Senja di Chao Phraya (12)

Endah Raharjo

 

Bab 3: Menghalau Mendung Langit Jogja (3)

Dua malam kemudian, Laras belum juga berbicara dengan dua anaknya. Setiap hendak membuka suara, lidahnya serasa lengket di langit-langit mulut. Kata-kata gagal keluar dari kepalanya. Dari mana aku harus mulai, gelisah hati Laras. Aku harus bisa menemukan cara, renung Laras dengan sungguh-sungguh di sela-sela menulis laporan.

Ia tak mau berbohong pada Osken, seolah ia sudah bicara pada Mega dan Angka. Kebohongan yang disuntikkan dalam sebuah hubungan, meskipun dosisnya kecil, bagai candu yang membuat pelakunya ketagihan. Ia akan melakukannya lagi, berkali-kali, makin lama dosisnya makin tinggi, hingga hubungan itu layu, lalu mati. Laras tak ingin itu terjadi. Jikalau hubungan yang baru berawal itu terpaksa terhenti, alasannya harus tepat dan kuat.

Malam menua, jam dinding di ruang keluarga menunjuk angka 11. Baru saja ia mengakhiri kencan dengan Osken lewat Skype. Selama hampir satu jam, ia bertubi-tubi menanyakan pekerjaan Osken, tak memberi kesempatan pada lelaki itu untuk bertanya tentang anak-anaknya.

Ia tak mau membuat Osken kecewa. Bukan, bukan aku takut membuatnya kecewa, bantah Laras dalam hati. Lebih tepatnya, aku takut menanggung akibatnya bila ia kecewa. Dengan hati-hati, bagai menyelimuti sang kekasih yang tengah tidur terbuai mimpi, Laras memasukkan laptopnya ke dalam softcase.

“Mama tidur, ya,” dengan sedikit meninggikan suara, Laras pamit pada dua anaknya. Lampu kamar mereka masih menyala.

“Malam, Ma,” seru Mega dari dalam kamar.

Angka membuka pintu, kepalanya melongok keluar, tangannya ia sentuhkan ke bibir, disusul suara kecupan, lalu tangan itu ia lontarkan ke udara, mengirimkan ciuman pada ibunya.

***

Ribuan kilometer arah barat laut dari Jogja, di Yangon, bekas ibukota Myanmar yang dulunya bernama Rangon itu, Osken menatap kosong layar komputer yang ia sewa di business center. Malam ini ia beruntung, dua dari tiga komputer yang ada di ruang sempit itu tidak terpakai sehingga ia tidak perlu menunggu.

Di hotel kecil tempat ia tinggal belum ada layanan wifi maupun LAN di tiap kamar. Koneksi internet pun sering kurang lancar. Bila sedang apes, listrik bisa mati tiba-tiba, koneksi internet akan terhenti beberapa saat hingga generator mulai bekerja. Sesekali bila koneksi sedang lancar, ia Skype dengan Laras sambil memakai webcam meskipun tampilannya buram. Bila beberapa detik saja ia bisa menangkap senyum indah Laras, lelaki itu bisa tidur lebih tenang.

Dalam hal perempuan, Osken bagai kolektor kupu-kupu. Semakin eksotis jenisnya, ia semakin tertarik untuk mendapatkannya. Lima belas tahun lalu, ia jatuh cinta pada perempuan berambut pirang berdarah campuran Afrika, Swedia dan Vietnam. Perempuan itu ia lepaskan karena ia perokok berat yang selalu merokok di tempat tidur sehabis bersebadan.

Baginya, Laras eksotis karena karakternya berbeda dengan perempuan yang biasa ia kenal. Sebagai janda yang matang dengan pengalaman hidup dan terekspos pada pergaulan internasional, semestinya kencan dengan lelaki jadi hal biasa. Tidak harus berakhir di ranjang. Sekedar  bersenang-senang, meletakkan beban hidup sebentar, menikmati waktu senggang.

Namun Laras tidak demikian. Di belakang kemandiriannya serta sikapnya yang ramah dan terbuka pada semua orang, ada tembok tebal menjulang. Bila sedang bekerja, ia bagai sedang pentas di panggung, memerankan sesuatu yang bukan dirinya. Selepas jam kerja, ia akan buru-buru berlari ke balik layar, menjadi sosok yang berbeda, menjalani hidup kesehariannya bersama dua anaknya. Osken ingin sekali memanjat dinding itu, menyibak layar itu, melihat sisi lain Laras yang belum ia kenal, lalu menjadi bagiannya bila diperbolehkan.

Lelaki 52 tahun itu sudah beberapa bulan menahan diri. Ia berhasrat mengunjungi Laras setiap saat mereka ada waktu. Mereka saling cinta. Saling membutuhkan. Saling sepakat menjalin hubungan. Mereka sama-sama lajang. Apalagi yang dipersoalkan? Keluarga, itu alasan Laras. Osken susah payah berusaha mengerti.   Meskipun kadar cintanya pada perempuan itu jauh lebih tinggi dibanding cinta terakhirnya, sesekali muncul rasa khawatir bila dirinya kalah akibat tidak sabar.

Di sekitar Osken beterbangan aneka warna kupu-kupu indah, yang muda, yang baru keluar dari kepompong, yang siap ditangkap, yang bisa dipajang sesaat dalam pigura, lalu setelah puas diamati ia bisa dilepas kembali. Terbang. Hilang di taman asmara entah milik siapa.

“Sebentar lagi. Beberapa langkah lagi. Beri dia waktu. Harus sabar.” Berulang-ulang Osken meyakinkan diri. Sebelum berangkat tidur, sepasang mata hijaunya memandangi foto-foto Laras yang ia simpan dalam folder berlabel “Cinta”, kata Indonesia pertama yang ia pelajari dari Laras.

***

“Ma, tadi Eyang Uti telpon. Kayaknya…, ummm…, suaranya nggak biasa. Kayaknya marah,” Mega lapor begitu Laras keluar dari kamar mandi.

“Pagi-pagi begini Eyang Uti marah? Emang ada apa?” Dengan handuk masih tersampir di pundak, Laras meraih telpon, memutar nomor rumah orang tuanya.

Telpon diangkat segera setelah deringan pertama. “Laras?” suara ibunya bernada kurang senang, bahkan tanpa mengucap salam.

“Assalamualaikum. Ini Laras, Bu. Ada apa, ya?”

“Apa yang kamu lakukan di Thailand dengan bule-bule itu?”

“Oh? Ibu?” Mata Laras terbelalak.

“Sofi barusan telpon. Katanya kamu mengumbar foto-fotomu dengan teman-teman bulemu di internet.”

“Oh? Sofi?”

“Ingat usia, Laras! Ingat anak-anakmu! Internet! Internet! Memalukan!”

“Oh? Tunggu dulu, Bu. Ini foto-foto apa ya?”

“Mana Ibu tahu.” meski masih tajam, nada suaranya merendah.

“Ibu jangan marah-marah dulu.” Suara Laras tersendat oleh isak yang tertahan. Ini perkara tiga buah foto yang tiga hari lalu dipasang di wall Facebook Mila. Sofi, sepupunya, salah satu teman maya Mila, pasti sudah melihat atau bahkan mengunduhnya sebelum Mila menghapusnya. Ibu dua anak yang suaminya sangat kaya itu dikenal suka usil dan gemar menghabiskan waktu untuk bergunjing. Laras heran kenapa tiba-tiba saja ibunya percaya pada omongannya.

“Itu cuma foto saya dengan teman, Bu. Ya, teman laki-laki, tapi tidak ada yang aneh. Tidak ada yang diumbar-umbar. Tidak seperti yang Ibu bayangkan. Saya punya foto itu juga kalau Ibu ingin melihat.” Bagi Laras tidak ada yang memalukan dengan foto-foto itu. Salah satunya ada pose Osken sedang memeluk pundak Laras sambil memandangnya dengan mesra. Sebuah foto close-up.

Di foto itu, tertangkap jelas wajah Osken yang tak menyembunyikan rasa kagumnya pada Laras, mengingatkan pada foto-foto pre-wedding yang menghiasi undangan perkawinan. Itu foto yang indah, yang seharusnya membuat orang tersenyum bahagia bila melihatnya.

“Ibu, laki-laki itu namanya Osken O’Shea. Orang Amerika. Sahabat saya.” Suara Laras pelan namun tegas. “Dia lajang, Bu. Bukan suami orang. Dia punya banyak teman di Indonesia. Dia menyukai saya. Kami saling suka.”

Hening. Laras bisa mendengar nafas sang ibu di seberang sana.

Di belakangnya, Mega tercenung, tak berkedip memandang punggung ibunya. Perempuan muda itu ikut merasa tegang. Sejak melihat foto ibunya dengan lelaki itu di wall Facebook Tante Mila, ia sudah menebak kalau lelaki itu pasti teman istimewa.

“Cakep, ya,” ujar Laras pada adiknya ketika mereka mengamati foto-foto itu.

“Tapi bule,” suara Angka datar, tanpa emosi.

“Memang kenapa kalau bule?” tukas Mega.

“Yaaa…, pasti beda agama…,” Angka ragu-ragu. “Kalau mereka menikah….”

“Ah! Belum tentu juga! Mama kan punya teman banyak. Nggak cuma bule. Jepang juga ada. Thai. China. Pilipino. Afrika. Banyak….” Mega berusaha bersikap bijaksana, mengajak adiknya tidak berpikir terlalu jauh.

“Tapi Mama nggak pernah foto kayak gini dengan yang lain.” Angka terdengar kurang suka.

“Siapa tahu? Mama mungkin nyimpan foto-fotonya yang kayak gitu. Kamu gitu juga kan? Mbak Mega juga gitu. Nggak semua fotoku boleh kamu lihat! Yee…!” Si kakak menjulurkan lidahnya. Angka tidak membalas canda kakaknya.

Firasat Angka benar. Kini Mega mendengar sendiri dari mulut ibunya, meskipun pengakuan ibunya itu ditujukan pada neneknya, bukan pada dirinya. Lelaki bernama Osken, si ganteng berambut perak itu, punya hubungan istimewa dengan sang mama.

Sesuatu yang asing dan tidak menyenangkan membelenggu tubuhnya, membuat mahasiswa semester lima itu tak bisa bergerak. Mama punya pacar, bisik hatinya. Mega menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya kuat-kuat lewat mulut hingga hembusannya terdengar oleh telinga ibunya.

Perempuan yang berdiri tegang di depan anaknya itu tampak kebingungan. Kepalanya menoleh ke belakang, matanya berpindah-pindah dari gagang telepon ke wajah anaknya. Sayup-sayup terdengar ibunya memanggil-manggil di ujung sana.

“Ya, Bu.” Suara Laras nyaris berbisik.

“Bapak dan Ibu mau bicara,” suara sang ibu sudah kembali normal, “kami tunggu hari ini juga. Usahakan sebelum maghrib. Ya?”

“Ya, Bu. Saya akan sowan sebelum makan siang.”

Laras merasa sangat tidak nyaman melihat anak sulungnya hanya berdiri saja, menatapnya tanpa bicara.

“Kamu sudah mendengar sendiri,” Laras mencoba membuka percakapan. “Ya, Osken mencintai Mama. Kamu tidak keberatan, kan?”

Mega masih diam, menunduk. Gadis itu tak berhasil menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

“Kalau kamu tidak keberatan, boleh Mama memelukmu, sayang?” Suara Laras bergetar. Ada tangis yang disembunyikan.

Mega mengangguk pelan. Ibu dan anak berpelukan.

*****

 

 

26 Comments to "Senja di Chao Phraya (12)"

  1. Lani  26 March, 2011 at 12:03

    ER : kutunggu japrimu yoooooooo

  2. Endah Raharjo  26 March, 2011 at 12:01

    @Anoew: wuahahahahahaa… kemampooo… wis suwe ora menek wit pelem dadi lali istilah kuwi
    @All: apa cerita ini saya pending 2-6 minggu ya… duuuuhhh…. saya nulisnya juga termehek-mehek @Lani: Ok! Just realized! Bener lemot saya ini ya

  3. Lani  25 March, 2011 at 22:59

    ER : kamu bs langsung japri……..tuh diliat ditiap komentarku mencungul email addressku……..ayoooooo kutunggu japrimu…….ben tambah asyikkkkkkkkk dan semangkin gemblunk………mmmmm, jd menilik dr respond mu km jg msh ada pikiran/berpikir spt pribadi LARAS???????? mendua? tp ngomong2 tinggal dimana????? ok kutunggu lewat japri……….biar cetho welo2…….aku free spirit………bebas merdekaaaaaaaaaa…….ada tpnya biar gemblunk tp bener2 org jejeg loooooooo……heheh gemblunk disini krn biar rame2 aja……..mmmmm

  4. Lani  25 March, 2011 at 22:55

    KANG ANU …komen 21, 22……..aku yo melu tingak-tinguk iki ngomong opo to kang????? bisakah diperjelas?????? ngakak aku……..

  5. anoew  25 March, 2011 at 17:39

    Lan, yg besoar ya pasti ukurannya lah.. Ukuran badan..

  6. anoew  25 March, 2011 at 17:19

    “perempuan matang yang terbelah” dijamin ambyaaaarrrr…

    Naaah.. Kang, kalau wis terbelah gitu kan tinggal dicucup, diputer trus dicelupin.. kayak makan biskuit oreo..

    Endah, biasanya yg matang itu enak, tapi lebih enak lagi kalau kemrampo..

    * iki jan’e opo tho? *

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.