Reuni, Ngalor-ngidul dan Kicau Kacau si Indra Herlambang

Nuchan

 

Sabtu, 12 Maret 2011 Pukul 19:45 malam, sebuah sms dari sahabatku masuk ke hape-ku : Temans, sensei lagi ada di Jakarta. Besok siang jam 13an aku janjian ketemu di Plangi. Dia bilang ajak teman-teman yang lain. Bisa nga? (Baca sms ini, rasanya ini sohibku nga niat ngajak ketemuan deh.

Nada sms ini terkesan dadakan dan pakai prinsip nothing to lose saja kali. Cobain sms dulu ahh …kalau bisa ikut ya syukur, kalau nga bisa yah nga apa-apa juga sih…Tidak ada kesan memaksa, dan terlihat kurang niat aja ngajaknya…Kalau yang baca orang yang sensi, kalimat begini bisa bikin bete nga sih hehehe) Tapi buat aku yang sudah cukup lama nga ngerumpi bareng sohibku ini, sms itu tidak terlalu mengganggu. Kebetulan sensei (dosen) kami yang sudah jauh-jauh datang dari negara Sakura, ngajak reunian, mana bisa ditolak hanya karena sms yang kurang bersahabat hehehe.

Tanpa pikir panjang langsung aku jawab : bisa bisa hehehe ok bu. Plangi jam 13an ya hehehe. Setelah jawab sms, aku langsung merubah semua jadwalku untuk hari minggu 13 Maret 2011. Dan aku bersiap-siap, hanya menyediakan waktu berkumpul-ria dengan sensei dan sohibku Evi n Rima.

Minggu pagi aku hanya sarapan ketoprak yang kubeli di pasar pagi. Hari ini karena aku ada rencana akan ngerumpi di Plangi, aku nga niat makan kenyang dari rumah. Supaya ntar di Plangi masih bisa makan banyak. Reuni hari itu bener-bener bikin aku bergairah untuk keluar rumah.

Sudah agak lama juga nga muter-muter di Plaza Semanggi. Meskipun saat berangkat ke Plangi, hujan turun sangat deras sekali dan jalanan menuju Plangi bener-bener macet total, katanya ada pameran komputer dan pameran buku di JHCC. (Biasanya setiap kali ada pameran di JHCC, pasti daerah seputar Semanggi akan padat merayap, karena dipenuhi mobil-mobil mewah yang sedang menuju JHCC).

Kadang-kadang aku suka bingung juga, katanya masyarakat Indonesia itu malas membaca, tapi kenapa setiap kali ada pameran buku di JHCC para pengunjung membludak memasuki ruang pameran buku, seperti terjadi lautan manusia. Aneh khan? Tapi sudahlah, aku bukan sedang membahas pameran buku.

Singkat cerita, aku akhirnya sampai juga di Plangi. Tiba-tiba waktu naik ke tangga berjalan alias escalator, hape-ku berdering kencang sekali, pas diangkat ternyata dari Evi, yang mengabarkan dia dan sensei sudah nongkrong n duduk manis di Malay Village Resto dekat Platinum yang berada di Lt.2 katanya.

Karena aku belum pernah makan di resto itu, maka dengan modal tanya sana tanya sini akhirnya ketemu juga tuch Malay Village Resto. (Entah alasan apa mereka memilih tempat ini. Yang jelas suasana di resto itu cukup sunyi sepi tapi nga sampai kayak kuburan sih. Tapi kalau buat ngobrol ngalor ngidul sih kayaknya tempat ini paling cocok buat kami berkumpul ria. Bayangkan selain sepi, tempat ini juga bebas rokok. Cocok buat aku yang benci bau rokok).

Karena sepi banget, aku sempat clingak-clinguk cari Evi dan sensei. Aku lihat mereka mojok di lorong yang tidak begitu lebar, tapi tepat di bagian tengah ruangan resto. Dari jauh aku sudah pasang senyum ceria banget. Evi saat itu duduk membelakangi arah aku datang. Tapi sensei yang langsung berhadapan dengan aku, tak begitu mengenal wajahku. Aku sudah melambaikan tangan berkali-kali tapi dia masih duduk dengan wajah serius dan datar. Wow kayaknya dia lagi pangling lihat wajahku atau mungkin ingatannya sedang kurang baik? Entahlah.

Setelah dekat aku langsung merangkul sensei sambil tertawa ceria. Dia kaget sekali. Sensei memang sedikit pangling, dia tak menduga kalau aku membiarkan rambutku yang sudah panjang dan tergerai lepas. Katanya dengan tawa lepas : Nuchan, kamu terlihat beda dan sexy…(dalam hati aku bergumam, masak sih?sexy gimana? kalau sexy mosok nga laku-laku euy. Tapi bener atau tidak, buat aku nga begitu penting juga. Sexy yah sexy hahaha…Tetap senang juga dapat pujian dari sensei dan Evi).

Mereka terbiasa lihat rambutku yang sering dismoothing jadi lurus dan lepek banget..Wajah yang lonjong bertambah lonjong dengan rambut lurus bekas smoothing. Tapi kali ini memang rambutku sudah hampir 15 bulan lamanya tidak dismoothing. Maklum sedang masuk paket penghematan. Jadi rambut yang lepek sekarang terlihat megar banget. Weleh-weleh meskipun megar ternyata di mata sohibku dan sensei terlihat sexy hahaha. Bagus deh.

Sambil tertawa ceria, aku pun mencoba memesan minuman ringan. Evi dan sensei ternyata sudah pesan main course yang serba Malay. Aku yang belum lapar bingung mau minum apa yah? Pengen minum juice alpukat tapi nga ada. Pengen juice yang lain tapi kurang mengundang selera. Akhirnya dari pada bingung-bingung aku pilih minum kopi panas campur coklat (duh standar banget nga sih).

Tak berapa lama Rima juga sudah tiba bergabung dengan kami. Wow aksi cipika-cipiki ala Belanda mulai lagi. Rima juga sama kagetnya lihat rambutku yang megar banget. (Malah Rima lebih kacau lagi, dia pikir aku lagi nyasak rambut kayak ibu-ibu DW. Taelah, yang bener aja Rim…Tapi Rima juga punya kesan yang sama dengan Evi dan sensei…Terlihat sexy katanya hehehe. Duch senangnya dipuji agak lebay gitu…

Supaya bisa diposting di FB, maka seperti biasa aku pun mengeluarkan kamera digital andalanku si Lumix… Sambil tertawa-tawa ngobrol ngalor ngidul kami sibuk berphoto-photo ria. Maklum aku dan Evi ini kategori manusia ”gilfot”. Kalau ada kamera di tangan, rasanya gatal kalau nga jepret sana-sini.

Dengan angle yang sama bisa photo berkali-kali. Sambil sibuk ngecek senyumannya udah bagus belon? Hasilnya udah narsis belon? Kalau hasilnya belum memuaskan untuk bisa diposting di FB, maka alamat harus diulang lagi photo, jepret sana jepret sini. Inilah ulah manusia ”gilfot” (Tapi sepanjang nga ada yang komplen, nga apa-apa juga sih..Lagian kamera sendiri, bebas donk mau photo berkali-kali, sampai bosan lihat wajah sendiri hahahha)

****

Kalau lagi ngerumpi begini, maka topik yang dibahas pun dari A sampai Z. Mulai dari gempa bumi yang berkekuatan 8.9SR di Sendai Jepang, sampai krisis nuklir yang sedang terjadi di Fukushima Jepang. Bahkan urusan krisis kepercayaan diri juga dibahas di sini. Kebayang nga repotnya si sensei melihat aku dan Rima masih still jomblo. Bolak-balik ke Indonesia tetap aja masih jomblo juga. Sampai sensei itu bingung lihat kita berdua, jomblo lagi jomblo lagi. Kalau di Fukushima terjadi krisis nuklir tapi kalau di Jakarta kayaknya terjadi krisis jomblowati. Rima yang manis dan baik hati tapi masih betah menjomblo juga. Kadang-kadang terpikir juga, itu cowo-cowo di Jakarta pada buta yah? Masak Rima yang smart, manis dan pintar masak spaggeti dan rajin merajut syal dan baju dingin tapi masih tetap jomblo juga sih. Heran deh. Semua ketrampilan wanita dewasa sudah dikuasainya dengan baik, tapi kayaknya cowo-cowonya buta kali yah. ABCD!

Kalau aku jelas agak susah, aku minus urusan ketrampilan kewanitaan. Tak ada satu pun yang aku kuasai tentang dunia wanita, kecuali satu yang paling aku banggakan, aku memang wanita tulen banget.. Aku pintar memboroskan uang. (Itu salah satu ciri-ciri wanita tulen dimana saja di muka bumi ini. Bener nga sih?)

Meskipun diskusi kami hangat dan ngalor ngidul ke sana kemari tapi sebenarnya tak ada satu pun yang jelas kesimpulannya. Kami hanya sekedar sharing hal-hal yang terlihat berat tapi nga punya solusi dan nga punya tujuan sih. Cuma senang saja ngobrol ngalor ngidul.(Cewe banget nga sih.) Kami senang bertukar cerita yang nga penting-penting banget. Setelah berminggu-minggu dikungkung urusan kerjaan yang memeras otak dan pikiran. Maka ngerumpi dengan bincang-bincang yang tak jelas ini, kadang-kadang bisa membuat aku dan sohibku terhibur (walaupun hiburan semu sich)

Setelah berjam-jam ngobrol, tak terasa sudah pukul 17:00 sore. Akhirnya kami memutuskan untuk berpisah dulu. Evi juga kudu balik ke pangkuan hubby-nya. Bukan single lagi boo..Kalau Rima dan aku bisa bebas pulang jam berapa saja. Itulah salah satu nikmatnya jadi jomblo. Bisa bebas pulang jam berapa saja. (Ini pembelaan para jomblo hahaha) Kalau sensei sejak tadi sudah ngantuk berat. Rasanya beliau pun pengen istirahat dulu katanya. Meskipun berat tapi kami putuskan untuk segera mengakhiri bincang-bincang ini. Evi dan sensei pulang barengan. Aku dan Rima lanjut lagi bergerilya dulu ke Gramedia. Tak ada niat beli buku atau novel. Tapi sudah lama nga ngubek-ngubek buku di Gramed. Jadi ini kesempatan buat aku dan Rima untuk menyegarkan mata melihat buku-buku baru.

****

Memasuki Gramedia, mataku pusing melihat banyaknya buku-buku baru yang terpajang rapi. Petugas Gramedia, sibuk menawarkan buku baru A. Fuadi Ranah 3 Warna bahkan digabungkan dengan sekuel sebelumnya yaitu Negeri 5 Menara. Terlihat sang petugas sangat antusias menjelaskan novel tersebut di depanku. Tapi aku sudah terlanjur tak begitu minat membaca buku karya A.Fuadi ini. Bukunya terkesan mengikuti alur cerita yang ditulis oleh Andrea Hirata dalam novel LP, SP dan Edensor. Aku sudah beli buku Negeri 5 Menara, tapi baru baca 2 bab, aku sudah kehilangan gairah membacanya.

Tak terlalu mampu menahan mataku untuk membaca sampai tuntas. Maklum aku sudah terlalu lama terjebak dengan gaya tulisan tetralogi Andrea Hirata ini. Setiap ada novel atau buku baru pasti selalu aku bandingkan dengan karya Andrea Hirata. Alhasil, aku malah kurang bisa menikmati novel atau buku dari penulis Indonesia yang lainnya. Satu-satunya penulis Indonesia yang mampu membuat aku terpana dan tak berhenti membaca bukunya sampai tuntas adalah Agustinus Wibowo dengan buku Selimut Debunya.

Setelah sekian lama terjebak dengan gaya bertutur Andrea Hirata, maka buku Selimut Debu ini mampu membuka mataku untuk melihat sisi lain dan cara bertutur yang sangat berbeda dengan gaya Andrea dan mampu membuat aku jatuh cinta, dan kalau tak mau dibilang tergila-gila dengan gaya penulisannya si Agustinus. Beberapa temanku bilang bahwa buku Selimut Debu ini sangat berat dan kadang terkesan bertele-tele. Tapi bagiku ini merupakan karya tulis yang sangat mempesona. Membaca Selimut Debu seperti membaca kitab kehidupan. Bener-bener Andrea dan Agustinus ini memang mampu memikat hatiku. (Susah lo membuat aku terpikat hahaha).

Semua buku diubek-ubek. Mulai dari yang sains sampai yang ringan dan lucu. Tapi koq nga nemu yang menarik di hati yah. Sampai mataku tertumbuk pada buku terbaru dari Indra Herlambang dengan judul : Kicau Kacau.

Tadi pagi sebelum berangkat ke Plangi, aku masih lihat sekilas di TV One, ulasan tentang resensi buku Kicau Kacau ini. Tapi aku tak terlalu berminat mendengarnya. Melihat wajah Indra Herlambang yang lebih sering nongol membawa acara infotainment di Trans TV bersama dengan Cut Tari, maka tak pelak lagi, aku sudah underestimate terhadap buku tersebut. Kalau artis atau aktor atau pembawa acara infotainment sampai nulis buku segala, buat aku itu hanya aji-mumpung atau sekedar latah atau sekedar iseng biar terlihat kayak manusia beradab dan berilmu. Tapi buat aku, sekali nga suka tetap nga suka. Paling juga buku murahan begitu pikirku dalam hati. Jadi lihat acara bedah buku ini di Trans TV tidak terlalu minat. Entah apa isi buku tersebut atau sedang membahas apa buku tersebut, tak terlalu jelas di telingaku.

Tapi pas lihat di Gramedia, tergoda juga ingin tahu isi bukunya. Maka aku mencoba membaca buku Kicau Kacau ini sekilas saja. Membaca salah satu bab di buku ini, aku cukup kaget juga melihat gaya menulis yang cenderung nyeleneh dan menggunakan bahasa gado-gado alias gaul banget, ada bahasa prokem, ada bahasa Inggris, ada bahasa EYD, pokoknya semuanya campuraduk kayak gado-gado. Tapi jangan terkecoh dulu, gaya nulisnya memang suka-suka tapi moral of the story-nya tak bisa dianggap remeh. Dalam bahasa suka-suka itu Indra Herlambang mampu memberikan pencerahan dan berbagai kontemplasi dalam setiap kehidupan sehari-hari yang dijalaninya. Aku sampai terkesima membacanya. Kaget dengan gaya bertutur yang nyeleneh tapi sarat dengan pesan moral yang sangat menggugah rasa. Ada sedikit rasa sesal dihatiku, karena terlanjut underestimate terhadap buku Kicau Kacau ini. Tapi bener sekali, buku ini tak bisa dianggap remeh. Kalau Anda tak percaya coba buktikan sendiri.

Meskipun aku sering dengar quote : “don’t judge a book by its cover” tapi kadang-kadang aku sering tanpa sadar sudah menilai sesuatu dari luarnya saja. Wajah Indra Herlambang ini sering nongol dan menghiasi layar kaca dalam acara gosip n gosip selebritis, tapi dengan membaca buku Kicau Kacau ini, penilaianku terhadap Indra Herlambang berubah drastis. Isi buku ini mempertontonkan betapa smart dan humorisnya Indra Herlambang dalam melihat berbagai sisi kehidupan ini. Buku Kicau Kacau ini telah membuat aku tertawa terpingkal-pingkal sampai jumpalitan. Bahkan hal-hal yang sangat berat pun bisa disajikan dengan cara yang sangat kocak. Bener-bener Kicau Kacau…

Betewe, bukunya murah koq, cuma 65ribu rupiah saja. (Tapi jangan protes kalo ntar lihat cover bukunya bikin Anda mual yah…Jangan tanya aku, kenapa mual. Coba aja cek sendiri hahaha).

Udah, buruan ke Gramedia! Beli deh bukunya. Semoga aja Anda nga ikutan jadi Kicau Kacau kayak penulisnya hehehe.

 

[email protected]

Aku lagi kacau baca Kicau Kacau

 

About Nuchan

Apa yah isinya hehehe

Arsip Artikel

82 Comments to "Reuni, Ngalor-ngidul dan Kicau Kacau si Indra Herlambang"

  1. lostgior  3 March, 2012 at 22:28

    hai nuchan….

    kamu malem mingguan dmn?

  2. Nuchan  20 July, 2011 at 11:18

    Mbak DA yg baik, bukunya Indra yg Kicau Kacau sih kayaknya murah yah..cuma 65ribu rupiah koq…kalo mau bisa beli online mbak DA..tapi plus ongkos kirimlah yah..Bisa pesan di Gramedia online kog….

    Kalo sulit bisa minta tolong si Aki Buto aja Mbak DA hehhehehe

    Okay selamat berburu buku ya Mbak DA…

    Nuchan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.