Bertahan atau Kembali ke Indonesia?

Ryu & Yuka-chan no mama – Jepang

 

Dear Baltyra,

Pasca 9 hari sudah bencana alam yang dialami negara Jepang. Selama 9 hari ada banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Bencana alam maha dahyat ini sudah merupakan pukulan yang sangat berat bagi rakyat Jepang. Tak disangka masih ditambah dengan ancaman radiasi.

Hari-hari terasa panjang. Pihak keluarga di Indonesia (juga teman-teman di Indonesia) menyuruhku segera balik ke Yogyakarta. Saya berpikir dan berandai-andai keadaan yang terburuk. Bagaimanapun saya tidak bisa egois, saya masih ada tanggung jawab 2 anak.

Akan tetapi saya berpikir lagi, ” Kalau pun saya kembali ke Yogya, apa yang akan saya kerjakan? Berapa lama saya harus “lari” dari situasi ini? Apa saya hanya bengong dan hanya melihat situasi reda? Apa iya, saya setega itu melihat ada banyak orang Jepang yang kesusahan sementara saya “melarikan diri” ke Yogya? . Saya ada banyak teman dan keluarga di Jepang, suka duka dipikul bersama. Bagaimanapun Jepang adalah negara kedua-ku “.

Pada akhirnya saya berkata ke suami, ” Tidak, kita tetap bertahan di Jepang. Kalau pun keadaan memburuk maka kita akan mengungsi ke luar kota dan bukan kembali ke Yogya. Saya kembali ke Yogya pun tidak akan akan tenang. Ini namanya bukan menyelesaikan masalah akan tetapi menambah masalah yang lain. Mari kita hadapi bersama-sama. Saya masih percaya akan kemampuan pemerintah Jepang dalam mengatasi reaktor nuklir”.

Mendengar ucapanku, suami kaget dan kemudian tersenyum, “Sudah kuduga model seperti kamu justru akan bertahan di Jepang. Akan tetapi kehidupan pasca bencana alam akan ada banyak kesulitan, Apa kamu bisa bertahan? “. Saya hanya menjawab, ” Susah senang dipikul bersama. Sesusah apapun saya masih sanggup bertahan”.

Pasca gempa bumi memang menyisakan banyak kesulitan dalam kehidupan. Susah untuk mendapatkan bahan bakar (bensin dan minyak tanah), bahan makanan dan juga listrik. Apa boleh buat. Kemarin pun saya terpaksa antri untuk membeli beras. Kebijaksanaan dari supermarket, 1 orang hanya diperbolehkan membeli beras sekarung (10 kg).

Untuk bensin juga minyak tanah pun saya antri panjang. Kadang kalau pas apes, begitu sampai giliran saya ternyata telah habis atau juga listrik dipadamkan, otomatis tidak bisa dilakukan penjualan minyak tanah. Terpaksa saya datang untuk hari berikutnya. Berhari-hari tidak ada supermarket yang menjual roti. Saat Yuka ingin makan rotipun terpaksa saya membuat sendiri. Anggap saja sebagai roti.

Saya senang melihat pemerintah dan rakyatnya bahu membahu  untuk bangkit kembali. Luar biasa. Rakyatnya begitu patuh dengan anjuran pemerintah untuk hemat listrik. Semua pertokoan begitu patuh dengan anjuran pemerintah. Kalau biasanya pertokoan, mall dan supermarket gemerlapan dengan lampunya . Saat ini banyak yang hanya menyalakan listrik cukup setengah saja, memang keliatan agak gelap dan kurang terang.

Kebetulan suami dan saya pun mengelola sebuah toko. Kami pun mematikan pemanas ruangan dan juga lampu-lampu hanya separuh saja yang dinyalakan. Pasca gempa bumi, kami memutuskan memakai jaket berlapis-lapis untuk melawan hawa dingin dalam toko. Tidak mungkin kami tutup toko berhari-hari. Jepang harus segera bangkit dan normal kembali. Hanya ini yang bisa kami lakukan.

Melihat keadaan pengungsi yang kedinginan di barak pengungsian, saya menjadi trenyuh. Saya berkata ke suami, ” Di toko ada banyak jaket musim dingin, seandainya bisa membantu pasti sudah saya berikan semua jaket-jaket ini”. Suami pun hanya terdiam.

Pucuk dicinta ulam tiba, Keinginan saya untuk membantu pengungsi bencana alam ternyata mendapat jawaban. Tak disangka kemarin masuk sebuah email pemberitahuan dari kantor pemerintah.

Permintaan untuk membantu kebutuhan bagi pengungsi yang dijadwalkan akan tiba ke kota kami. Saat saya membaca email tersebut, langsung saya dan suami berkata, ” Akhirnya keinginan kita terkabul. Mari kita bantu pengungsi dengan sebaik-baiknya”. Langsung kami berdua menelpon banyak pelanggan untuk menanyakan keikhlasan menyumbang bagi pengungsi bencana alam. Luar biasa, semua pelanggan justru senang sekali mendapat kesempatan untuk membantu.

Alhasil, sejak kemarin mulai berdatangan barang-barang yang dibutuhkan pengungsi. Pelanggan justu berlomba-lomba untuk membawa barang bantuan. Toko pun ditetapkan sebagai pos bantuan bagi pengungsi. Memang kantor pemerintah belum ” membuka” bantuan bagi perorangan. Sementara hanya perusahaan/ toko yang diminta bantuan. Banyak pelanggan yang telah memempersiapkan bantuan akan tetapi memang tidak bisa diterima untuk saat ini.

Kebetulan saya mempunyai seorang teman yang merupakan pegawai negeri Jepang. Teman inilah yang mengusulkan toko kami sebagai  “pos” pengumpulan barang-barang yang dibutuhkan pengungsi. Pertimbangannya karena toko cukup luas dan dekat dengan kantor pemerintah. Tentu saja kami tidak berkeberatan sama sekali, justru kami berterimakasih bisa diajak untuk menjadi volunteer.

Saat ini ada banyak pengungsi dari daerah bencana yang mulai di datangkan. Kota tujuan biasanya Tokyo, Tsukuba, Saitama. Untuk prefektur Saitama dipusatkan di  さいたまスーパーアリーナ .

Saitama Super Arena merupakan arena olahraga dalam ruangan yang multi guna dengan kapasitas penonton 37.000 orang. Sejak 2 hari yang lalu (tepat seminggu pasca bencana, 18 Maret 2011) gelombang pengungsi mulai berdatangan ke Saitama super Arena. Ada 5000 orang pengungsi yang di tampung di Saitama Super Arena. Tentu saja sebagian pengungsi lainnya di alihkan ke kota-kota lain di prefektur Saitama, salah satunya kota tujuan adalah kota yang saya tinggali (Chichibu-shi) .

Di jadwalkan mulai tanggal 20 – 21 Maret 2011, gelombang pengungsi mulai didatangkan ke kota kami. Kota ini mampu menampung 1000 pengungsi. Ada 2 hall besar yang masing-masing daya tampung 500 orang (total 1000 orang) . Itulah sebabnya sejak Jumat (18 Maret 2011) pemerintah setempat mulai menyebar email bagi perusahaan, usaha dagang dan berbagai macam profesi untuk berpartisipasi.

Banyak orang yang berminat menjadi volunteer. Bahkan  banyak yang langsung menuju wilayah gempa. Di layar TV, terlihat banyak orang menjadi volunteer. Bahkan ada yang nekad datang dari jauh untuk menjadi volunteer. Menjadi volunteer ada banyak pekerjaan yang dilakukan. Ada yang bertugas membersihkan puing-puing runtuhan gempa, ada juga yang menghibur dan membacakan anak-anak dongeng, ada juga yang bertugas mengurus anak-anak yang terlantar.

Ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan volunteer. Bahkan ada juga kakek yang membuka reparasi sepeda di wilayah gempa. Ada juga volunteer yang membuka jasa menggunting rambut. Tentu saja untuk konsumsi dan transportasi ditanggung sendiri oleh pihak volunteer. Di Jepang tidak ada umbul-umbul iklan perusahaan. Tidak layak dan etis bukan?

Begitulah setiap orang berlomba-lomba untuk berpartisipasi dalam meringankan beban korban bencana. Saya sungguh bersyukur tidak mengungsi keluar kota. Keputusanku sungguh tepat. Di kota ini, saya masih bisa membantu mempersiapkan kebutuhan korban bencana. Kami bekerja sesuai dengan kemampuan kami yaitu sebagai pos untuk menampung barang-barang keperluan korban bencana. Kami mulai menyortir barang-barang yang layak pakai untuk korban bencana.

Di depan toko, kami menempelkan daftar barang yang dibutuhkan korban bencana alam. Intinya, masyarakat sekitar tidak perlu langsung menyampaikan bantuan ke kantor pemerintah (karena pemerintah pun sudah banyak pekerjaan). Bisa dibilang, toko menjadi ” kepanjangan tangan” pemerintah dalam menerima bantuan dari masyarakat. Kemudian kami menyortir dan mengirim bantuan dalam keadaan siap pakai ke pemerintah.

Dari bencana alam ini, ada banyak pelajaran kehidupan yang bisa di ambil hikmah. Saya sungguh bersyukur dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana rakyat Jepang begitu percaya dengan pemerintahnya. Saat terjadi gempa, semua orang tidak panik. Semua masih rapi dan antri meskipun dalam masa susah. Semua menyingkirkan ego-nya di saat -saat susah. Tidak ada penjarahan, tidak ada pencurian  dan tidak ada keluh kesah memaki pemerintah. Semua saling menyadari bahwa memang saat-saat berat ini tidak ada gunanya mengeluh, lebih baik segera bangkit dan kembali menata hidup.

Pembaca Baltyra, demikianlah laporan sekilas pandang dari saya. Maaf, saya tidak memotret bentuk bantuan apapun yang bertumpukan di toko. Ini musibah dan bencana alam tidak pantas kalau dipotret, harap maklum. Masa-masa susah pasca gempa memang masih terasa, tetapi saya yakin bahwa Jepang akan bangkit kembali.

 

Salam hangat dari Jepang yang mulai bangkit kembali,

Ryu & Yuka-chan no mama

2011.03.20


Foto-foto: REUTERS dan AP

 

About Hani Yamashita

Berasal dari Jogja. Melanglang buana menempuh studi dan bertemu dengan tambatan hatinya dari Jepang. Menikah dan berkeluarga dengan dua orang anak, tinggal di Jepang. Salah satu hobinya adalah menulis dan sudah menerbitkan beberapa buku.

Arsip Artikel

32 Comments to "Bertahan atau Kembali ke Indonesia?"

  1. Mey-mey  25 March, 2011 at 06:51

    Tetap semangat friends…. salut buat kalian semua. Tuhan berkati dan lindungi kalian semua. Semoga kalian bisa atasi semuanya dengan berkat dan kasihNya.

  2. Wahnam  24 March, 2011 at 21:33

    Hidup adalah perjuangan. Ketegaran, ketabahan orang Jepang memang perlu di ancungi jempol. dan salut atas tindakan Ryu untuk tetap bertahan di Jepang. GBU

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.