[Roman Sepicis] Deja Vu

Dian Nugraheni

 

Winter kali ini, salju tak terlalu banyak menutupi tanah di Virginia “kota”. Salju  jatuh, yang paling tebal hanya sekitar 6 inch, sungguh sangat ‘nanggung”. Ademnya luar biasa, tapi dapetnya salju cuma sedikit, nggak bisa buat puas-puas mainan di sekitar halaman apartemen.

Rupanya hal ini menimbulkan ide buat teman-temanku, untuk rekreasi ke “wilayah salju” , mereka pengen main ski, katanya. Aku membantu teman-temanku untuk browsing di internet, kemana kira-kira  akan menuju.

Pilihan jatuh pada daerah bernama Snowshoe. Dalam keterangannya di internet, dituliskan dengan jelas,”karena ini adalah daerah pedusunan, maka jangan harapkan piranti GPS di mobil anda akan berfungsi dengan baik, karena sebagian wilayah ini belum dimapkan..” Wuihh, bener-bener enggak bikin pengen deh off road-an di musim salju begini…

Begitulah akhirnya, hari Sabtu pun tiba, aku terpaksa mengikuti rombongan teman-temanku menuju Snowshoe. Dan sepanjang perjalanan, aku lebih banyak tidur, aku capek banget…, biasanya Sabtu sore begini, selepas kerja, aku sudah slonjor nonton TV di apartemen, atau asyik dengan laptopku…

Perjalanan lumayan lama, sekitar 3 jam, sampailah kami di pondok yang disewa. Woaaaa…, sepanjang mata memandang adalah salju, di sana sini beberapa Cone Leaf Tree, keluarga pohon Cemara, tersembul di antara gerumbul putih. Pemandangan ini mengingatkanku pada sebuah imajinasi di masa kecil, ketika aku membaca cerita-cerita yang berasal dari negeri-negeri “Utara” di musim salju, aku sudah lupa judulnya, pokoknya aku membayangkan, seperti inilah keadaannya.

Segera teman-teman berkumpul di ruang keluarga, mereka menyiapkan “karaoke time”, katanya. Kali ini aku benar-benar nggak nafsu bersuka ria, entah kenapa. Aku malah “inspeksi” menuju ruangan di belakang. Ada sebuah ruangan berlantai kayu, berdinding batu bata, dengan perapian yang sudah menyala hangat. Lampu bohlam berwarna orange membuat ruangan itu tak seterang ruang keluarga di mana teman-temanku sedang karaokean. Ada sofa di depan perapian, juga sebuah kursi goyang, yang sama sekali nggak bikin aku pengen duduk di atasnya, karena dari kecil aku memang takut pada kursi goyang. Entah juga kenapa….

Anehnya, begitu masuk ruangan ini, rasanya aku seperti pulang ke rumahku. Rumah yang siap menerima kemalasanku di setiap akhir pekan. Boleh tidur awal, boleh bangun lambat, boleh enggak mandi. Pokoknya homey banget…. karenanya, akhirnya aku tertidur di sofa depan perapian…

Tiba-tiba, ada yang menepuk-nepuk pipiku dengan halus, “Dayana.., Dayana…”

Aku terkaget, tapi, laki-laki yang membangunkanku itu dekat sekali denganku, dia duduk di sebuah bangku pendek di sebelah sofa di mana aku tertidur. Dan meski sangat kaget, kesadaranku yang datang tiba-tiba mengingatkan, agar tidak panik dalam keadaan seperti ini. Harus tetap tenang…

“Ya.., siapa anda..?’ tanyaku, masih dalam posisi berbaring berselimut tebal.

“Dayana, benarkah kau tak mengingatku lagi..?” tanya lelaki di depanku. Dia mengenakan baju atasan sutra putih, dengan vest dari kulit tipis yang sangat halus, rambutnya yang sebahu sedikit blonde, ikal, diikat ke belakang, tapi sebagian rambut depannya terurai menutupi sedikit keningnya. Aku seperti sangat mengenalnya. Tapi, ahh, sekali lagi, ini mungkin sisa-sisa imajinasiku ketika membaca sebuah buku cerita. Atauuuu.., inilah sisa-sisa ingatanku ketika nonton sebuah film bersetting tahun 1800an…ha2…

Aku menggeleng, “Maaf.., mungkin aku lupa, atau …”

“Dayana, dulu sekali, kita selalu berdua memetik Apel dan buah Berry ketika musim Panas tiba, atau kita bermain bersama anak-anak sapi di padang pengembalaan. Dan kamu suka sekali memetik mawar Coklat sepert ini…” katanya sambil memberiku sekuntum Mawar Coklat.

Aku menatap sedih pada setangkai Mawar yang dia berikan, dan lelaki di hadapanku ini tersenyum, matanya berkerlip penuh bintang, “Selalu beginilah ekspresimu ketika memetik Mawar Coklat, kau bilang, Mawar ini terlahir untuk bersedih, karena warna coklatnya yang indah tetaplah suram untuk warna sekuntum bunga…he..he..he…”

“Siapakah kamu sebenarnya, tolong kasih tau aku..” pintaku.

Lelaki itu menggenggam tanganku dengan sedikit keras, “Dayana, aku Ghorghe*…”

“Ghorghe…?!”

Tiba-tiba hatiku tersentak, ingin ku menangis, tapi lagi-lagi.., entah karena apa… Belum sempat selesai aku berpikir, kudengar Ghorghe kembali bersuara, “Aku datang untuk memenuhi satu mimpimu.., duluuu sekali, kamu bilang, kamu ingin berdansa dengan seseorang, dengan gaun indah, diiringi lagu kesukaanmu. Ayo, Dayana, bangunlah…”

Ghorghe membimbing tanganku untuk berdiri. Ohh, aku memakai gaun indah berwarna biru keunguan. Indah sekali gaun ini. Ahh, bukankan ini gaun yang dipakai Hermione ketika berdansa dengan Viktor Krum dalam sebuah serial film Harry Potter..? Pikiranku meloncat-loncat ke sana kemari menghadapi banyak hal yang tak pasti yang datang bertubi-tubi.

Tiba-tiba aku sudah berdansa bersama Ghorghe. Tapi.., lagu apakah yang mengiringi dansaku ini..? Ahh, itu suara Robbie MC Auley. Teach Me How to Dream, judulnya kalau nggak salah..

Selesai satu lagu, rasanya aku kembali ngantuk yang teramat sangat. Aku kembali berbaring di sofa. Ghorghe menyelimutiku dengan selimut tebal yang tadi kupakai. Merapikan kedua tanganku didadaku, dan sekuntum Mawar Coklat diletakkannya di genggaman jemariku. Ghorghe tersenyum lembut, wajahnya sedikit sedih…Kenapa..? Aku tak sanggup bertanya….

“Aku tak suka lagi Mawar Coklat…” kataku. Air mata meleleh di ujung mataku. “Dia terlalu sedih…”

Ghorghe memandangku dengan senyumnya, “Ya.., besok pagi aku ganti dengan mawar dua warna, kalau kamu lihat dari sisi atas, dia berwarna pink, kalau kamu lhat dari sisi bawah, warnanya merah marun, seperti biasa, mawar cinta ini akan aku taruh di pintu belakang, jangan lupa ambil yaa… I love You, Dayana…”

“Dari mana kau dapatkan mawar itu..?” tiba-tiba aku merasa geli aja, pasti Ghorghe cuma bercanda-canda.., aku seperti mengenal dengan seksama jenis canda-candanya ini….

“Aku dapat dari hutan, dekat danau kecil di seberang padang Ilalang.., ingat..?” sahut Ghorghe. Antara sadar dan tak sadar, aku mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Ghorghe.., aku ngantuk…, aku capek…,” mataku semakin terasa berat. Tapi masih kurasakan, tangan Ghorghe mengelus-elus pipiku, seperti sedang menina bobokan bayi kecil agar segera tertidur…..

Tiba-tiba, “Mbak.., Mbak Di.., bangun to Mbak.., Dari semalam kok tidure pules nemen lho.., lainnya pada bengok-bengok karaokean kok ya enggak melek sama sekali. Gek dibangun-bangunkan dari tadi ya nggak mau melek ki lho, semua pada hawatir kalau Mbak Di kenapa-kenapa… Ini sudah pagi lho, ayo katanya mau main ski…”

Aku membuka mata, melihat sekelilingku, menatap tubuhku, ahh, aku enggak lagi pakai gaun yang kupakai dansa semalam, aku pakai sweater tebal berwarna coklat. Aku bangkit duduk, dan ada sekuntum Mawar Coklat terjatuh dari atas selimut tebal yang kupakai semalaman.

“Lahh, yok opo to Mbak Di iki, sempet-sempete bawa sekuntum mawar kemari…dasar romatis…” seru si Umi yang duduk di depanku. Aku cuma tersenyum. Aku, terus terang masih bingung dengan apa yang terjadi.

“Ini lho kopi kesukaanmu, Columbian decaf dipadu dengan hazelnut milk, tak bawakan khusus buat Mbak Di…” kata Ratna, temanku yang lain. Mereka memanggil aku “Mbak”, karena memang aku jauh lebih tua dari mereka. Mereka ini belum lama datang ke Amerika.

“Ayo main ski, Mbak Di..cepetan siap-siap.., waktunya cuma pagi sampai siang ini, sore kita sudah turun ke kota lagi lho..” ajak Rina.

“Aku enggak ikut ahh, aku kedinginan, aku capek.., aku pengen istirahat aja di sini.., sana kalian aja yang main ski..” kataku.

“Walahh, Mbak Di ini gimana to.., jauh-jauh mau main ski kok malah nunut tidur…” si Umi menggerutu.

“Wes sana berangkat, ntar pulang main ski sudah tak siapkan makan siang…” kataku.

Akhirnya teman-temanku berangkat ke luar menuju arena berseluncur. Pondok kembali sepi, tapi ruangan ini menjadi terang benderang karena ditambah sinar matahari pagi yang cerah. Warna putih salju di luaran menambah suasana semakin ceria, tidak seperti semalam yang tampak redup dan agak muram.

Tiba-tiba aku ingat sesuatu, dan aku melangkah ke pintu belakang, membukanya, dan segera terkejut ketika kutemukan sekuntum mawar dua warna, tampak pink dari atas, dan tampak merah marun dari sisi bawah, ada secarik kertas kecil bertuliskan, “Love, Ghorghe…”

Aku terhenyak…, dari mana datangnya mawar ini.., mana ada mawar merekah di sekitar sini di waktu musim Salju begini.., yang ada, pohon-pohon mawar mengering tinggal batangnya, kedinginan, tak sabar menunggu musim Salju lewat, kemudian, barulah dia akan bertunas dan kembali berbunga di musim Semi.

Kemudian banyak tanya bertubi-tubi memenuhi otakku, tentang Ghorghe, tentang dansa tadi malam bersamanya, tentang mawar coklat, tentang mawar dua warna.., tentang Dayana…, tentang rumah ini yang serasa rumahku sendiri…Ahhh…, aku pusing…!!

Dan ketika aku arahkan mouse di laptopku untuk membuka Facebook, ternyata Facebook-ku masih terbuka…, dan ternyata tadi malam aku upload sebuah lagu dari Robbie Mc Auley, “Teach Me How To Dream..”.., dan aku berdansa dengan diiringi lagu itu….

Salam Deja vu…

Virginia,

 

NH Dian

Kamis dini hari, 10 Maret 2011, jam 2.10 pagi…

 

*Ghorghe : dibaca Qhorqhe

 

15 Comments to "[Roman Sepicis] Deja Vu"

  1. muhammad toufik harjayadi  27 June, 2011 at 10:07

    lagu abdi yang pernah aku dengar begitu kuatnya rasa cinta tuk pergi meninggalkan seseorang tuk sebuah impian dan cita cita seperti kata pepatah sejauh jauh nya bangau terbang tinggi akhirnya pulang ke peraduannya dan ketika semua impiannya telah beraKhir hhhhmmm ternyata yang telah dia tinggalkan jauh lebih indah dari semua yang aku harapkan di masa depan nice song menyesal tak berguna hanya bisa belajar dan berharap agar impian bisa terwujud kembali

  2. Dian Nugraheni  1 April, 2011 at 05:04

    haiii…all frens di Baltyra, maaf saya baru muncul…, thanks bangets semua share komennya… Iyaa, Deja Vu kan ungkapan umum, dan dalam arti yang sebenarnya, mungkin juga hampir smua orang pernah mengalami deja vu.. Dalam cerita ini, mungkin judul bisa jadi sama dengan yang lain, tapi, yang sebenar2nya, dalam cerita ini, ada beberapa penggal kejadian yang saya alami, yang kemudian saya simpulkan sebagai deja vu, cuma yang lain2, akhirnya saya kembangkan sebagai suatu fiksi….(ceritanya lagi berusaha bisa menulis fiksi nih…hixixixixi..).
    Ohh, ya, cerita ini juga diilhami bahwa, selama di Amerika, tak satu pun lidah bule yang bisa memanggil nama saya “Dian”, tapi mereka mengeja Dii..en (Diane), atau kalau orang2 Spanish di Amerika memanggil nama saya dengan ejaaan Dayana…

    Skali lagi terimakasih banyak atas share dari teman2 smua, senang bisa bertemu dan berbagi cerita di sini…tak lupa kepada Dewan Redaksi..big…big…thanks…

  3. Lani  20 March, 2011 at 13:01

    MAWAR : wakakakka..SYEREM…..SYEREM…….GELIIIIIIIII……….ada aja kamu…….

  4. Anastasia Yuliantari  20 March, 2011 at 12:51

    Telat lagiiiii….pokoknya di mana2 telat komen…..hheehehhee.

  5. Mawar09  19 March, 2011 at 09:12

    Dian: cerpennya bagus tapi serem !! kok mimpinya jadi beneran sih, ada bunga mawar lagi! waduh… kalau aku sih sudah ikutan main ski deh walau ngga pengen, dari pd serem.

    Lani: komentar No.8…….itu namanya “serem-serem geli” !!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *