Obrolan Tentang Sebuah Nama

Probo Harjanti

 

Seorang teman (sebut saja X) baru saja nambah momongan (anak), sekarang ini X punya 4 orang anak, masih kecil-kecil. Kelahiran anak ke empat ini juga  maju dari HPL (hari perkiraan lahir), anak ke 2 juga lahir terlalu cepat (karena diidak-idak/diinjak-injak/) anak sulungnya. Saat itu Bu X  tidak tahu kalau dia hamil, ini memang kadang terjadi, istilah Jawanya mbumbung. Nah, saat merasa capek dan pegal, dia minta anaknya untuk jalan-jalan di punggung dan kakinya. Alhasil bayi pun kontraksi, dan lahir cepat, untung tak terjadi apa-apa dengan bayinya.

Obrolan bergulir ke nama bayi. Ternyata beberapa teman mempunyai cerita pilu tentangnya. Tak boleh ikut andil memberi nama orok yang 9 bulan digembolnya  ke sana-sini. Dengan kesal bu Y cerita kalau suaminya ngotot ngasih nama anak semata wayangnya ‘RA’, panggilannya R. Saat ditanya kenapa R, jawabnya hanya suka, maunya istri, kasih nama anak mbok  yang ada maknanya, karena Bu Y meyakini nama adalah doa. Setelah RA SMP baru dia tahu, artinya RA raja kecil. Katanya: “Pantas kalau namanya raja kecil…memang kayak raja, raja bandel…raja malas…” Rupanya Bu Y masih menyimpan kejengkelan karena tidak boleh ikut andil ngasih nama, alih-alih andil, diajak ngomong pun tidak.

Tak jauh beda dengan Bu Y, Bu A juga cerita, ke dua anaknya dikasih nama sama bapaknya, tak bisa diganggu gugat. Bahkan untuk anak yang sulung, hanya usul vokalnya saja ditolak mentah-mentah. Bu A minta agar huruf ‘O’ yang terakhir diganti “A”, suami ngotot tetap “O”. Saat anak ke dua lahir, Bu A bertanya kepada suaminya, mau dikasih nama apa, suami bilang:  “…….gampang”, tapi prakteknya dikasih nama sendiri, saat istri protes tak digubris. Suami tetap memakai nama pemberiannya, meski istrinya nangis-nangis memohon sambil meringis kesakitan. Ke dua suami itu langsung saja membuat akte buat anak mereka, tak peduli perasaan istrinya.

Cerita lain lagi dari seorang budayawan kondang, istrinya juga tak bisa urun nama, selalu ‘disemayani ‘ (dijanjikan) anak berikutnya, eh…sampai 3 anak tak seorangpun dia kasih nama.

Lain lagi dengan sobat saya, kakaknya selalu minta pertimbangan dia saat anak-anaknya lahir, entah istrinya tahu tidak tentang hal ini. Kalau tahu, bagaimana pula pendapatnya. Itu mirip dengan adik saya, yang  selalu meminta bapak saya untuk memberi nama cucunya. Anak adik saya, malah diberi nama yang mestinya untuk saya, ceritanya  dulu saya dikira (atau diharapkan?) lahir laki-laki, ternyata muncul saya, tapi nama tetap saja berat ke nama laki-laki, yang menunjukkan perempuan cuma ‘i’  thok thil di akhir nama.

Jadi, saya sering dikira laki-laki, kalau daftar ikut acara juga hampir selalu dijadikan satu dengan kelompok makhluk ganteng. Bahkan tahun lalu, hampir saja disusuli teman sekamar bapak-bapak, untung panitia telpon dulu, jadi batal disusul bapak-bapak…..Tapi entah kebetulan atau memang jodoh, nama suami justru amat feminin, dan…..biasa dikira perempuan, pastilah orang membayangkan nama Effy adalah nama perempuan. Jadi saat menikah jadi bahan olok-olokan sama yang memberi ‘ular-ular’ (petuah buat pengantin).

Salah satu kakak saya memberi nama anak-anaknya didahului dengan berunding, dan terciptalah nama-nama yang merupakan singkatan, dari nama orang tua, nama kampung mereka (beda propinsi) sampai singkatan suku bangsanya (beda suku).

Gabungan ataupun singkatan ini menggelitik buat ditebak, murid saya bernama, nama awal lupa, yang jelas lanjutannya Lapama Hara Idfi dan tebakan saya benar (wong gampang) yakni; Lahir pada malam hari raya Idul Fitri. Ada pula memakai Yogma, saya tebak yogya malang, eh…bener.

Saya sering mencermati nama-nama murid saya, biasanya selalu saya tanya ceritanya gimana kok muncul nama yang unik. Saya sering meminta mereka menanyakan pada orang tuanya apa arti atau harapan dari nama mereka (kurang kerjaan ya?).

Teman lain memberi anak dengan membuka-buka ‘kitab’ untuk mencari  contoh nama, atau memang membuka buku yang berisi contoh nama bayi. Tetapi ada pula membaca pengumuman penerimaan mahasiswa baru dan memilih salah satu untuk nama anaknya. Memang banyak nama cantik juga unik di sana.

Murid-murid saya beberapa di antaranya diberi nama peran-peran atau pemeran  yang terdapat dalam telenovela. Meski terasa dipaksakan alias nggak nyambung antara nama depan dengan belakang dan tengahnya juga. Anak yang ‘kabotan jeneng’ juga ada, di kultur Jawa, ada anggapan bahwa anak yang sakit-sakitan, atau nakal sekali dianggap keberatan nama, atau arti namanya terlalu tinggi/ berat, hingga malah anaknya nakal atau sakit-sakitan, dan akhirnya ada yang kemudian ganti nama.

Kembali ke murid saya, ada dua anak laki-laki yang memakai nama Kusuma bandelnya nggak ketulungan, entah kebetulan atau bagaimana, salah satu dari mereka namanya sama dengan gelar salah satu Rayi Dalem  (adik) Sultan HB X. Entah bagaimana mereka sekarang, yang satu pindah sekolah swasta (orang tuanya memang mampu), satunya keluar…lebih suka keluyuran dan main PS. Sebenarnya kondisi ekonominya memprihatinkan, tapi si anak tidak mau tahu, tak mau meringankan beban ibunya (ayahnya entah di mana).

Saya sendiri memberi nama anak dengan membuka kamus kawi, dan berdiskusi dengan suami saat masih di rumah sakit. Dan lahirlah nama Acintyaswasti, Arcittararas, dan Arccittamara, belakangnya pakai Widianing semua. Itu nama samaran suami saat bersastra. Semua berinitial AW. Keluarga suami, 10 bersaudara, nama depannya semua berawalan E dan disambung W.

Untuk urusan panggilan, saya dulu sering dimintai/ ditanya ortu baby tentang nama panggilan buat anaknya. Biasanya saya ambilkan penggalan namanya sendiri, hingga akhirnya nama yang cakep jadi panggilan. Kadang, malah saya yang meminta ortu baby agar panggilannya “x” biar terdengar manis. Habis suka kasihan, anak cakep-cakep kok panggilannya kurang manis. Dan biasanya pula, mereka senang.

Bagaimana dengan anda? Nama putra-putri diambil dari mana? Siapa pula yang ngasih nama?

 

33 Comments to "Obrolan Tentang Sebuah Nama"

  1. probo  23 March, 2011 at 12:53

    Mbak Kornelya,kalau nama yang hanya sepotong juga menimpa kakak kelas saya, namanya jadi tambah FNU di depan, dikira baptis…ternyata asal comot saja….

  2. probo  23 March, 2011 at 12:51

    Kornelya Says:
    Ada temanku namanya Batuguling. Dulu waktu sekolah, setiap guru menyebut namanya pasti ada yang nyeletuk, “bantal bu, bukan batu”. Salam.

    kasihan sekali anak itu…..dulu saat SD kelas VI, guru saya mengumumkan siapa yang mau ganti nama, kan jaman saya dulu nama ya banyak yang sekenanya….dan banyak yang berakhir dengan ’em’…
    yang ganti nama ada juga ’em’nya diganti ‘ati’ atau ‘ti’…..poniyem jadi poniyati, bukan poniyemati lo…

  3. probo  23 March, 2011 at 12:46

    awesome….saya juga lebih seneng kalau dengar nama yg lokal,tapi manis dan bermakna…….
    yang indonesia banget…..sekarang nampaknya yang digemari yang bule banget ataui yang arab banget

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.