Bercengkerama dengan anak-anak Zeverina

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

ZEVERINA bukanlah nama terkenal. Apalagi bagi kebanyakan orang. Dia hanya banyak dikenang manis oleh kalangan terbatas, kaum wartawan. Juga oleh komunitas massal di internet yang mengagumi citizen journalism (jurnalisme warga). Sebuah jenis jurnalistik baru yang lahir, menyusul dikenalnya dunia internet. “Siapa saja menulis apa saja”. Begitu motto yang dia teriakan.

Bisa dibayangkan, betapa beragamnya isi dunia yang dikelola Zeverina. Latar belakang penulis, komentator, pembaca bisu dan isi tulisan juga komentar, mencerminkan siapa yang menulisnya. Saya tak sengaja masuk ke dalam dunia itu pertengahan 2008. Sebuah tempat yang sudah sesak dengan kumpulan berbagai jenis tulisan dari perantau orang Indonesia di manca benua.

Zeverina memang oleh sebagian orang dianggap sebagai perintis jurnalisme warga di Indonesia sejak 2005, yang dia bangun dan ditopang kuat oleh kelompok media terbesar di Indonesia. Pengikut dunia Zeverina tersebar di ratusan kota dan negara di lima benua. Umumnya mereka orang Indonesia yang haus interaksi sosial dengan sesama bangsa. Lebih banyak jumlahnya pembaca diam dibanding penulis dan komentar.

Saya kirim tulisan dan hanya hitungan dibawah 24 jam langsung dimuat. Perasaan saya pertama kali tulisan saya dimuat, agak kaget. “Oh semudah ini toh?”, tanya saya dalam hati. Beda dengan jurnalisme konvensional seperti media cetak. Tulisan yang saya kirim, bisa berhari-hari, berminggu bahkan berbulan atau dibuang ke dalam keranjang sampah organik. Itu pun tidak ada atau jarang yang memberi komentar sebagai apresiasi.

Tak ada imbalan materi yang didapat ikut jurnalistik publik ini. “Honornya kepuasan batin”, kata teman saya. Bonusnya, bila tulisan kita mendapat banyak komentar berbobot, baik pro kontra yang sesuai isi tulisan. Kepuasan itu pun makin memuncak.

Hampir semua komunitas dalam dunia jurnalisme warga yang dirintis Zeverina, bisa merasakan sentuhan emosional antar sesama komunitas ketika dia menulis, membaca dan berkomentar. Mereka saling berbalas dan bercengkarama dengan cepat. Tidak jarang dengan bahasa kasar dan amarah. Ini yang memacu saya mengirim banyak tulisan di kala mengisi waktu senggang.

 

Dari tulisan ke penulis

Makin sering saya mengirim tulisan, makin banyak dan makin dekat saya dengan beberapa orang yang saya tak tahu siapa mereka sebenarnya. Hanya nama, itupun kadang nama alias dan kadang foto kecil di avatar, yang juga bisa wajah orang atau objek lain. Untuk bertemu pun saya tak bersungguh-sunggu niat, meski ada beberapa yang sudah saling menyapa di dunia nyata.

Selama 7 bulan mengisi waktu dengan menulis dan bercengkrana secara maya dalam dunia jurnalisme warganya Zeverina, akhirnya saya merasakan bisa bertemu sosok komunitasnya. Itu pun tak kurang 5 menit saya bertemu di Bandung malam hari jelang pulang ke Jakarta. Dia menghadiahkan saya dua bungkus brownies buat dua anak saya.

”Buat saya mana?”, tanya saya tersenyum. ”Bapaknya beli sendiri”, kata Sunrise. Dia adalah sosok paling jenaka dalam dunianya Zeverina dengan komentar-komentarnya meski jarang menulis. Sejak itu selama setahun saya tak pernah bertemu dengan siapapun dari komunitas dunia maya tempat tinggal.

Selama itu banyak perubahan terjadi secara drastis. Jurnalisme warga yang dikelola Zeverina dilenyapkan oleh pemiliknya. Keadaan ini membuat marah komunitas di dalamnya, yang justru semakin mendekatkan mereka secara emosional dalam satu kata, rasa, emosional juga keinginan bersapa secara fisik. Akhirnya, Zeverina dengan upaya darah dan tenaga, berhasil membangun dunianya kembali dunia jurnalisme warganya secara bebas, tanpa campur tangan yang selama ini menganggu idealismenya.

Saya merasakan masa-masa itu dengan perasaan haru, bangga dan idealisme untuk selalu menulis. Bagaimana seorang Zeverina bisa menyatukan latar belakang manusia dalam satu entitas, membuat saya kagum. Kadang dunia itu penuh gejolak bahkan makian, yang akhirnya ada beberapa yang memiliki kreatifitas untuk membuat dunia yang sama di tempat lain dan tetap menghormati Zeverina sebagai sosok pujaan.

Bagi saya ini baik, karena yang dilakukan Zeverina adalah menyatukan dan mendidik orang untuk berkreasi secara bebas dengan santun dalam tulisan, bisa di tempat yang dia rintis atau melanglang ke tempat lain dengan dunia yang dibangunnya sendiri. Untuk ini dia harus dikatakan berhasil sebagai perintis jurnalisme warga di Indonesia.

 

Dunia maya menjadi dunia nyata

Bulan April 2010, saya diajak bertemu seorang pentolan dan murid didikan Zeverina. Ternyata pertemuan itu membuka dunia baru bagi saya. Murid Zeverina ini memiliki banyak data, file dan koneksitas dengan banyak sosok komunitas yang selama ini saya kenal hanya secara maya. Sejak itu saya banyak bertemu teman-teman maya secara bertahap dan tak direncanakan.

Bayangkan, saya bisa menitipkan adik saya ke Jerman ke rumah seorang sahabat maya yang belum saya kenal penuh, untuk tinggal beberapa hari di rumahnya. Belum terhitung hadiah kecil dan bingkisan untuk anak-anak saya, yang mereka berikan saat bertemu saya. Lebih dari itu, saya mendapat hadiah paling berharga buat saya pribadi, yaitu persahabatan yang lebih nyata.

Mengapa saya sebut nyata? Saya lebih mudah mengenal seseorang dari tulisannya dari pada bertemu fisik setiap saat, yang kadang memakai topeng untuk menutupi kelemahan dirinya. Dalam sebuah tulisan saya bisa mendiagnosa pribadi yang menulisnya tanpa dia biasa menyembunyikan. Seperti iklan toko buku Gunung Agung akhir tahun 1950an, ”Tunjukkan lemari bukumu, saya tahu siapa kamu”…

Kini dunia jurnalisme warga yang dirintis Zeverina, menjadi kegiatan sampingan saya mengisi waktu kosong. Juga untuk menuangkan hal-hal yang saya pikirkan, baik yang saya suka maupun tidak. Terserah itu akan menjadi pro dan kontra, karena dalam benak Zeverina, ekspresi seseorang dalam tulisan adalah hak asasi yang hakiki.

Banyak orang dari komunitas dunia maya yang saya temui, membuat anggapan saya bahwa dunia maya ternyata tidak ada. Semua yang semula saya anggap sosok maya, bisa bersentuhan langsung dengan saya dan mencium bau mereka. Ada sahabat dari ujung Florida, AS yang mentraktir saya makan kepiting di Cengkareng. Ada sahabat dari Brasil, datang dari AS bagian tengah, negeri Laut Utara, daerah jantung Jerman, kampung Cina Benteng, kota Beijing,  pantai Lampung, dari daerah peternakan pantai timur Australia, pusaran tengah Kalimantan, cekungan pulau Ambon, juga mahluk-mahluk dari hutan beton metropolitan.

Adalagi sahabat maya yang unik, seorang putra dari pahlawan Jawa Timur yang juga sahabat Bung Tomo.  Kini bermukim di bagian utara benua Amerika. Beliau sering menulis di jurnalisme warga meski tak tahu dan tak mengenal sosok Zeverina lagi. Pernah juga seorang sahabat dari dunia Zeverina, memberi pertolongan adik saya ketika dia berlibur ke Ambon. Padahal saya belum pernah bertemu dengan teman maya yang bekerja di kota terbesar di Maluku itu.

Hal menarik adalah ketika saya tak hanya bertemu seorang diri para sahabat maya itu. Mereka kadang membawa keluarganya. Ada yang bawa istri, suami, anak remajanya, familinya bahkan anaknya masih bayi serta kenalannya. Pernah ada teman maya yang membawa sahabat sekolahnya dulu yang kini menjadi staf ahli seorang menteri. Ketika saya sedang asyik mengobrol dengannya sambil berjalan di sebuah lobby hotel, tiba-tiba dia berteriak memanggil sosok yang lewat agak jauh dari kami. “Hey Ibas!, teriaknya. Ibas adalah putra dari orang nomor satu di negeri ini. Mereka lalu asyik berbincang sejenak.

Banyak karakter dan sosok dari komunitas dunia hasil didikan Zeverina, yang memberi keragaman dan keramahan dalam ingatan saya. Entah siapa lagi yang akan bertemu saya di masa datang. Mereka banyak memberi dan warna baru dalam kehidupan saya. Bagai mosaik baru yang indah. Baru seumur hidup saya, saya diminta sama anak-anak Zeverina menulis kesan di buku-buku hasil karya mereka, yang ditulis dari dalam dunia yang dirintis oleh Zeverina sendiri. Terima kasih Zeverina!

Namun yang menyedihkan, saya tak pernah berjumpa dengan Zeverina pribadi, bahkan menelepon mendengar desah suaranya pun tak pernah. Meski dia memperkenalkan banyak anak-anak didikannya kepada saya. Seingat saya, hanya sekali dia menuliskan surat email kepada saya pada 3 April 2009 pukul 08:47 WIB:

Emm, mau cuti ya? Ya deh selamat berlibur bersama keluarga… salam buat Melati, Mawar, dan Mrs Iwan…. gonna miss you, hiks.. take care, semoga Iwan Kamah tetap Iwan Kamah …

Salam

Z

Akhirnya, lebih setahun kemudian saya bisa bertemu dengan Zeverina secara fisik. Di hari kematianya. (*)

 

225 Comments to "Bercengkerama dengan anak-anak Zeverina"

  1. Lani  9 July, 2013 at 13:12

    194 ISK : halaaaaaaah…….hadoh biyung aku kena lagi disini………..

  2. Lani  9 July, 2013 at 13:10

    178 HENNIE : ndak cuma seru klu aku hadir………..tp juragan Pondol hrs siap2 alat pemadam kebakaran ditempat……….hahaha

  3. Lani  9 July, 2013 at 13:08

    182 EL-NANO-NANO : sejak kapan kamu kursus mendalang??????? hahaha…………

  4. Lani  9 July, 2013 at 13:07

    169 ISK : nah ini yg namanya org klu udah jatuh cinta ya kayak begini ini………..namaku disinggung kg cm sekali, dua kali…………ini udah yg ke 3 kalinya……….maturnuwun ya punya kesempatan dicintai oleh prof Sejarah dirumah kita………..hahaha

  5. Lani  9 July, 2013 at 13:02

    154 ISK : hadoooooooooooh…………aku kena lagi……..payah……payah…….dibilang tukang bikin ribut……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.