Belalang-belalang di Tengah Padang (2)

Cinde Laras

 

Pak Mu’nim duduk di beranda dengan secangkir kopi panas di tangan kanannya. Diseruputnya pelan-pelan kopi itu, rasa manis nikmat segera terkecap di lidahnya yang seketika terasa hangat. Di sampingnya duduk Rustam, pemuda berusia 16 tahun yang terlahir dari rahim istrinya sebagai anak kedua. Ada tiga jejaka yang diamanahkan Tuhan padanya. Dan yang sulung kini sudah bekerja di kota, semalam perjalanan dengan sepeda jauhnya dari desa ini.

“Rustam rasanya belum siap, Bah…”, celetuk Rustam tiba-tiba. Pak Mu’nim menoleh gusar.

“Apanya belum siap ? Kamu sudah cukup besar untuk kawin ! Abah dulu kawin dengan emakmu saat Abah berumur 16. Seumurmu sekarang…. Kamu sudah bekerja, dan kamu sudah lulus sekolah. Lalu apa lagi ?”, tanya Pak Mu’nim.

“Rustam masih ingin sekolah tinggi, Bah. Rustam kerja supaya bisa sekolah lagi, Bah…”, jawabnya getir.

“Kamu masih bisa sekolah lagi sekalipun kamu sudah menikah. Ambil kejar paket C di kelurahan, kamu pasti bisa lulus…”, kata Pak Mu’nim. Di kampung ini, melawan orangtua adalah hal paling dibenci. Rustam menyadari hal itu. Maka dia tak berani lebih jauh beralasan.

Rustam menunduk menekuri lantai semen yang ada di bawah kakinya. Ponidi sudah menikah bulan lalu, Kaspari juga akan menikah bulan depan. Keduanya teman karibnya sejak kecil. Keduanya sama-sama dijodohkan dengan kerabat jauh orangtua mereka.

Umur 16 tahun…, dan dianggap telah pantas jadi suami seseorang. Ada apa dengan orang-orang tua itu ? Tidakkah mereka ingin anak-anak mereka menjadi orang dengan bersekolah tinggi ? Rustam menghela nafas, orang berpendidikan paling tinggi di desa ini cuma Bang Ali, anak Haji Nurdin. Dia sarjana ilmu agama di UIN Sunan Kalijaga. Dan sekarang Bang Ali masih bersekolah meneruskan ke strata berikutnya. Jangankan sarjana, sebagian besar pemuda di desa ini hanya lulusan SMP.

SMA terdekat berjarak 22 km ke arah kota. Untuk mencapainya lumayan sulit, karena tak ada angkutan umum yang bisa mengangkut mereka. Itu sebabnya Rustam lebih memilih bekerja ketimbang meneruskan sekolah. Apa salahnya bekerja dulu untuk mengumpulkan biaya ? Toh, cita-citanya belumlah pupus untuk meneruskan ke jenjang lebih lanjut. Ahh…cita-cita itu….

“Abah tahu kamu suka dengan Rukayah. Lalu apa salahnya menikah dengannya ? Turuti kata orangtua, itu lebih baik daripada kamu pacaran seperti orang-orang laknat yang tidak suka pakai baju di televisi itu. Kamu mau meniru ?”, tanya Pak Mu’nim tajam.

Rustam menundukkan kepala dan menggeleng. Beberapa kali abahnya memergokinya memandangi Rukayah dari jauh. Gadis manis itu begitu lembut. Tak heran bila Bang Dul si tukang patri itu dulu pernah terpikat padanya, sampai kemudian perkawinan mereka gagal, karena Rukayah lari saat akan diijabkan. Sekarang umur Rukayah hampir 12 tahun, makin manis dan berisi.

Seringkali gadis itu tersipu saat disapanya, manis sekali. Tapi…kawin ? Akankah gadis itu mau menjadi istrinya ? Hhh…, gajinya di toko Babah Liem belum seberapa. Rustam tak tahu apakah dia akan sanggup menanggung hidup seorang istri.

“Besok pagi Abah akan meminangnya untukmu. Kamu tak perlu bicara apa-apa, biar Abah yang bicara. Siapkan dirimu…”, kata abahnya. Pak Mu’nim beranjak dari kursi rotannya, lalu melangkah masuk. Meninggalkan Rustam yang termangu-mangu sendirian.

Istri…seorang istri…. Menjadikan Rukayah seorang istri pastilah hal yang menyenangkan. Membayangkan dirinya akan bisa memandangi wajah manis Rukayah sepanjang hari tanpa orang lain ada di antara mereka. Mungkinkah ? Rustam melihat rumah Rukayah dari kejauhan. Tampak lampu temaram menerangi teras rumah sederhana yang terbuat dari bangunan setengah kayu itu. Tiba-tiba terbayang wajah gadis manis itu…. Rukayah dengan senyumnya yang lembut, ketika gadis itu tersipu disapanya di pagi hari sebelum sekolah….

******

Pasangan muda gadis dan jejaka itu duduk bersanding di atas pelaminan. Terdengar tabuhan rebana dan lengkingan nyanyian grup marawis, bertalu-talu memeriahkan acara. Hiruk-pikuk tamu yang datang memberi salam dan selamat, tak membuat hati Rukayah gembira.

Dengan kikuk disalaminya semua tamu yang datang. Tak terkecuali teman-teman sekelasnya yang sengaja diundang Pak Ahmad, bapaknya. Beberapa teman menggodanya dengan berbisik-bisik di telinga. Membuat Rukayah jengah bukan main. Bersanding dengan Rustam bukanlah hal yang pernah dicita-citakannya. Maka tak heran bila rasa masygul sempat hinggap di hatinya yang rapuh, perih karena menyadari impiannya menjadi sepandai Bu Guru Harti lenyap begitu saja.

Kehadiran Bu Guru Harti yang datang siang itu justru membobol ketabahannya. Air mata Rukayah beruraian di pipi. Bu Guru Harti memeluknya dan berbisik, ‘Tidak apa-apa, Rukayah…. Kau masih bisa belajar dari Ibu sampai kapanpun kau mau…’.

Rukayah makin terbenam dalam sesal, dipeluknya guru yang begitu dicintanya itu. Penyesalan dalam keputus-asaan. Bu Harti menepuk-nepuk pundaknya , menenangkan. Rustam melihat adegan ini. Alisnya berkerut. Sesusah itukah perasaan Rukayah ? Kalau perempuan muda itu begitu susah, mengapa lamarannya diterima ?

Rustam membuang pandangannya ke arah para tamu. Hhh…, memangnya cuma cita-cita Rukayah yang terbuang sia-sia ?  Dengan getir Rustam menyadari kenyataan bahwa sekolah di SMA biasa tak akan mungkin terjadi setelah perkawinan ini.

Pesta usai setelah tamu terakhir berpamitan pulang. Pak Ahmad dan Mak Piah, orangtua Rukayah, sangatlah lelahnya. Letih namun bahagia. Tak banyak tamu undangan yang berhalangan datang. Keduanya juga sangat bersyukur karena hari itu tidak ada hujan. Langit terang-benderang, sedangkan angin bertiup sepoi-sepoi sepanjang siang. Sungguh bersahabat.

“Istirahatlah, Rus…”, kata Pak Ahmad mempersilakan. Rustam mengangguk kaku.

“Iya, Paman…. Terima kasih…”, jawabnya canggung.

“Panggil aku Abah, seperti caramu memanggil Abahmu sendiri. Kau anak menantuku sekarang. Jadi jangan sungkan, ya?”, Pak Ahmad tersenyum saat mengatakan itu. Rustam segera tersadar, kini dirinya sudah bukan lagi sekedar tetangga. Dirinya sudah sah menjadi anak menantu sepasang orangtua Rukayah di rumah sederhana itu. Bagian dari keluarga.

Rustam masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah disediakan. Mak Piah menyuruh Rukayah ikut masuk bersamanya. Wajah Rukayah tampak pucat, sedikit-sedikit tangannya meremas ujung kebaya. Dia gugup bukan main. Rustam membiarkan gadis yang sudah dinikahinya itu duduk di atas tempat tidur dengan punggung tegang menempel di dinding kamar.

Matanya yang bulat memandanginya dengan was-was. Jangankan bercanda, berbicara dengan Rustam pun sebelumnya tak pernah lebih dari semenit setiap kali dia berpapasan dengan lelaki itu sebelum ke sekolah. Rustam merasa terlalu letih untuk bicara. Direbahkannya punggungnya yang terasa kaku itu ke atas kasur. Kakinya segera menyusul diluruskan. Hhh…, nyamannya….

Tapi gadis itu tetap di posisinya duduk dengan punggung tetap bersandar di dinding. Ahh…, biarlah…. Hari ini memang terasa sangat aneh bagi mereka berdua. Dan matanya terlalu mengantuk untuk sekedar memperhatikan hal lain selain keinginan untuk segera terlelap.

“Tidurlah, Rukayah…”, katanya. Dan Rukayah tetap diam membisu. Rustam memiringkan tubuhnya menghadap ke pintu. Kepalanya terasa berat.

Rustam teringat linangan air mata gadis itu saat bertemu dengan gurunya. Rustam menengok ke dalam dirinya sendiri. Tak jauh berbeda. Hanya saja keinginannya untuk sekolah lagi masih ada. Itu satu-satunya tujuan utama dia bekerja. Dan lihatlah dia kini. Dalam kamar berdua saja dengan Rukayah yang ketakutan memandanginya. Rustam suka melihat wajah manis Rukayah. Tapi tidak dengan sorot mata ketakutan seperti itu. Rustam menutup kepalanya dengan bantal, mencoba tidur….

Rukayah memperhatikan lelaki muda itu. Dia begitu lega mendapati lelaki muda itu tak lebih jauh ingin berbuat sesuatu padanya. Tapi merasakan tidur sekamar dengan lelaki yang tak pernah terlalu akrab dengannya terasa sangat mengerikan. Rukayah menanti sampai lelaki muda itu benar-benar terlelap. Ditariknya selimut hingga mencapai mulut. Rukayah merebahkan tubuhnya dengan wajah menghadap tembok. Kalau sampai lelaki itu berbuat macam-macam, dia berjanji akan memukulnya. Lihat saja !

Jam dinding tua di ruang tengah berdentang hingga 12 kali di tengah malam. Rustam tersentak terbangun dari tidurnya. Dengan heran dia melihat sekeliling, dia lupa sedang berada dimana. Tapi segera dia mempelajari ruangan itu. Rustam ingat! Ini kamar di rumah Pak Ahmad. Dan dia sudah menikahi anak perempuan ketiganya.

Rukayah tidur dengan memunggunginya di pembaringan. Rasa lelah mengalahkan keinginan Rustam untuk menyentuh gadis itu meski cuma sekejap. Sepanjang hari tadi, Rukayah belum mau bicara dengannya. Bahkan sampai acara pesta selesai, perempuan muda itu masih tak mau bicara banyak dengannya. Bila ditanya, jawabannya hanya mengangguk dan menggeleng saja. Rustam memejamkan matanya kembali. Berharap akan mendapatkan mimpi indah penawar hati.

*****

Rukayah diajari emaknya untuk melayani apa yang Rustam butuhkan. Membuatkan minum, menyiapkan makanan, mencucikan bajunya, membersihkan tempat tidurnya…. Rustam selalu berangkat bekerja pagi-pagi. Hal yang paling disyukuri Rukayah adalah dia tak perlu melihat lelaki itu berada di dekatnya selama dia bekerja.

Beberapa kali Rustam pamit akan menginap di toko Babah Liem kalau sedang menunggu barang datang. Bukannya Rukayah susah mendengarnya, sebaliknya…dia malah senang. Meski kadang dalam kesendiriannya, Rukayah merasa sepi. Kadang dia iri melihat Muthmainah, Anjar, Darmini, atau teman-temannya yang lain melintas pulang dari sekolah.

Rukayah rindu mendengar suara Bu Guru Harti yang merdu, selalu memberikan kesan mendalam dalam setiap pelajaran yang dibawakannya. Bu Guru Harti memang wanita yang luar biasa.

Pasangan pengantin muda itu masih tinggal seatap dengan Pak Ahmad dan keluarganya. Rustam belum lagi mampu mencari tempat untuk mereka sendiri. Sudah hampir setengah tahun mereka menikah, belum ada tanda-tanda Rukayah hamil.

Rustam tak ambil pusing dengan pertanyaan sanak-saudaranya soal itu. Dia hanya tersenyum mendengarnya. Tak seorangpun pernah tahu bila hingga saat itu dia belum sekalipun menyentuh Rukayah. Rukayah masih suci. Istri belianya itu masih saja tidur dengan punggung menghadap padanya. Rustam tak keberatan. Bisa tidur bersanding dengan Rukayah pun sudah senang.

“Ini gajiku bulan kemarin. Aku bagi separuh. Simpanlah, Rukayah…”, ucapnya sembari menyodorkan beberapa lembar uang limapuluh ribuan kepada istrinya. Rukayah menerima tanpa mengeluh.

“Aku berangkat dulu, Rukayah…”, pamit Rustam. Rukayah mengangguk.

“Ya. Hati-hati di jalan…”, jawab Rukayah pendek. Begitu saja. Rustam menatap istrinya dengan pandangan kelu. Menerima perjodohan yang sudah ditetapkan oleh abahnya adalah hal paling bersahabat bagi pikirannya. Dia sudah sejak awal berdamai dengan hal itu.

Tak apa berbagi uang sedikit dengan Rukayah, toh dirinya masih bisa bekerja lebih keras lagi di toko Babah Liem yang kini sudah menunjuknya menjadi kepala kurir barang dagangan ke toko-toko kecil di seantero kota. Babah Liem memang punya toko grosir, harga barang di tokonya jauh lebih murah daripada toko-toko lainnya.

“Kamu ingin aku belikan sesuatu ? “, tanya Rustam. Rukayah tertegun, lalu menggeleng. Rustam menghela napas. Dia mengangkat bahu, lalu berjalan ke arah pintu. Dingin yang dirasakannya dari sikap Rukayah makin menusuk saja. Lambat tapi pasti, rasa rindu dendam mulai tumbuh dalam hati.

‘Rukayaah…, sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti ini ? Sikapmu tidak adil. Aku suamimu…’, batin Rustam mengeluh. Langkahnya gontai menapaki jalan setapak yang terbentang hingga batas gang. Rustam memicingkan matanya kala matahari yang cerah menerpa menampakkan kilau sinarnya. Langit yang bersih, tanpa mega. Tapi tak demikian dengan hatinya….

*******

 

 

22 Comments to "Belalang-belalang di Tengah Padang (2)"

  1. Kornelya  30 March, 2011 at 20:51

    Mba Cinde, umur 75 kawin dengan anak umur 15 tahun. Aku jadi ingat kakekku setelah nenekku meninggal diumur 72 tahun ia menikah lagi dengan anak umur 18 tahun. Sampai kakekku meninggal “nenek kecilku” masih perawan. Hahaha. Salam.

  2. elnino  30 March, 2011 at 18:01

    Aku udah tamat bacanya…hehehe…mencuri start

    Aku pernah panggil tukang pijet, orang Bali-Blora. Dari hasil ngobrol2, ketauan dia udah punya anak SMA. Lho emang sekarang umur berapa mbak? Mau 30. Jadi kawinnya? Umur 13…dijodohin… Suaminya waktu kawin udah umur 30an. Tapi skrg udah cerai karena suaminya suka judi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.