Tidak ada penjarahan pasca gempa dan tsunami di Jepang

Sakura

 

26 Maret 2011

Saya tergerak untuk menulis artikel ini, setelah ada kesimpangsiuran berita di Indonesia, di mana banyak berita-berita yang mengatakan terjadi penjarahan di Jepang. Hal ini sama sekali tidak benar. Berita-berita yang salah tersebut harus diluruskan dan tidak dibenarkan untuk menulis berita tanpa berita akurat dari Jepang, hanya demi mengejar rating pembaca.

Ada berita yang mengatakan, bahwa banyak barang-barang rumah para pengungsi yang dicuri dan dijarah dsetelah mereka mengungsi. Perlu saya tegaskan, hal ini SAMA SEKALI TIDAK BENAR. Sejak terjadinya gempa dan tsunami (tanggal 11 Maret 2011) hingga saat ini, tanggal 26 Maret 2011, tak satu pun ada cerita dari para pengungsi bahwa barang-barang di rumahnya kecurian, juga tidak ada beritanya di surat kabar dan TV.

Hal yang sangat aneh untuk mempercayai hal tersebut, jika logika kita bisa bekerja dengan benar, dapat dibayangkan, tsunami yang mencapai ketinggian 5 m hingga 15 m telah menyeret rumah-rumah penduduk hingga tinggal pondasinya dan terseret sampai kejauhan 100 m. Ini untuk rumah yang masih bisa bertahan, sedangkan kebanyakan yang terjadi adalah rumah hancur lebur, tinggal atap rumah yang mengambang sampai ke laut. Lalu bagaimana bias dikatakan jika barang-barang di rumah kecurian?

Untuk rumah-rumah yang masih utuh pun, akses jalan menuju rumah sama sekali buntu, timbunan lumpur dan pasir sedikitnya mencapai ketinggian 30 cm dan banyak sekali bangkai barang-barang, bangkai rumah dan bangkai mobil menyatu menutupi jalan. Rumah yang bisa bertahan biaanya berada berada pada permukaan tanah yang cukup tinggi, tapi aliran tsunami yang menyeret bangkai-bangkai barang-barang tersebut mengakibatkan timbunan bangkai barang-barang tersebut di tempat yang lebih tinggi. Banyak sekali ditemukan bangkai mobil di pagar rumah yang utuh dengan posisi bagian belakang mobil naik ke atas (ini karena bagian depan lebih berat karena ada mesin). Belum lagi bau menyengat dari korban-korban yang tewas dan terserat tsunami kemudian terdampar bersama tumpukan bangkai barang-barang.

Logikanya, kalau anda di lokasi dan mencium bau sangat menyengat, jalan tertutup lumpur dan pasir, apakah anda masih tega mencuri barang-barang dari rumah para korban gempa? Bangsa Jepang mempunyai sikap “muri-ari” (how to understand others feeling without say anything), ini suatu karakter yang sangat bagus dan tidak dipunyai bangsa lain, mereka bukan bangsa beringas yang akan semena-mena melanggar hak asasi orang lain dengan mudah begitu ditimpa musibah (akan saya jelaskan di bawah berdasarkan pengalaman saya yang lama tinggal di Jepang).

Yang sebenarnya terjadi adalah, banyak para pengungsi yang menuju rumah mereka pasca gempa, untuk membersihkan rumah dari timbunan lumpur dan pasir serta mencari barang-barang yang masih bisa dijadikan memory untuk mengenang anggota keluarga mereka yang hilang tidak diketemukan atau diketemukan dalam keadaan tewas. Dan pada malam harinya mereka balik lagi ke tempat pengungsian dan menginap di sana, karena rumah mereka masih tidak mungkin untuk ditinggali karena hancur dan porak poranda. Listrik tidak ada, gas tidak ada, air tidak ada, cuaca dingin menggigit, itulah yang mereka alami di pengungsian.

Dalam pengamatan saya, saat para pengungsi membersihkan rumah mereka, mencari-cari barang sebagai kenangan, menyeret tumpukan bangkai dari pintu pagar, saat itulah pers yang tidak bertanggung jawab mengatakan bahwa telah terjadi penjarahan di rumah-rumah korban gempa dan tsunami. Banyak orang-orang pers dari luar Jepang yang ke lokasi, tapi mereka tidak dibekali bahasa Jepang yang cukup, bagaimana mereka bisa membuat kesimpulan yang salah, karena mereka tidak mewawancari para pengungsi secara langsung, hanya pandangan mata dan membandingkan Jepang dengan kondisi negara-negara lain pasca gempa (Indonesia misalnya yang terkena tsunami di Sumatra) yang mengalami penjarahan besar-besaran.

Kalau anda berada di Jepang dan menyaksikan siaran-siaran TV secara langsung, anda akan kagum dengan sikap community, “muriari” dan koordinasi yang sangat kuat di dalam masyarakat Jepang. Dalam suatu rumah yang berhasil selamat, mereka malah menggelar barang-barang rumah mereka di depan rumah mereka, seperti baju-baju, coat, makanan, dengan tujuan untuk membantu sesama “silahkan ambil ini semua dengan bebas”, mereka menampung 7 keluarga sekaligus, ada 20 orang dalam 1 rumah, meskipun mereka sendiri kesulitan tanpa air, gas, listrik, tapi mereka masih mempunyai hati untuk memberikan tempat di rumah mereka bagi yang lain.

Jika anda menyaksikan apa yang terjadi di lokasi pengungsian, hati anda akan begitu terenyuh melihat sikap solid bangsa Jepang, tanpa komando, beberapa orang langsung naik ke gunung/hutan dan mencari kayu untuk sarana memasak, padahal cuaca sangat dingin menggigit, yang lainnya mencari baskom dan ember, dan langsung pergi ke arah sungai untuk mencari air, pada beberapa tempat pengungsian yang tidak ada sungai, mereka beramai-ramai menyaring air kolam renang sehingga layak dimasak dan diminum, mereka menghancurkan bongkahan-bongkahan es untuk dijadikan air buat keperluan toilet.

Inilah karakter bangsa Jepang yang sebenarnya, mereka mengerti penderitaan orang lain, mereka tidak mengeluh, tapi berjuang untuk hidup, bukan untuk hidup diri sendiri, tapi bagaimana semua orang yang selamat di pengungsian bisa bertahan semuanya. Sangat solid kerjasamanya. Negara Jepang adalah negara yang mempunyai angka kriminalitas yang sangat kecil, ini negara yang paling aman yang pernah saya tinggali.

Kalau anda ada di stasiun kereta dan sedang mengantri kereta, tetapi anda ada keperluan lain, misalnya ingin ke toilet atau membeli sesuatu, anda cukup meletakkan tas atau barang anda di tempat anda antri. Dijamin 100%, bahwa ketika anda kembali barang anda masih dalam keadaan utuh, Mereka tidak akan mengambil barang anda dan menyerobot antrian. Beda dengan di Inggris misalnya, polisi di stasiun akan langsung mengambil tas yang anda tinggalkan karena dicurigai ada bom di dalamnya. Saya sering meninggalkan rumah dalam keadaan pintu belakang rumah terbuka pada saat saya kerja di tempat lain (supaya kucing saya bisa keluar masuk rumah dengan mudah), padahal pekarangan belakang rumah saya cuma dibatasi pagar setinggi 50 cm dan langsung akses ke jalan raya, ternyata sampai saat ini pun saya tidak pernah sekali pun kecurian, dan hal ini sudah berlangsung selama 1,5 tahun.

Di daerah saya tinggal, banyak sekali pohon-pohon jeruk, pohon-pohonnya sangat rendah. Ketika jeruk-jeruknya matang, tidak akan ada orang yang mencuri jeruk, sekali pun pohon jeruknya ada di pinggir jalan. Yang ada, banyak buah jeruk yang jatuh ke tanah berceceran dan busuk karena tertiup angin kencang. Dari pengalaman tinggal lama di Jepang, saya bisa katakan, bangsa Jepang bukan bangsa beringas yang akan melakukan penjarahan seperti yang banyak dilansir berita-berita yang tidak bertanggung jawab.

Tidak ada pengungsi dan korban gempa dan tsunami yang kelaparan hingga beringas dan menjarah. Dari berita-berita di TV, internet dan surat kabar di Jepang sini, para pengungsi memang berada dalam kondisi minim makanan dan minuman. Seminim-minimnya, mereka sehari makan 2 kali, makan pagi dengan sepotong nasi onigiri dan secawan miso shiru (sup Jepang), dan makan malam dengan sepotong pisang dan jeruk. Tidak ada pengungsi yang tidak kebagian makan, semua dikoordinasi dengan sangat baik.

Ada berita yang mengatakan bahwa mereka membobol brankas uang. Ini juga sama sekali tidak benar. Dari beberapa liputan TV, kejadian yang sebenarnya adalah, bahwa ketika tsunami tiba-tiba datang, petugas bank di sebuah bank sedang akan mengunci brankas, tetapi tsunami sudah datang tiba-tiba setinggi 5 m, mereka panik dan segera menyelamatkan diri, brankas lupa terkunci, dan ketika tsunami reda, mereka menemukan brankas terseret ke pintu depan bank, dan uang sebanyak 40 juta yen lenyap. Jadi, apakah ini bisa dikatakan pembobolan bank? Tsunami setinggi itu bisa bisa saja membuka brankas yang tidak terkunci dan menyeret seluruh uang dari dalam brankas.

Dikatakan juga ada pembobolan ATM, duh, untuk yang satu ini, saya bisa katakan, ini sangat jahat. Yang terjadi sebenarnya adalah, banyak pos-pos surat yang box-boxnya terseret aliran tsunami. Penduduk mengangkat box-box surat tersebut, untuk mengamankan isi surat-surat tersebut di dalamnya, supaya surat-surat tersebut bisa disampaikan kepada alamat yang dituju. Mereka berkata, “Meskipun seandainya pemilik surat tidak diketahui keberadaannya sekarang, saya berharap surat dia dapat disampaikan ke alamat yang dituju sebagai pesan terakhir”. Betapa mulianya. Tetapi berita di luar sangat ironis, dikatakan bahwa mereka membobol mesin-mesin ATM.

Satu lagi berita yang sangat miring, dikatakan bahwa terjadi pencurian bensin secara besar-besaran dari mobil-mobil. Keadaan yang sebenarnya, di propinsi Sendai, ada 4 orang anak muda yang tidak bertanggung jawab, mereka mencuri bensin dari mobil-mobil yang ditinggalkan para pemiliknya yang mengungsi. Memang ada pencurian bensin, tapi ini hanya 1 kasus kriminalitas, dan tidak terjadi secara menyeluruh di lokasi yang tertimpa gempa dan tsunami. Di mana pun anda berada, pasti ada orang yang jahat juga.

Jika anda menghitung, 4 anak muda melakukan pencurian bensin, persentasinya kecil sekali kalau anda bandingkan dengan jumlah penduduk yang selamat dari total 4 propinsi utama yang tertimpa gempa dan tsunami hebat. Ini bukan pencurian bensin besar-besaran. Hanya 1 kasus. Dan penduduk yang bensinnya dicuri, ketika diwawancarai, mereka berkata sambil tertawa, “Hmm, apa boleh buat ya, lagi pula mobil-mobil yang selamat dan ada bensinnya di sini juga sangat sedikit”. Yang kebanyakan terjadi pasca gempa, banyak orang yang beruntung mobilnya selamat dan mempunyai bensin, mereka justru menawarkan kepada penduduk umum untuk ikut menumpang, “Ojii-san, doko he iku, issho ni notte kudasai” (Kakek, mau ke mana? Ayo ikut mobil saya), begitu yang ditawarkan seorang lelaki baya kepada seorang kakek-kakek yang jalan kaki.

Kakek tersebut mengatakan, “Obat di rumah sudah habis, tadi dari rumah juga menumpang mobil tetangga sampai apotik ini, ternyata tutup, bingung juga sebenarnya mau pulang, tapi nggak ada sarana transportasi, ya mau nggak mau jalan kaki”.

Bangsa Jepang adalah bangsa yang solid dan kuat community-nya terhadap sesama. Bahkan anak-anak SD di tempat pengungsian, tanpa disuruh, mereka mempunyai ide untuk memijiti orang-orang jompo di pengungsian, setiap hari selama kurang lebih 1-2 jam. Bahkan anak-anak mempunyai empati yang sangat tinggi untuk melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk membantu sesama. Siaran TV berkali-kali menayangkan anjuran untuk tidak menggunakan listrik berlebihan, untuk mengurangi penggunaan telepon dan email, untuk tidak membeli barang-barang yang tidak perlu. Ini sebagai wujud toleransi terhadap penduduk yang tertimpa musibah.

Ketika terjadi pencemaran radiasi terhadap air ledeng dalam dosis sangat kecil dan rakyat dianjurkan untuk mengkonsumsi air mineral, supermarket-supermarket dan toko-toko yang menjual air mineral segera memasang pengumuman “setiap orang hanya boleh membeli 1 botol” dengan tujuan agar semua orang bisa kebagian air mineral secara rata. Jika ada berita musibah di negara lain, yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah Jepang adalah segera mencari tahu, apakah ada WN Jepang di sana, jika ada, dia selamat atau tidak, dan beritanya langsung masuk TV supaya keluarga si korban segera mengetahui.

Bangsa Jepang adalah bangsa yang sigap dan segera “bangun” dari keterpurukan suasana. Dari berita-berita di TV, beberapa aktivitas sudah mulai bangun, sarana air ledeng sudah mulai beroperasi di beberapa lokasi gempa. Akses highway ke Utara Jepang (ke arah Fukushima, Sendai, Miyagi) sudah mulai dibuka kembali kemarin setelah beberapa ruas jalan yang rusak paah akibat gempa berhasil diperbaiki. Sarana perumahan bagi korban gempa juga sudah mulai dibangun sejak minggu lalu. Petugas kantor pos juga sudah mulai beroperasi, mereka menjangkau penduduk yang rumahnya hancur dengan berjalan kaki. Kaisar Jepang juga secara pribadi telah mengirmkan ratusan botol susu segar buat bayi, berkarung-karung ubi dan beras buat para pengungsi.

Bukan hanya pemerintah yang mulai mengaktifkan kembali sarana-sarana umum, penduduk secara individual juga melakukan apa yang mereka bisa lakukan, pemilik toko kacamata segera menyumbangkan 3000 frame dan kacamata kepada para korban gempa, para tukang cukur rambut segera terkoordinasi dan membuka jasa gratis pemotongan rambut bagi para pengungsi, pemilik toko sepeda menyumbang beratus-ratus sepeda supaya para pengungsi bisa mencari  anggota keluarganya yang belum ada kabar, dengan tidak mengandalkan mobil karena stok bensin sudah habis.

Seorang anak muda petugas pom bensin malah memberikan bensin gratis kepada penduduk dan mengatakan, “Pompa bensinnya hancur lebur, mesinnya juga rusak semua, saya cuma menemukan mobil tanki ini yang masih ada bensinnya, saya bagikan kepada penduduk, untuk pulang, saya sendiri juga tidak tahu, sekarang mobil tanki ini juga sudah kosong”. Ada seorang penduduk yang membuat sarana ofuro (pemandian air panas) gratis di depan pekarangan rumahnya, supaya para pengungsi bisa memberishkan diri, dia bilang, “Hati saya jadi cerah setelah mendengarkan suara anak-anak yang tertawa dan bercanda sambil mandi”.

Dengan memberitakan hal-hal yang benar, sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diambil dari keadaan yang sesungguhnya di Jepang, bagaimana solidnya kerjasamanya masyarakat Jepang menghadapi bencana dan bangun dari keterpurukan suasana.

Beberapa jam setelah bencana gempa bumi dan tsunami hebat melanda Jepang, siaran di TV Jepang mengatakan “Indonesia mengatakan akan mengirimkan bantuan dengan segera. Ini adalah negara pertama yang menyampaikan pesan kepada Jepang”. Tetapi apa yang terjadi sesungguhnya? Tim SAR dan rescue yang pertama kali datang, sehari setelah bencana, adalah dari Cina. Mereka datang secara mendadak dan langsung bekerja di lokasi. Negara kedua yang mengirimkan tim recuenya adalah Jerman. Hingga hari ini pun, tidak ada kabar tim SAR dari Indonesia datang ke Jepang.

Hanya ada 1 berita bagus tentang Indonesia, bahwa ada satu grup volunteers orang asing, gabungan WN Sri Lanka, Bangladesh, Pakistan dan Indonesia yang datang ke lokasi gempa dan dengan truk dan membuat masakan kare buat para pengungsi. Grup sukarelawan ini mayoritas orang Sri Lanka (30 orang) di mana WN Sri Lanka mengatakan, “Negara kami porak poranda akibat tsunami Sumatra, jadi kami bisa merasakan penderitaan yang menimpa Jepang dan ingin memberikan sedikit bantuan dengan memasak kare di sini”. Hanya itu berita bagusnya.

Harapan saya cuma 1, semoga berita-berita miring di luar Jepang tidak langsung dipercayai begitu saja. Kasihan bangsa Jepang, mereka sudah ditimpa musibah, tidak perlu lagi membuat berita tidak benar untuk menjelekkan bangsa Jepang.

 

Foto-foto:

http://www.boston.com/bigpicture/

 

24 Comments to "Tidak ada penjarahan pasca gempa dan tsunami di Jepang"

  1. matahari  30 March, 2011 at 18:43

    sifat asli suatu bangsa itu akan terlihat jelas disaat saat darurat spt di Jepang dan salut buat masyarakat Jepang yg begitu disiplin..tdk panik…dan tdk melakukan penjarahan…Mereka udh terbiasa hidup disiplin…mereka semua bisa makan …..gak egois…gak rakus..bahkan disaat genting sekalipun…Bukan hanya negara kita..mungkin negara2 maju spt German…Amerika…Perancis..Inggris dll..blm tentu masyarakatnya bisa sedisiplin masyarakat Jepang…namanya juga manusia..pasti punya sifat egois…tamak…mau selamatkan diri sendiri dan keluarga..gak mikirin org lain…Jadi..tsunamie di jepang ini banyak memberikan tamparan utk negara negara lain..termasuk negara kita…yg mana sering kali disaat org kena musibah..malah dijarah….

  2. Swan Liong Be  29 March, 2011 at 16:29

    Media massa diJerman sebetulnya samasekali tidak mengabarkan soal penjarahan, at least saya tidak menemui berita semacam itu.
    Dari surat² pembaca forum indonesia sering saya baca kalimat bahwa mentalitas jepang patut dipake sbg.contoh. Wah, saya kira itu membutuhkan beberapa generasi supaya sedikit mendekati mentalitas bangsa jepang yang disiplin……..secara theoretis, praktis sih mustahil. Lha wong mentalitas disiplin diIndonesia makin lama makin terpuruk. Bandingkan aja waktu tahun 50an sampai sekarang 2011. Apa sih yang mengalami kemajuan dalam hal disiplin dan tatakrama

  3. Sierli  29 March, 2011 at 16:02

    Salut, salut, salut, orang Jepang di tengah kesusahan masih memikirkan orang lain. Semoga Jepang segera pulih.

  4. ariefah  29 March, 2011 at 11:48

    masyarakat jepang dalam keadaan susah begini yg selalu terpikirkan adalah “sekarang apa yg bisa saya lakukan?” melakukan hal hal yg terbaik dalam hidup ini, mungkin ada juga orang jepang yg mengambil kesempatan dalam kesempitan tapi jumlahnya sedikit sekali malah hampir tak terlihat…ganbaroo nipon!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.