Arti dan Cerita di Balik Motif Batik Klasik Jawa (1)

Nunuk Pulandari

 

Tentang pembuatannya, warna, dan pengaruhnya saya kira secara umum kita semua juga sudah mengetahuinya. Dalam tulisan ini saya akan memfokuskan cerita pada arti motief dan cerita yang ada dibalik motief itu, khususnya Motif batik klasik Jawa.

Bledhak Pethak. (=figur-figur besar berlatar putih)

 

Berkenalan dengan Batik

“Mbak Nuk, saya punya banyak batik di rumah”: Kata salah satu satu teman dekat. Suatu kalimat yang terdengar sangat familiar di telinga saya. Seorang yang lain dengan penuh enthousiasme menceritakan dalam salah satu kesempatan ceramah saya tentang batik bahwa dia baru mendapat oleh-oleh batik yang bagus dari suaminya yang baru pulang dari Yogyakarta. Hmmmm, dalam hati saya turut merasakan bangganya bahwa suaminya yang  orang Belanda masih ingat membelikan cadeau batik untuk istri tercintanya.

Dan satu teman mengajar saya bercerita: “Saya punya beberapa Jarik dan Sarung Batik, peninggalan ibu almarhumah”. “Wouww, pasti motiefnya masih motief kuno”: Pikir saya. Sayang sampai saat ini saya tidak pernah melihat motif batiknya.

Semen Klewer (=motif yang bergantungan, kleweran)

 

Demikianlah saya bisa mengetahui bahwa banyak dari teman saya telah mengenal term batik dalam kehidupan sehari-harinya. Baik dia itu teman Belanda maupun teman Indonesia. Terlebih lagi setelah saya tinggal di Belanda dan sering bergumul ria dengan apa yang disebut batik. Entah dalam bentuk memberi ceramah tentang hal-hal yang berhubungan dengan perbatikan maupun menulis tentang batik. Di Belanda saya baru sempat memperdalam tentang motif-motif dalam batik klasik Jawa. Terutama melalui motif-motif dalam batik peninggalan  eyang  dan ibu.

Untuk saya pribadi sesungguhnya bentuk kata benda “Batik” baru saya kenal dan mengerti dengan baik setelah saya duduk di sekolah dasar. Ketika saya mulai menarikan tari Serimpi, tari Bondan. Setiap menarikan satu tarian saya harus mengenakan jarik dengan motif yang saling berbeda. Sedang jawaban atas pertanyaan :”Batik itu apa sih” saya baru mengerti dan mengetahui setelah saya mulai menyenangi batik dan sering mengamati ibu dan eyang yang selalu mengenakan batik dalam kehidupannya sehari-hari.

Pada masa kecil, kami sering sekali berlibur ke rumah eyang putri di Pemalang. Sebuah kota yang terletak tidak berapa jauh dari kota batik,  Pekalongan. Eyang tinggal di rumah ini bersama dengan Mbah Buyut (ibunya eyang putri) dan kakak wanitanya yang bernama mbah Diyah  beserta putrinya, budhé Imah. Eyang kakung saya sudah lama meninggal dan saya tidak pernah mengenalnya secara langsung.

Yang sangat berkesan dari tiap liburan ini adalah fenomena kedatangan empat ibu-ibu di terras, di bagian belakang rumah. Setiap pagi, di terras ini  selalu berkumpul dua orang ibu-ibu yang cukup sepuh dengan dua lainnya yang jauh lebih muda. Mereka selalu datang setiap pagi hari, tidak lama setelah merekahnya sang surya. Mereka datang tidak untuk bertamu tetapi untuk membatik, membuat jarik untuk eyang dan beberapa anggota keluarga putri lainnya.

Ibu Supri sedang membatik motif Gurka latar sisik ikan, di toko batik Mirota Yogyakarta

 

Kami selalu memanggil mereka dengan: “Mbok dan Yu Batik”. Segera setelah mereka datang, mereka duduk di amben (semacam tempat tidur dari anyaman bambu) rendah yang dilapisi dengan tikar yang agak tebal. Di atas amben ada empat “rak baju” tempat menyampirkan bahan mori yang akan mereka lukis dengan motif batik. Di atas amben itu mereka duduk di atas semacam dingklik (bangku pendek), lalu membatik, melukiskan motief-motief yang telah disebutkan dan dipilih oleh eyang putri sendiri.

Saat itu membatik tidak memakai patroon seperti saat ini. Gambaran motif yang disebutkan eyang ada dalam benak mbok pembatik. Saya melihat bahwa dua mbok Batik bertugas membatik motiefnya dan yu Batiknya sibuk dengan membuat isen batiknya. Dengan cecek, titik lmebut sebagai isi motif.

Bila mereka sudah mulai membatik, suasana begitu hening dan tenang. Semua dengan penuh konsentrasi mengerjakan tugasnya masing-masing. Selama mengerjakan tugasnya mereka

sangat jarang berbicara antar satu dengan yang lainnya. Mereka baru beranjak dari pekerjaannya hanya kalau mereka harus pergi ke kamar mandi dan istirahat sambil makan dan mengunyah sirih.

Ibu dengan salah seorang sahabatnya.

 

Mereka dengan rajin dan cermatnya menghasilkan kain-kain panjang batik (jarik batik) yang indah.  Ini dapat saya lihat kalau saya sedang mengamati warisan batik yang ditinggalkan untuk kami, kakak (3 kakak ipar) beradik (3 adik), bertujuh.

Selama hidupnya baik eyang puteri maupun ibunda terkasih pada dasarnya hampir selalu mengenakan jarik hasil batikan poro Mbok dan Yu batik. Bukan berarti bahwa ibu di kemudian hari tidak pernah menambah koleksi perbatikannya. Tentu dengan membeli, karena setelah eyang pindah ke Jakarta, tidak ada lagi orang yang datang membatik di rumah di Pemalang.

Foto keluarga ibu (tengah berdiri pakai topi), eyang dengan keluarga, diambil plus minus th.1922

 

Sejak ibu sekolah di Van Deventer School, Solo, beliau selalu mengenakan kain dan kebaya.

Sampai meninggalnya baik eyang putri maupun ibu selalu mengenakan jarik dan kebaya dalam kehidupan sehari-harinya. Dari mulai matahari terbit sampai jauh malam hari. Saya selalu melihat ibu berjalan hilir mudik dalam pakaian jarik dan kebayanya. Kadang memang terselip pikiran: ”Apakah tidak rebet dan panas selalu dililit kain jarik dan bersanggul dengan sunggarnya”. Apalagi kalau saya melihat ibu harus berganti lebih dari dua kali dalam sehari karena pada hari itu ibu harus mengunjungi dua pesta yang berbeda, misalnya.

Saat itu saya sama sekali tidak pernah membayangkan betapa banyaknya waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan hanya untuk menghasilkan motief batik diatas secari kain Mori yang berukuran 2 ½ sampai 3 kacu (kata bahasa Jawa untuk mengukur panjang kain mori). Kira-kira sama dengan 2 ½ sampai 3 meter panjang kali 115 -120 cm lebar. Dan sama sekali belum sadar bahwa hasil batikan poro mbok akan merupakan kenangan yang indah bagi kami bertujuh. Dan menjadi salah satu hobby bagi saya.

Seperti yang kita ketahui batik termasuk salah satu bentuk seni lukis tradisi klasik Jawa. Terutama di Jawa Tengah. Di dalam seni lukis batik ini dapat terlihat betapa banyaknya motief yang bisa kita temukan.

Jarik motif gulang galing, merupakan perpaduan anatara motif parang dengan motif gringsing (insang ikan)

 

Masing-masing motief memiliki ciri-ciri, arti dan makna serta nama tersendiri. Faktor-faktor  ini memiliki hubungan yang erat dengan fungsi dan pemakaian batik dalam kehidupan sehari-hari… Tentang semua ini akan saya tuliskan dalam artikel berikutnya.

Prettig lezen. Tot volgende week.  Selamat membaca. Sampai minggu depan. Nu2k

 

 

148 Comments to "Arti dan Cerita di Balik Motif Batik Klasik Jawa (1)"

  1. aditya ck  25 April, 2013 at 06:14

    mohon info no. Telp. yg bisa di hubungi untuk pemesanan batik foto no. 2. Trims salam aditya

  2. Lani  23 March, 2011 at 04:37

    MBAK NUK : malessssss…..ngakak2…..soale mentas tibo……jederrrrrrrr……..haduh lara bokongku…….heheh kria2 gitu ya teriaknya……

    aku kan kerjaan dua mbak, satu yg kena tsunami…..saiki msh cari satu lagi…….selamat tidur mbak dilanjut bsk

  3. nu2k  23 March, 2011 at 03:41

    Jeng, kalau mripatku sekarang sinarnya masih 50 watt. Sedang baca majalah elsevier dan koran. Kok dunia semakin ramai saja.
    Semoga di Kona sekarang sudah mulai kembali normaal kegiatannya. Piyé jeng di tempat kerja barunya. Is het OK? Apa tugasnya? Wis dhi tlaténi sik, mengko rak ono dhalané sing luwih apik.
    Werkt ze en kusjes, Nu2k

    *Aq jik muaaaleees ngguya- ngguyu”.

  4. Lani  23 March, 2011 at 03:31

    MBAK NUK : ya….mengko ditunggu aja mbak……..sebentar lagi………mbak udah mo sare?

  5. nu2k  23 March, 2011 at 02:59

    Jeng Lani, saya nggak bisa cerita banyak. Nantilah saya tunggu dulu ceritane jeng Lani nék wis ketemuan. Sing jelas lain lubuk lain belalang ya…. Ha, ha, haaaa

    Wis saiki arep ngasto atau gimana? Werkt ze, nanti saya lihat lagi… Kus, Nu2k

  6. Lani  22 March, 2011 at 02:34

    MBAK NUK : balasan kutunggu……sll

    JENG CLARA : nunut disini ya mbak mengucapkannya…….HAPPY ANNIVERSARY…….semoga diberikan perkawinan yg langgeng sampai hayat memisahkan kalian berdua……..happy……….happy……….happy……..

  7. nu2k  22 March, 2011 at 02:11

    Mbakyu Clara, matur nuwun ya. Sekarang tinggal landas menuju to the next 35 years . Semoga kita masih sehat dan masih bisa berha ha hi hi lagi….
    Mbakyu, selamat beristirahat en tot weer schrijven, Kus, kus, kus, Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.