Belalang-belalang di Tengah Padang (1)

Cinde Laras

 

“Rukayaah…, cepat bangun !  Sudah siang ! Sebentar lagi tamunya akan datang…”, Mak Piah menggucang-guncangkan badan Rukayah yang masih pulas tertidur. Ditariknya selimut hangat yang menutupi sebagian besar badan gadis muda itu. Rukayah terbangun dengan pelupuk mata masih lekat menempel. Diingat-ingatnya perkataan emaknya tadi…. Tamu ? Tamu siapa ? Sejenak dia berusaha mengingat, lalu dia terkesiap. Tamu ! Hari ini tamu itu akan datang ! Gelisah tiba-tiba menyergapnya dengan ganas, Rukayah benar-benar gugup.

Tamu itu akan datang hari ini ?! Ya, Tuhan…. Akan berlari kemana lagi dia sekarang ? Sementara di luar kamar sana telah banyak orang menanti kehadiran tamunya. Rasa takut dan cemas membuat hatinya berdegup kencang. Rukayah bangkit dari kasur dengan tangan gemetar, diraihnya handuk yang tergantung di dinding. Emaknya menyuruhnya mandi. Ingin Rukayah berlari pergi dari rumah ini, tapi kemana ? Sementara emaknya terus menguntit setiap langkahnya ke kamar mandi yang ada di belakang rumah.

“Emak tunggu di sini. Kamu mandilah…”, perintah perempuan berumur 27 tahun itu padanya. Rukayah masuk ke kamar mandi dengan kepala terasa beku, tak mampu berpikir. Mata orang-orang yang melihatnya di dalam rumah tadi sudah cukup membuatnya jerih. Tidak ! Dia tak berani lagi berlari kali ini. Tidak akan lagi…. Sekali berlari sudah cukup membuatnya dimurkai banyak orang, dan itu membuatnya kapok.

Air dalam gayung yang terasa dingin semakin terasa perih menyeka kulitnya, Air mandi yang biasanya sejuk itu kini terasa bagai jutaan jarum menusuki setiap pori, tajam dan menyakitkan. Rukayah menyeka air mata bening yang mengalir bersama guyuran air di wajahnya. Pergilah…. Pergilah mimpi yang  indah…. Kini aku akan menempatkan diriku di altar suci tempat orang asing itu bersemayam. Pergilah bayangan akan menjadi sepandai Bu Guru Harti, yang telah membaginya ilmu selama ini. Semua akan musnah sebentar lagi…. Dalam waktu yang tak akan lama lagi. Rukayah pasrah. Tak ada gunanya dia melawan. Apa artinya umur 11 bagi orangtuanya yang hanya petani cabai dengan kebun tak seberapa luas ? Diingatnya lima mulut kecil adik-adiknya yang masih membutuhkan lebih banyak biaya.

“Rustam itu pemuda yang baik. Dia tahu sopan-santun, sayang pada orangtua. Dia juga suka bekerja. Tidak ada alasan kamu menolak pinangannya, Rukayah…”, terngiang ucapan Mak Piah, ibunya. Rukayah cuma bisa menelan ludah saat itu. Dia kenal Rustam. Umurnya cuma berselisih 5 tahun lebih tua darinya. Rustam bekerja di toko milik orang Cina, dan orangtuanya masih bertetangga dengan mereka.

“Tidak baik menampik lamaran orang. Cukup sekali kau menolak pinangan. Mak takut kau bakal jadi perawan tua…”, desah Mak Piah. Rukayah mengingat kembali bagaimana ributnya semua orang saat mereka tahu kalau dirinya kabur saat akan dikawinkan dengan Bang Dul, tukang patri keliling yang umurnya sudah hampir 30 tahun. Lebih pantas jadi bapaknya. Itu terjadi hampir setahun yang lalu. Di kampung ini memang umum perkawinan usia muda. Emaknya pun menikah saat umurnya belum lagi genap 11 tahun. Pantas saja kalau di umur 13, emaknya sudah melahirkan anak pertama.

“Cepatlah, Rukayah…”, kata Mak Piah sambil mengetuk pintu seng yang menutup kamar mandi. Rukayah cepat-cepat menyeka badannya dengan handuk. Sebentar lagi dia akan dirias supaya lebih cantik, Bu Hamdun yang biasa merias pengantin di kampungnya sudah menyiapkan kebaya brokat berwarna hijau muda yang cantik untuk dipakainya saat kawinan nanti. Ahh…. Andai saja emaknya membiarkannya punya kesempatan untuk lebih mengenal pemuda itu. Kawin ? Rasanya kata itu terlalu jauh untuk bisa dibayangkan. Bagaimana mungkin emaknya membiarkannya kawin dengan Rustam ? Sedangkan pelukan emaknya pun masih begitu sering dirinduinya setiap kali saat dia usai bertengkar dengan teman-teman sepermainan. Apa yang harus dia lakukan ? Bagaimana ? Dengan gemetar tangan mungilnya membuka pintu seng. Rukayah melihat emaknya berdiri dengan tatapan tajam.

“Mak pikir, kau tak akan mau keluar dari situ. Ayo cepat, semua sudah menunggu…”, perintahnya. Rukayah mengangguk lesu. Diliriknya kerumunan teman yang sedang bermain di halaman depan. Seorang di antaranya melempar karet gelang, Rukayah ingin berlari mendekat. Hanya saja rasa inginnya segera lenyap begitu melihat wajah emaknya yang makin kecut. Di hadapannya kini berdiri seorang ibu yang akan menjadikannya ratu sehari. Seperti yang dulu telah juga dialami kedua kakak perempuannya. Rukayah berpaling. Dalam selaut kegamangan, Rukayah hanya bisa berangan. Semoga besok pagi akan tumbuh harapan….

*

TO BE CONTINUED

 

 

11 Comments to "Belalang-belalang di Tengah Padang (1)"

  1. Handoko Widagdo  21 March, 2011 at 07:48

    Meski manusia sudah ke angkasa luar, kisah seperti ini masih mewarnai kehidupan di negeri kita.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.