttt! Terus kami ngakak berdua, karena dia juga mengakui bahwa dokter M memang gagah euy!

Dalam perjalanan keluar dari klinik, aku sempat melihat dokter T, dia dokter gigi umum yang menanganiku mengerjakan teeth whitening, masih muda, juga gantenk, orangnya lemah lembut. Aku sempat berhenti dan menyapanya, walau dia sedang ada pasien yang harus ditangani. Aku tanya, bagaimana dengan CHICKEN PAT THAI? Dijawab: very good…..actually, I went there already…..

Ceritanya, temanku cewe Thai pernah mengantarku keklinik, ternyata oh ternyata temanku ini mengenal beberapa pegawai di klinik ini, malah mereka ngobrol ramai sekali, ujung-ujungnya malah dapat pesanan agar tiap hari Jum’at ngirim rantangan ke klinik.

Perawat “K” pada saat itu ngompori ke teman-temannya termasuk dokter T, harus mampir ke BANGKOK HOUSE dan pesan chicken pat thai……

Begitulah ceritanya.

Aku pamit, langsung keluar dibelok-an hampir saja tabrakan dengan salah satu dokter lainnya, nah yang ini gagah, gantenk, gede duwur walau tidak setinggi aki buto hehehe…..dia kaget aku juga kaget, tapi rodo gelo (agak kecewa) kok gak benar-benar tabrakan wakakakak……dasar wong gemblunk!

Kami sama-sama melempar tawa……sesampainya di front desk aku bikin janji, untuk bulan Desember karena dokter M si ahli implant hanya datang ke Kona sebulan sekali, main office nya di HONOLULU.

Total ada 4 dokter gigi laki-laki dan 1 dokter gigi wanita dengan spesialisasi masing-masing, diklinik yang  aku datangi. 3 dokter gigi laki-laki masih muda, ganteng, yang satu dokter sudah tua orangnya lucu, botak.

Dengan berjalan kaki aku pulang ke apartment, mencoba untuk relax akan tetapi tidak kesampaian karena online malah dapat email sak-abreg-abreg dari seluruh dunia, isinya sama menanyakan tentang Tsunami dan menanyakan apakah aku baik-baik saja.

“Si ehem” kebetulan sedang online…….walaaaaah wes langsung chatting sejam, tidak ingin melepaskan kesempatan.

Tambah repot, membalas email satu-persatu,  ujug-ujug (tiba-tiba) cell ku berdering hadoooh bul-bul dari MAU’I telpon, idem ditto menanyakan keadaanku, apakah baik-baik saja? Aku tanya balik, bagaimana di Mau’i?  sebut  saja M mengatakan: well, our harbor got hit pretty good. Aku jawab : at least you’re safe…..

 

12 March 2011

Seperti biasanya sarapan pertama lari pagi, akan tetapi pagi ini berbeda karena ada misi untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri, kerusakan yang diakibatkan TSUNAMI pada hari Kamis malam/Jum’at dini hari.

Tujuan lari  pagi ke ROYAL KONA RESORT HOTEL, hotel ini lokasinya di bibir pantai, di sebelah hotel ada bangunan apartment, di depannya aku melihat onggokan meja, kursi, jebol bercampur dengan pagar rusak yang diterjang oleh tsunami.

Dalam perjalanan pulang, aku telusuri jalanan sepanjang Ali’i drive, terlihat pasir berserakan menutup aspal jalanan. Semakin mendekati harbor/pier semakin banyak, bahkan pasirnya masih basah seperti lendut (apa ya bahasa Indonesianya) saja.

Akhirnya sampai ke pier, tembok pemisah antara air laut dengan jalan/seawalls sepanjang kurang lebih 10 m ambrol, brodol, trotoir ambles/melesak ke dalam. Akan tetapi memang kuakui kecepatan bertindak pemerintah local Kona, tembok itu sudah diperbaiki, kelihatan dari warnanya yang berbeda dengan tembok yang lama.

Sepanjang tembok pemisah yang ambrol, dan trotoir yang melesak, diberi tanda dengan net berwarna oranye tidak boleh dilewati.

Dari sana perjalanan aku lanjutkan ke hotel KING KAMEHA MEHA, restoran hotel rusak diamuk tsunami, jendela kaca berantakan. Dari hotel aku menyeberang jalan untuk melihat pemandangan menyedihkan toko kopi tempat aku kerja ditutup dengan papan karena pintunya terlepas ketika diterjang oleh tsunami, menurut bossku pintu itu sempat terapung dan baru ditemukan pagi harinya. Semua isinya hancur, terbawa oleh air laut, rak  untuk tempat kopi roboh.

Toko itu tinggal kenangan belaka, aku sempat berdiri memandangi dengan perasaan campur aduk, ada satpam yang menunggu di komplek pertokoan itu untuk mencegah tangan-tangan jahil mencuri.

Aku sempat berbincang dengan sang satpam. Aku katakan: I’m so sad, I work there, at the store behind you now all is gone…..

I lost my job.

Dijawab: I’m sorry to hear that, but don’t worry something will come up later.

Aku lanjutkan jalan cepatku menuju apartment ku, aku masih merasa sedih. Ingat pembicaraanku dengan boss “K” kemarin pagi, dia bingung, kaget, tidak tahu rencana ke depannya. Aku tidak berpanjang kata, hanya mengatakan so sorry melihat apa yang terjadi, aku harapkan yang terbaik, and keep in touch, keep me up date.

Rasanya tenggorokan tercekat, tidak tahu apalagi yang harus aku katakan. Aku tahu apa yang aku rasakan  jika aku di posisi “K”.

Tsunami kali ini adalah untuk kedua kalinya terjadi, tepatnya  tsunami yang pertama 2010 hanya peringatan akan tetapi tidak pernah datang walau begitu sudah bikin heboh, peringatan itu diadakan dengan adanya gempa hebat yang terjadi di Chile. Artikelnya aku tuliskan di Baltyra.

Pengalaman pertama membuatku serasa mati, sebelum merasakan mati yang sebenarnya, aku begitu panic, sekujur tubuhku terasa lemas sekali.

Kejadian kedua aku tidak sepanik itu, walau begitu dampaknya kepala pusing, dan bahuku merasa pegal-pegal, sayang tukang pijat mahal, kalau tidak aku sudah langsung pijatan.

Hari ini aku kerja, akan tetapi pada dasarnya hanya bersih-bersih toko walau tidak kebanjiran/kemasukan air, akan tetapi kemasukan sampah.

Dari hasil pengamatanku, jalanan sangat sibuk dengan turis baik yang berjalan kaki ataupun yang berkendaraan mereka ingin melihat bagaimana sehari setelah terjadinya bencana tsunami.

Sampai hari ini sebagian besar pantai sudah dibuka kembali untuk turis, tersisa 2 pantai yang masih ditutup karena perlu dibersihkan dari sampah hasil amukan tsunami.

Itulah hasil pandangan mata dampak tsunami yang terjadi di Jepang, dan mampir ke Kona.

Sampai bertemu pada catatan selanjutnya.

Mahalo,

Lani-Kailua Kona, the Big Island of Hawaii

 

133 Comments to "Tsunami Kona 2011"

  1. Lani  18 March, 2011 at 15:38

    NEV : mahalo ya, moga2 aku segera mendptkan kerjaan baru…….dan ngecenk sama buleleng itu yg UTAMA wakakakka

  2. Lani  18 March, 2011 at 15:37

    YUCI : waaaaah….sampai kaget dikau mencungul lagi, aku kira udah gak pernah mampir disini……trim’s sdh komentar……mmg beritanya gak sebesar di Jepang, wlu tokoku sempat rusak, dan aku kelangan pekerjaan…….trims atas doanya……moga2 aku segera mendptkan pekerjaan baru………

  3. yuci  18 March, 2011 at 08:18

    ooo jadi di kona juga ada tsunami ya tapi koq ga diberitakan seperti tsunami di jepang, apakah krn dianggap tsunami nya tidak besar ya….meski tidak besar tetap saja dampaknya memprihatinkan.

    moga-2 lani dapat segera mendapatkan pekerjaan lagi (dapat segera bekerja kembali).

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.