Tetangga

Rosda

 

Berawal dari nonton tv di salah satu acara, aku heran,  bagaimana seorang ibu kok tega meninggalkan 5 orang anaknya selama 5 hari tanpa makanan dan minuman. Akhirnya tetanggalah yang menolong kelima anak-anak tersebut. Katanya dia pergi meninggalkan anak-anaknya untuk melihat suaminya yang sedang sakit di salah satu RS.

Berbagai pertanyaan muncul di benakku.

Kenapa perginya lama banget ?

Kenapa dia nggak menitipkan anak-anaknya pada tetangga ?

Apakah para tetangganya tidak peduli padanya ?

Kenapa kok bisa nggak peduli ?

Apakah karena mereka sama-sama miskin ?

Apakah begitu adanya masyarakat kota besar ?

Entah lah…

Aku jadi teringat sewaktu masih tinggal dengan orangtuaku. Dari ujung ke ujung, hampir semua saling kenal. Apalagi sama tetangga sebelah menyebelah rumah. Sudah kayak sodara aja layaknya. Hampir semua tetangga kami adalah perantau dari kampungnya masing-masing. Kebanyakan dari P. Jawa.

Kalau urusan titip menitip anak-anak, itu adalah soal biasa. Begitu juga dalam hal bagi membagi makanan. Kalau ada sanak famili datang dari kampung membawa oleh-oleh, pasti masing-masing akan membaginya ke tetangga walaupun hanya sedikit.

Tidak jarang, kalau di rumah kami lagi ada makanan yang pantas untuk dibagi dengan tetangga, mama pasti lah menyuruh kami untuk mengantarkannya sebagian kepada tetangga kami. Demikian juga mereka (para tetangga) terhadap kami. Bahkan terkadang, kalau lagi malas masak, mama dan tante sebelah rumah menitipkan bahan mentah agar salah satu di antara mereka memasaknya dan jika sudah masak, makanan itu akan diantar ke rumah si pemberi bahan mentah tsb. Tentu aja mereka bergantian melakukannya. Sangat akur bukan ???

Salah satu tetangga, karena kedua suami istri itu bekerja, menitipkan anak lelakinya yang masih TK tiap pulang sekolah ke rumah kami. Mereka sudah mengatakan hal itu jauh-jauh hari, jadi nggak perlu bilang lagi setiap hari. Anak tsb, pergi dan pulang ke sekolahnya dengan berjalan kaki. Karena sekolahnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami.

Dia pulang lebih awal dari kakak dan abangnya yang sudah duduk di bangku SD dan SMP. Nanti, setelah kakak dan abangnya pulang sekolah, mereka akan menjemput adiknya ke rumah kami, barulah mereka sama-sama pulang ke rumahnya. Mama mereka sudah menyediakan makanan sebelum berangkat kerja. Begitupun, sesekali, kami (aku, adik-adikku atau mamaku) melongok ke rumah mereka mana tau ada yang perlu dibantu selama orang tua mereka belum pulang kerja. Begitu terus-terusan setiap hari.

Dan, ketika mamaku akhirnya juga dapat pekerjaan, dua adikku (yang satu masih berusia 3 thn dan yang satunya lagi masih TK), dititipkan ke tetangga juga. Kami memanggilnya Wak Gawik. Wanita Ambon paruh baya itu, memperlakukan adik-adikku layaknya mengurus anaknya sendiri. Bagi kami, beliau adalah ibu angkat kami. Setelah suami Wak Gawik pensiun, mereka keluar dari asrama.

Aku dan adik-adikku juga dijagai sama tetangga jika mama dan papa pergi ke luar kota. Hanya saja aku dan adik-adik tetap tinggal di rumah kami sendiri, karena aku sudah cukup besar waktu itu. Kalau nggak salah aku sudah duduk di bangku SMP. Sebelum meninggalkan kami, mama akan bilang ke tetangga agar mereka melihat-lihat kami selama mama dan papa pergi. Dan tetangga yang dititipi pun akan bilang padaku : “Kalau ada apa-apa, bilang ama tante ya ??…”

Maklum, saat itu tidak ada telepon di rumah kami, apa lagi handphone, seperti sekarang.

Pernah terpikir olehku, di saat aku melewati rumah-rumah yang berjejer di pinggir jalan. Apakah semua penghuni rumah-rumah itu saling kenal dari ujung ke ujung sepanjang jalan itu ?? Hahaahaa….

Lhaa.. kalau panjang jalannya sampai 1000 KM, gimana mau mengenalnya satu persatu ??

Tapi, aku pernah dengar bahwa terkadang jika tetangga sebelah menyebelah rumah tidak akur, mereka akan saling jaga gengsi di tempat sampah. Lho ?? Kok bisa ??

Ya bisa lahh…mereka kan tinggalnya di kota besar, dimana rumah saling jejer-jejer. Tong sampah disediakan untuk tiap dua rumah tangga yang bersebelahan.

Nah…mereka saling membeli sesuatu yang lagi in, yang lagi ngetren, baik makanan atau apa saja. Kotak kemasannya akan dibuang di tong sampah tho ?? Di situlah mereka saling intip apa saja yang baru dibeli oleh tetangganya. Hihihihiiiii….lucu juga ya ??

Setelah berumah tangga, akupun tak pernah bermasalah dengan tetanggaku. Baik sewaktu kami masih tinggal di Indonesia maupun setelah kami tinggal di LN.

Pertama kali memijakkan kaki di bumi gurun pasir ini, tetangga kami terdiri dari: dua keluarga dari India, satu keluarga dari Jordan dan satu keluarga lagi dari Philipine. Sekeliling rumah kami berpagar tembok tinggi, seperti layaknya rumah-rumah lainnya di Qatar.

Syukurnya aku dapat tetangga yang baik. Mereka selalu membantuku. Mereka menjelaskan hal-hal tertentu yang sebelumnya belum kupahami. Kadang-kadang, kami ngobrol dan saling curhat karena kesepian di negeri yang menurut kami aneh, karena tak ada orang yang lalu lalang di sekitar lingkungan kami. Sepi bin sunyi. Sangat berbeda dengan suasana di negeri kami masing-masing.

Sampai sekarang, hubungan kami dengan mereka semua tetap terjaga, walaupun kami semua sudah tidak tinggal di tempat yang sama lagi.

Sebelum kami bubar, salah satu dari tetanggaku itu pulang ke India karena suaminya diberhentikan dari tempatnya bekerja. Ehh…beberapa bulan yang lalu tanpa sengaja kami bertemu lagi di salah satu pusat perbelanjaan. Rupanya, sang suami dipanggil lagi oleh perusahaan yang sama setelah mereka menetap di India selama 2 thn.

Tentu saja urusan bertetangga ini tergantung dari situasi dan kondisi suatu tempat. Lain padang, lain belalang.

 

40 Comments to "Tetangga"

  1. Handoko Widagdo  25 March, 2011 at 07:44

    Lani ngendikan: YA SPT PEPATAH: LAIN LADANG LAIN BELALANG, LAIN LUBUK LAIN IKANNYA……..gitulah

    Lain blok lain kenthirnya

  2. Dewi Aichi  25 March, 2011 at 05:51

    Rosda, apa yg kau tulis ini mirip dengan kehidupan masyarakat, dimana aku tumbuh dan melewatkan masa kanak- kanak. Malah bisa dibilang satu kampungku adalah satu trah( keturunan), semua sodara, nyaman banget tinggal dikampungku.

    Bu Gucan tau persis nih adat orang Sleman, apalagi mas Sumonggo he..he..

  3. Djoko Paisan  25 March, 2011 at 02:47

    Hallo Rosda…. HORAS….!!!!
    Bersyukurlah kalau ada yang mau dititipi anak…..
    Kalau di Mainz ya tidak mungkin nitipin anak ke tetangga.
    Kalau Baby, bisa dititiükan ke orang yang punya surat dari pemerintah yang diperkenankan
    mengasuh anak. Tapi ini tidak murah, sebulan bisa sekitar € 600 s/d € 1000,-
    Ada yang murah tapi bersama banyak anak-anak yang lainnya…. ( jadi tidak banyak diperhatikan )
    Nah ya, dinegara maju, dimana orang tua dua-duanya ngarit, jadi kalau ada anak ya harus dititpkan ke penitipan.
    Kalau di Indonesia banyak saudara yang bisa bantu….
    Salam manis dari Mainz….

  4. Lani  25 March, 2011 at 02:18

    ROSDA : dititipkan di DAY CARE……jelas bayar……..atau hire baby sitter…….ora murah, gak ada yg gratis……..semua bayar……pokok-e anak dibawah usia 15 gak boleh ditinggal sendirian………

  5. Kornelya  24 March, 2011 at 22:16

    Mu ammar, iya pada awalnya repot, lama-lama aku terbiasa. Di musim panas, kami sering adakan pot luck dengan tetangga dihalaman rumah. Biasanya aku sediakan main course mereka bawa apetizer & dessert., sekalian aku pamerin koleksi barang jualan baru. Hahaha. namanya juga inang-inang.

  6. Mu ammar  24 March, 2011 at 21:37

    tante Kornel : wah repot juga ya nek begitu.

  7. Kornelya  24 March, 2011 at 21:18

    Disini tetangga saling kenal tetapi tidak saling tergantung. Masalah menitip anak walaupun suka rela ada hukumnya. Misalnya seorang ibu hanya boleh mengasuh 2 anak selain anaknya sendiri, lebih dari itu harus ada certificate. Anak-anak tidak boleh main kerumah tetangga tanpa konfirmasi kedua orang tua, ribet banget. Sering anak-anak nyelonong sendiri minta ijin main basket atau perosotan dihalaman rumah kami, aku telp ortunya, suruh mereka datang untuk awasi, biar kalau ada yang keseleo tidak menjadi tanggung jawab kami. Hukum di US kadang aneh, tamu kecelakaan dirumah kita, kita yang harus tanggung jawab. Pencuri yang coba masuk dari genteng lalu terjerembab hingga patah tulang, tuan rumah harus menanggung ganti rugi. Salam dari emak-emak.

  8. Linda Cheang  24 March, 2011 at 20:20

    itulah romantikanya hidup bertetangga…. nikmati saja.

  9. Rosda  24 March, 2011 at 14:47

    @ Mawar,….memang enak kalau dapat tetangga seperti itu. Disini juga kayaknya hal yang seperti itu masih berlaku……….kalau ada teman yang pulkam, naik haji atau umroh,…… mereka juga titip kunci rumah ke teman nya………dan biasanya, si teman yang dititipi rumah, akan membersihkan rumah temannya, menyiapkan makanan sebelum si pemilik rumah pulang………karena masing2 menyadari, betapa capeknya sehabis pulang haji atau umroh…….apalagi kalau pulkam.

    @ Mbak Lani, jadi anak-anak yang mau ditinggal itu dititipkan dimana ??

  10. Rosda  24 March, 2011 at 14:31

    @ Raras,…..jadi belum pernah lihat senyum nya tetangga lama itu kah ??…..jangan-jangan dia ompung….makanya nggak pernah senyum…….hahahahahaa
    Ya udah lahh……lupakan kejadian yang tak meng-enak kan itu……apalagi sekarang kan udah punya tetangga yang baik……..semoga semakin betah……

    @ Mas Pampam,…..beruntung bangeeeet………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.