Biar Cepat Asal Selamat: Tidak naik kelas? Mustahil!

Diday Tea

 

Saya sedang menulis buku, sekarang masih dalam tahap penulisan awal. Saya publish di website saya, masih dalam keadaan “mentah” dan dalam bentuk cerita bersambung. Jika ada waktu, saya mohon luangkan waktu untuk membaca cerita bersambung tersebut, dan mohon juga komen, kritik, saran, celaan, koreksi, atau apa saja yang bisa membuat tulisan- tulisan saya menjadi lebih baik. Karena pastinya tulisan saya belum sebaik Kang Abik, atau bahkan Muhammad Assad. :) Dan tentunya saya juga akan sangat berterima kasih jika ada juga yang bersedia menyebarkan link website saya ke komunitas atau milis lain yang tidak saya ikuti.

Sejak tulisan ini meluncur ke dunia maya, saya dengan  memulai menuangkan cerita dan mimpi- mimpi terbesarnya dalam sebuah cerita bersambung. Semoga kelak mereka akan bisa bersatu untuk menjadi sebuah buku yang bermanfaat. Dan membuat diri saya juga bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang.

Selamat menikmati “appetiser” dari cerita bersambung saya yang insyaallah akan berjudul:

 

Biar Cepat Asal Selamat!

Menuju Sukses Dunia Akhirat Dengan Membaca Lebih Cepat

 

Perkenalan:

Saya, Diday Tea, adalah TKI di Qatar, lulusan analis kimia yang pernah(hampir) menyelesaikan kuliah di Teknik Industri, “terinfeksi” virus menulis paling parah dari penulis bertangan satu yang bernama Gol A Gong, serta ikut terjangkit penyakit “jari-jari menari di atas keyboard” dari mas Hernowo, M Fauzil Adhim, Aa Gym dan para penyebar virus tulis menulis lainnya.

Saya sangat menyenangi bidang “Pengembangan Diri”, terutama pengembangan otak manusia. Pernah terjun ke dalam dunia wira usaha dengan berjualan buku kepada rekan-rekan sekantor dengan metode “bayarnya akhir bulan” :D , menjadi pengedar buku-buku, vcd, kaset ceramah Aa Gym melalui MQ Production, sampai akhirnya bangkrut dan saya harus mengganti modal belasan juta rupiah kepada para pemodal. Terakhir,  (sebelum berangkat ke Qatar) saya masih menjadi distributor pin dan bros Islami di beberapa toko buku di Cilegon dan Serang.

Saya (baru sedikit) menguasai ilmu Speed Reading, dengan kecepatan maksimum 1386 kata per menit. Alhamdulillah, ini bisa menutupi kelemahan pemahaman saya, sehingga saya punya waktu lebih banyak untuk mengulang bacaan.

Saat ini juga saya sedang berjuang “melunasi hutang” dengan memulai lagi kuliah, kali ini saya mengambil jurusan Manajemen. Baru beberapa tahun ini juga mulai menyukai fotografi. Sekarang juga sedang mendalami lagi “ilmu kanuragan” di bidang Memory, Speed Reading dan Mind Mapping dari buku-bukunya Abah Tony Buzan . Semoga akhirnya saya bisa masuk kritera untuk bisa mengikuti World Olympic Memory yang diadakan setiap tahun.

Sebagai penutup dari perkenalan ini, sejak tulisan ini berada di depan para pembaca, saya sudah sah memulai menuangkan cerita dan mimpi- mimpi terbesar dalam hidup saya dalam sebuah cerita bersambung dan tulisan-tulisan lain yang tersebar di website ini, Facebook, beberapa mailing list, Baltyra.com, semoga kelak mereka akan bisa bersatu untuk menjadi sebuah buku yang bermanfaat. Dan membuat diri saya juga bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang.

Wassalaam.

 

Bagian 1: Tidak naik kelas? Mustahil!

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.(QS Al Baqarah, 2:216).

 

Kabar Mengejutkan

“Kriiiiiinnggg…!!!” Kedua telingaku hampir pecah rasanya ketika telepon di ruang depan tiba- tiba menjerit, memanggil siapa pun yang didekatnya untuk segera mengangkatnya.

“Halo, Assalaamu’alaikum, siapa ini, Aa ya?” Suara seorang wanita paruh baya terdengar dengan lirih dari gagang telepon di telingaku.

“Wa’alaikumsalaam, iya Bu, ini Aa!” Jawabku, tanpa sedikit pun khawatir bahwa Ibuku akan segera menyampaikan berita yang tidak akan pernah aku ingin dengar seumur hidupku.

Ibuku hari ini pergi ke sekolah untuk mengambil raportku. Raport itu seharusnya diambil dua hari yang lalu, di acara pembagian yang resmi oleh wali kelas. Hari itu aku tetap datang ke sekolah, walau pun sudah diberitahu bahwa siswa yang belum melunasi uang SPP tidak akan diijinkan untuk mengambil raport.

Dan ternyata benar saja, hari itu aku pulang dengan tangan hampa. Ibu wali kelas betul- betul menepati janjinya. Siswa yang belum membayar SPP tidak bisa mengambil raportnya. Raport itu harus diambil langsung oleh orang tua siswa yang bersangkutan.

“Aa, Aa yang sabar ya!” Ibuku berkata dengan lirih, dan terdengar seperti terisak menahan tangis.

“Sabar? Sabar kenapa Bu? Kenapa Aa harus sabar?” Jawabku segera, dengan perasaan yang mulai tidak enak.

“Hiks…..” Di ujung sana tidak terdengar kata- kata apapun, selain isak tangis ibuku yang rupanya sudah tidak tertahankan lagi.

“Ada apa Bu? Ada apa..?” Aku makin khawatir.

“Aa,  Aa ternyata tidak naik kelas…!” Dan tangis ibuku pun sudah tidak tertahan lagi setelah mengucapkan kata- kata yang mungkin tidak pernah ingin dia sampaikan kepada anak sulungnya ini. Selanjutnya yang terdengar hanya isak tangis dan suara sesenggukan ibuku di ujung sana.

Aku hanya bisa terdiam. Otakku seketika beku dan tidak bisa memikirkan apa pun setelah mendengar berita yang terdengar jauh lebih dahsyat dari petir yang menggelegar ketika Bandung dilanda hujan lebat. Berita yang menusuk hatiku jauh lebih sakit daripada berita bahwa siswa tercantik di angkatanku ternyata sudah dijodohkan oleh orang tuanya.

Aku coba berpikir jernih dan kuhela nafasku dalam- dalam. Aku masih setengah tidak percaya dengan apa yang sudah aku dengar langsung.

“Mustahil! Mustahil aku tidak naik kelas!” Kata- kata itu terus bergumam di bibirku dan berkecamuk di dalam hatiku.

Aku adalah anak paling pintar di kelurahanku. Aku sudah bisa membaca ketika berumur empat setengah tahun sampai “ditendang” keluar dari TK agar langsung masuk ke SD. Dan aku jadi siswa termuda ketika itu, karena umurku baru empat setengah tahun. NEM-ku ketika SD dan SMP paling besar di kelurahanku. Selama sembilan tahun menginjakkan kaki di sebuah institusi yang bernama sekolah, aku tidak pernah sekali pun terlempar dari peringkat 10 besar.

Tidak naik kelas adalah hal yang tidak pernah sekalipun terbayangkan. Otak kiriku mengatakan kejadian ini  mustahil terjadi, sama seperti mustahilnya seperti mengalahkan terangnya matahari dengan sebuah lampu senter. Sama mustahilnya dengan Barcelona atau Real Madrid terdegradasi ke Segunda Division!

“Sekarang rencana Aa gimana?” Isak Ibuku dengan masih sesengukan karena menahan tangis.

“Mau tinggal di sekolah ini saja, atau mau pindah ke sekolah biasa?”

Aku masih terdiam dan tergumam.

“Kalau Aa misalnya mau pindah, harus segera diurusin hari ini juga, karena hari ini adalah hari terakhir penerimaan siswa baru di SMA atau SMK selain sekolah yang sekarang!” Pungkas Ibuku yang terdengar sudah mulai menguasai kesedihannya.

“Menurut Ibu gimana baiknya?” Aku malah menjawab pertanyaan Ibuku dengan pertanyaan lagi.

“Ya terserah Aa, Aa kan yang akan menjalani bukan Ibu.” Jawab Ibuku.

“Tapi kalau boleh Ibu memberi saran, bidang kimia masih menjadi favorit.Lulusannya akan lebih mudah bekerja. Coba saja berjuang satu tahun lagi di sekolah yang sekarang. Jika ternyata masih tidak naik, ya mau tidak mau Aa harus pindah sekolah.” Jawab Ibuku dengan lirih.

“Jika Aa rasa Aa masih mampu menjalani sekolah yang sekarang, sebaiknya Aa tidak usah pindah. Dan lagi pula pendaftaran sudah mepet. Kita tidak akan sempat menyiapkan surat- surat yang diperlukan untuk bisa pindah sekolah.” Kata Ibuku.

Aku masih belum bisa menjawab.

“Aa butuh waktu untuk berpikir dulu Bu, supaya keputusan yang diambil benar- benar matang dan tepat untuk kehidupan Aa. Sebaiknya Ibu pulang dulu, dan kita bicarakan masalah ini di rumah.” Jawabku  setelah beberapa menit melamun dengan pandangan kosong ke luar rumah melalui jendela ruang tengah yang menutupi setengah dari dinding ruangan itu.

“Iya A, sebaiknya memang seperti itu. Ya sudah Ibu langsung pulang sekarang ya!”

 

Bertahan Atau Menyerah?


Beberapa lama setelah Ibuku menutup telepon, hatiku langsung berkecamuk, otakku langsung seperti mendidih dan pikiranku berputar, terus memikirkan pilihan apa yang harus aku ambil hari ini.

Pindah sekolah?

Atau bertahan, dengan status siswa yang tinggal kelas?

Walaupun sekolah itu memang berat, tapi aku rasa aku masih mampu menjalaninya. Toh, nilaiku pun tidak jelek-jelek amat. Hanya ada dua nilai merah di raportku. Penyebab utamanya, nilai matematikaku sangat di bawah standar, tidak hanya “nilai merah” biasa.

Terdengar sangat memalukan memang. Tapi itulah, sekolahku memang menerapkan standar yang sepintas terlihat sangat mudah. Padahal dibalik standar yang mudah terdapat perjuangan yang sangat berat.

Kuyakinkan diriku bahwa aku masih bisa memperbaiki ini, aku masih mampu melewati perjuangan yang sangat berat di sekolah itu. Aku harus menuruti saran Ibuku. Bukankah dia dan Ayahku jauh lebih tahu yang terbaik untukku yang baru lulus SMP ini?

Tak berapa lama, Ibuku pun tiba di rumah. Tampak bagiku sekarang kondisinya sudah jauh lebih tenang.

“Gimana, sudah ada keputusan?” tanya Ibuku.

Dengan yakin, akupun menjawab: “Insyaalah, Aa akan menuruti saran Ibu, Aa akan bertahan di sekolah ini”.

Yakin hanya ungkapan ini yang bisa mewakili perasaanku ketika akhirnya mengambil keputusan untuk bertahan. Aku berjanji kepada diriku dan orangtuaku untuk berusaha lebih baik. Alasanku yang utama ketika itu adalah ingin menuruti saran Ibuku yang masih ingin aku bertahan di sekolah favorit itu.

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua-pilihan yang aku ambil-untuk bisa melalui beratnya pendidikan di sekolah itu.

Dan Alhamdulillah, ternyata keputusan yang aku ambil ketika itu adalah pilihan yang tepat. Karena keputusan inilah yang mendasari perubahan-perubahan besar dalam hidupku di masa depan.

 

Hikmah

Akhir-akhir ini, ternyata baru kusadari hikmah dari kejadian itu.

Sangat sering sekali aku membanggakan diriku yang mulai masuk SD ketika masih berumur empat setengah tahun. Aku sering menyombongkan diri ketika memasuki sekolah itu, karena aku bisa menembus seleksi yang sangat ketat, ditambah dengan umurku yang paling muda dari seluruh siswa baru yang berhasil diterima di sekolah itu.

Mungkin ini adalah teguran dari Allah untuk kesombonganku.

Hikmah positifnya, tentu saja adalah keadaan diriku yang sekarang ini.

Allah ternyata menyiapkan kondisi yang tidak pernah aku mimpikan sebelumnya, kondisi ketika aku bisa mencapai impian-impian yang tidak kalah mustahilnya dengan takdir bahwa aku tidak naik kelas.

Subhanallah!

 

Bersambung…

 

 

 

10 Comments to "Biar Cepat Asal Selamat: Tidak naik kelas? Mustahil!"

  1. nevergiveupyo  23 March, 2011 at 09:50

    asyik…artikel bersambung dan memotivasi…. (mirip komen buto ya??)
    hikmah dari suatu kejadian yang tidak enak menurut pikiran dan perasaan kita memang seringkali baru kita syukuri jauh di kemudian hari….

    saya punya pengalaman sedikit mirip… juara sejak SD-SMP (maklum kan di kampung) tapi begitu masuk SMA di kota jadi tak ada tajinya lagi (bahkan pernah ranking terakhir… untung saja waktu itu caturwulan kedua di kelas 3…jadi tidak akan tidak naik kelas hehehehe)
    untungnya saya marah sekali waktu itu dan kemudian berusaha keras dlm bulan yg tersisa sehingga saya bisa lulus dengan nilai yang baik…
    makasih diday tea….

  2. Djoko Paisan  22 March, 2011 at 03:23

    Semoga cepat sukses….!!!

  3. diday tea  21 March, 2011 at 21:19

    @Saw: iya juga, kata yang bersangkutan itu salah satu hikmahnya…

  4. saw  21 March, 2011 at 20:55

    memang masih kecil sih, makanya tinggal kelas. hehehe ….

    (begitu hebatnya hikmah ya,.. selalu ada bagi yg mampu memetiknya)

  5. Kornelya  21 March, 2011 at 20:29

    Aku tahu kamu butuh cepat, tapi mau sukses, antri dong sesuai umur!! Hahahaha. Salam.

  6. Edy  21 March, 2011 at 18:07

    Kegagalan adalah kesusksesan yang tertunda.
    Gambaru!

  7. J C  21 March, 2011 at 14:02

    Asik ada artikel bersambung satu lagi dan yang ini modelnya adalah motivasi dan self development! Sip, sip, sip…

  8. diday tea  21 March, 2011 at 10:44

    @Sumonggo: amiin
    @Handoko: no name no blame…

  9. Sumonggo  21 March, 2011 at 10:00

    Biar cepat asal sukses ……

  10. Handoko Widagdo  21 March, 2011 at 09:34

    Cerita diri?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)