Bune Menjemput Maut (3 – tamat)

Tantripranash

 

Siang itu Saminem terlihat uring-uringan. Entah apa yang menyebabkan ia kesal. Aku mengamati diam-diam sambil berjongkok di dekatnya. Telunjuknya menusuk-nusuk lubang undur-undur dengan kasar. Kakinya menyepak-nyepak pasir di sekitarnya hingga debunya beterbangan.

Saminem mulai bergumam. Awalnya gumaman yang tak jelas, “Wedus asu … wedus asu (si kambing anjing) …”

Diucapkannya kata-kata itu berulang-ulang. Aku terkesiap, Saminem bicara setelah begitu lama selalu diam. “Wedus asu … wedus asu …” Lama-lama makin keras, tubuhnya mulai bergoyang-goyang.

Lasmi ora gelem dikeloni karo wedus … wedus asu … asuuuu ….. (Lasmi tak mau ditiduri si kambing … kambing anjing … anjing …).” Ternyata mata Saminem terpejam sambil terus bicara sendiri.

“Lasmi, Lasmi ….Lasmi matiiii … huhuhuuu …” Ia mulai menangis gerung-gerung tetap dengan mata terpejam. Tangannya mendekap di dada sambil memanggil-manggil nama Lasmi, nama ibuku. Air mata dan ingusnya bercampur di wajahnya yang berdebu.

Pada diri Lik Wan aku mencoba tambatkan tanyaku. Meski tak terlalu cerdas, ia satu-satunya saudara kandung Bune. Tak tahu harus memulai dari mana. Senja itu aku duduk di samping Lik Wan yang tengah meraut bambu di depan kandang ayam cemani. Tangannya yang hitam dengan urat menonjol bergerak lincah bersama pisau lipatnya.

“Lik, ceritakan aku masa kecil mendiang Bune.” Suaraku tersendat.

Lik Wan mengangkat wajahnya, nampak kaget karena baru kali ini aku membahas Bune sejak kejadian mengerikan itu.

Ndak tahu banyak aku, Ji … aku dan ibumu terpisah waktu kecil. Sejak kecil kami yatim piatu. Aku dirawat Mbokde dan Bunemu dirawat Nyi lurah.”

Lik Wan terdiam dan aku menunggu dengan sabar kelanjutannya. Mungkin ia terbawa kenangan bersama Bune.

“Ibumu sebenarnya tidak betah di sana tapi tak punya pilihan. Akhirnya mau minggat. Untung di usia belasan bapakmu keburu melamar.” Lik wan terdiam lagi.

Aku tahu kami sama-sama enggan membahas sebab kematian Bune. “Kenapa mau minggat?” tanyaku memecah kesunyian.

Lik Wan menatap jauh ke arah lain sambil menghela nafas, “Putranya Nyi lurah itu nakal.” gumamnya. “Kelihatannya ada minat sama ibumu, tapi siapa yang tidak takut punya suami begundal?”

“Memangnya dia rampok?” tanyaku bingung.

Lik Wan menggeleng, pisaunya kini terlipat, “Kelakuannya jelek. Hampir semua gadis desa dipacari. Banyak yang kecewa, mungkin karena sudah terlanjur dirampas mahkotanya.”

Sebelumnya tak pernah kudengar sedikitpun kisah masa kecil Bune. Bune seperti tak ingin membagi kesedihannya bersamaku, putra tunggalnya. Kupikir masa kecilnya ceria seperti anak-anak desa lainnya, tiada hari tanpa bermain atau berenang di saluran irigasi.

“Putranya Nyi lurah itu siapa? Kok aku ndak pernah tau sih …” tanyaku pelan.

Lik Wan kembali meraut bambu. Kali ini ia terlihat malas melanjutkan, “Geno, sudah lama ia pindah ke kampung sebelah.”

Jawaban terakhir Lik Wan seperti hantaman petir di kepalaku. Potongan-potongan gambar kejadian seperti bergerak sangat cepat. Saking cepatnya seperti campuran cahaya mencorong warna-warni di dalam kegelapan alam pikirku. Beberapa detik mataku terpejam menahan sakit yang berdenyut-denyut di kepala ini. Kemudian aku pergi begitu saja meninggalkan Lik Wan tanpa berkata-kata.

Siapa yang tak kenal dia, Geno, lelaki beristri dua, bekas bandar kambing di kampung sebelah. Wedus, nama yang selama ini asing di telingaku tiba-tiba punya makna. Hanya dia yang mungkin dipanggil wedus oleh seorang perempuan tak waras yang seusia Buneku.

Kususuri pematang sawah sambil berlari liar. Darahku bergolak, nadiku berdetak keras. Hari sudah gelap tapi sinar bulan menerangi jalan. Keringat di kening menetes deras hingga pandanganku mulai menjadi kabur. Aku sudah sangat lelah tetapi tubuh ini menolak untuk berhenti. Gerakan daun-daun tembakau yang ditiup angin seperti penonton yang bertepuk tangan.

Kepalaku dilanda sakit yang maha hebat. Semakin paham aku dengan celotehan Saminem. Jadi Geno terus memaksakan nafsu syahwatnya pada Bune. Bisa saja itu terjadi saat Pak’e pergi ke luar kampung untuk membeli bibit Albasia. Tentu saja Bune menolak meskipun ada hutang budi yang tak pernah terbayarkan pada orang tua Geno.

Tidak jelas dimana Saminem pernah tak sengaja menyaksikan pemaksaan itu. Ia memang selalu muncul di tempat yang tidak terduga. Beberapa kali aku memergoki Saminem berkeliaran di halaman belakang. Dulu Bune biasa memanggilnya ke dapur dan memberinya sepiring nasi. Bagaimanapun juga Saminem adalah kawan sepermainan Bune di waktu kecil. Detik ini kuyakin Geno juga yang merengut kewarasan Saminem.

Bune tak kuat memendam semuanya, sedih, marah dan merasa kotor di hadapan Pak’e yang begitu baik dan alim. Merasa hina dina di hadapan lelaki yang sungguh mencintainya dan telah menyelamatkannya dari sang angkara di masa lalu. Mungkin Bune kira kisah kotor itu akan mempengaruhi pertumbuhanku jika terbuka. Bune tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan di hari itu Bune memutuskan mengakhiri penderitaannya. Bune menjemput maut.

Di muka pintu rumah Geno aku berhenti,  mengumpulkan semua amarah dan caci maki yang menggumpal-gumpal. Rumah Geno sangat lengang. Kursi-kursi dikeluarkan dari ruang tamu, tumpeng kecil di pojok ruangan dan tumpukan kitab Yassin di ujung tikar yang terhampar kosong. Seketika mulutku terkunci.

****

Berlutut aku di pusara Bune dengan air mata deras menganak sungai. Kali ini aku menangis Bune, maafkan aku. Geno mati ditikam orang di pasar tiga hari lalu.  Itu terjadi sebelum aku menyadari semua yang telah menimpamu. Jangan khawatir Bune, kubalaskan sakit hatimu dan dendamku pada Geno setiap malam. Tiap malam kubuat ia berdarah-darah, kutikam ia berulang-ulang dengan belati di dunia mimpiku.

TAMAT

 

12 Comments to "Bune Menjemput Maut (3 – tamat)"

  1. tantri  31 March, 2011 at 10:10

    @ Dear All (Pak Handoko, Sumonggo, Mbak Linda, Mas JC, [email protected], Linda, Pak DJ, Imeii, Pak Iwan, Kornelya, Dewi Aichi) : Intinya bunuh diri bukan berarti selesai … selalu ada korban lain, yaitu orang2 terdekat yg ditinggalkan. Terimakasih semua sdh membaca. Maaf baru balas krn bbrp hari ini terkapar krn flu berat

  2. Dewi Aichi  26 March, 2011 at 07:05

    aduh mba Tantri…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.