“Cukup Jelas”…hhhmm… petunjuk yang eye catchy sekali…

Octavero

 

Duduk santai dan menikmati tarian jemari di atas keypad laptop kesayangan sambil sesekali menyeruput coklat panas dengan kebul kebul uapnya yang khas, plus digodain sedikit distorsi gonggongan dari si anjing item yang dirantai di depan kamar gara-gara ada tamu yang datang, meskipun suaranya rada-rada nganyelke (menjengkelkan) tapi untungnya ditutup dengan ekspresi wajah yang tampak tidak merasa bersalah dan memang tidak bersalah ditambah dengan gerakan igak iguk perut dan pantatnya malah bikin saya tertawa ngakak sendirian, malam-malam pula, tapi tetap fokus sekaligus memanfaatkan insomnia malam ini.

Hmm… paragraf pengantar yang mbulet dan harap maklum karena penulis juga menyadari kevakuman yang dirasa sudah terlalu lama hingga membuat tata kalimatnya terasa es te de serta cuaca akhir-akhir ini yang juga terlalu variatif, meskipun tidak berhubungan secara overall tapi banyak mempengaruhi mood penulis dalam menulis tapi anehnya malah menaikkan mood penulis untuk bercinta.. halah… wkwkwk.

Tulisan ini pada intinya “menggagas buku petunjuk pengisian SPT”, dan ide untuk menuliskan ini muncul ketika melihat bulik sedang kebingungan mengisi SPT pribadi untuk pertama kalinya, jadi tidak fokus pada “apa kata dunia!”- yang biasa didengung-dengungkan sama om Dedy Mizwar di tv. Berhubung saya sendiri juga belum pernah mengurus pajak sendirian (biasa diuruskan perusahaan tempat saya bekerja), maka saya juga jadi ingin tahu. Akhirnya saya baca juga buku petunjuk pengisian SPT. Saya baca lagi dan saya baca lagi.

Sebagai informasi, bulik bukan karyawan suatu perusahaan maupun institusi, bukan pula pegawai negeri, gelar sarjana saja belum selesai diraih. Penghasilan yang sifatnya non-rutin diperoleh dari nge-les-i (memberi les privat) pelajar-pelajar sekolah dasar, melatih olah vokal, menjadi juri dalam suatu kompetisi baca puisi mupun peristiwa budaya lainnya, plus PeYe (mendapat honor yang cukup besar) dari manggung di banyak tempat, mengingat dia merupakan pemain inti di suatu teater yang mengusung budaya Jawa serta mempergunakan bahasa Jawa dalam tiap pertunjukannya.

Jam terbangnya cukup tinggi dan meskipun saat ini diakui teaternya berkelas, tetapi juga tidak pernah menolak untuk manggung untuk sekedar mengisi hiburan di acara-acara semacam nikahan, acara tujuhbelasan, sunatan, dsb. Pengisian SPT ini dia lakukan juga karena terpaksa mengikuti instruksi pemerintah dan karena om Dedy Mizwar yang cukup lumayan menawan, sekedar untuk melengkapi berkas serta syarat untuk pergi ke luar negeri karena saat ini belum punya NPWP. Selidik demi selidik, ternyata bulik mau tour keliling Eropa dan katanya akan dimulai dari Irlandia dengan mengusung jenis pertunjukan yang lain dan bersama dengan komunitas budaya yang lain pula dengan durasi sekitar 30 hari efektif.

Karena kami berdua juga belum pernah memiliki pengalaman mengisi SPT sendiri maka terjadilah acara mempelajari buku petunjuk pengisian SPT.

No. 1 … cukup jelas

No. 2 … cukup jelas

No. 3 … di isi dengan  bla bla bla…

Saya baca buku itu berulang-ulang dan saya pastikan tidak ada yang terlewat, tapi meskipun saya baca sampai seratus kalipun tidak menjawab pertanyaan “yang diisi di no . 1  dan no. 2 itu apa ya?” . kemudian sampai pada pertanyaan yang intinya … no. sekian diisi dengan angka yang diperoleh dengan mengalikan angka di no.1 dengan sekian persen….. buku itu juga tidak menjawab pertanyaan “persen ini yang menentukan siapa? Dapat dari mana?”… alhasil bulik mendatangi lagi kantor pajak dengan membawa senjata berkas-berkas yang lebih dari kumplit dengan harapan agar tidak perlu bolak balik ke kantor pajak lagi gara-gara bingung mengisikan angka di kolom kolom form SPT. Menjengkelkan bukan?.

Sepulang dari kantor pajak, bulik cerita panjang lebar, yang diantaranya “untung mas e sing ngladeni iki mau gelem ngandhani tur gelem nge-kek-i penjelasan panjang lebar, lha wong mas e sing wingi ngladeni ki jia….nn tenann marai mangkel, wong ditakoni og jawaban e kon goleki ning buku panduan, wong buku panduan e we jebul yo ra kumplit nuu…” (“untung saja mas nya yang ngeladenin tadi mau ngasih tau dan kasi penjelasan panjang lebar, lha wong masnya yang kemarin ngeladenin tuh.. jia…nn tenann bikin jengkel, wong ditanya kok jawabannya disuruh nyari di buku panduan, wong buku panduannya aja ternyata juga ga kumplit gitu..”- mohon maaf bila beberapa kata tidak mampu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penulis.. hehehe).

Kata bulik, itu saja bulik musti harus tanya satu satu poin demi poin sama masnya yang melayani, dan ternyata masnya sendiri juga ketika ditanya “persen itu dapatnya dari mana mas? Saya isi acak, apa ada aturannya?” jawabannya “bentar ya mbak saya tanya dulu” wkwkwk…halah…halah….. dan itu terjadi di kantor pajak kota tempat saya tinggal.

Mungkin si penyusun buku panduan itu menganggap bahwa semua orang yang mengisi SPT adalah orang orang terpelajar yang sudah mengetahui maksud si penyusun buku, tapi bila dilihat kenyataannya, saya yang notabene belajar melalui wajib belajar sembilan tahun, lanjut SLTA dan lulus sarjana pun tetap tidak menemukan solusi untuk mengisi kolom-kolom di form SPT.

Artinya perlu adanya pembenahan yang di antaranya dengan cara merevisi buku panduan dengan bahasa serta kalimat yang sekiranya lebih mudah dimengerti oleh orang awam. Saya menemukan beberapa hal yang perlu digaris bawahi. Mungkin bagi mereka yang bekerja serta memiliki penghasilan bulanan yang rutin, lebih mudah dalam mengisi SPT, tapi bagi mereka yang tidak memiliki penghasilan bulanan yang rutin seperti contoh kasus bulik saya tadi, menjadi kurang bisa dipahami dengan mudah.

Bagaimana menentukan angka yang harus dituliskan di no.1, no.2 dsb? Mengingat penghasilan yang diperoleh bulik tidak sama tiap bulannya, yang bila dirata-rata pun menurut saya juga kurang pas untuk diisikan dikarenakan selisih angka penghasilan tiap tiap bulannya bisa mencapai 200 persen. Dan apakah petunjuk “cukup jelas” juga sudah mewakili petunjuk cara pengisiannya? Yang pada kenyataannya bulik harus mendatangi kantor pajak lagi untuk bertanya pada petugas yang “kebetulan” mau memberi penjelasan panjang lebar.

Dan menurut saya lagi, seyogyanya yang namanya “petunjuk” itu harusnya benar-benar menerangkan dengan detail tiap kolom kosong yang bakal diisi oleh personal yang berkepentingan, meskipun informasi petunjuk itu dianggap sudah diketahui oleh masyarakat luas. Buktinya, saya saja tidak bisa mengisi meskipun sudah membaca buku petunjuk itu berkali-kali, mau dibaca sampe bukunya sobek pun juga ga bakalan tau. Terlebih lebih mengingat bahwa masyarakat terbentuk dari warga-warga yang memiliki pekerjaan dan aktivitas beragam, tingkat pendidikan yang beragam serta cara memperoleh penghasilan yang beragam pula.

Saya sebagai pribadi tidak begitu setuju dengan penggunaan kalimat “cukup jelas” dalam suatu petunjuk, bukankah lebih baik bila malas mengetikkan atau membuat rangkaian kata, kan juga bisa digantikan dengan “lihat bab …”, “lihat hal. …”, “lihat undang undang … pasal …” atau alternatif kalimat lainnya agar petunjuk bisa berfungsi sebagaimana mestinya, mengingat sekarang sudah bukan jamannya mesin ketik, semua bisa terselesaikan dengan metode copy-paste (meminjam istilah yang beredar di kalangan pelajar).

Soalnya bila kasus semacam ini terjadi seperti yang dialami bulik di atas, mustinya “cukup jelas” diganti dengan “tanya pada petugas yang berwenang”. Karena ketika pertama kali datang ke kantor pajak untuk mencari tahu hal ihwal pengisian SPT, petugasnya pasti bilang “tata cara pengisiannya bisa dilakukan di rumah dan bisa dilihat di buku panduan pengisian ini mbak/pak/bu/om/tante” (sambil menyerahkan dan menunjuk pada buku petunjuk) dan sehari sesudah dibaca, si pengisi SPT harus datang lagi ke kantor pajak dan mencari petugas yang berwenang lagi agar buku petunjuk benar benar berfungsi sebagaimana mestinya. Wkwkwk…. Lucu bukan?

Dan tahukah anda? setelah bulik melancarkan pertanyaan pada petugas yang berwenang itu, si petugas juga mencari tahu dulu pada rekannya yang mana rekannya itu juga harus mencari dulu di suatu buku dan didapat jawabannya adalah …”ooo gini mbak, angka itu didapat dari pengalian angka no. sekian dengan persen sekian, nah… persen ini didapat dari buku ini pasal sekian…” yang mana buku yang dimaksud itu tidak pernah dijelaskan oleh petugas di pertemuan sebelumnya.

Benar-benar suatu proses muter-muter yang sangat jelas dan benar-benar lucu. Lantas apa maksud dari diterbitkannya buku petunjuk pengisian SPT itu?. Dari situ muncul argumen mengenai korelasinya dengan anjuran pemerintah yang sifatnya logis dan realistis. “Gimana mo ngikutin om Dedy Mizwar, kalo ngisi SPT nya aja kita ga tau caranya.”

Hal-hal yang sebenarnya sepele tetapi menghasilkan statement “informasi yang tidak informatif” alangkah baiknya bila mari kita (pemerintah dan masyarakat) cari yang terbaik untuk kepentingan bersama demi tercapainya tujuan “informasi yang informatif”, sehingga masing masing tidak perlu direpotkan dan dirugikan. Mestinya para pembaca juga senada dengan saya bukan?

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 tampaknya tante insomnia juga sudah mulai letih membakar batu bara di kepala saya, si anjing juga sudah beralih untuk melanjutkan gonggongannya dalam dunia pulau kapuk, coklat panas sudah tinggal ampas dan dingin gelasnya mampu membuat tangan saya merinding, sepertinya sudah waktunya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pihak pihak yang tersinggung dengan tulisan ini, toh semua masih berada dalam koridor demokrasi demi kebaikan bersama.

 

Untuk hari esok yang lebih baik.

Salam

Solo, 18 maret 2011

03.05

 

 

32 Comments to "“Cukup Jelas”…hhhmm… petunjuk yang eye catchy sekali…"

  1. Lani  27 March, 2011 at 14:15

    OCTAVERO : to jc, anoew, lani… kok yang digagas malah korelasi antara pajak dan mood bercinta too..? kok ga hawa dingin dan mood bercinta aja…? kan lebih menarik.. wkwkwk
    wis jiannn tenannn… selama masih berhub dengan ke saru an kok kayaknya tetep rame ya… hehehe…
    ==================

    mohon di persori……..ya ginilah penggagasan org2 sudrun disini……hehehe…..sll sj gak pernah serius…….pasti sll dibelokkan………diplesetkan……..kearah mana saja yg bs pas………ato di-pas2kan hahahah……….hawa dingin????? la ku gak pernah merasakan hawa dingin……..hehehe…….yg disini hawa fanasssssssss saja msh dihubungkan dgn cinta tuh tanya kang Anuuuuuuuu…….wakakak……mmg yg pas bercinta+hawa dingin kkkkk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.