Kisah Sultan dan Sadath Safir

Cechgentong

 

Azraq, Iraq (thisfabtrek.com)

Aneh. Itulah kata yang terucap di pikiran Sang Sultan setelah melihat sebuah bangunan segi empat (masigit) dengan menara yang tinggi di setiap sudut bangunan tersebut. Tampak jelas bulan bintang bertengger di atas menara tersebut. Sang Sultan melihat dengan jelasnya dari langit saat mengendarai Naga Paksi, tunggangan Sang Sultan setiap berkelana ke pelosok dunia.

”Ohhh rupanya ada di mesjid di bawahnya. Berarti daerah tersebut masyarakatnya sudah beragama Islam,” ujar Sang Sultan dalam hati.

Kemudian Sang Sultan memerintahkan Naga Paksi untuk menurunkan dirinya di sebuah tempat sepi yang tidak jauh dari bangunan tersebut. Dalam sekejap, Sang Sultan sudah sampai di halaman bangunan tersebut. Sang Sultan melihat banyak sekali orang-orang baik anak-anak, perempuan dan pria dewasa sedang membaca Al Qur’an. Terdengar suara alunan firman Allah SWT yang sangat indah dan menyentuh hati. Baru saja Sang Sultan ingin masuk ke dalam, tiba-tiba dari dalam keluar seorang pria tua yang berpakaian putih dengan rambut dan jenggot berwarna putih .

”Assalamualaikum Wr. Wb.“

”Wa alaikumussalam Wr, Wb.“

”Maaf bapak tua, bolehkah saya bertanya“

”Silahkan, Tuan boleh bertanya apapun“

”Apakah bangunan ini mesjid“

”Ya, benar sekali. Memang ini sebuah mesjid“

”Alhamdulillah, berarti saya telah bertemu dengan saudara-saudara seiman“

”Maksud Tuan ?“

”Oh maaf, saya senang sekali bertemu dengan Pak tua“

”Terima kasih“

”Bolehkah saya tahu, apa nama daerah ini Pak tua“

”Daerah ini bernama Azraq, Irak“

”Sungguh jauh perjalananku, apakah ini termasuk Jazirah Arab ?“

”Ya benar sekali.“

”Maaf sekali lagi, kalau tidak salah dengar. Itu ada semacam pengajian di dalam mesjid ini“

”Memang setiap hari kami selalu melakukan pengajian dan membaca Al Qur’an“

”Siapakah gerangan Imam yang memimpin mesjid agung nan megah ini ? Bolehkah saya bertemu dengan beliau ?“

”Tentu, boleh saja karena Sang Imam sangat senang menerima tamu siapapun orangnya, asal usulnya, statusnya dan sebagainya“

”Baiklah, saya akan tunggu di sini sambil menikmati keindahan mesjid dan lingkungan sekitar mesjid.“

Beberapa jam kemudian, Sang Sultan diperkenankan untuk bertemu dengan Imam mesjid. Tetapi sebelumnya mereka bersama-sama melakukan Shalat Ashar berjamaah. Setelah Shalat Ashar, barulah Sang Sultan bertemu dengan Imam Mesjid di sebuah ruangan yang masih dalam lingkungan mesjid.

”Assalammualaikum Wr.Wb“

”Wa alaikumussalam Wr.Wb.“

Keduanya saling berjabat tangan dan berpelukan satu sama lain. Rupanya Sang Imam telah mengetahui adanya kesamaan Iman dengan Sang Sultan.

”Saya mendengar Tuan berasal dari daerah yang sangat jauh sekali“

”Benar sekali Syekh“

”Tepatnya di daerah mana Tuan ?“

”Saya berasal dari daerah banyak pulau dan kebetulan masyarakatnya beragama Islam.“

”Alhamdulillah. Sepertinya saya pernah mendengar daerah asal Tuan dan saya pernah berkunjung ke sana“

”Sungguh saya tidak salah dengarkah“

”Hehehehe ya, memang saya pernah ke tempat Tuan. Sebuah daerah yang dilingkupi oleh pulau-pulau dengan yang yang subur, penduduknya ramah dan sangat menghormati adat istiadat leluhurnya“

”Wow, ternyata Syekh hafal sekali dengan daerah asal saya.“

”Hehehehehe“

”Maaf, Syekh. Kalau boleh tahu siapa syekh sebenarnya“

”Nama saya Sadath Safir dari Negeri Azraq, Iraq. Saya adalah Imam Besar Mesjid Agung Azraq ini dan saya yang mengajarkan ilmu Islam kepada penduduk Azraq.“

”Sungguh mulia perbuatan Syekh“

”Semuanya karena Allah SWT. Bolehkah saya tahu maksud kedatangan Tuan“

”Sebetulnya saya ingin mengetahui negeri-negeri di dunia ini tetapi saya malah terhenti di sini.“

”Berarti sudah banyak yang Tuan lihat“

”Ya, tapi masih banyak yang saya belum ketahui.“

”Kalau begitu sebaiknya Tuan tinggal dulu di sini selama beberapa waktu. Untuk lebih mengenal daerah Azraq ini“

”Terima kasih Syekh atas tawarannya. Saya merasa tersanjung“

”Ahhh Tidak apa-apa. Tuan khan saudara kami juga“

Tanpa terasa sudah 3 bulan Sang Sultan tinggal di Azraq. Selama di Azraq, Sang Sultan memperdalam ilmu agama Islam kepada Syekh Sadath Safir. Banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh sehingga Sang Sultan makin mumpuni ilmu agamanya sampai-sampai mengalahkan murid-murid Syekh Sadath Safir. Akibatnya, Sang Sultan sangat disayang dan diangkat sebagai Murid Senior oleh Syekh Sadath Safir. Uniknya seluruh murid dan masyarakat Azra senang dan menghormati sekali keberadaan Sang Sultan.

Suatu hari, Syekh memanggil Sang Sultan dan mengatakan kalau Syekh ingin sekali berkunjung ke negeri asal Sang Sultan. Betapa gembiranya Sang Sultan mendengar perkataan Syekh. Rupanya Sang Sultan sudah lama ingin menawarkan hal tersebut kepada Syekh Sadath Safir. Tanpa dinyana malah Syekh sendiri yang memintanya. Sang Sultan langsung mengiyakan dan mulai mempersiapkan perlengkapan dan bekal yang harus dibawa karena perjalanan pulang tersebut menggunakan jalur darat dan tidak menggunakan Naga Paksi sebagai tunggangannya.


Ilustrasi Naga Paksi Liman (deviantart.net) 

 

(To Be Continued)

 

 

25 Comments to "Kisah Sultan dan Sadath Safir"

  1. gerbang timur cirebon  9 June, 2011 at 12:00

    Hahah ilustrasinya bagus banget…, paksi naga liman cuma desain kereta perang insprirasi dari tiga kekuatan darat laut dan udara yang digagas oleh Pangeran Losari untuk kakaknya Sultan Cirebon sebagai kendaraan kraton .

  2. Rosda  23 March, 2011 at 20:01

    Ikut meramaikan lapak….jangan lupa, kalau sampai di negeri pulau nanti, Syekh Sadath Safir diajak keliling2 naik helicak…pasti dia terkagum-kagum…

  3. cechgentong  23 March, 2011 at 08:16

    Mas JC, ya bedalah hehehe
    Naga Paksi ya naga yang bisa terbang hehee

  4. cechgentong  23 March, 2011 at 08:15

    hahaha lapak saya dah rame dengan rudal, larangan terbang etc… yang pasti Lani biangnya hehehe

  5. J C  23 March, 2011 at 01:09

    Kang Cech, naga paksi asalkan tidak seperti Adam Air ya boleh lah…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.