Kampung Bajo di Madura

Ary Hana

 

Sapeken, pulau kecil di timur Sapudi, 14 jam pelayaran dari Kalianget, Madura. Satu dari puluhan pulau di Kabupaten Sumenep. Luasnya hanya 2,45 km persegi, dihuni lebih 12 ribu jiwa. Mayoritas penduduk Sapeken adalah orang Bajo. Konon, mereka tersesat ke pulau ini tatkala melaut. Jadilah mereka tinggal dan beranak pinak di sini.

Di hari Jumat, pasar Sapeken semarak, diserbu penduduk pulau-pulau sekitar untuk berbelanja. Hujan dan badai yang sempat mengguyur tak mematikan semangat orang tuk datang. Banjir yang menggenang justru hiburan bagi anak sekolah yang terbiasa disengat matahari.

Katanya kau mampu menyesatkan pelaut ulung dalam waktu sepekan. Siapa  dia? Orang-orang Bajo. Petualang asal Sulawesi Selatan. Ketika  kehabisan air tawar saat melaut, mereka menemukanmu. Bisa masuk tak bisa  keluar. Begitulah nasib mereka. Tak temukan jalan pulang. Selama  seminggu. Lalu lahirlah nama itu, Sapeken.

Katanya  butuh sedikit ingin tahu dan sebongkah kenekadan untuk menujumu.  Kubuktikan itu. Perahu motor kecil yang membawaku dari Kangean, dihantam  badai. Hanya 100 meter sebelum mendarat ke dermagamu. Pontang-panting  kami dibuatnya. Air hujan menerpa dari mana-mana. Angin meliak-liukkan  perahu hingga sebatas silet. Kudekap erat-erat tas kamera. Sembari  berpikir apakah dia akan tenggelam saat laut menelanku.

Tiga puluh menit kemudian semua berubah. Hilang angin, reda hujan.  Kami pun turun ke daratan, setelah berjingkat melompat dari satu perahu  ke perahu lain.

Hari itu hari pasar. Semua orang datang dari pulau kecil di  sekitarmu. Pagarungan Besar, Pagarungan Kecil, Paliat, Sakala, Saur,  Sabunten, dan masih banyak lagi. Semua berbondong menuju daratanmu untuk  sekedar berbelanja.

Apa  yang bisa kuceritakan tentangmu? Luasmu hanya 2,45 km persegi. Dihuni  lebih 12.000 jiwa. Pulau kecil terpadat yang pernah kukenal. Mayoritas  pendudukmu suku Bajo. Padahal kau masuk Kabupaten Sumenep. Mereka itu  pedagang dan pelaut.

Katanya sudah tiga hari dirimu gelap gulita. Mati listrik. Sejak PLN  kehabisan solar. Tak ada lagi cahaya sejak 6 petang hingga 4 pagi.  Kecuali bulan mau bermurah hati. Itu sebabnya kerap terjadi pencurian di  malam hari. Ah, nasib pulau kecil yang terpencil selalu begini. Klise.

Pelabuhanmu sungguh ramai, dipenuhi kapal kecil pagi itu. Pasarmu pun  semarak, mengitari pulau yang bisa kutempuh tiga jam dengan berjalan  kaki.

Begitu turun ke daratanmu, aku pun menimbang. Apa yang ingin  kulakukan? Maka kususuri pasar yang ramai dengan aneka jenis penganan  menggiurkan. Murah meriah. Uang Rp 1000 masih bernilai tinggi di sini,  laku ditukar dengan 4-5 biji kue pasar. Buah pun beragam. Waktu itu  musim rambutan, sawo, pelam, manggis, pisang, dan nangka. Lalu aneka  krupuk ikan dan mente. Entah dari mana kalian, pedagang, mendapatkan  barang di pulau sekecil ini.

Bosan  makan, pasar pun kutinggal. Kutapaki perkampungan nelayan. Ada seorang  bapak yang nampak riang bermain lompat bambu dengan anak-anaknya. Ada  seorang pemuda yang memamerkan gurita tangkapannya.

“Dari LSM ya Mbak?” tanya seorang di antara mereka. Aku segera  menggeleng. Namun mereka memaksaku melihat terumbu karang yang berhasil  mereka tumbuhkan. Juga bergentong-gentong gurita.

“Kalau mau bawa aja, ga usah bayar,” tawar mereka mengulurkan gurita  sebesar dua paha. Aku menggeleng. Lebih baik aku mengambil gambarnya.  Tak membebani rangsel kecilku.

Puas menikmati perkampungan nelayan aku pun berjalan ke tengah. Rumah  panggung di mana-mana, berbaur dengan rumah tembok. Air menggenang  mengisi ruah halaman. Hujan kerap membuat perkampungan banjir. Tak ada  gorong-gorong, tak ada tempat air mengalir. Sapeken kerap diserang  muntaber dan malaria. Mungkin ini penyebabnya.

Aku  terus berjalan. Anak-anak kecil mengikuti langkahku di belakang.  Jadilah kami mirip kereta-keretaan. Tak sengaja kutemukan becak  bermesin. Namun di Jumat siang, tak satu pun tukang becak menampakkan  wajahnya. Masih kuingat pesan seorang ibu yang kutemui di dalam feri  menuju Kangean. “Kalau ke Sapeken, mampirlah ke rumah. Tidur di rumah  pun tak apa. Banyak bidan yang tidur di rumah.” Hanya sejenak berkenalan  sudah menawarkan keramahan.

Sayang waktuku tak banyak. Tak ada keinginan berhenti lama. Masih  terngiang pesan kawanku di Kangean. “Kalau bisa jangan menginap. Di sana  panasnya luar biasa. Air Sapeken itu menghitamkan. Belum lagi  nyamuknya. Apalagi ini musim badai.”

Segera kukembali ke dermaga. Duduk menunggu di bangku kayu. Berbagi  dengan seorang ibu yang menggendong bayinya. Dia hendak ke Pagerungan  Kecil. Tak jauh di depanku, dua banci kekar menggeliat manja. Tak peduli  sekitar.

Sebentar lagi perahu motor akan bertolak pulang. Aku turut bukan  karena takut hitam atau nyamuk. Hanya ingin melanjutkan perjalanan ke  pulau lain esok hari. Kepulauan Madura terlalu luas. Hanya langit yang  bisa menandinginya.

 

 

 

 

22 Comments to "Kampung Bajo di Madura"

  1. nevergiveupyo  21 March, 2011 at 22:53

    JC klo gitu gencatan senjata deh…. sampai senjata kita (baca : kamera) berspesifikasi seimbang saja…(lho…ga nyambung)

    kalau dalam waktu 2 thn terlihat transformasi yang begitu bagus dr BUMN tsb ya jgn dibandingkan sama pertamina dong… pertamina kan udah sekian tahun dikelola secara “benar”… (apakah ini artinya selama ini tidak dikelola secara benar??)

  2. AH  21 March, 2011 at 22:33

    lany, mawar: sama-sama hehe..

    mas jc, di samping sapeken, 3-5 jam pelayaran dg kapal kecil, ada pulau pagerungan yg menjadi pusat pengolahan minyak bumi. perairan sekitar sapeken kaya dg minyak bumi, tapi penduduknya susah mendapat pasukan bbm n listrik hehehe..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.