Senja di Chao Phraya (11)

Endah Raharjo

 

Bab 3: Menghalau Mendung Langit Jogja (2)

“Laras, sorry! Nggak dengar! Aku lagi jalan sama anak-anak!” Suara Mila tinggi menjawab telpon Laras, mengatasi musik di dalam mal. “Kalau penting sms aja!”

“Oke! Kalau gitu besok aja!” Laras ikut berteriak, mendekatkan ponsel ke bibirnya. Mila sedang melepas kangen pada anak-anaknya, pikir Laras, aku tak ingin merusak acaranya dengan membuatnya merasa bersalah karena memajang foto-fotoku dengan Osken di wall Facebook. Tapi aku akan segera memintanya menghapus foto-foto itu. Laras menghirup udara sepenuh dada, mencoba meredakan kegundahannya.

Sambil menyisir rambutnya yang hampir kering, ia merebahkan tubuh di tempat tidur. Sudah hampir lima tahun ia tidur sendiri, berselimutkan kenangan masa-masa indah bersama suaminya, memeluk bayangannya. Setahun ini, sering kali muncul bayangan lelaki lain, menyelinap diam-diam dalam dekapannya. Bayangan Osken. Meskipun hanya dalam lamunan, meskipun tidak ada yang tahu, Laras malu-malu memeluk tubuh lelaki bule yang lebih tinggi dan lebih kokoh dari mendiang suaminya itu.

Jam di dinding kamar menunjuk pukul 8 malam. Sudah setengah jam ia tergolek diam, merenungi lamunannya. Ah. Mengapa pula lamunan harus direnungkan. Laras tersenyum pedih. Sekitar setengah jam lagi, di Yangon, Osken berharap akan melihat warna hijau muncul di akun Skype Laras. Dengan was-was, Laras bangkit, melangkah keluar kamar, menuju meja kerjanya di sudut ruang keluarga.

“Kalian online?” tanya Laras pada dua anaknya. Rumah mereka tidak besar, dengan sedikit meninggikan suara, semua penghuninya bisa saling bicara tanpa beranjak dari kamar atau tempat duduknya.

“Ya, Ma.” Mega dan Angka hampir berbarengan menjawab. Pintu kamar Mega sedikit terbuka. Pintu kamar Angka tertutup. Modem dan router ada di kamar Angka, ia selalu membiarkan alat-alat itu menyala, kecuali bila rumah kosong, supaya ibu dan kakaknya bisa online kapan saja, tidak perlu mengetuk pintu kamarnya.

“Mama mau cek email, ya,” Laras membuka laptop. Sedikit aneh juga, batin Laras, mengapa aku harus memberitahu mereka. Kembali senyum pedih terukir di bibir. Laras sadar, ia dihantui oleh kekhawatirannya sendiri. Khawatir kalau ada yang tahu tentang Osken.

Aku belum siap menjawab pertanyaan tentang Osken, suara hatinya. Belum saatnya. Ragu-ragu Laras menghidupkan laptop. Seakan Osken akan meloncat keluar begitu layar menyala. Ah. Aku begitu ingin bertemu denganmu, tapi aku takut anak-anak dan keluargaku tak menyukaimu. Mengapa dirimu terbungkus dalam tubuh Kaukasia? Mengapa tidak Sunda atau Jawa saja? Atau, mungkin justru karena engkau berbeda, aku terpesona olehmu. Laras makin merindukan lelaki itu.

“Aku mau bikin teh. Mama mau?”

“Haaah!!!” Sambil berteriak tangan Laras cepat-cepat menutup muka. Suara Mega mengejutkannya.

“Mama!” Mega sama-sama terkejut. Gadis itu mendekapkan tangan ke dada.

“Maaf. Mama kaget. Tiba-tiba aja kamu udah ada di situ. Mama lagi banyak pikiran.”

“Mama istirahat aja.”

“Nggak apa-apa, Mega. Mama harus mengirim dokumen malam ini. Tolong buatkan teh sekalian, ya.” Laras memandang Mega, menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. Matanya mengatup. Ia menarik nafas panjang dengan hidungnya, lalu mengeluarkannya pelan-pelan melalui mulutnya. Sedikit demi sedikit kekhawatiran yang menggumpal di dadanya ia hembuskan keluar.

Hati-hati Mega meletakkan cangkir teh di meja ibunya. Perempuan sumber hidupnya itu sedang konsentrasi pada pernafasannya. Tanpa suara dua tangannya memegang cangkir satu lagi, dua kakinya berjingkat membawa tubuhnya kembali ke kamar.

Pukul 8.20. Laras membuka mata, menggoyang-goyangkan lehernya. Tubuhnya terasa lebih santai, detak jantungnya tak lagi memburu. Ia menemukan kembali keseimbangannya. Sambil menahan nafas ia buka Skype. Warna hijau terlihat di akun Osken. Ah. Ia sudah menunggu. Ia sudah tak sabar ingin bertemu.

Hello, there,” tulis Laras di chat-box. Jemarinya lincah menandakan luapan hatinya.

Darling Love,” balas Osken, “How was your flight?” sebaris lagi muncul di chat-box.

Uneventful,” tulis Laras. “How was your day?”

I had a rough day at the border. But it can wait. No chance for camera. It’s a slow connection. How are your children?”

They’re happy to have me back. They fixed supper for me. But…,” Laras berhenti beberapa saat.

I am here….

Laras lalu bercerita soal foto-foto mereka di wall Facebook Mila dan pertanyaan anak-anaknya tentang Osken. Laras mengaku kalau ia belum siap bercerita lebih banyak tentang hubungan mereka. Osken berusaha mengerti meskipun ia berharap Laras pelan-pelan mulai memberitahu anak-anaknya.

“I don’t want to push you, Darling.”  Untuk Laras, Osken selalu menulis ‘darling’ diawali dengan huruf kapital. “Please try. For me, the sooner the better. If they’re unhappy with our relationship, we can find solutions,” lanjut Osken dalam chat-box.

Osken tidak terbiasa tarik ulur dengan perasaannya. Ia agak kesulitan menerima kekhawatiran Laras karena foto-fotonya dilihat orang. Osken tidak punya akun Facebook, namun baginya foto-foto itu bukti bahwa mereka berdua saling cocok, saling cinta. Sesuatu yang indah tengah berlangsung dalam hidup mereka, mengikat keduanya menjadi pasangan yang saling menyayangi. Semestinya keluarga Laras bahagia.

Osken tumbuh dalam keluarga yang menghormati pilihan tiap orang. Selama ia bahagia dengan pilihannya, keluarganya akan bahagia untuknya. Bahkan beberapa sepupu Osken memilih mengejar kebahagiannya sendiri, pekerjaannya, pasangan hidupnya, orientasi seksualnya, gaya hidupnya; tanpa perlu risau bila pilihannya itu tidak disukai oleh keluarganya.

“It’s my life. I have the right to be happy. Why can’t you just be happy for me?” Ucapan semacam itu bukan hal tabu. Osken sering mendengarnya. Dirinya juga berpikiran sama. Karenanya, sulit bagi Osken memahami keraguan Laras untuk mengabarkan hal baik ini pada keluarganya. Jatuh cinta itu indah. Mereka berdua lajang. Tak ada yang perlu disembunyikan.

Tak lama setelah dirinya menyatakan cinta pada Laras, Osken mengabari keluarganya bahwa kini ia telah menentukan pilihan. Ia hidup membujang sampai usia 52 bukan karena tidak ada perempuan yang mau diperisteri. Ia memilih tidak mengambil salah satu dari pacar-pacarnya sebagai istri. “Karena ternyata saya tidak jatuh cinta dan tidak merasa nyaman setelah dua-tiga bulan bersama, meskipun awalnya saya kira saya jatuh cinta,” begitu kisah Osken pada keluarganya tentang mantan-mantan pacarnya.

Kini ia menemukan Laras. Seekor burung pipit yang dilihatnya terbang bebas, melintas di depannya, lalu hinggap tanpa ragu di dekatnya, seekor elang yang perkasa, yang tak henti terbang kemana ia suka.

“Dia luar biasa, Mother. Dua anaknya sudah remaja. Dia peneliti. Tiga tahun ini dia mengerjakan needs assessment untuk isu-isu perempuan dan anak-anak di perbatasan Myanmar dan Thailand,” dengan bangga Osken menceritakan Laras pada ibunya, saat Osken pulang ke Washington, DC.

“Kedengarannya memang luar biasa. Saya tidak sabar ingin bertemu dengannya,” ucap ibunda Osken. “Aku dan ayahmu sejak lama ingin mengunjungi Indonesia. Namun selalu ada alasan travel warning yang membuat ayahmu ragu-ragu. Sementara dia sendiri bolak-balik ke Irlandia Utara dan Eropa Timur. Apa bedanya?” Lalu ibu Osken mentertawakan suaminya.

“Osken,” tulis Laras di dalam chat-box, memecah keheningan di permukaan layar laptop.

“I am here, Love.”

“I have things to do before going to bed,” tulis Laras. Ia harus membaca puluhan email di inbox-nya yang belum ia buka sejak dua hari lalu. Diiringi kata-kata cinta mereka mengakhiri perbincangan maya yang berlangsung hampir satu jam tanpa gangguan koneksi. Awalnya Osken khawatir kalau listrik di Yangon tiba-tiba mati.

Laras meraih cangkir tehnya yang masih separuh. Ia menggeliat. Meski tak sepenuhnya terangkat, beban di hatinya terasa sedikit ringan. Sebelum membuka inbox-nya, Laras menyalakan TV. Suasana rumah begitu sepi. Mega dan Angka masing-masing asyik mengerjakan entah apa di dalam kamar mereka.

Rasa kantuk mulai memberati matanya sebelum ia selesai membaca semua email. Namun tiga dokumen penting telah selesai ia kirimkan pada KJ, team leadernya, yang masih berada di Bangkok. Laptop ia matikan. Sisa email akan ia baca besok pagi. Ia melangkah menuju kamar anak sulungnya.

“Mega…,” Laras mengetuk pintu kamar.

“Ya, Ma?” terdengar suara kaki kursi bergeser diikuti suara langkah kaki bersandal mendekati pintu. “Ada acara apa di TV?” Wajah Mega menyembul begitu pintu terbuka. Samar-samar suara TV mengisi ruang keluarga.

“Cuma ingin ada suara aja.” Laras memeluk anak sulungnya.

“Ada apa ini, Ma?” Mega berbisik di telinga ibunya.

“Cuma kangen.” Laras menatap lekat mata Mega. “Mama ngantuk banget. Tidur dulu, ya.” Pelukan ia lepaskan. “Angka, Mama tidur ya.” Diketuknya pintu kamar anak lelakinya

“Yoiii…. Sweet dreams.” Angka berteriak dari dalam kamar.

TV ia matikan.  Menuju kamar, Laras tersenyum dan berjanji pada diri sendiri, secepatnya ia akan menjelaskan hubungannya dengan Osken pada dua anaknya.

***

 

17 Comments to "Senja di Chao Phraya (11)"

  1. Endah Raharjo  17 March, 2011 at 13:20

    @Pak Djoko dan @Mawar: terima kasih banyak, salam selalu dari Jogja

  2. Endah Raharjo  17 March, 2011 at 13:18

    Wuahahahahaaa… ada arisan di bawah mendung langit jogja rupanya. @Lani + Kang Anu mau tanya… anunya Kang Anu itu apa to, kok nganggo lengo barang… terus bedhile Kang Anu sing dowo opo sing cendhak? Bedhile nek dilumasi lengo dadi lunyu… iiihhh… kepleset

  3. Lani  17 March, 2011 at 07:39

    ok……selamat menjalankan tugas…….NGEBOR spt duh sapa penyanyi yg suka ngebor lupa aku kang…….helppppppp

  4. anoew  17 March, 2011 at 07:38

    hahaha iyo, golek lenga disik. masih 25 shoot point sing kudu digarap dina iki, nunggu tancepan geophone thok.

    Ngebor sik yo.

  5. Lani  17 March, 2011 at 07:23

    yo……..kutunggu…….golek lengo?????? buat menyulut bedilmu?????? dorrrrrrrrrrrr………klonthang………byaaaaaaaaar

  6. anoew  17 March, 2011 at 07:22

    sip, ngko tak japri. Dilut neh aku arep blusukan alas disik yo, golek lenga dilut.

  7. Lani  17 March, 2011 at 07:13

    kang anuuuuuuu….japri to nanti aku add punyamu skrg ya kutunggu lo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.