Hidup nyantai aja, Mbak

Odi Shalahuddin

 

Bagian Pertama: Jangan Menangis Mbak

Bagian Kedua: Mbak, mulai tersipu ya?

Bagian Ketiga: Sontoloyo itu harus mati!

Bagian Keempat: Nganu itu enak loh, Mbak

 

(Bagian Kelima dari 6 Tulisan)

Umur? Wah, Mbak gak dengerin dengan baik sih. Saya kan sudah bilang gak tahu kapan dilahirkan. Pak Min dan Mpok Nah juga gak pernah kasih tahu. Kapan menemukanku, mereka juga gak inget.  Gak peduli juga. Menurut Mbak berapa?

Kalau waktu saya kabur umur sekitar 12 tahun, sama Bambang dua tahun, sama si Sontoloyo dua setengah tahun, lalu lari dari Sontoloyo sudah hampir setahun. Jadi berapa tuch, Mbak? Tujuh belas tahun ya, Mbak? Jalan ke delapan belas tahun. Ya kira-kira segitulah umur saya, Mbak.

Jujur aku itu, ya, Mbak, gak pernah membayangkan wajah ibu atau bapak. Gak punya gambaran sama sekali. Siapa mereka juga gak tahu. Apalagi ketemu. Tapi yang pasti mereka bukan orang baik-baik. Kalau baik, gak mungkin buang anak di tempat sampah. Cuma mau enaknya aja. Pas jadi, dibuang sembarangan.

Kalau ingat soal ini, Mbak. Aku terima kasih juga sih ke Pak Min dan Mpok Nah. Kalau gak ada mereka, mungkin aku sudah jadi santapan anjing-anjing di sekitar pembuangan sampah. Eh, serius loh, Mbak. Selama aku tinggal di sana, sudah banyak kejadian bayi-bayi ditemukan dalam kondisi rusak. Ada yang kepalanya ilang. Ada yang tangannya tinggal satu. Wah, ngeri pokoknya Mbak.

Tapi kadang aku pikir juga, kalau gak ada Pak Min dan gak ada Mpok Nah, berarti aku sudah mati. Mungkin malah enak ya, Mbak. Kalau sudah mati, mau diapain aja gak akan kerasa sakit. Mau dimakan kepalanya, kek. Mau dimakan kakinya, kek. Mau dimakan tangannya, Kek. Walang kekek. Heheheheheheh.

Eh, Mbak ketawa terus. Tambah cantik loh, Mbak. Daripada nangis, kan mending ketawa-ketiwi. Iya, gak Mbak? Hi..hi..hi… Mbak itu, kalau aku pikir-pikir kayak artis sinetron yang sering pake jilbab itu, loh.. Hm siapa sih namanya, yang jadi pemain sinetron yang diputar  setiap puasa itu, loh, Mbak.

Para pencari Tuhan! Ya, itu, yang jadi Aya. Siapa namanya, Mbak? Ya… Zaskia Adya Mecca . Bener loh, Mbak. Mirip.  Mirip banget. Mbok, Mbak main sinetron aja. Nanti saya nonton deh. Trus, cari pacar yang kaya Azzam itu loh, Mbak. Atau kaya suaminya, sang sutradara itu. Itu yang saya tonton di acara gosip-gosip selebritis itu loh, Mbak.

Sinetronnya bagus, ya Mbak. Sering nonton gak? Tapi aku sering mikir. Tuhan kok dicari. Tuhan ya dipeluk. Dimasukin ke hati. Gitu kan, Mbak? Aku sendiri gak tahu agamaku apa. Ke Gereja enggak. Ke Masjid juga enggak. Apalagi ke tempat yang lainnya. Waktu di perkampungan pinggiran pembuangan sampah itu, ya ada yang sering bantu kami, Mbak.

Maksudnya membantu warga. Ada yang berjubah putih ngajak ke gereja, ada yang berjubah putih lainnya ngajak ke masjid dan ngajarin anak-anak ngaji. Aku pernah sesekali ikut belajar ngaji. Tapi ikutan juga ke gereja. Kalau Pak Min atau Mpok Nah ngerti, wah bisa dimarahin. Dianggap membuang waktu. Kerja…kerja… kerja… cari duit.

Setelah kabur. Ya, tetap gak jelas juga. Sampai sekarang. Agamaku apa ya? Benar Mbak,

Aku gak ngerti punya agama apa enggak. Tapi aku sangat percaya ada Tuhan. Tuhan yang maha kuasa. Tuhan yang Maha Pencipta. Aku kagum dengan Tuhan. Coba bayangkan Mbak. Alam ini begitu sempurna ya, Mbak. Gak saling tabrakan. Ada iramanya.

Lha, kok aku jadi kotbah. Kotbah sama Mbak lagi. Mbak pasti sangat paham agama. Buktinya pake jilbab. He.h.eh.eh.e.he…..

Bener, Mbak. Aku sangat percaya Tuhan. Tuhan tempat bersandar. Tuhan tempat mengadu. Kalau aku gak percaya Tuhan, lha terus aku berdoanya bagaimana? Bingung, Mbak. Apalagi kalau lagi sakit. Atau kalau lagi sedih banget. Gimana, Mbak?

Aku percaya Tuhan. Tapi gak pernah sembahyang. Dosa gak, Mbak? Masuk neraka gak? Eh, tapi bener gak sih ada sorga ada neraka? Mbak percaya? Tapi ada sorga apa enggak, ada neraka apa enggak, aku gak perduli, Mbak. Aku cuma percaya Tuhan. Walau gak bisa menjalankan perintah-perintahnya. Aku cuma bisa berdoa saja, Mbak. Ngucapin syukur dan meminta. Seringnya sih minta, Mbak. Tapi bukan peminta-minta, kan, Mbak?

Aku itu sadar banget, loh, Mbak. Sadar diri. Gak pernah makan bangku sekolahan. Gak bisa baca. Gak punya pengetahuan. Gak bisa ngitung. Eh, kalau ngitung duit, pinter sih. Jadi penduduk kota ini aja gak diakuin. Lha, aku gak punya surat-surat. Kartu Keluarga gak punya. KTP gak punya. Jadi ngimpi kali bisa dilayani pemerintah. Kalau ada bantuan aja, gak pernah bisa masuk ke sini. Semua sama, Mbak. Gak punya identitas. RT gak ada, RW gak ada. Jadi bantuan yang katanya untuk kaum miskin, Hanya Lewat saja, Mbak. Seperti Hantu Lelembut. Diharap, gak datang-datang.

Kami ini ada, tapi gak pernah dianggap ada.

“Gak ada data,” kata orang kelurahan waktu ada yang bertanya.

“Kita data sendiri, lengkap,”

“Gak bisa. Kalian illegal menempati los-los pasar,”

“Daripada gak dipake, nanti banyak hantunya, Pak,”

Jadi, bantuan dan kami itu sama-sama, Mbak. Sama-sama Hantu Lelembut. He.h.eh.e.he.he…

Ya, sudahlah. Hidup itu dibuat santai. Ada razia, ya lari. Ketangkep, ya lagi nasib buruk. Gak usah dibuat repot. Dijalanin aja. Nyantai aja. Lha, mau apalagi? Menurut, Mbak, gimana seharusnya?

Yogya. 18.01.11

 

26 Comments to "Hidup nyantai aja, Mbak"

  1. saras jelita  24 March, 2011 at 10:26

    Iyaaa tuuhh….idup itu ya dibawa santai aja, yang penting mah nggak nyakitin orang lain!! yuukkkss ahh Mbak permisi dulu yaaahhh…ada langganan tuh dateng…ha ha ha ha ha ha

    HIDUP ITU INDAH….so enjoy ajaaaahhh!!!

  2. Khair Ahmed  24 March, 2011 at 10:20

    Thank God you wrote this, bring her away from there please!

  3. Odi Shalahuddin  20 March, 2011 at 09:58

    Pak DJ, kalau boleh tahu sekarang tinggal dimana Pak?
    Ya, semoga bisa bertemu dengan kawan-kawan dan anak-anak..
    Heh.e.he.h.eh.e
    Sebentar lagi saya akan ke Semarang, mungkin satu atau dua hari..

    Dewi: Ha.ha.h.ah.a.ha.h.ah. bener, nyante aja, syukur kalau ya, Mbak…

  4. Dewi Aichi  19 March, 2011 at 22:49

    iya nyante aja mba….kaya aku ini lho…sante banget..waaaaa….sampe mbayar utang aja sante kok…

  5. Djoko Paisan  19 March, 2011 at 21:11

    Odi Shalahuddin Says:
    March 19th, 2011 at 20:49

    @DJ: Wah, iya kurang jelas, Pak… Ingat halte depan dibya Puri, jadi ingat awal-awal kegiatan kita dimulai dari sana. Dulu ini menjadi salah satu pusat tempat dimana anak-anak berkumpul. Setelha itu berpencar ke berbagai arah. Di Pasar Johar, banyak juga dijumpai anak-anak (termasuk anak perempuan) yang tinggal di los-los pasar. Ah, Seandainya Bung DJ berkesempatan lagi ke Semarang, kontak dengan kawan-kawan saya di yayasan Setara, Pak. Mereka banyak tahu tentang anak-anak itu, termasuk juga tempat-tempat tinggal mereka…

    Sayang sekali saat itu belum kenal mas Odi…
    Tapi Dj. yakin, satu saat Dj. akan cari yayasan setara, hanya belum tau kapan.
    Juga photo ini Dj. ambil dari atas jembatan penyebrangan jalan. Karena dibelakang toko “bata” ada reklame dengan kata “Germany”…..
    Salam untuk anak-anak dan para pengasuh mereka….

  6. Odi Shalahuddin  19 March, 2011 at 20:49

    @Hennie: Saya yakin banyak kisah seperti ini. Beberapa waktu lalu ketika saya keliling ke beberapa kota, hati saya semakin shock ketika berjumpa dengan anak-anak (perempuan dan laki-laki) yang sudah terjerumus di prostitusi. Mereka masih aktif bersekolah (bahkan banyak yang masih SMP), masih tinggal bersama orangtua, namun orangtua tidak mengetahui kegiatan-kegiatan mereka. Ada perubahan pola yang menyebabkan mereka sulit dilacak.
    @Edy: He.h.eh.e.h.eh.e4 memang harus nyantai kalau nganu ya…
    @DJ: Wah, iya kurang jelas, Pak… Ingat halte depan dibya Puri, jadi ingat awal-awal kegiatan kita dimulai dari sana. Dulu ini menjadi salah satu pusat tempat dimana anak-anak berkumpul. Setelha itu berpencar ke berbagai arah. Di Pasar Johar, banyak juga dijumpai anak-anak (termasuk anak perempuan) yang tinggal di los-los pasar. Ah, Seandainya Bung DJ berkesempatan lagi ke Semarang, kontak dengan kawan-kawan saya di yayasan Setara, Pak. Mereka banyak tahu tentang anak-anak itu, termasuk juga tempat-tempat tinggal mereka…
    @Wahnam: ha.h.ah.ah..ha. itu kata si anak loh,…. aku hanya penyambung lidahnya saja… Wakakakakak
    @Lany: ha.h.a.ha.h.a bener Lany…. bener;….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.