Kisah Pohon Mangga

SAW – Bandung

 

Sahabat Baltyra yang berbahagia…

Saya teringat candaan waktu kecil dulu. Kala itu teman-teman ada yang bilang, enak ya … hidup di luar negeri, bisa punya empat musim. Kalau di Indonesia kan cuma dua musim. Trus ada yang menimpali,” Eh, … siapa bilang, .. enakan di kita. Kita punya banyak sekali musim. Ada musim rambutan, musim durian, musim mangga, musim jambu ….. ,” hehehe … masuk akal juga.

Nah, pada kesempatan kali ini, … saya ingin berkisah tentang buah mangga, …

Ketika beberapa tahun yang lalu Pemerintah Kota mencanangkan gerakan tanam pohon di pekarangan rumah, sembari membagikan bibit tanaman buah-buahan, sebenarnya saya bingung juga. Sebab kebingungan saya adalah bahwa di pekarangan rumah saya sudah penuh dengan pohon-pohonan.

Di area sesempit itu, saya menanam 2 pohon mangga, 2 pohon anggur, 1 pohon durian, 1 pohon jambu batu, 1 pohon delima, 1 pohon jeruk nipis, trus ada juga sirih yang merambat di pagar plus bunga-bunga yang ditanam di tanah maupun di pot. Untuk mensiasati keterbatasan lahan, sebagian pohon-pohon itu saya tanam di pinggir jalan, di luar pagar. Nah, pohon jatah dari pemkot sementara saya tanam di pot yang agak besar.

Semua pohon buah-buahanku sudah berbuah kecuali pohon durian. Pohon jambu batu paling pertama berbuah, ini jadi tempat favorit anak-anak di lingkungan untuk ‘pethakilan’ sambil makan buahnya yang sepanjang musim berbuah dengan lebat.

Buah delima malah tidak mengenal musim. Buahnya merah, kadang sampe retak kulitnya memamerkan kesegaran biji-bijinya yang ranum. Nah, pohon anggur ternyata ada dua jenis. Satunya anggur hijau yang besar-besar, saya bikinkan rambatan dari besi. Satunya lagi anggur hitam, buahnya lebih kecil, saya bikinkan rambatan dari kayu dan bambu. Rencana yang anggur hitam ini akan saya ‘bunuh’ untuk digantikan jenis pohon yang lainnya. Tapi berhubung belum keidean, makanya sementara saya biarkan saja.

Alkisah, … pohon mangga satunya lagi berada di dalam pagar. Pohonnya benar-benar kokoh karena ia tumbuh dari biji. (jadi akarnya tunjang ya  … bukan serabut … ). Sudah 2x berbuah. Hebatnya, begitu berbuah, langsung banyak. Jenisnya mangga Cengkir. Tentu ini buah kesukaan ibu-ibu, karena hobbi ibu-ibu tetangga saya adalah ngerujak.

Buah yang mengkal (kemampo, setengah matang) trus tidak berasa asam benar-benar menggairahkan bagi pecinta rujak. Saya benar-benar bersyukur, … buah musim pertama ludes, merata ke tetangga tak bersisa sebelum merasakan buah masak.

Pada musim mangga berikutnya, pohon ini  berbuah lagi.(Pohon satunya yang di luar pagar masih kecil)  Lebih lebat dari sebelumnya. Masalahnya adalah, ternyata sebelum berbuah, pohon ini selalu mengirim ulat-ulat bulu yang banyak sekali. Pada waktu musim buah yang pertama juga begitu. Tapi tidak sebanyak ketika muslim keduanya.

Sungguh, saya benar-benar bingung dengan kehadiran ulat-ulat ini. Saya bukan orang yang paham bagaimana cara memberantasnya, sehingga ulat-ulat tersebut cukup saya semprot pake minyak tanah. Matilah ulat-ulat itu.

Tapi anehnya, keesokan harinya, ulat-ulat itu muncul lagi. Saya semprot, muncul lagi … begitu seterusnya. Saya sampe pusing. Akhirnya minyak tanah 2 liter saya siramkan ke pohon mangga tersebut. Alhamdulillah, tuntaslah permasalahan ulat bulu.  Di saat itu, buah-buahnya sudah terlihat lebat sebesar kepalan tangan. Bahkan sudah ada tetangga satu dua minta untuk yang lagi ngidam.

Dengan berlalunya waktu, buah-buah tersebut semakin meranum. Saya bertekatd setidaknya satu keranjang harus tersisa untuk bisa merasakan buah masak dari pohonnya. Dan memang kesampean. Setelah buah merata ke tetangga atau sekedar orang yang lewat, saya masih dapat sekeranjang buah ranum. Nikmat sekali.

Tapi, saya jadi heran. Setelah berbagi buah, ini pohon malah meranggas. Daunnya yang lebat menguning dan akhirnya jatuh berguguran. Saya bingung sekaligus sedih. Ada apa gerangan ?

Karena sudah yakin pohon mangganya almarhum, maka saya panggil orang untuk menebang pohon tersebut.

Ibu, … kunaon atuh bu, tangkal buah teh  paeh …,” Mang Dono yang saya suruh menebang juga heran.

“Duka Mang, …,” saya juga tidak bisa memberi jawaban yang pas.

Mang Dono jadi sibuk meneliti sambil mengetok-ngetok batang pohon tersebut.

“Ibu, … kadieu heula, …,” serius sekali si Mang memanggil.

“Aya naon, mang …” mau tidak mau saya jadi reuwas.

“Lue teh, … teu bener. Aya nu ngewa ka Ibu, matak tangkal ibu di paehan,” sembari berbisik Mang Dono memberitahu saya. Tentu dengan pelan, takut ada yang mendengar. Wah, … seru nih. Memang saya punya salah apa kok bisa-bisanya ada orang tidak suka trus ‘membunuh’ pohon mangga saya?

“Eleuh Eleuh Mang, … tong suudzon heula. Aya buktina kitu?” saya kok jadi deg-degan juga.

“Ta … ieu, tangkalna garing. Ieu mah aya nu ngabanjuran ku minyak tanah supados paeh. Sadaya tatangkalan mah mun di banjur ku minyak tanah, tos we… paeh,” semangat sekali Mang Dono memaparkan hasil analisanya. Saya terpana. Hahahaha …. Ngakak saya tertawa. Tentu Mang Dono bingung.

“Atuh Mang, … mun ieu mah sanes batur nu ngabanjuran. Abdi nyalira nu ngabanjuranana. Pan kamari seuer hilet mang, … ,” masih dengan ‘kemekelen’ (nah … ini saya belum tau bahasa Sundanya apa), saya mencoba menjelaskan sama Mang Dono. Tapi jujur, … setelah saya tau penyebab matinya pohon mangga tersebut, saya menyesal sekali. Duh … seandainya saya tidak menyiramnya dengan minyak tanah …

“Eleuh-eleuh Ibu, … paingan paeh…,” mang Dono jadi geleng-geleng kepala. Sudah deh, pohon mangga yang sudah mengering tersebut jadi sasaran empuk kampaknya. Duk.. duk.. duk.., gubrakk … Rata deh dengan tanah. Kisah pohon Mangga Cengkir berakhir, tunai sudah tugasnya. Tapi sebelum mati, … ia sudah memberikan kemanfaatan yang maksimal pada manusia di sekitarnya. Paripurna.

Saya minta bekas tumbuh pohon tersebut dibuatkan lobang sekalian. Rencana pohon mangga yang di pot akan saya pindah nantinya ke lobang tersebut.

Selama tiga musim mangga berlalu, saya tidak bisa menikmati buah mangga dari pekarangan sendiri. Sampe kemudian pohon yang di luar pagar mulai berbunga. Sementara pohon mangga pemberian Pemda pun sudah mulai menjulang di tempat tumbuhnya Almarhum Mangga Cengkir.

Setelah buahnya muncul, saya baru ingat kalau mangga yang saya tanam ini adalah jenis mangga Gedong Gincu. Buahnya kecil-kecil, bulat kayak apel. Kalau masak warnanya merah. Lucu. Nah, … namanya juga menanam di pinggir jalan, … kalau tidak mau sakit hati,  tentu dari awal harus diluruskan niatnya.

Jika pagi masih melihat untaian buahnya trus siang sudah tidak ada, yaa… harus ridho. Tidak boleh ngedumel. Belum lagi kalau ada mobil bak terbuka lewat. Santai aja mereka meraih mangga yang ‘pating grandul’ itu. Sampe kemudian, ketika saya berkeinginan untuk bisa merasakan manisnya buah matang dari pohon, saya cuma kebagian 3 biji. Lumayan …

Anak-anak sih pada protes, … kok cuma kebagian 3 biji. Padahal mereka penggemar mangga semua. Yah, … panjang lebar kita kondisikan mereka, sembari tak lupa mengganti kekecewaan mereka dengan 3 kilo mangga Gadung ranum dari pasar. Hehehe …

Begitulah kisah mangga-mangga saya, yang kini salah satunya sudah berbuah sebesar kepalan tangan saya, dan satunya lagi sedang berbunga. Semoga buahnya kali ini bisa bertahan hingga benar-benar bisa dimakan, tidak berguguran dikarenakan hujan dan angin yang ‘salah mongso’.

Salam dari Bandung…

49 Comments to "Kisah Pohon Mangga"

  1. Alvina VB  18 March, 2011 at 01:34

    he..he…Bu Saw, saya baru baca 1/2 tulisannya pas dibilang disiram pake minyak tanah, di otak saya langsung bilang lah pasti mati deh pohon mangga tsb; soalnya duluuuuu banget ada yg isengin pekarangan rumah kita dgn menyiram minyak tanah dan sekitar tanah tsb, pada mati tanamannya, termasuk pohon rambutan yg lagi berbuah saat itu.

  2. Djoko Paisan  17 March, 2011 at 23:42

    saw Says:
    March 17th, 2011 at 07:59

    Om DJ : wow,… jeli juga rupanya OM JD memperhatikan kalimat pak Iwan.

    Mbak SAW….
    Dj. hanya ingin nyengol mams Iwan saja….
    Kebetulan ada alasan untuk menyenggolnya….hahahahahaha….!!!

    Tapi memang sering Dj. dengar orang berbicara yang kadang kedengaran lucu…
    Seperti ini…
    Kalau meu langsing kurang makan nasi dan banyakan makan buah-buahan….
    Bukannya nasi it dari BUAH padi…??? Hahahahahaha….!!!

    Nah kalau dengan mas Iwan, kalimat yang benar adalah…

    Mas Iwan makan dua buah mangga.
    Mas Iwan memiliki dua butir telur.
    Dan bukan dua buah telur….!!!

    Salam manis dari Mainz….

  3. Edy  17 March, 2011 at 12:14

    Mangga paling enak tetaplah mangga dua (istri asyik belanja, saya asyik hunting dvd.)

  4. saw  17 March, 2011 at 08:02

    P’Anoew : salut untuk kepiawaian pak Anoew mengapresiasikan segala macam kalimat menjadi multi tafsir.
    Matursuwun sdh mampir, pak …

    M’ Lani : Wislah mbak, kita nikmati mangga muda sing wis dionceki sama pak Anoew, … aku siapin bumbu rujaknya. Hehehe ….

  5. saw  17 March, 2011 at 07:59

    M’Mawar : hayuk mbak, .. mudik. Lagi musim mangga nih. Kita ngerujak bareng. hehehe …

    Om DJ : wow,… jeli juga rupanya OM JD memperhatikan kalimat pak Iwan.

    m’Kornelya : iyaaaaa … euy. Ga usah jauh2, saya juga masih terkenang2 jaman kecil dulu. hehehe. Makasih mbak sdh berkenan mampir …

  6. saw  17 March, 2011 at 07:56

    Pak Hand : sudah terkirim, pak. Semoga hari ini nyampe. (disambung2in deh)

    Pak Iwan : Saya juga penggemar mangga pak, dan saya juga sdh kapok, ga akan nyiram2 dengan minyak tanah lagi. Apalagi nyari minyak tanah juga sekarang susah.

    m’ Hennie : iya mbak,.. sekarang sedang musim, tapi sdh beberapa musim tidak bisa maksimal, gugur terus bunga dan bakal buahnya karena angin dan hujan.

  7. saw  17 March, 2011 at 07:52

    Teh Linda : rasanya segala macam jenis mangga saya suka, teh. Ada juga jenis Lali jiwo yg ga ada asem2nya, dalemnya merah, maniiiissss banget. Makanya kalo lewat rumah teh Linda, saya suka ngincer mangga2nya. Siapa tahu lagi buahan.

  8. saw  17 March, 2011 at 07:48

    Mea : makasih sdh mampir. Segera pulanglah, biar bisa puas2in makan mangganya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.