Time for Indonesia

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

ENTAH sengaja atau tidak, majalah TEMPO dan majalah TIME berulang tahun di bulan yang sama, awal bulan Maret. Hanya berbeda rentang waktu saja. TEMPO lahir pada 1971 dan TIME pada 1923, saat semua orang yang mendirikan TEMPO belum lahir ke dunia.

Tahun ini, tepatnya 3 Maret 2011,  TIME berulang tahun ke 88 dan TEMPO juga genap 40 tahun. Artinya, dua  majalah ternama itu beda usia 48 tahun. Pernah memang TIME menggugat TEMPO waktu terbit pertama kali, hanya karena alasan banyak kemiripan meniru. Dari nama majalah saja sudah sama artinya. Bahkan visual halaman depan pun TEMPO “meniru” TIME dengan bingkai merah dan juga tulisan berwarna merah, seperti yang digunakan TIME. Akhir cerita gugatan TIME kepada TEMPO tidak ada kelanjutannya sampai kini.

Tulisan ini tidak ingin mengulas sejarah majalah TIME. Hanya sekedar catatan kecil saya yang mengenal majalah internasional itu sejak saya kecil. Mungkin banyak orang Indonesia yang sudah mengenal majalah tersebut jauh lebih lama dari saya, dengan cara membaca atau berlangganan.

Hanya karena ayah seorang wartawan, saya memiliki tumpukan majalah tersebut di rak buku ayah saya, ketika saya masih belum sekolah. Entah edisi tahun berapa, saya tak tahu. Saya hanya ingat, majalah tersebut sangat tebal tapi tipis, karena dicetak di kertas yang tipis namun tidak blobor (tembus). Sebuah teknis sangat modern untuk teknik grafika saat itu bahkan sekarang.

Mungkin saya belum mengerti isi berita, saya hanya senang melihat gambar-gambarnya saja, seperti iklannya yang cantik dan berwarna, juga wajah tokoh-tokoh dunia. Sampai kini visual tersebut melekat diingatan saya, meski tumpukan majalah TIME koleksi ayah saya, tidak ada lagi, karena ditukar rokok oleh kakak saya setelah ayah saya wafat tahun 1972. Dan saya yang membawanya secara bertahap waktu kecil ke warung dekat rumah, hingga koleksi tersebut ludes habis. “Wan, tukerin Sam Soe tiga batang”, perintah kakak saya setiap mulutnya asem karena tak punya uang semasih sekolah.

Anehnya, ketika kakak saya beranjak dewasa, justru dia yang melanjutkan berlangganan TIME antara 1977-1980 dan dilanjutkan oleh sepupu saya yang tinggal serumah 1981-85 dan akhirnya saya pun berlangganan majalah tersebut atas nama saya, ketika saya sudah punya penghasilan sendiri, dari 1992 hingga 2007.

Beruntung saya dan juga pembaca TIME di seluruh dunia, bisa mendapatkan berita apapun dalam majalah itu sejak terbit pertama kali, 3 Maret 1923, dengan sampul depan bergambar “Paman Joe”, Joseph G. Cannon, Ketua DPR AS saat itu, hingga terbitan terbitan terbaru, melalui berita time.com dengan gratis (kecuali foto).

 

TIME for future

Mungkin terdengar basi bagi banyak orang, kalau saya menyebut TIME adalah media cetak yang paling awet dan paling jeli merekam perjalanan waktu bangsa Amerika dan dunia. “The world’s outstanding journarlistic venture to date”, komentar William Hearst, musuh bebuyutan TIME. Hampir semua orang mengakui hal yang sama, meski ada kekurangan dan obyektifitas yang luput dan sering digugat oleh pembacanya.

Hearts adalah raja media AS kaya raya yang kelompoknya di Indonesia menerbitkan berbagai majalah, seperti Cosmopolitan, oleh kelompok MRA Group. Hearst juga kakek dari Patty Hearst, wanita kaya kurang kasih sayang yang menggegerkan dunia tahun 1977, karena bergabung dengan kelompok perjuangan bersenjata dan sempat melakukan aktifitas merampok bank.

Sering sekali TIME menerima pujian juga kritikan dari pembacanya, baik masalah obyektifitas, akurasi atau penulisan dalam pemberitaannya. Orang-orang ternama dunia, pernah menulis surat pembaca pada kolom “Letters to the Editors”. Misalnya surat pembaca Gubernur California Ronald Reagan (21 Juli 1967), aktor Humphrey Bogart (8 Nov 1948), pelukis Salvador Dali (18 Jan 1943), penulis Orson Welles (6 Mar 1944), Raja Kamboja Pangeran Norodom Sihanouk (21 Mei 1965) yang mencela berita TIME tentang dirinya.

Paling aneh adalah surat pembaca berisi koreksi penyanyi terkenal Afrika, Miriam Makeba (29 Feb 1960). Miriam yang disayangi Nelson Mandela, membetulkan sebutan namanya yang ditulis TIME, yang seharusnya ditulis: Zenzile Makeba Qgwashu Nguvama Yiketheli Nxgowa Bantana Bolomzi Xa Ufun Ubajabulisa Ubaphekeli Mbiza Yotshawala Sithi Xa Saku Qgiba Ukutja Sithathe Izitsha Sizi Khabe Singama Lawu Singama Qgwashu Singama Nqamla Nqgithi.

Satu hal menarik dari TIME bukan hanya kualitas beritanya, tetapi visual dan fotonya yang monumental. Seperti memiliki kepekaan jurnalistik amat tajam. Siapapun yang masuk dalam sampul depannya, pasti akan menjadi orang terkenal di kemudian hari. TIME bagaikan roket yang membawa ketenaran seseorang, seperti penyanyi yang muncul  di acara TV terkenal “The Ed Sullivan Show”, yang sama artinya “siapa Anda di kemudian hari”.

Pada tahun 1929, sebagai contoh, TIME meletakkan foto anak perempuan mungil yang baru berumur 3 tahun (lahir 21 April 1926) di halaman depan TIME edisi 29 April 1929. Nama kecil anak itu, Lilybet. TIME melihat putri cilik ini akan menjadi ratu Inggris di masa datang. Padahal saat itu Inggris dipimpin Raja George V (kakek Lilibeth), yang jika dia mati pun akan digantikan oleh putra tertuanya yang belum menikah (kelak menjadi Raja Edward VIII).

Nah, kalau Edward VIII nanti mati, dia pasti digantikan anaknya dan keturunannya (meski ternyata dia tak memiliki anak). Jadi tak mungkin atau sangat kecil kemungkinannya tahta kerajaan Inggris akan jatuh ke tangan bocah mungil bernama Lilybet yang berusia 3 tahun saat itu. Apalagi bocah itu bukan anak atau cucu raja.

Akhirnya kita tahu, yang menjadi raja Inggris adalah Edward VIII pada 1936, meski hanya bertahta 325 hari. Dia lalu lengser karena kawin dengan seorang janda pada tahun yang sama dan digantikan adiknya, yaitu Albert (kemudian menjadi Raja George VI, ayah si Lilybet). Dan ternyata TIME benar, Lilybet pun menjadi ratu Inggris pada 1952 menggantikan ayahnya, yang menderita gagap dalam film terbaik Academy Award 2011, ‘The King’s of Speech’.

Bukan hanya Lilybet yang diorbitkan TIME akan menjadi tokoh terkenal di kemudian hari. Ada Hirohito (9 Nov 1928), Pendeta Billy Graham (25 Okt 1954), Putri Michiko (23 Mar 1959), Muhammad Ali (22 Mar 1963), Ronald Reagan (7 Okt 1967), Yasser Arafat (13 Des 1968), Sesame Street (23 Nov 1970), Jimmy Carter (31 Mei 1971), Ibu Teresa (29 Des 1975), Luciano Pavarotti (24 Sep 1979), Brook Shields (9 Feb 1981) atau Pokemon (22 Nov 1999). Mereka saat muncul di sampul depan TIME belum terkenal sama sekali dan kita tahu menjadi apa sosok mereka setelah itu.

Majalah ini juga memberikan julukan Man of The Year, kemudian menjadi Person of the Year, yang menjadi tradisi tahunan sejak 1927 (Charles Lindbergh sebagai Man of the Year pertama). Siapa Person of the Year versi majalah TIME, menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu dunia jurnalistik sekaligus jadi bahan berita yang wajib diumumkan oleh media di seluruh dunia. Anda dan juga saya pernah menjadi Person of the Year TIME pada 2006, yaitu You sebagai tokoh terkenal sepanjang 2006.

 

Bad TIME for Indonesia

Selama 88 tahun usianya, TIME juga menerbitkan edisi Asia lebih 60 tahun silam. Untuk edisi Asia ini, Jepang yang paling banyak menempatkan berita keberhasilan dalam TIME sebagai perannya raksasa ekonomi dunia. Menyusul Cina, yang dari dulu sudah banyak menghias TIME dengan ketakutan bahaya komunisnya, dan kini dengan keberhasilan sebagai negara raksasa di jagat. Lalu bagaimana Indonesia?

Sejak terbit 1923, Indonesia hanya menghiasi berita TIME dengan kekacauan, perseteruan, peperangan, bencana atau kemiskinan dalam edisi internasional. Itu pun hanya 3 kali tokoh Indonesia yang menghiasi sampul depannya dalam edisi internasional. Soekarno (1949 dan 1958) dan Suharto (1966). Artinya sampul depan itu dilihat oleh pembaca sejagat.

Pada edisi Asia, banyak sekali TIME menampilkan pemimpin Indonesia dalam gambar halaman depannya. Bahkan pada edisi Asian Heroes, Iwan Fals (29 Apr 2002)) dan Christine Hakim (23 Apr 2003) pernah muncul di halaman depan. Meski hampir setiap tahun pemilihan Asian Heroes ada orang Indonesia yang terpilih tapi tak tampil di wajah depan.

Seperti sudah “tradisi”, TIME selalu menampilkan pemimpin Indonesia di halaman depan pada saat pergantian kekuasaan. Misalnya Soekarno (231949 Des ), Suharto (5 Juni 1966), Habibie (1 Juni 1998), Wahid (1 Nov 1999) dan Megawati (6 Agt 2001)). Dari semua presiden, hanya Suharto paling banyak muncul di halaman depan dalam edisi Asia dengan angle foto yang unik dan bercerita banyak. Terutama pada saat jelang akhir kekuasaannya.

Pada edisi 24 Mei 1999 bergambar Suharto, TIME menelanjangi bisnis keluarganya dari uang haram selama berkuasa di Indonesia. Visual ini melahirkan tuntutan hukum dari pihak keluarganya yang berbuntut pertikaian panjang di pengadilan. Meski TIME pernah menampilkan berita positif tentang kepemimpinannya dengan sampul depan bergambar dirinya pada 1987.

Meskipun tak mudah tampil dalam berita majalah TIME, apalagi muncul sampul depannya sebagai Person of the Year, TIME berbaik hati kepada siapapun bisa muncul di halaman depan majalah paling bergengsi di dunia melalui akunnya di Facebook akhir tahun lalu. Sejak didirikan oleh Henry Luce dan Britton Hadden tepat 88 tahun silam, TIME memang untuk “To See and Know Everything”, tulis editorialnya. Anak saya pun “pernah” menghiasi majalah TIME sebagai ‘Person of the Year‘. (*)

 

109 Comments to "Time for Indonesia"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  4 March, 2013 at 19:33

    HAPPY BIRTHDAY MIRIAM MAKEBA IN MARCH 4.

    Zenzile Makeba Qgwashu Nguvama Yiketheli Nxgowa Bantana Bolomzi Xa Ufun Ubajabulisa Ubaphekeli Mbiza Yotshawala Sithi Xa Saku Qgiba Ukutja Sithathe Izitsha Sizi Khabe Singama Lawu Singama Qgwashu Singama Nqamla Nqgithi.

  2. juwandi ahmad  4 March, 2013 at 00:53

    ha ha ha…….cerita wayang…..politik para sengkuni……

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  4 March, 2013 at 00:29

    Kelahiran tak dikehendaki kok mirip Cerita wayang?

  4. Dewi Aichi  4 March, 2013 at 00:24

    foto terakhir itu mirip fotoku waktu masih TK….

  5. Dewi Aichi  4 March, 2013 at 00:24

    Tapi ternyata kebalikan, orang orang dari desa Koplak, kauh dari ciri-ciri koplak, semuanya normal normal saja

    wooooooooo..mas Juwandi, kelahirannya tidak dikehendaki ha ha ha ha….

  6. juwandi ahmad  4 March, 2013 at 00:22

    KUWI DEWI PAO namanya………pemenang koplak idol

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  4 March, 2013 at 00:17

    Komen Koplak. Iya kan? Jadi inget seseorang yg pernah ke Desa Koplak.

  8. juwandi ahmad  4 March, 2013 at 00:13

    ha ha ha ha…aku kan anak yang tidak dikehandaki kelahirannya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.