Kisah Sultan & Sadath Safir di Negeri Campa

Cechgentong

 

Tepat pada waktu yang  telah direncanakan akhirnya Sang Sultan dan Syekh Sadat Safir melakukan perjalanan pulang ke negeri asal Sultan. Mereka hanya berdua tanpa ditemani oleh siapapun. Dengan menggunakan perjalanan darat, mereka menelusuri daerah-daerah yang indah dan sulit untuk dilalui mulai dari daerah Persia, India sampai ke negeri Cina. Selama perjalanan tersebut mereka juga melakukan syiar Islam. Ada yang menerima tapi ada juga yang menolaknya.

Campa, Kamboja (vietnamsunshinetravel.com)

Hampir satu perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah daerah yang masih dalam kekuasaan Kerajaan Campa. Di Campa, mereka disambut dengan ramah dan meriah oleh penduduk setempat. Ternyata di daerah tersebut hampir sebagian besar masyarakatnya beragama Islam. Yang mengislamkan mereka adalah salah satu murid Syekh Sadath Safir bernama Phao Lang Chi atau lebih dikenal dengan Syekh Abdul Manaf.

Rupanya nama Syekh Sadath Safir cukup dikenal walaupun hanya sebatas nama tapi Syekh menjadi panutan dan guru bagi mereka dalam mempelajari ilmu agama Islam. Layaknya orang besar, Syekh Sadath Safir sering diundang untuk menghadiri pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh beberapa penduduk dari daerah seberang yang letaknya tidak jauh dari daerah Syekh Abdul Manaf. Sungguh luar biasa kharismanya seorang Sadath Safir. Tidak lupa Sang Sultan juga selalu diajak oleh Syekh Sadath Safir kemanapun mereka pergi.

Kadangkala Sang Sultan diperintahkan oleh Syekh Sadath Safir untuk menggantikan posisi beliau sebagai pengajar atau Imam dalam memberikan pelajaran, wawasan dan ilmu pengetahuan tentang Islam. Hal ini dilakukan karena kondisi Syekh Sadath Safir yang sudah uzur dan sering sakit-sakitan. Memang dasarnya sudah menguasai ajaran Islam dan berwibawa, maka Sang Sultanpun disukai dan dihormati oleh sebagian besar penduduk negeri Campa. Tanpa disadari hampir 1/3 wilayah Campa, penduduknya mulai tertarik untuk mempelajari Islam walaupun tidak ada paksaan atau ancaman. Semuanya dilakukan dengan Ikhlas dan damai.

Selain ahli agama, Syekh dan Sultan juga ahli dalam ilmu pengobatan sehingga banyak penduduk yang terobati penyakitnya. Inilah salah satu kelebihan kedua tokoh tersebut. Penduduk Campa seperti mendapatkan tokoh panutan yang rendah hati, cerdas, pandai dan santun dalam berbicara sehingga orang yang mendengarnya langsung tertarik dan taat untuk menjalankan apa yang dikatakan oleh mereka berdua.

Rupanya berita tentang keberadaan Syekh Sadath Safir dan Sang Sultan mulai terdengar oleh Raja Campa. Raja Campa mulai kuatir dengan kondisi demikian karena bisa menurunkan kewibawaan Raja yang selama ini dianggap Wakil Tuhan. Apa yang diucapkan selalu didengar dan harus dilaksanakan.

Untuk mengantisipasi kemungkinan yang paling buruk maka diutuslah seorang kurir untuk mengundang Syekh Sadath Safir untuk datang ke Istana Kerajaan. Di samping itu ada niat yang kurang baik dari Raja yaitu ingin membunuh Syekh Sadath Safir karena dianggap mempengaruhi penduduk Campa untuk pindah agama dari Budha menjadi Islam.

Pada saat kedatangan kurir dari Kerajaan Campa, Syekh sedang dalam kondisi sakit-sakitan sehingga yang menerima undangan tersebut adalah Sang Sultan. Setelah Sultan dan Syekh melakukan pembicaraan akhirnya diputuskan kalau Sultan yang datang menghadap kepada Raja Campa. Syekh hanya berpesan kepada Sultan agar menyampaikan permohonan maaf kepada Raja Campa atas ketidak hadiran beliau dikarenakan kondisinya yang tidak sehat dan mewakilkan Sang Sultan sebagai utusan khusus Syekh Sadath Safir. Awalnya Sultan ragu-ragu menerima tetapi Syekh Sadath Safir berhasil meyakinkan Sultan kalau ini dalam rangka syiar agama maka Sultan menyetujuinya.

Tanpa menunggu waktu lama, maka saat itu juga Sultan dan kurir Raja Campa langsung berangkat menuju pusat kota kerajaan Campa. Sepanjang jalan Sultan selalu memperhatikan kondisi penduduk Campa yang serba kekurangan dan banyak sekali yang terkena penyakit aneh (menurut mereka pada jaman tersebut).

Misalnya kolera, malaria, diare dan sebagainya. Akibatnya perjalanan ke kerajaan Campa sering berhenti sejenak karena sering kali Sultan dengan rasa kemanusiaannya membantu pengobatan penduduk yang sakit tanpa melihat agama, kepercayaannya, status, tingkatan, suku/ras dan lain-lain. Rupanya ini menjadi perhatian kurir Raja dan tanpa terasa mulai tumbuhlah rasa kagumnya kepada Sultan yang gagah perkasa, tampan, alim tetapi tinggi juga ilmu pengobatannya dan tidak ada keluar satu katapun yang mengajak penduduk yang dikunjunginya agar masuk agama Islam. Kurirpun berpikir kalau utusannya saja sudah tinggi ilmunya apalagi Syekh Sadath Safir.

Sampailah mereka berdua di istana kerajaan. Tetapi Sultan tidak langsung bertemu dengan raja. Rupanya sang kurir dipanggil raja untuk dimintai keterangan tentang segala hal mengenai Sultan. Sang kurir menceritakan semuanya dari A sampai Z dan mengatakan kagum dengan apa yang dimiliki Sultan. Raja Campa semakin marah mendengarkan cerita sang kurir maka dipanggillah seluruh pejabat, penasehat dan paranormal kerajaan untuk mencari tahu kelemahan Sultan agar nantinya bisa dengan mudah dibunuh dengan cara yang halus. Akhirnya disepakati sebuah cara untuk menjebak Sultan yaitu dengan menggunakan Puteri Raja, Liong Tien.

Keesokan harinya, Sultan dipanggil untuk menghadap kepada Raja Campa.

”Salam hormat Saya kepada Baginda Yang Mulia Raja Campa“

”Saya terima hormatnya“

”Maafkan Baginda, saya ingin menyerahkan Surat Pribadi dari Syekh Sadath Safir mengenai ketidak hadirannya“

”Pengawal ambil surat tersebut“

Segeralah diambil dan diserahkan kepada Raja. Kemudian Raja membuka surat tersebut. Sambil mengangguk-angguk, Raja Campa menyerahkan kepada penasehatnya.

”Jadi Anda yang bernama Sultan, utusan Syech Sadath Safir“

”Ya Baginda, maafkan sekali lagi atas ketidak hadiran beliau“

”Hahahahaha rupanya Sadath Safir pintar sekali“

”Maafkan saya kalau saya bicara lancang“

”Kudengar dari kurir, Anda adalah murid kesayangan Sadath Safir dan mempunyai ilmu yang tinggi sekali. Sakti sekali katanya“

”Maaf Baginda, itu hanya bualan kurir saja. Saya ini hanya manusia yang menjalankan apa yang seharusnya diperintahkan oleh Allah SWT ?“

”Siapa itu Allah SWT ?“

”Allah SWT adalah Tuhan Yang Esa, Yang Menciptakan manusia, Yang Maha Besar, Penguasa Langit dan Bumi dan Maha Mengetahui Segala-galanya.“

”Ohhh itu Tuhan kalian yang membuat kamu menjadi sakti dan mempunyai ilmu yang aneh-aneh“

”Memang Allah SWT adalah Tuhan Saya dan kepadaNya lah saya menyembah tidak ada Tuhan selain Allah SWT Laa illaha illallah Dialah yang Maha Sakti. Saya hanyalah perantara jadi tidak sakti karena sakti itu dapat merusak hati dan buat apa ilmu yang saya dapat kalau hanya untuk sekedar dikatakan sakti tapi tidak bermanfaat bagi seluruh alam semesta dan ciptaan Nya termasuk manusia, tumbuhan, hewan dan lain-lain“

”Sungguh lancang Anda berbicara demikian“

”Maafkan saya Baginda yang sangat saya hormati. Tapi memang Allah SWT tempat saya memohon dan meminta sesuai dengan qudrat dan iradatNya.“

”Sudah….sudah jangan diteruskan kalau anda memang sakti dan Tuhanmu bisa menolongmu, saya akan memberimu sebuah hadiah, Pengawal …….“

Sebuah kotak kayu besar yang masih tertutup diserahkan kepada Sultan.

”Silahkan dibuka, itu hadiah untukmu“

”Terima kasih atas hadiahnya Baginda“

Baru saja Sultan mau membuka kotak kayu tersebut tiba-tiba Sultan terdiam sebentar.

”Baginda memang raja yang bijaksana, terima kasih atas hadiah tongkat emasnya“

”Apa? Tahu darimana kalau di dalam kotak tersebut adalah tongkat emas. Dasar anda seorang pengkhayal“

”Tidak Baginda, ini benar tongkat emas dan sekali lagi terima kasih“

Begitu kotak kayu tersebut dibuka ternyata memang benar isinya 3 buah tongkat emas. Betapa kagetnya Baginda mengetahui isi kotak emas tersebut. Padahal Baginda telah menyuruh pelayannya untuk memasukkan 3 ekor ular berbisa yang mematikan.

”Ahhhhh itu hanya bisa-bisanya ilmu sihir kamu…jangan kurang ajar bermain-main di hadapan saya“

”Maafkan Baginda, tidak ada satupun niat saya untuk mempermainkan Baginda. Niat saya hanya ingin bersilaturahim kepada Baginda Yang Mulia“

”Diam kamu“

Sultanpun langsung terdiam dan siap menerima segala resikonya. Tiba-tiba raja memanggil Puteri Liong Tien. Betapa terkejutnya Sultan melihat wajah Puteri Liong Tien yang cantik, putih dan menawan.

”Sultan, saya akan mengampunimu dan menikahkan Puteri Liong Tien kepadamu dengan syarat Sultan dapat menjawab pertanyaan saya yang terakhir ini“

”Siap Baginda… !!!“

”Lihat dan perhatikan Puteriku ini. Pertanyaan saya adalah apakah yang disembunyikan oleh Puteriku ini ? Kalau benar saya akan penuhi janjiku tapi kalau salah, anda dan seluruh rakyatku yang beragama Islam akan dipancung mati. Kuperintahkan seluruh rakyat untuk tidak mengikuti ajaran Islam karena dianggap sebagai ajaran sesat di seluruh negeri Campa.“

Mendengar hal itu, wajah Sultan tampak tegang dan air keringat mengucur di dahinya. Setelah terdiam sejenak dan membaca Asma Allah maka Sultanpun berdiri dengan gagahnya.

”Maafkan diri saya ini. Maksud baik saya dan Syekh Sadath Safir telah disalah artikan oleh Baginda. Satu hal sebetulnya saya tidak berminat dengan tawaran Baginda tetapi kalau Baginda terus memaksa maka saya akan mengatakan kalau yang disembunyikan oleh Puteri Liong Tien adalah janin bayi laki-laki yang ada di dalam perutnya. Maafkan kelancangan saya“

”Hahahahahahahahaaha Dasar tukang sihir tukang tipu, mana mungkin Puteriku menyembunyikan janin bayi laki-laki. Dia itu masih perawan dan belum menikah hahahahahaha Dasar tukang tenung“

”Baginda boleh percaya atau tidak. Bismillahi rahmanir rahiim Kun Faya Kun Rabbi Kun buka pakaian yang menutupi perutnya“

”Hah ?????“

”Mana mungkin“

”Kok bisa begitu“

”Luar biasa“

”Apa yang telah dia lakukan“

”Baginda apa yang telah terjadi“

”Puteri Liong Tien hamil“

”Tidak mungkin, ini tidak mungkin aku sendiri yang menaruh bokor emas di perutnya“

”Kok bisa demikian berubah. Bokor emas menjadi janin bayi“

Gemparlah istana kerajaan Campa dengan peristiwa yang aneh dan mengejutkan tersebut. Perut Puteri Liong Tien tiba-tiba membesar seperti perempuan hamil berumur 4 bulan. Puteri Liong Tien pun pingsan setelah melihat perutnya yang membesar.

”Apa yang telah kau lakukan Sultan. Ilmu sihir apa yang telah kau gunakan“

”Tidak ada ilmu apapun yang kugunakan. Semuanya adalah qudrat dan iradat Allah SWT. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Jadilah maka Jadilah.“

”Keluar kamu dari sini keluar… Pengawal seret Sultan keluar dari istana ini“

”Tunggu Baginda, saya akan keluar dari istana ini tapi dengan satu permintaan bila suatu saat nanti kandungan Puteri Liong Tien telah berumur 7 bulan saya mohon kepada Baginda untuk mengantarkannya ke tempat asal saya di negeri banyak pulau. Jangan Baginda bunuh janin yang ada di perut Puteri Liong Tien karena anak yang ada di perut Puteri adalah anak saya. Ini alamat saya dan siapa saya sebenarnya. Saya mohon pamit dan terima kasih atas segala pelayanan Baginda“

Sultan segera pergi meninggalkan istana dan menuju balik ke daerah Syekh Sadath Safir dimana saat itu sedang sakit payah. Setibanya di rumah Syekh Sadath Safir, Sultan menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian Syekh Sadath Safir memerintahkan Sultan untuk segera meninggalkan negeri Campa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena akan membahayakan keselamatan diri Sultan dan penduduk yang mengikuti ajaran Islam.

Beberapa hari kemudian dengan menggunakan kapal layar mereka berdua meninggalkan negeri Campa dan pergi menuju negeri asal Sultan, negeri banyak pulau.

 

(To Be Continued)

 

=======================================================================

”seorang Syaikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya yaitu :

Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang Sattar (menutup aib) dan Ghaffar (Maha pemaaf).

Dua karakter dari Rasulullah SAW yaitu penyayang dan lembut.

Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.

Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar.

Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.

Dua karakter dari Ali yaitu aalim (cerdas/intelek) dan pemberani.

 

 

18 Comments to "Kisah Sultan & Sadath Safir di Negeri Campa"

  1. herman sukadiria  20 April, 2013 at 19:39

    Yang dimaksud sultan Sulaeman al baghdadi itu siapa, menurut keterangan sultan Sulaeman al Baghdadi ini anak dari Ahmad Syah, mendirikan kerajaan di Campa, beliau ini ayah dari Pangeran Panjunan Cirebon

  2. cechgentong  30 March, 2011 at 15:07

    Pak ISK, campa sebetulnya bagian selatan dari cina yang berada dekat sungai mekhong.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  30 March, 2011 at 09:50

    Mas Cech, saya masih meragukan atau memang saya tertinggal, bahwa Campa itu adalah sebutan lain negara Kampuchea? Dulu saya mempercayai ini, tetapi ada pendapat lain tentang hal ini.

  4. cechgentong  30 March, 2011 at 09:48

    Lani, bula vinaka. semoga budaya tutur bangkit dan tetap terjaga
    DA, okay, kalo ada kesempatan saya akan sharing cerita terima kasih

  5. Dewi Aichi  30 March, 2011 at 08:02

    Aa Chech…wahhh….aku jadi banyak tau nih..makasih cerita-ceritanya selama ini….ditunggu terus yang lain-lain ya….

  6. Lani  30 March, 2011 at 07:41

    KANG CECH : bula vinaka vakalevu….atas penjelasan ttg tutur tinular……moga2 jgn sampai ilang budaya itu……

  7. cechgentong  30 March, 2011 at 05:49

    Kornelya, bisa dikatakan begitu. Ok terima kasih mau menunggu

  8. Kornelya  30 March, 2011 at 04:38

    Chech, inikah asal-usul Muslim Vietnam dan Kambodja? Saya pernah baca, tetapi kurang paham, karena perhentian Syekhnya banyak nama-nama tempat itu susah dilafalkan. Aku tunggu lanjutannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.