Anak Itu…ah…

Odi Shalahuddin

 

Bagian Pertama: Jangan Menangis Mbak

Bagian Kedua: Mbak, mulai tersipu ya?

Bagian Ketiga: Sontoloyo itu harus mati!

Bagian Keempat: Nganu itu enak loh, Mbak

Bagian Kelima: Hidup nyantai aja, Mbak

 

(Bagian Terakhir dari 6 Tulisan)

Perempuan itu. Belum genap 18 tahun. Masih anak-anak.Begitu kata Konvensi Hak Anak. Begitu pula kata Undang-undang Perlindungan Anak. Tapi wajahnya terlihat sangat dewasa. Cara bicaranyapun, sudah sangat biasa. Memasuki wilayah-wilayah tersembunyi, bahkan bisa dikatakan sebagai rahasia diri, ia tenang saja bercerita. Tentang dirinya. Tentang pengalaman-pengalamannya. Baik. Buruk. Oh, tidak. Malah banyak pengalaman buruk kukira. Aku coba cari pengalaman menyenangkan. Tak tergambar dari kisahnya. Seluruh perjalanan, buruk. Menurutku. Menurutmu. Menurut kita semua. Dari nilai-nilai yang tertanam. Tapi ia santai saja. Bercerita datar. Tanpa ekspresi kesedihan. Ia seakan sosok kuat. Telah ditempa kehidupan. Mensiasati keadaan.

Pertama ia kisahkan tentang dirinya. Tak kuasa aku menahan tangis. Ia bercerita, pikiranku melayang. Seandainya aku yang mengalami. Oh. Tak terbayang. Sama sekali tak terbayang. Jauh dari angan. Bahkan dari bahan bacaan. Kisahnya membuatku terkesima. Menggerogoti hati dan perasaan. Mengalir lewat darah. Berputar di tubuh. Menggedor dinding jiwa. Terkulai. Rapuh. Tak kuasa. Hingga tak tertahan. Aku memang benar-benar menangis. Cengeng sekali. Baru mendengar kisah awal. Pada 10 menit pertama.

Justru ia yang menghiburku. Memintaku untuk biasa saja. Memintaku untuk tidak memasukkan ke hati. Biarkan. Mendengar. Mengalir. Apa adanya. Bila tak suka, biarkan lewat. Toh alat rekaman tetap menyala. Benar-benar, sama sekali tak kuduga.

Aku tak kuat. Tak bisa memenuhi permintaannya. Mataku berkaca-kaca. Semakin ia bercerita. Semakin bayang-bayang kelam menyelimuti diriku. Aku menangis. Menangis tak tertahan. Air matapun tumpah. Walau bagai gerimis, hanya menitik pelan. Dorongan untuk menahan. Ah, aku tak kuat. Benar-benar tak kuat. Aku mohon ijin kepadanya. Mencari toilet. Kutumpahkan segenap beban. Tangis. Biarlah penjaga bertanya-tanya. Apa peduliku. Kutumpahkan semua di dalam toilet.

Kutenangkan hati. Kubesarkan keberanian menghadapi. Menghadapi dirinya. Mendengarkan kisahnya.

Ah. Mengapa jadi begini? Awal mendapat tugas dari dosen. Tugasnya melakukan wawancara. Bebas. Bisa kepada siapa saja. Mencari makna kehidupan dari sosok seseorang.

Aku tertantang untuk mencari sesuatu yang baru. Baru menurut diriku sendiri. Bagimu bisa saja hal biasa. Tapi aku. Sepanjang perjalanan hidupku. Normal saja. Sebagaimana kehidupan orang-orang ”normal”.

Aku mencari sosok. Seorang anak. Berperan pula sebagai germo. Maka mulailah aku bertanya-tanya. Pada kawan-kawan. Bertanya dan mencari ke Mbah Google. Banyak berita dan kisah. Tapi susah untuk menghubungi sumbernya. Sampai tak sengaja. Seorang kawan di kost-ku tengah berbincang. Dengan kawannya. Saat berkenalan. Bincang basa-basi. Secara spontan aku keluhkan tentang tugas wawancara.

“Ah, saya bisa menghubungkan dirimu,” katanya

”Masak?”

”Gak percaya?”

”Eh, boleh, bolehlah. Terima kasih banget loh,”

”Mau sekarang atau nanti?”

”Sekarangpun boleh,” sahutku cepat tak ingin melepas kesempatan yang datang.

Nina. Nina namanya. Kawannya kawanku. Sekarang juga jadi kawanku. Bukankah tadi sudah berkenalan. Melalui dialah aku bisa bertemu. Bertemu dengan anak yang telah mengguncang-guncang jiwaku. Namanya, ah, tak layaklah untuk disebutkan. Apalah arti sebuah nama, orang bijak mengatakan demikian. Anak itupun menyatakan hampir serupa. Pakai nama atau tidak, sama sekali tak berarti. Nah.

Nina mengajakku ke sebuah pasar. Dulu pasar induk. Sekarang masih. Tapi beberapa tempat sudah kosong tak berpenghuni. Pasar ini akan direnovasi. Pastilah para pedagang di sini, hanya akan segelintir saja yang bisa menikmati. Sama halnya dengan pasar-pasar lain. Tergusur. Berganti pedagang.

Agak ngeri rasanya memasuki lorong-lorong pasar yang sepi. Beberapa kios sudah menjadi tempat tinggal.

”Mereka menyewa juga,” kata Nina.

Oh, ya Nina ini, seorang pekerja sosial. Dia bekerja bersama anak-anak. Khususnya anak-anak jalanan perempuan dan anak-anak yang terlibat dalam prostitusi. Beruntung aku bertemu dengannya. Sepanjang jalan, ketika bertemu orang-orang tua, anak-anak dan siapa saja, mereka menyapa Nina. Nina populer. Ih, jadi iri. Bagaimana keberanian Nina untuk memasuki kehidupan macam ini. Aku sendiri sudah bergetar. Perasaan cemas dan takut menghinggapi. Sedang Nina terasa akrab. Termasuk dengan suasananya.

Kami menuju ke belakang. Di belakang pasar ada sebuah sungai. Jarak antara batas pasar dengan bibir sungai sekitar lima meter. Nah, di sepanjang pinggiran ini adalah rumah-rumah petak yang berjajar menempel sepanjang dinding pasar. Banyak anak-anak kecil. Kami harus berhati-hati.

Sampai di sebuah rumah. Sekitar 50 meter dari ujung pintu keluar pasar. Nina memanggil nama seseorang. Seorang anak perempuan. Dengan rambut acak-acakan. Bajunya juga berantakan. Tergesa keluar.

”Hai, Mbak Nina. Apa kabar?” sapanya.

Seorang laki-laki setengah baya. Menyusul keluar. ”Aku pergi dulu, ya. Aku taruh di pinggir kasur,” katanya. Lalu bergegas tanpa memperdulikan diriku dan Nina.

”Biasa,” kata anak itu kepada Nina dan diriku.

Nina memperkenalkan diriku. Menjelaskan maksud kedatanganku.

”Boleh, gak papa. Percaya sama Mbak Nina. Pasti niatnya baik. Bukan begitu, Mbak?” ia lontarkan pertanyaan padaku.

Segera aku mengangguk.

Siang itu pula aku bisa mewawancarainya. Di los pasar. Dekat kios-kios berpenghuni. Mencari tempat agak jauh dari keramaian. Di sanalah kami bicara. Sedang Nina berpamitan. Ada acara katanya. Kuucapkan terima kasih padanya.

Benar. Anak ini santai sekali. Bicara kegetiran hidupnya dengan santai. Tak ada nada yang tersendat. Mengalir. Mengalir. Membuat darahku kacau mengalir.

Kisahnya membuatku menangis. Kisahnya membuatku pingsan. Kisahnya membuatku tersenyum,. Becandaannya membuatku tersipu malu. Apalagi bila bicara seks. Ah, itu jarang sekali menjadi pembicaraan dalam keluargaku. Juga dengan teman-temanku. Tapi mengalir saja ia bicara. Termasuk peristiwa pertama. Termasuk pemerkosaan yang dilakukan sekelompok orang. Termasuk menjadi simpanan. Termasuk mencari para pelanggan. Termasuk merekrut anak-anak lain.

Uhps. Sesak dada ini.

Kurasa dirimu akan mengalami pula.

Bila dirimu ada di sini.

Mendengarkan.

Yogyakarta, 19.01.11

 

 

32 Comments to "Anak Itu…ah…"

  1. Linda Cheang  26 March, 2011 at 17:52

    satir

  2. Odi Shalahuddin  25 March, 2011 at 07:58

    @Handoko: Ok, Pak… Semoga bisa. Saya kira memang harus diperbaiki dan dipertajam konfliknya… Makasih atas segala dukungannya, Pak…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.