Kardono disandera, lalu pimpin PSSI. Nurdin pimpin PSSI, lalu ‘menyandera’

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

PELAWAK ternama S. Bagio pernah melontarkan pertanyaan melucu saat melawak di acara-acara TVRI masa 1980an. “Ayooo apa warnanya angin?”. Rekannya, seperti Darto Helm celangak celunguk sambil memamerkan jidatnya yang licin dengan mencoba menjawab.

“Angin koq ada warnanya?”, cela S. Diran rekan Bagio yang mirip Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu Abdul Gafur. Mereka peras akal ingin menjawab, sambil kadang-kadang melakukan adegan slapstick, gerakan fisik yang keras agar terlihat lucu. Ternyata tak ada yang tahu warna angin itu apa?

“Merah!, tegas Bagio. Lho! Koq merah??? Serempak semua rekan Bagio bertanya dengan mulut melongo. Mereka heran bagaimana warna angin itu bisa disebut merah. Dengan setengah gugup Bagio menerangkan dengan alur yang lucu tetapi logis terdengar.

“Coba kalau badan dikerok, warnanya apa?” kembali Bagio bertanya. Kerokan memang aneh.  Dibenci bagi yang belum tahu dan dicintai sampai mati ketika sudah tahu. Betapa nikmatnya dikerok ketika kondisi badan tidak fit. Sebagian besar orang Indonesia sudah mempraktekkannya, terutama dari suku Jawa.

 

Boleh tapi tidak boleh

Dunia kedokteran tidak pernah merekomendasikan kerokan sebagai sebuah pengobatan. Namun tidak melarang bila dilakukan sampai batas-batas tertentu. Orang kita terutama dari Jawa, lebih suka dikerok saat merasakan badan meriang (kurang fit), daripada menuruti nasihat dokter minum puluhan tablet warna-warni sekali tenggak. Sering dengan air ledeng dari washtafel, mirip adegan yang dilakukan orang-orang stress di dunia barat seperti dalam film-film Hollywood.

Meski dunia kedokteran malu-malu mengakui kerokan sebagai penyembuhan, namun dunia terorisme sudah mengakuinya sebagai obat ampuh penyembuhan. Bukan hanya sakit, tetapi fisik, pelepasan stress dan juga nyawa. Saya kembali mengingat kejadian lucu yang diceritakan oleh ibu dari kawan baik saya, yang suaminya pegawai teladan Angkasa Pura, badan usaha milik negara yang mengelola beberapa bandara besar di Indonesia.

“Gara-gara kerokan, Pak Kardono (waktu itu Direktur Jenderal Perhubungan Udara) menyelamatkan nyawa istrinya”, cerita ibu kawan saya. Kardono yang lahir sedesa dengan Presiden Soeharto, pernah bernasib malang bersama istrinya Rochayaty, disandera teroris Tentara Merah Jepang saat menumpang Japan Air Lines DC-8 dari Paris menuju Tokyo, pada 28 September 1977.

 

Disandera jadi ‘menyandera’

Ketika pesawat dengan nomor penerbangan 472 itu singgah di Bombay (sekarang Mumbai), setelah lepas landas, dibajak dan dipaksa mendarat di Dacca (sekarang Dhaka), ibukota Bangladesh. Selama disandera penuh ketakutan itu, Kardono diam-diam mengerok istrinya yang mungkin saja masuk angin, karena stress keringatan juga terlalu lama dalam pesawat dalam keadaan mencekam.

Para pembajak yang tak tahu apa itu kerokan, ketakutan melihat tengkuk istri Kardono yang merah-merah mendekati kehitaman. “Turun!”, perintah pembajak. Jadilah sang istri ikut diturunkan bersama 117 penumpang lainnya. Kebetulan juga saat itu permintaan pembajak berupa tebusan milyaran rupiah dan pembebasan rekan-rekan mereka dari berbagai penjara, dikabulkan. Uang tebusan pun diantarkan ke Dacca oleh pemerintah Jepang.

Kemana Kardono? Dia tetap disandera dan dibawa ke Kuwait, lalu Damaskus (Siria) sambil teroris bernegosiasi berbagai pihak, dan akhirnya terbang ke Aljir, sekaligus mengakhiri drama pembajakan. Di ibukota Aljazair itu, Kardono dibebaskan bersama sisa sandera setelah disekap lebih dari 132 jam.

Saya masih ingat ketika meyaksikan di TVRI waktu Kardono tiba di Tanah Air, dia disambut mesra oleh sahabatnya Harjono Nimpuno, dirjen perhubungan laut yang jangkung.  Dia menggendong Kardono yang agak pendek sambil berputar-putar tanpa kaki Kardono menyentuh tanah, mirip permainan di Dunia Fantasi. Nah, gara-gara kerokan nyawa bisa selamat…

Kejadian teror 1977 itu ternyata membawa berkah seorang Kardono. Enam tahun kemudian dia berhasil memimpin PSSI, induk organisasi sepakbola nasional. Selama dipimpinnya, prestasi sepakbola Indonesia meroket untuk ukuran keterpurukan saat Kardono mulai menjabat. Indonesia bisa menjuarai SEA Games 1987 dan 1991 dan mengagetkan masuk semi final Asian Games 1986 di Seoul. Ini prestasi paling tinggi sepakbola Indonesia sejak Olimpiade Melbourne tahun 1956.

Entah kebetulan atau tidak, seperti sebuah nubuat atau ramalan yang kebetulan saja terjadi, Kardono setelah disandera justru menjadi ketua umum PSSI. Sebaliknya saat sekarang, seorang Nurdin Khalid yang menjadi bos PSSI, justru sudah ‘menyandera’ organisasi sepakbola nasional itu untuk kepentingannya. Tanpa ada prestasi berarti selama Nurdin menjadi bos PSSI lebih  dari 7 tahun. Apa perlu dikerok biar PSSI sembuh? (*)

 

 

59 Comments to "Kardono disandera, lalu pimpin PSSI. Nurdin pimpin PSSI, lalu ‘menyandera’"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 March, 2011 at 09:47

    Kok pakai bikini segala cuma mau minum degan? Emang seneng ya mamer gituan? Hahahahaha…

  2. Lani  30 March, 2011 at 09:45

    ISK : betoooooool……klu mo minum air degan…….panjat sendiri, ambil sendiri kelapanya…….dan kupas sendiri……..bawa sendiri sedotannya…….kmd pakai bikini duduk dipinggir pantai…….ato sambil tiduran nyedot air degan……..seeeeep markusip

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 March, 2011 at 09:44

    saw, beda lho antara cuma minum air hangat jahe dengan dikerokin. Secara medis kerokan bisa dijelaskan dan rasanya lebih baik setelah itu, dibanding hanya sekedar minum air hangat atau jahe panas…

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 March, 2011 at 09:42

    …akhirnya, Om Nurdin Khalid turun tahta…

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 March, 2011 at 09:42

    Nev, kalau es kelapa muda minta sama Yu Lani.Di sana banyak puun kelapa….

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 March, 2011 at 09:41

    Betul papa niel, paling enak dikerokin sama istri. Kalau ibu saya anti kerokan krn bukan budaya keluarga. Apalagi dikerokin sambil buka baju…

  7. papa niel  22 March, 2011 at 07:16

    Paling enak dikerokin Ibu sendiri,,,hubungan ibu dan anak semakin membuat manjur Kerokan, setelah menikah karena istri gak mau kerokin karena badan saya yang lebar.. hiks hiks hiks (kasihan deh saya)
    tapi anak saya yang 4 tahun juga sudah mulai suka dikerokin oleh maminya!

  8. nevergiveupyo  17 March, 2011 at 09:55

    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:
    March 17th, 2011 at 08:23
    Nev, kalau kamu gak suka kerokan, artinya gak suka es kelapa juga? Soalnya dikerok juga. Mosokl disruh minum santen sama es sekalian.

    hum..saya ga suka es kelapa pak wan…apalagi kelapa utuh kan?? lha itu bikinnya di baskom dong… nyendoknya pake sekop…

  9. Lani  17 March, 2011 at 08:53

    SAW : yg namanya kerikan…kerokan…….mmg spt candu/madat…….bikin addict/ketagihan……aku brenti kerokan setelah pindah ke LN…..abisnya kg ada org yg dimintai ngerokin………para bul-bul pd ketakutan……..hehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *