Shalawat Nabi di Gereja? Bhinneka Tunggal Ika itu masih ada…

Saras – Jakarta

 

Pengantar:

Pada tanggal 25 Desember 2010, Fariz RM bernyanyi di dalam ibadah Natal GKI Maulana Yusuf bersama Qasidah Ar-rahman, dilanjutkan sapaan Natal Ulil Abshar Abdalla. Jauh melampaui sebagian  kaum Muslimin yang masih enggan dan ragu berucap selamat Natal, Fariz tak sedikit pun ragu akan keputusannya. Namun, sebagian Teologiman Kristen justru mengecam acara tersebut.

5 Januari 2011, Fariz RM berharijadi ke 52. Bersama Wiendy Widasari, Diani Sitompul, si kecil Sophia dan Sahat, saya datang berucap selamat. Oneng (Istri Fariz RM) menyambut dengan wajah riang, Fariz menyusul 10 menit kemudian. Kue harijadi Fariz ke 52 mengalir lebih deras yang kami pesan dari kue Hansel & Gretel tersaji di meja. Ditemani Sophia putri Diani, Faris meniup lilin memotong kue, menyuapi sang istri dan memberi kecupan tipis di bibir. Saat mencicipi kue double chocolate, Fariz terbelalak…luar biasa enak, serunya.

Teman-teman Baltyra yang daku sayangi (from the bottom of  my heart nggak lebay loohh he he he he)  itu sedikit pengantar (cuplikan) dari sekilas mengapa tulisan ini patut dan baik buat Saras bagikan di sini di Baltyra yang isinya berBhinneka Tunggal Ika. Yuukkkss…kita mulai lanjut dengan petikan

Suara hati sang Fariz RM:

Saya mengenal Yesus sejak lahir, berdoa kepadaNya, dan rajin mengikuti komuni. Itu kebiasaan indah yang menghias masa kecil. Ketika Mami kemudian menjadi Mualaf, saya pun ikut dengannya. Saya seorang Muslimin yang tidak terlalu taat, jarang Sholat, namun berusaha mati-matian menghargai kemanusiaan.

Saya hidup di negara yang menetapkan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai semboyan yang menghidupi masyarakatnya. Ketika kemudian menjadi musikawan, nilai-nilai itu muncul di setiap karya musik yang saya persembahkan. Saya menolak untuk dikotak-kotakkan ke dalam warna musik tertentu, parpol tertentu, bahkan agama tertentu. Saya milik semua golongan, itu cara yang saya pilih untuk bersetia kepada Republik tercinta ini.

Ketika menerima Undangan dari GKI Maulana Yusuf  (baca: GKI = Gereja Kristen Indonesia) untuk menyanyi di dalam Ibadah Natal tangal 25 Desember 2010, Oneng sempat sedikit kuatir. Saya menenangkannya dengan berkata: Jika ini Undangan dari Tuhan, semua akan dimudahkan. Saya bertanya kepada Sahat, lagu apa yang harus saya nyanyikan.

Sobat saya yang setengah dewasa itu menjawab cepat: Mari Pulihkan Dunia dan Aku Mau Bilang Padamu. Namun, yang bikin saya kaget, Pendeta Albertus Patty meminta agar Mari Pulihkan Dunia dinyanyikan bersama jemaat di dalam ibadah. Saya bertanya kepada diri sendiri: Siapakah saya yang Muslimin ini hinga mendapat kehormatan memandu ummat Kristen menyanyikan lagu pujian kepada Tuhannya?

Saya lalu terkenang kembali ke masa kecil ketika rajin pergi ke Gereja bersama Mami. Ada rasa haru yang menyeruak. Gambar di layar kenangan itu berpindah cepat ke rentang waktu ketika saya berada di dalam Penjara akibat sebuah kebodohan yang luar biasa.

Saat itu, Ravenska dan Ravenski bercerita tentang suster-suster di Sekolah Tarakanita yang sering bertanya mengenai keadaan saya di Penjara Cipinang. Ayah, kata Vensa kepada saya, beberapa suster setiap pagi menyalakan lilin setiap pagi dan menaikkan Novena untuk kebebasan ayah. Doa-doa mereka mewujud, saya dibebaskan dari segala tuntutan. Malam pertama kembali berada di rumah, saya merenung dan bertanya kepada Tuhan, kapan saya bisa membalas kebaikan orang-orang Kristen itu?

Semua kenangan itu menetapkan hati saya untuk ke Bandung, saya berkunjung ke rumah Mami. Saya terkejut ketika mendapati dia sedang membaca Buku Dari Sebuah Guci. Berhari-hari Mami tak bisa lepas dari buku ini, indah sekali ucapnya. Mami mengaku sudah baca buku tersebut 2 kali,dari awal hingga akhir ini yang ketiga kali, katanya. Kepada Mami saya lalu bercerita tentang rencana kepergian ke Bandung esok dan bernyanyi di dalam Ibadah Natal. Pergilah, ucap Mami sambil mengecup pipi saya, tidak semua orang seberuntung kamu.

Saya memutuskan untuk menyanyikan Aku Mau Bilang Padamu tidak seperti versi yang saya nyanyikan dalam CD Dari Sebuah Guci. Syair sederhana, tapi sangat menggetarkan. Saya ingin menyampaikannya dengan cara yang juga sederhana: bernyanyi sambil memainkan Piano tunggal. Semua hentak perkusi saya hilangkan. Keindahan syairnya harus sampai ke ummat yang mendengar.

Tanggal 25 Desember itu saya bangun pagi dan menyiapkan diri dengan utuh: tidak cuma pita suara tapi juga hari, karena hanya dengan bersikap jujur sebuah pesan bisa medarat dengan baik. Keluar dari kamar hotel, saya dan Oneng bersua Sahat dan Muna dan langsung menyampaikan selamat Natal. Kami berdua berangkat ke Gereja, jauh mendahului Muna dan Sahat yang bahkan pada saat itu belum mandi. Ya, saya sangat bersemangat menyongsong pengalaman spiritual yang sebentar lagi saya masuki.

Di dalam Gereja, saya memeriksa keyboard dan sequencer, memastikan semua sudah terhubung dengan baik. Semua berjalan lancar, saat itulah sebuah suara menyelinap keluar sanubari: Tuhanlah yang mengudang saya datang kerumahNya pagi ini, saya ingat betul, dada saya berdebar lembut saat itu. Ibadah dimulai, saya duduk bersama Oneng dan Muna. Aneh, saya sama sekali tidak merasa canggung dengan suasana yang tercipta. Saya dan Oneng duduk dan berdiri sesuai dengan ajakan yang tertulis dalam Tata Ibadah.

Ketika mendengar ummat bernyanyi, saya terpana oleh keindahan musical yang tersaji. Dan, tibalah giliran saya maju ke depan. Bohong jika saya katakan dada saya tidak berdebar. Pertama, ini kali pertama saya bernyanyi di pagi hari, beberapa menit sebelum jam 8 pagi, kedua, ini kali pertama juga saya bernyanyi di tengah-tengah orang Kristen di dalam ibadahnya. Sebab, jangankan di dalam Gereja, di dalam Mesjid pun saya belum pernah bernyanyi. Intro mengalun sepanjang 4 bar dan saya lantar terkejut karena keheningan betul-betul menyekap, demi Allah saya kepingin menangis ditemani suasana sekhusyuk itu.

Tidak satupun suara lain terdengar, tidak seperti di konser-konser saya yang riuh dan penuh celoteh. Saya betul-betul dibawa ke hadirat Allah untuk mengumandangkan pujian kepadaNya. Lirik demi lirik saya ucapkan. Saya tahu, syair lagu Aku mau Bilang Padamu ditulis Muna Panggabean berdasarkan nyanyian pujian Maria di Injil Lukas.

Sambil bernyanyi saya mengenang Devosi dan Salam Maria yang dulu kerap saya ucapkan di masa kecil. Saya terkenang kepada Mami, kepada Opa dan Oma. Saya merasakan dipersatukan kembali dengan mereka setelah selama ini dicekoki paham-paham yang mengatakan ada tembok pemisah yang kokoh antara ummat Islam dan ummat Kristen. Itu adalah 4 menit terindah dalam hidup saya. 4 menit yang mengatasi semua kepahitan.

Dulu, ketika menguburkan anak pertama saya, saya berkata, ya Allah, aku hadapkan wajah anakku ini kepadaMu; tapi beri aku keajaiban agar dapat kembali kepercayaanku kepadaMU. Tidak cuma satu, Tuhan kemudian memberi saya sepasang anak kembar. Dan pagi itu, di dalam gedung Gereja, Tuhan yang dulu saya tantang, Tuhan yang dulu saya sangkal, berhadapan dengan saya dan menyinari wajah saya dengan kemulyaanNya.

Saya sangat menikmati kothbah Pendeta Berty, buat saya dia adalah Iman bagi kemanusiaan yang utuh. Dia mengajar saya untuk tidak terpisah dari sesama ummat. Saya berbahagia sekali dan melamun menyampaikan kabar itu kepada Mami di rumahnya. Saya membayangkan berkata begini: Mami tidak perlu gelisah, di sorga kita akan berjumpa dengan Opa dan Oma karena ternyata mereka juga ada di sana.

Damai kian merasuk hati ketika mendengar tuturan Yanti kerlip, perempuan berjilbab yang teguh menyapa kita merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. It’s ring my bell, bukankah Yesus juga Nabi yang saya puja?

Selanjutnya nafas saya menderu menikmati rancaknya para penabuh Ar-Rahman memukul kendang dan rebab. Saya betul-betul tercengang ketika jemaat Kristen GKI Maulana Yusuf memberikan applause panjang sesuai Ar-Rahman mengumandangkan Shalawat Nabi.

Inikah Indonesia yang baru itu?

Ulil Abshar Abdalla lalu membantu saya dan segenap ummat Islam untuk meyakinkan ummat Kristen bahwa kami bukan kaum barbarik yang semena-mena dan mengira punya kuasa untuk mengatur Republik ini sendirian. Saya bersyukur mendapati Islam Indonesia memiliki seorang intelektual secerdas dia.

Aaahhh..pagi itu saya ternyata punya sangat banyak alasan untuk bersyukur. Lalu, puncak acara saya masuki dengan mendendangkan lagu Mari Pulihkan Dunia. Itu memang bukan kali pertama saya bernyanyi dengan orang banyak, tapi pagi ini saya bernyanyi bersama sambil bertepuk-tangan: tua-muda, besar-kecil di gedung Gereja yang penuh sesak, saya sangat bersuka cita. Siapapun pasti larut ke dalam syair yang mudah dicerna, lugas, namun membongkar semua kemapanan.

Reff:

Mari pulihkan dunia dengan sepenuh jiwa
Sepenuh hasrat, juga semburat
Cahaya berpencar di sekelilingmu
Mari getarkan cinta
Dengan keringat kerja
Mari ucapkan, juga lakukan
Hingga kau rebah

 

1/ Kepada mereka yang kalah
(tertindas dan dilupakan)
Tarian kita bersembah
Kita kabarkan warta
Bahwa surga telah sunyi
Sebab Tuhan ada di bumi
Menari bersama kita (Reff.)

 

2/ Satu tepukan di bahu
(sapaan lembut dan mesra)
Adalah embun penyembuh
Sungguh tak ada kubu
Cuma hasrat merindu
Tuhan melompat riang
Bersama kita berdendang (Reff.)

 

Dan ketika Kebaktian usai, saya berdiri di pintu keluar bersama Pendeta Berty, Ulil, Muna dan Oneng. Rahmat Allah yang maha besar terasa diguyurkan ke wajah. Ada lebih dari 1000 ummat menyalami saya dan berkata satu-per-satu: terima kasih atas lagu-lagunya mas, saya merasa diberkati.

Saat itu saya langsung tahu, jika kelak ada Ormas yang mengecam keterlibatan saya di dalam Ibadah Natal ini, saya sudah punya jawaban: Menurut kalian, dengan ucapan yang saya terima dari lebih 1000 ummat seperti itu, saya akan diganjar pahala atau kutukan?

Saat itu pula saya teringat akan wejangan Papi, beberapa jam sebelum dia mengembuskan napas terakhir dahulu: Is..ingatlah bahwa kamu seorang Khalifah. Saya tau pap…tidak, kamu tidak tahu bahwa kamu adalah seorang Khalifah bagi para penggemarmu. Saya tersentak, itu beban yang sangat berat. Terima kasih atas lagu-lagunya tadi mas Fariz, saya merasa terberkati.

Masya Allah, wejangan Papi menemukan wujudnya pagi itu (pada bagian ini mata Fariz berkaca-kaca). Yang terakhir, saya mau bertanya kepada mereka yang mengecap itu, apakah ada dari antara mereka yang pernah diundang langsung oleh Tuhan? Saya, Fariz RM sudah pernah dan saya memenuhi undanganNya pada tanggal 25 Desember 2010 di Gedung Gereja GKI Maulana Yusuf. Di sana saya memuliakan Tuhan yang turun ke bumi dalam rupa CINTA.

Sepulang dari Bandung saya jadi rajin berSholat. Setiap jam 4 pagi saya bangun dan berjalan kaki ke Mesjid. Dimana saya berdoa bagi segenap manusia, saya berdoa buat Papi, buat Mami, buat Venska dan Venski yang sedang menuntut ilmu di Belanda, buat Opa dan Oma, buat Muna, buat Pendeta Berty, dan buat Buku Dari Sebuah Guci.

Sekarang, saya mantap! Jika Tuhan sudah menetapkan waktunya…saya siap.

Note:

Dikutip dari buah tangan Sdr. Muna Panggabean, yang ditulis di Majalah IOTA, Majalah Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Baru, Edisi V Februari 2011.).

 

60 Comments to "Shalawat Nabi di Gereja? Bhinneka Tunggal Ika itu masih ada…"

  1. atite  29 March, 2011 at 23:50

    wah mbak Saras terima kasih…! baru malam ini saya menemukan website Baltyra tanpa sengaja… yg isinya cerita2 menyejukkan dr negeri ini…
    salam…

  2. Djoko Paisan  29 March, 2011 at 23:26

    Lani Says:
    March 29th, 2011 at 23:09

    HENNIE, SARAS : klu mo pesan FARIZ hehehe……di cloning dulu…….tp ktk dia msh muda dulu yak…….klu skrng apakah msh cakep dia hahahah…….

    Yu Lani…
    Dia kan baru umur 52 tahun, ya jelas masih cakep.
    Lha wong Dj. yang hampir 60 juga masih cakep kok…hahahahahahahaha….!!!!

  3. Djoko Paisan  29 March, 2011 at 23:24

    HALELUYA….!!!
    Dj. benar-benar terharu membacanya, terutama kalimat ini…

    Saya, Fariz RM sudah pernah dan saya memenuhi undanganNya pada tanggal 25 Desember 2010 di Gedung Gereja GKI Maulana Yusuf. Di sana saya memuliakan Tuhan yang turun ke bumi dalam rupa CINTA.

    Ada tertulis, siapa malu mengakui TUHAN didepan manusia, maka kelak, TUHAN tidak akan mengakuinya.
    Tapi siap yang mau mengakui TUHAN didepan manusia, maka dia akan disebut anak-anak Allah.
    Dan Allah akan menjadi bapanya….!!!

    Semoga banyak umat yang mau mengerti satu sama yang lainnya, bukan bahkan mengadu donba.
    Menurut Dj. baik Kristen maupu Islam, dari rumpun yang sama yang mengakui Adam dan Hawa dan bahkan lahir dari anak-anak Abraham ( Ibrahin ).

    Salam Damai dari Mainz….

  4. Lani  29 March, 2011 at 23:09

    HENNIE, SARAS : klu mo pesan FARIZ hehehe……di cloning dulu…….tp ktk dia msh muda dulu yak…….klu skrng apakah msh cakep dia hahahah…….

  5. Saras Jelita  29 March, 2011 at 21:00

    Sasayu: Kalau tidak salah kembar deh Sas..

  6. Sasayu  29 March, 2011 at 20:52

    Baru ngeh, si venska en venski itu anaknya Mas Fariz tooo…

  7. Saras Jelita  29 March, 2011 at 20:40

    Wahnam, Anastasia: Pengalaman yang istimewa….semogga Fariz menjadi inspirasi bagi setiap ummat ya

  8. Wahnam  29 March, 2011 at 20:36

    Jarang ada yang kayak begini. Bagus ceritanya

  9. Anastasia Yuliantari  29 March, 2011 at 18:18

    Kisah yang indah.

  10. saras jelita  29 March, 2011 at 16:10

    P3+acak2an (banyak bgt tuh embel2nya) pasti bisaaaaa…tapi mungkin kita sudah tidak ada kali ya jadi buat anak-cucu kita aja deh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.