Fukushima Bagiku

Sakura

 

17 Maret 2011, 6 hari setelah gempa dan tsunami hebat di Jepang

Berita gempa bumi dan tsunami yang menimpa 7 propinsi di Jepang tanggal 11 Maret lalu (propinsi terbesar yang terkena gempa bumi dan tsunami: Iwate, Sendai, Miyagi dan Fukushima) mengagetkan banyak pihak, termasuk aku. Selama hampir 10 tahun di Jepang, jujur aku tidak terlalu begitu mengenal Fukushima, hingga tahun kemarin aku mempunyai kesempatan untuk lebih mengenal Fukushima.

Perkenalanku dengan Prof. Wada membawaku untuk melanjutkan tinggal di Jepang, khususnya di Fukushima. Tahun lalu akhirnya aku sudah mengunjungi Fukushima sebanyak 3 kali. Dan tahun ini rencananya aku akan memulai belajar ilmu iPS cells di lab. Prof. Wada. Ini adalah kesempatan terbesar yang aku dapatkan, untuk mempelajari ilmu baru (sejak tahun 2005) yang dikembangkan oleh Prof. Shinya Yamanaka (candidate peraih nobel tahun lalu), karena sampai saat ini tidak ada orang Indonesia yang mendalami ilmu ini.

Semua literatur yang ditulis oleh dokter-dokter di Indonesia tentang iPS cells hanya sebatas teori, mereka tidak tahu dan tidak ada pengalaman secara teknik. Inilah kesempatanku. “I love Japan”, hanya itu yang bisa kukatakan, kenapa aku melarikan diri dari sebuah institut penelitian di Indonesia dan menolak tawaran sebagai dosen di Indonesia. Apa pun yang terjadi dengan Jepang, tekadku tetap bulat, untuk tetap bertahan di Jepang sampai kelak kami (aku dan Brandon) pindah ke Amerika.

Aku mempunyai alergi pollen (hay fever atau kafunsho dalam bahasa Jepang) yang menyerangku setiap memasuki musim semi (bulan Maret) dan musim gugur (bulan Oktober), dan kebetulan sampai hari kemarin alergi tersebut masih hebat menyerangku hingga bersin sampai 32 kali dalam sehari, meskipun aku telah minum obat dan istirahat cukup. Shizuoka dareah pegunungan, hay feverku cukup parah di sini, dan aku tahu kelak di Fukushima pun alergi ini tidak akan stop, karena di sana pun daerah pegunungan.

Fukushima daerahnya jauh lebih dingin dibandingkan Shizuoka. Dan sampai hari ini pun, para pengungsi di sana masih dalam kondisi memprihatinkan di tengah cuaca dingin bersalju (menurut ramalan cuaca, besok di sana minimum T mencapai -3 degree C dan maximum hanya mencapai 6 degree C). Bahkan bagi orang Jepang di Shizuoka, Fukushima dikenal sebagai daerah dingin, mereka sering berkata kepadaku,”Lies-san, Fukushima dingin lho”.

Jawabku, “Kalau orang-orang di sana bisa bertahan, kelak aku pun bisa bertahan, bagiku, Fukushima hanya sebagai tempat adaptasi sementara dari dinginnya winter, sebelum aku kelak pindah ke daerah yang super dingin di Minnesota”. Tentu saja jawabanku cuma bisa bikin bengong mereka. Ya, aku kelak akan pindah ke MN, ke tempat Brandon. Dan sekarang, tiba-tiba gempa bumi dan tsunami serta masalah reaktor nuklir mengguncang Fukushima, apakah itu akan menyurutkan langkahku untuk pindah? Jawabanku, “SAMA SEKALI TIDAK!”. Aku tidak pernah khawatair untuk pindah ke sana, yang aku khawatirkan saat ini cuma 1, sarana transportasi (jalan) dari Shizuoka ke Fukushima apakah akan pulih dalam minggu depan, sebab aku akan pindah ke Fukushima akhir bulan ini.

Segala yang telah terjadi di bumi ini, termasuk di Jepang adalah takdir Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki kita selamat, kita pasti akan selamat, meski di daerah berbahaya sekali pun. Dan jika Tuhan menghendaki kita wafat, kita akan wafat meski di daerah paling nyaman sekali pun. Dan satu lagi yang aku yakin dan percayai, orang Jepang adalah tipe manusia-manusia hebat, dalam waktu singkat aku yakin segalanya akan menjadi pulih, termasuk masalah reaktor nuklir saat ini di Fukushima.

Dari beberapa wawancara dengan para pengungsi (melalui TV), mereka selalu mengatakan, “kore kara mata hajimarimasu” (mulai sekarang saya akan memulai hidup lagi), dan kata-kata itu bukan hanya diucapkan oleh anak-anak muda, tetapi diucapkan oleh mereka yang usia 50 tahun ke atas. Betapa masayarakat Jepang mempunyai semangat yang tinggi untuk kembali membangun daerahnya, setelah dihantam gempa bumi dan tsunami, mereka tidak menyerah, dan usia pernah tidak menjadi halangan. Aku yakin, pertama dengan modal semangat dan tekad, Jepang akan menjadi pulih kembali secepatnya.

Bagiku, meski Fukushima saat ini dalam berita-berita yang mengkhawatirkan, tetapi mimpi kami tidak akan pupus tentang Fukushima. Sebenarnya bukan hanya aku yang berencana untuk pindah ke Fukushima, Brandon juga, setelah dia ambil exam.nya, kalau bisa di pun sangat berkeinginan untuk mengambil residence di Fukushima. Ini lah mimpi kami. Memulai hidup yang lebih dekat bersama di Fukushima setelah 2 tahun dalam long distance relationship.

Memang rencana di masa depan, kami ingin tinggal di USA, akan kembali ke MN, di tempat Brandon sekarang. Tapi selama aku masih ada di Jepang, dia pun ingin pindah ke Jepang untuk sementara waktu. Dia juga sangat suka Jepang. Hampir 40% belahan dunia dia telah kelilingi dan tinggali, termasuk bertahun-tahun lamanya seperti di Perancis, Amerika, Jepang dan Rusia, tetapi di pun selalu mengatakan “Japan is the best country for me”.

So, bagi kami, kembali lagi, hanya ada satu jawaban, “We love Japan”. Bersama masyarakat Jepang, khususnya masyarakat Fukushima, kami juga akan memulai membangun mimpi baru di Fukushima, setelah gempa bumi dan tsunami ini. Tidak akan ada hal yang akan menyurutkan langkahku dan Brandon untuk pindah ke Fukushima, sebab “We love Japan”.

 

20 Maret 2011, 9 hari setelah bencana tersebut

Sekitar 7600 orang meninggal dan sudah diidentifikasi. Orang yang hilang mencapai 12000 orang. Pengungsi bertambah menjadi 350 000 orang, disebabkan ketakutan terhadap efek radiasi, banyak orang dalam radius s/d Tokyo mengungsi ke lain propinsi yang jauh, hingga sampai ke Okinawa. Para pengungsi di lokasi dekat reaktor nuklir sungguh memilukan, setelah terkena gempa hebat dan hantaman tsunami, mereka mengungsi dalam kondisi dingin beku, kurang makanan minuman, tanpa sarana listrik, air dan gas, sekarang mereka dalam evakuasi dipindahkan ke propinsi lain.

Benar-benar pukulan 3 kali: hilang keluarga dan harta benda, menyelamatkan diri dalam kondisi minim masih terkena pukulan pengaruh efek radiasi. Jepang masih mengevakuasi kondisi berbahaya dalam radius 30 km, sedangkan US mengatakan dalam radius 80 km harus diungsikan.

Orang asing sudah berbondong-bondong meninggalkan Jepang. Kantor imigrasi di mana-mana penuh, mengantri berjam-jam untuk mengambil temporary re-entry permit.

Reaktor nuklir masih belum mencapai perkembangan berarti. Tank reaktor no.3 dan no.4 masih dalam kondisi berbahaya, meski sudah sekitar 600 ton air diisikan ke pool raktor-reaktor tsb. Pemerintah Jepang meningkatkan level bahaya menjadi level 5. Setara dengan Three Mile accident. Sedangkan pemerintah US sudah menempatkan level bahaya pada level 6, di bawah Chernobyl (level 7).

OMG….saya sendiri dalam masalah, nggak punya tempat untuk tinggal untuk 1 bulan April, meski apartment yang di Fukushima sudah ready tapi nggak mungkin pindah ke sana, di samping jalan highway masih tertutup, profesorku menyarankan untuk tidak datang sampai awal Mei. Sedangkan aku nggak bisa mendapatkan perpanjangan stay di perumahan dosen di Shizuoka Uni., krn statusku bukan lagi karyawan di sini sampai akhir Maret ini. Mana ada Moonshine kucingku yang harus pikirkan, di mana dia harus tinggal….Semoga Moonshine juga dapat dibalikin dulu ke shelter di Shiga selama April.

 

21 Maret 2011, 10 hari setelah bencana tersebut

Dilaporkan sebanyak 8600 orang yang wafat telah teridentifikasi, sedangkan jumlah orang hilang (termasuk yang wafat dan belum bisa diidentifikasi) mencapai 201 000 orang. Jumlah pengungsi diperkirakan masih terus bertambah, akibat ketakutan terhadap efek radiasi.

Berita-berita di TV melaporkan bahwa setelah 10 hari ditemukan seorang nenek (80 tahun) bersama cucu laki-lakinya (16 tahun) dalam keadaaan hidup di tengah hancurnya rumah mereka, setelah mereka bertahan dengan sisa-sisa makanan dan minuman dari sebuah kulkas mereka yang ikut mengambang dan tersangkut di dekat mereka.

Sebenarnya nenek tersebut kondisi kakinya lemah dan tidak bisa berjalan dengan sehat sebelum bencana terjadi, dan sang cucu kakinya tertimpa bangunan rumah sehingga tidak bisa berjalan ketika diketemukan oleh regu penolong. Tetapi inilah sekali lagi bukti kekuasaan Tuhan, mereka masih bisa bertahan hidup selama 10 hari dan makan makanan dingin dari kulkas yang tersangkut, yogurt, coca cola dan softdrink.

Dalam kedaaan dingin bersalju, kaki terluka dan tidak sehat, mereka masih bisa bertahan, sungguh suatu berkah Tuhan, bahkan dokter-dokter di rumah sakit mengatakan, “ini sesuatu yang di luar logika kami”. Ketika gempa dan tsunami terjadi, mereka sedang menyiapkan makanan di dapur dan tiba-tiba bencana datang hingga mereka terkepung dalam bangunan dan berhasil naik ke atas “yane” (bagian atas bangunan rumah yang biasanya digunakan untuk menjemur pakaian).

Keadaan reaktor nuklir masih dalam kondisi bahaya. Kemarin bahkan diberitakan bahwa susu dan sayuran mulai terkena efek radiasi nuklir, meskipun dalam level sangat kecil, tetapi sedikitnya membutuhkan inspeksi selama 1 tahun sampai efek radiasi bisa hilang dari makanan. Reaktor no.1 dan 2 telah aliran listriknya telah berhasil dimatikan, tetapi secara keseluruhan masih dalam kondisi bahaya.

Aku sendiri, akhirnya memutuskan bertahan di Jepang dalam 1 bulan (bulan April) sebelum rencana pindah ke Fukushima awal bulan Mei. Jika dalam bulan Mei keadaan reaktor masih buruk, aku akan pikirkan lagi langkah selanjutnya bagiku, sebab bertahan berbulan-bulan di Jepang tanpa perkerjaan juga tidak baik bagiku, uangku akan habis.

Demi Moonshine juga, aku bertahan di Jepang, aku tidak tega melepas dia di shelter selama sebulan jika aku balik ke Indonesia bulan April. Bagaimana pun, Moonshine adalah keluargaku dan sahabatku yang telah menemaniku selama 1 tahun di Jepang, membuatku tidak kesepian karena aku bercakap-cakap dengannya.

Bagaimana mungkin aku tega melepas dia ke shelter selama sebulan, meski di sana dia akan berada dalam perawatan yang baik dan bersama kucing-kucing lain, tetapi dia sudah terbiasa tidur bersamaku dan makan dari tanganku langsung, dia juga selalu menungguku di depan pintu ketika aku pulang dan menungguku di depan pintu kamar mandi ketika aku mandi. Seekor kucing yang setia harus aku perjuangkan juga supaya bisa tetap bersamaku.

Tidak mungkin membawa Moonshine ke Indonesia secara tiba-tiba, dia harus masuk karantina dulu berbulan-bulan, lebih baik aku di Jepang bersamanya. Sekarang aku sedang mencari sebuah apartment yang bisa menampungku dan Moonshine selama 1 bulan (suatu hal yang sulit di Jepang, karena umumnya sewa kontrak apartment minimum adalah 6 bulan), tapi semoga Tuhan memberkatiku untuk mendapatkannya. Barang-barang rumahku, semuanya aku akan masukkan ke apartment temanku selama di ada di negaranya selama 1 bulan (bulan April). Tuhan memberkatiku untuk hal ini, dia berbaik hati menolongku. Untuk pertama kalinya aku melihat wajahku begitu sedih dan pucat hampir menangis di depan cermin. Tetapi aku harus kuat, aku harus bisa bertahan. Semoga Jepang akan kembali pulih sehingga aku bisa berangkat ke Fukushima bulan Mei nanti.

 

Foto-foto: REUTERS, DIGITAL GLOBE

 

30 Comments to "Fukushima Bagiku"

  1. T.Moken  25 March, 2011 at 01:27

    Thanks Sakura atas informasi anda. Anak saya suka sekali snacks dan minuman Jepang. Semoga rakyat Jepang melihat cahaya sinar kasih Tuhan dalam kegelapan saat ini sehingga masalah-masalah yang dihadapi negara dan rakyat cepat pulih. Amen.

  2. Onder de Boom USA.  25 March, 2011 at 00:38

    Buat Sakura, dan semua Baltyran di Jepang yang sedang mengalami musibah ,semoga tabah dalam menghadapi masa2 sulit saat ini,kami semua di Baltyra hanya dapat mendoakan kepada YME dan Kuasa Tuhan kita,agar kesulitan2 ini cepat berlalu dan diberikan kekuatan iman lahir dan bathin,sehingga bisa mencapai sukses dan berhasil selalu dari apa yang diidamkan.Teriring salam dan doa dari Florida

  3. sakura  24 March, 2011 at 11:39

    Terima kasih untuk kepedulian teman-teman semua. Mohon maaf baru sempat balas karena kemaren nggak buka internet.

    Oiya, saya perlu tekankan di sini, bahwa Fukushima Nuclear Plants berbeda dengan Chernobyl. Dalam sistem kerjanya, uranium ditrapped dalam air, reaksi nukir uranium menjadi sesium mengakibatkan panas dan panas ini mengakibatkan air menguap yang kemudian tenaga panas dari air digunakan untuk menggerakkan generator pembangkit listrik. Beda sekali dengan Chernobyl. Satu lagi, bangunan reaktor nuklir di Fukushima dirancang untuk meruntuhkan dirinya sendiri sehingga tidak menimbulkan efek menyebar ke daerah sekitarnya.

    Hari ini saya mendapat kabar dari TV mengenai list makanan dan minuman yang terkena efek sesium, semuanya masih JAUH SEKALI DI BAWAH BATAS KADAR KONTAMINASI RADIASI yang ditetapkan secara internasional. Kalau radaksi berkenan, hari ini saya akan kirimkan artikel tentang ini. Saya perlu menyebarkan informasi yang benar untuk membantu pemerintah Jepang menghilangkan kecemasan masyarakat. Ketidaktahuan yang menyebabkan kita menjadi panik dan ketakutan.

    Oiya, saya mau koreksi isi komentar saya di artikel ini, sedikit ralat, bahwa Fukushima Nulear Plants ada 2, Plant 1 dan Plant II. Plant I terdiri dari 6 tank, tank no.1 sampai 6, dimana tank no.1 sd 4 sekarang berada dalam kondisi berbahaya. Tank no. 5 dan 6 tidak apa-apa. Lalu Plant II terdiri dari 4 tank, tank 1 s/d 4, yang semuanya tidak apa-apa. Plant I dan Plant II berjarak sekitar 11 km. Demikian korekasi saya.

  4. nevergiveupyo  23 March, 2011 at 08:48

    sakura… saya tidak mau menimbrung ya…
    tapi saya cuma mau bilang : SALUT utk ketegaran dan kepedulian-mu…
    apapun itu, niat baik dlm hatimu itu suatu hal yang mulia… perlu saya contoh koq…
    gambaru!!

  5. Dewi Aichi  23 March, 2011 at 08:17

    Sakura, aku senang dirimu baik- baik saja. Pikirkanlah yang terbaik untukmu, keputusan ada ditanganmu. Aku hanya bisa mendoakan untukmu semoga dirimu kuat. Juga untuk Jepang, ..!

  6. Anastasia Yuliantari  23 March, 2011 at 08:02

    Semoga semua cepat kembali normal dan Sakura diberi kesehatan sehingga dapat melanjutkan apapun yang direncanakan sebelumnya.

  7. Djoko Paisan  23 March, 2011 at 02:58

    Sakura….
    Terimaksih untu ceritanya….
    Kami benar merasa prihatin, melhat apa yang terjadi di Jepang.
    Setelah gempa bumi, tsunami, radiasi, mana lagi musim dingin dan saljunya.
    Kami hanya bisa berdoa dan mungkin memberi saran.
    Tapi Sakura yang mengalami, pasti lebih tau akan situasi disana.
    Kalau ada anak-anak kecil, ya lebih baik mengamankan diri ( menjauhi area tsb ) sejauh mungkin.
    Semoga TUHAN memberi kekuatan dan jalan keluar yang baik.

  8. lili  23 March, 2011 at 02:42

    mbak Sakura, lega rasanya artikel nya muncul, berarti ada kabar… , kami semua berdoa untuk Jepang dan warga indo yg di sana, Tuhan menyertai mbak untuk mengatasi segala masalah.
    Kita harus belajar dari semangat orang Jepang, Gambaru !

  9. J C  23 March, 2011 at 01:05

    Sakura, pada intinya aku setuju komentar teman-teman yang bilang untuk mempertimbangkan lagi keputusan ke Fukushima. Thoughts and prayers from here…

  10. Meazza  22 March, 2011 at 22:58

    Halo kak Sakura, pikirkan lagilah Kak, memang Fukushima tidak separah Chernobyl, namun radiasi nuklir memang butuh waktu yg lama untuk pulih… Chernobyl aja sampai sekarang masih tetep sakit…

    Semoga bisa tetap bertahan di Jepang…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.