Ceplukan

HennieTriana Oberst – Jerman

 


Nama Latinnya adalah Physalis angulata. Aku mengenal buah ini di masa kecil, kami menyebutnya buah Ceplukan. Dulu saat melewati masa liburan sekolah kami sering menghabiskan waktu menginap di rumah kakek dan nenek dari pihak Ayah. Di sana kami juga punya teman-teman main selain sepupu yang kebetulan tinggalnya di rumah tersebut.

Sampai masa-masaku di Sekolah Menengah Atas (SMA) desa yang terletak di salah satu lokasi perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara tersebut masih sangat asri, nyaman dan tenang. Dulu kegiatan kami adalah menyusuri pematang sawah, mencari jamur kalau lagi musimnya datang. Masuk hutan mencari tanaman pakis buat dimasak, juga memancing ikan dan mencari kepah di sungai. Ada yang tidak mengenal „kepah“…?


Saat sedang menyusuri hutan itulah aku sering sekali mendapati buah Ceplukan tersebut, tumbuh liar di antara tanaman di hutan. Yang aku tahu Ceplukan ini bukan untuk dikonsumsi manusia, tetapi makanan burung. Buahnya bulat, berwarna kuning jika sudah masak, sekilas agak mirip dengan tomat, terbungkus oleh kelopak bunga membentuk menyerupai lampion, dan rasanya manis dan kadang agak asam.

Sedikit heran ketika mengetahui ternyata physalis ini di Jerman biasa didapatkan di pasar. Hampir setiap hari bisa didapatkan buah ini hanya tidak terlalu banyak. Tetapi kalau musimnya tiba di negara yang menghasilkan buah tersebut biasanya cukup banyak juga didapati di pasaran. Sering juga physalis dipakai sebagai pelengkap salat atau hanya sebagai penghiasan dalam penyajian makanan.


Physalis ini menurut ahli gizi banyak mengandung vitamin C dan memiliki beberapa khasiat, salah satunya adalah keluhan susah buang air kecil. Apakah masyarakat di tempat tinggal kakek dan nenekku dulu telah membudidayakan si Ceplukan ini untuk dikonsumsi sendiri atau masih tetap menjadinya sebagai makanan burung, aku tak pernah mendengar kabar tentang itu.

 

Terima kasih buat redaksi dan semua sahabat Baltyra.

Salam hangat dan sejahtera.


159 Comments to "Ceplukan"

  1. R. Wahyu  29 March, 2011 at 10:53

    Ternyata buah keren ya….
    gag nyangka… padahal dulu suka nyari2 di sawah….

  2. probo  29 March, 2011 at 10:30

    sing gedhe ya cathetane..bdhak ilang

  3. Lani  29 March, 2011 at 10:13

    MBAK PROBO : pasti tak catet mbak……..pertama GUDEG…….dua SEGO MEGONO komplit sm peyek teri, gereh pethek, dan tempe goreng glepung…….aaaaaaah ngilerrrrrrrr kebesssss saiki mbak

  4. probo  29 March, 2011 at 10:00

    mbak Lani…..suk maem nasi megono ya kalau ketemuan…….

  5. Lani  24 March, 2011 at 12:12

    HAND : sopo kuwi kyai Sadrah……..rak mudenk……..rak kenal………rak ngertiiiiiii………sori de mori…….

    HENNIE : ya nasi megono dr ndesoku……..wuenaaaaaaaaaaak Hen

  6. HennieTriana Oberst  24 March, 2011 at 12:04

    SARAS, iya benar banget. Memang sampai saat ini aku belum pernah lihat buah ini di pasaran.
    Terima kasih, Saras.
    Salam hangat.

  7. HennieTriana Oberst  24 March, 2011 at 12:02

    Mas HAND, siapa itu Kyai Sadrah Suryopranoto?

  8. HennieTriana Oberst  24 March, 2011 at 12:00

    LANI, oh nasi megono itu makanan dari Purworejo. Wah dirimu asalnya dari sana ya. Kalo gitu sama dong dengan almh. Nenekku (dari pihak Ayah). Sayangnya beliau sudah meninggal waktu aku baru masuk SD. Mungkin kalau nggak aku kenal juga nasi megono itu.

  9. Handoko Widagdo  24 March, 2011 at 10:57

    Lani, dikau asli Purworejo? Masih saudara dengan Kyai Sadrah Suryopranoto?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *