[Family Corner] Kusyukuri Kau Apa Adanya

SAW – Bandung

 

Mengapa rahim dititipkan pada perempuan? Tentu penciptaan ini tak mungkin tanpa maksud sebagaimana makna kata ‘rahim’ itu sendiri. Sebuah kata yang disandingkan dengan kata ‘rahman’ pada lafadz basmallah.

Pada sisi kemanusiaan kata-kata tersebut lebih dinisbatkan sebagai makna kasih dan sayang. Ya, pada perempuan terdapat muara kasih sayang yang sanggup mencipta samudera cinta, merangkum segala lara di kedalamannya.

Setidaknya, itulah yang aku rasa ketika kemudian menjadi ibu dari anak-anakku. Hidup begitu sangat berarti sebagaimana berartinya mereka dalam kehidupanku.

 

Pada kesempatan kali ini aku ingin berbagi tentang sebagian rasa memiliki anak yang lebih dari satu. Betapa hati ini sering tak sejalan dengan logika. Jamaknya sesuatu yang satu ketika dibagi-bagi akan menjadi semakin sedikit. Tetapi cinta dan kasih sayang ibu terhadap anak ternyata tidak bisa dilogika seperti itu. Cinta selalu utuh pada tiap anak, apakah itu satu, dua, tiga bahkan empat sekalipun. Yang berbeda mungkin ragam pernak-perniknya. Yah, … karena tiap anak tentu berbeda.

Hari Minggu di beberapa pekan ke belakang …

Bertiga kami di rumah. Aku dan bayiku serta si Embak anak ke duaku. Yang lainnya sedang ke Taman Ganesha Bandung.

“Mbak, … kita beberes yuk, mumpung adik lagi tidur nih,” sejujurnya aku memang sangat membutuhkan bantuannya. Anakku yang satu ini orangnya telaten.

“ Ayo,… mbak yang ngelap-ngelap aja ya, bu ….” Sahutnya sambil berdiri mengambil lap basah.

“Ocre ….”Semangat deh. Justru karena aku paling gak telaten untuk urusan lap mengelap.

Sudut demi sudut kami berjibaku membereskannya hingga sampailah pada area lemari tempat penyimpanan buku-buku bacaan.

“Mbak … piala-pialanya dilap juga ya, … kasihan, dah banyak debunya.”

“Mangga aja atuh, tapi ibu pang handapkeun ya bu, embak susah ngambilinnya,” karena bagian atas lemari buku memang aku pergunakan untuk menyimpan piala dan plakat-plakat penghargaan lainnya. Yah, … gimana lagi, ga ada tempat lagi buat naruh barang-barang yang beginian. Akibatnya debu dengan sukarela banyak menempel meski sering dibersihin juga.

Dengan bantuan kursi, piala koleksi anak-anak kuturunkan satu persatu. Si embak asyik mengelap satu persatu juga. Begitu dinikmati sambil sesekali membaca tulisan di piala, juara ke berapa dalam lomba apa dan kapan di mendapatkannya. Aku sendiri sibuk memilah buku sesuai dengan kategori bacaannya. Maklum, habis baca kadang-kadang seenaknya sendiri mengembalikan, tapi asal aja. Buku cerita fiksi campur sama buku fiqh. Literatur campur sama komik. Puyeng deh …

“Wah, … piala Mas sama Adik banyak banget ya Bu, … Cuma Mbak yang ga punya piala,” datar anakku berkomentar. Tapi itupun sudah sanggup menghentikan aktifitasku. Ada aliran hangat di hatiku, yang menjadikanku memutuskan untuk menghampirinya, dengan senyum searif mungkin.

“Eh … mbak, tapi mbak kan tau, …” sengaja aku ambangkan kalimatku.

“Ada berjuta piala punya embak di hati ibu. Rapi tersimpan, terpajang indah di tempat yang sangat indah. Enggak pernah berdebu, enggak pernah usang, selalu bersinar. Dan ibu bersyukur punya anak embak,” lancar dan percaya diri si embak berkata. Senyumnya merekah, nada bicaranya riang sekali.

Aku menarik nafas lega. Ku acak rambut ikalnya. Ini kali yang ketiga si embak mengungkapkan lintasan hatinya dengan kalimat yang tak jauh berbeda. Dan ternyata jawabanku sudah dihapalkannya di luar kepala. Lengkap dengan titik komanya.

Begitulah, …

Adakala di suatu waktu, senja baru saja berlalu. Cakrawala masih memerah. Di ruang belajar, sulungku mengaji dengan suara lantang, lancar. Si adik di depan TV sedang muraja’ah hafalannya, juga dengan suara lantang. Si Embak di sudut kamarnya, perlahan nyaris berbisik, mengeja satu persatu huruf di Alqur’an besarnya. Tersendat-sendat dengan tajwid yang masih nabrak sana sini. Duhai Robbi …

Ketika aku hampiri …

“Mbak, mau ditemenin Ibu? …” di sebelahnya aku ambil tempat.

“Enggak usah Bu, Embak sudah bisa kok, tapi pelan-pelan aja, ya …” masih dengan senyumnya dia minta pengertianku.

“ Oh … ga papa mbak, Kan Allah Maha Mendengar, ga perlu keras-keras, … yang penting bacanya yang bener. Tapi kalau salah-salah dikit, ga apa-apa. Namanya juga belajar. Tar lama-lama kan lancar juga. Ya udah, ibu nyiapin makan malam aja ya, Mbak terusin  ngajinya,” sembari aku benerin kerudungnya, aku mencoba membangkitkan rasa percaya dirinya.

Sahabat Baltyra, …

Apakah aku berlebihan, sekiranya aku sangat menjaga perasaan anakku yang ternyata berbeda dengan saudaranya? Tak muluk-muluk apa yang aku mau. Aku hanya ingin anakku bangga menjadi dirinya sendiri. Tak perlu minder dengan prestasi saudara-saudaranya baik di bidang akademis maupun yang lainnya. Tapi dalam satu sisi aku juga tak ingin menghambat potensi anak yang lainnya. Bagaimanapun, jika mereka punya potensi, aku akan memberikan dorongan dan apresiasi bagi optimalisasinya. Dan dalam pemberian fasilitas, aku –dan suami tentunya- tak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain. Jika capaiannya tidak sama antara satu dengan yang lain, sekali lagi : bukankah memang tiap anak itu berbeda?

Masalahnya anak keduaku ini, sangat biasa-biasa aja. Nilai selalu rata-rata, bahkan cenderung di bawah rata-rata jika pendampingan kurang. Prestasi non akademis, nyaris tak ada. Di kalangan teman-temannya juga tidak populer. Tak banyak teman bermainnya karena memang ia lebih suka berada dekat-dekat denganku. Dia lebih suka membantuku memasak, mengasuh adik bayinya, atau sekedar beres-beres. Tak kurang usaha untuk menjadikannya lebih ‘gaul’. Aktifitas seperti PAS di ITB, klub Dokter Kecil di Sekolahnya, Pramuka dan lain-lain sudah aku upayakan untuk terlibat. Tapi, dimanapun dia beraktifitas, dia selalu menjadi ‘yang biasa-biasa saja’.

Bagi aku sebenarnya tidak menjadi masalah dengan ‘kebiasa-biasaan’ si embak kalau sekiranya saudara-saudaranya tidak juga menonjol. Tapi ini seperti bentangan telaga yang diapit oleh dua gunung. Aku selalu berupaya menanamkan sikap saling menghormati antar mereka. Bahkan hamparan telaga itu sengaja aku buat untuk senantiasa menjadi sumber kesegaran bagi yang lainnya.

Meski si adik lebih menonjol, selalu aku tanamkan bahwa ‘mbak harus menyayangi adik, dan adik harus menghormati dan menghargai embak’. Jika adiknya berprestasi, aku selalu bilang, “ Adik siapa dulu … kan waktu dulu adik belum bisa ngapa-ngapain, mbak juga yang ngajarin …” Sehingga mbaknya juga ikut merasa bangga. Kalau si sulung yang berprestasi, aku pun tak kehilangan akal, “Cuma sayang ya mbak, Mas mah ga serajin mbak. Coba kalau mbak ga bantuin mas nyiap-nyiapin semuanya, mana mungkin mas juara …” Kurang lebih begitu aku mensiasati.

Tapi, mendidik dan mendampingi mereka dalam keseharian tentu butuh lebih banyak lagi kelihaian. Tiap jeda adalah proses belajar. Maka, hingga kini aku pun masih dalam taraf belajar. Belajar menjadi ibu, sahabat, teman atau partner dalam menapaki fase kehidupan mereka. Sebuah kesadaran akhirnya aku miliki. Aku bisa menerima dan mensyukuri keberadaan mereka, anak-anakku … apa adanya.

Kadang kepenatan menyapa. Sungguh tidak mudah mengiringi langkah mereka yang masih panjang terbentang ke depan. Di saat-saat seperti itu biasanya ada yang sigap menyapa, dengan bisikan dan belaiannya,” Ibu tidak sendiri, mari berbagi kepenatan ini, dibalik semuanya … pasti ada kenikmatan tak terperi .” Mujarab. Serasa hilang letih dan lelah. Berganti syukur, pun atas nikmat keberadaan sang penghibur … apa adanya.

Sahabat Baltyra, kiranya di jeda yang lain kita bisa berbagi lagi. Salam semuanya …

(Kini si Embak sdh menjelma menjadi gadis kelas dua SMP yang supel, berprestasi di sekolah dan aktif di beberapa organisasi remaja. Tetap dalam bingkai ketawadhuan, saya sangat bangga padanya).

Catatan : (tulisan ini pernah di muat di  ‘rumah lama’, sekitar 3 tahun yll)

 

 

30 Comments to "[Family Corner] Kusyukuri Kau Apa Adanya"

  1. saw  21 March, 2011 at 23:04

    Nev : alhamdulillah …

    Lha belum ada komplain tuh dari Ilham. kita tunggu deh …

  2. nevergiveupyo  21 March, 2011 at 22:42

    mbak saw..maturnuwun saestu lho…ternyata pengamatan panjenengan lebih jeli.setelah saya fitting ternyata sangat amat muat saya di ukuran L…
    terpaksa saya batalkan pernjanjian dgn ilham (dia gmn ya? kyknya kesesakan lho)
    maturnuwun…

  3. Dewi Aichi  21 March, 2011 at 22:05

    Tapi aku bisa belajar banyak sama dirimu Saw….suerrrrrrrr..

  4. saw  21 March, 2011 at 21:56

    Mbak Dewi : byuh,.. teladan opo telatan? Sik adoh mbak.

  5. Dewi Aichi  21 March, 2011 at 21:51

    Saw, aku inget jelas dengan tulisanmu ini…kau memang teladan..

  6. J C  21 March, 2011 at 21:33

    Mbak SAW: untuk arsip, ya tidak terlalu jelek lah aku ini… (lengkap-kap, semua penulis dari hari pertama sampai hari terakhir di “biru” )

  7. saw  21 March, 2011 at 21:29

    Om JC : hah ? … sik asik … saya mikir sdh ilang aja itu tulisan2. saya blass, ga ada arsipnya. Monggo, jika masih layak. silahkan di tayang ulang.

  8. J C  21 March, 2011 at 21:23

    Lhooooo malah kalah arsipnya sama aku… aku masih komplet-plet semua artikel Panjenengan tempo doeloe. Cuma khan lebih enak dari Panjenengan yang langsung edit dan sesuaikan tho…apa boleh dan berkenan jika secara berkala dan acak ditayang ulang, terutama untuk topik yang relevansinya masih? Suwuuuunnn…

  9. saw  21 March, 2011 at 21:19

    m’Hennie : Betul mbak, Tiap anak prestasinya berbeda2. Dan tiap mereka adalah permata bagi ibunya. Tak bisa dipilah2, mana yg terbaik, karena mereka dilahirkan dalam kapasitas kecintaan yg sama.

    T’Silvie : Sekedar berbagi tentang rasa kok teh,.. terimakasih sdh berkenan mampir .

    Om JC : Sdh bongkar2 arsip lama, kok ga ketemu tulisan2 lama ya Om. Dulu Komputer sempat kena virus trus di servis. Katanya ada beberapa file yg ilang. Moga2 nanti buka2 folder yg lainnya dan bisa ketemu. Terimakasih …

    m’Imeei : sedang belajar dan terus belajar jadi ibu yg bijak nih mbak,.. meskipun kenyataannya masih jauh panggang dari api.

    Pak Hand : Betul pak,… saya juga termasuk yg tdk terlalu memaksa anak untuk hal2 yg masih ada pilihan. Apalagi tiap anak memang dibekali potensi yg berbeda2. Yang penting anak bahagia dengan pilihannya, meski tetap kita juga tak lepas dari pendampingan.

    Nev : Lhah … bukannya badanmu gede? Sekedar liat di foto2 kopdar aja sih, kayaknya ukuran M ga muat, makanya di kasih L. Hahaha… sorry… sorry. Semoga tukeran sama Ilham bisa menjadi solusi.

    M’Kornelya : Terimakasih ya mbak sudah berkenan mampir. Wow…, 12 saudara, tentu beraneka macam warnanya. Dan terbayang, seberapa luas samudera yg tercipta di hati ibundanya. Punya 4 anak saja sdh luar biasa.

  10. saw  21 March, 2011 at 21:07

    M’Vee : makasih sdh mampir, jejak anda terekam sebagai pembalab pertamax. Selamat

    M’ Mawar : Makasih kembali sdh berkenan mampir. Salam hangat dari bandung yg dingin …

    P’Anoew : Ehem,… salut. Urusan multy persepsi memang pak Anoew jagonya.

    Bu Nunuk : Wilujeng dalu bu Nunuk … , ajaibnya hati seorang ibu sungguh membuat saya sekarang mengerti, bahwa kebahagiaan anak2 adalah hal utama yg harus kami upayakan. Terimakasih sdh berkenan mampir, Bu …

    M’LAni : Hahaha …., aku kan kayak bola mbak,… bulet, bunder, jadi memang ga bisa diam. Menggelinding sana sini.

    T’Linda : Sepakat. Si Embak sejak kelas enam potensinya langsung meroket, hingga ketika SMP menemukan lingkungan yang memacu perkembangannya. Sungguh berbeda jika saya melihat dia di usia kelas lima ke bawah.

    OM Dj : Iya Om, … ternyata memang dinamika tumbuh kembang anak2 memang luar biasa. Potensi yang tersimpan pada mereka juga bermacam2. Bagi saya sekarang, saya hanya memotivasi mereka untuk maksimal mengembangkan potensi diri. Dan yg penting mereka happy.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.