Kenali Tari-tarian Indonesia (5): Bedaya Sabda Aji

Probo Harjanti

 

Sabda Aji, artinya kurang lebih perintah raja (dhawuhe Sang Nata) atau titah raja. Raja yang dimaksud adalah raja Kasultanan  Yogyakarta, Sri Sultan HB IX. Saat itu kira-kira tahun 1987, Sultan HB IX  mengundang tokoh-tokoh tari  dari Yogyakarta, beliau menghendaki Golek Menak dikembangkan. HB IX benar-benar sosok yang moderat, demokrat sejati, dan transformastor budaya yang mumpuni. Hal ini salah satunya terlihat dari keinginan beliau, untuk memasukkan berbagai unsur budaya Nusantara ke dalam Golek Menak.

Golek Menak adalah tari Yogyakarta genre baru, merupakan salah satu karya Sultan HB IX. Gerak tari  Golek Menak patah-patah, seolah boneka kayu yang menari, sedangkan isi ceritanya bersumber pada Serat Menak, yang berasal dari negeri 1001 malam. Golek Menak sangat menarik, geraknya amat khas, dan tidak mudah membawakannya.

Bedaya Sabda Aji, adalah bedaya Golek Menak yang pertama, merupakan karya R. Ay. Sri Kadarjati Ywandjono yang saat ini sudah berusia 66 tahun. Karya yang  dibuat tahun 2007 itu, seolah merupakan jawaban Sri Kadaryati, salah satu empu tari Yogyakarta yang juga cucu Sultan HB VIII, terhadap titah Sultan HB IX dua pulah tahun silam.

Sesuai dengan pesan dan semangat akulturasi dan transfosmasi kraton Yogyakarta, Kadarjati memasukkan unsur kendangan Sunda yang dinamis dan unsur silat Padang. Jadi, bedaya ini terasa unik dengan adanya gerak patah-patah seperti golek kayu, kendangan yang  rancak, dan ada unsur silat pula.

Keunikan tidak berhenti di situ, salah satu penari (batak) memakai kostum yang berbeda untuk menunjukkan adanya tokoh dari cerita Serat Menak. Bedaya Sanda Aji menjadi lebih istimewa, karena putri Sultan HB X, GKR Pembayun terlibat menari, sebagai jangga.

Usai pementasan Bedaya Sabda Aji dipersembahkan kepada Sultan HBX, artinya sejak itu pula Bedaya Sabda Aji adalah milik Sultan HB X. Sudah jamak di dunia seni (dulu), sebuah karya dipersembahkan kepada raja, dan akhirnya dianggap karya raja tersebut. Namun tidak selalu seperti itu, karena karya yang lahir atas prakarsa raja atau penguasa kala itu, juga dianggap karya pemrakrasa atau penguasa.

Apalagi, raja dan keluarganya (sentana dalem) semua bisa menari. Bahkan, untuk belajar tata krama semua putra-putri raja wajib belajar menari. Itu dulu tentu. Sekarang kurang jelas, apakah masih berlaku belajar tata krama dilakukan dengan belajar menari/ wayang wong ataukah tidak. Namun, besar kemungkinan tidak lagi.

Banyaknya karya seni dan sastra yang noname di Jawa/ Indonesia, kebanyakan karena sifat rendah hati seseorang (pengarang), mereka tidak mau menonjolkan diri. Akibatnya, banyak pula karya yang tidak terdokumentasi dengan baik, karena penyebaran ataupun pelestariannya hanya gethok tular, seperti tutur tinular. Aslinya seperti apa, karya siapa, sulit ditelusuri.

Karya-karya yang  berupa persembahan dari kawula kepada raja, tidak sedikit, baik berupa lagu/ gending, tarian, tembang lukisan/ batik dan lain-lain. Bagi kawula (rakyat jelata) bisa mempersembahkan sesuatu kepada raja, apalagi disukai, adalah hal yang membanggakan. Mereka berbuat seperti itu tanpa pamrih, kecuali bakti dan bukti cinta rakyat kepada rajanya, pengayomnya.

Beberapa bedaya dipersembahkan kepada Sultan HB X sebelumnya, seperti Bedaya Sang Amurwa Bumi, Bedaya Harjuna Wiwaha, dan lain-lain.

Bedhaya Sabda Aji merupakan bedaya golek Menak yang pertama, dipersembahkan kepada Sultan HB X. Paling kiri adalah GKR Pembayun, putri Sultan HB X

 

Salah satu penari berbeda kostum, dia berperan sebagai batak, peran terpenting dalam bedaya

 

Yang bersila dan yang berdiri

 

Komposisi awal / akhir bedaya

 

Latihan terakhir (tengah adalah GKR Pembayun, paling kiri R.Ay. Sri Kadarjati)

 

 

 

 

43 Comments to "Kenali Tari-tarian Indonesia (5): Bedaya Sabda Aji"

  1. Lani  30 March, 2011 at 12:11

    KANG ANUUUUU komen 35 halah dirimu mmg suka biki ambyaaaaaaaar……..apalagi intip2 yg remeng2 wis hobby banget to???

  2. probo  30 March, 2011 at 12:03

    PakDe…la ayo ta…ji ro lu!

  3. probo  30 March, 2011 at 11:52

    Peony….silakan Jeng…saya suka malah kalau ada yang memanfaatkan orek-orekan saya……

    anoew…yang nggak terlihat yo yang ditutupi ta ya…….dan .kayaknya lebih asyik kalau berimajinasi sendiri…….

  4. Djoko Paisan  30 March, 2011 at 03:08

    Salah satu penari berbeda kostum, dia berperan sebagai batak, peran terpenting dalam bedaya

    Hebat….!!! Ada batak ditengah-tengah penari Jawa….!!!

    Lama-lama tidak hanya Batak saja, satu saat ada juga Papua ditengah-tengah bersama Jawa…
    jajdi Bineka Tunggal Ika……hahahahahahaha!!!!

  5. Djoko Paisan  30 March, 2011 at 02:57

    probo Says:
    March 29th, 2011 at 09:05

    PakDe….yuk cacaca

    Senenge rek….
    Bu GuCan mau cacaca sama Dj…..
    Tadinya Dj. pikir sama mbak DA yang jagonya Brazil…
    tapi mengapa tidak dengan bu GuCan, pasti lebih……cacacacacacacacaca….!!!!

  6. anoew  30 March, 2011 at 02:48

    Lan, tenan kuy.. body penarine mara’i ambyar..

    @Bugucan, meraba-raba apa sih? Sini sini, kalau urusan raba suraba..

    Anoew…..itu baru yang terlihat ya…yang nggak terlihat mungkin lebih lagi ya …haha..

    Sepakat! Saya justru senang melihat yg dikit2 gitu dari pada langsung mak byak lha badalah..
    Ngomong-ngomong, di bagian mana yg ‘gk terlihat’? Seperti apakah gerangan?

  7. Peony  29 March, 2011 at 11:25

    Mbakyu Probo.. terimakasih banyak buat ilmu pengetahuan mengenai seni tari.. bakal kukumpulin nih semua artikelnya, buat ngisi “perpus pribadiku”.. boleh khan ya Mbak?

  8. probo  29 March, 2011 at 10:30

    hahaha….

  9. Lani  29 March, 2011 at 10:15

    MBAK PROBO : AJI-AJI-NE njur mencungul………kkkkkk

  10. probo  29 March, 2011 at 09:52

    lha…JC malah wahing…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.